
"Mas masuk ya ...."
Sebuah kalimat yang secepat itu Lengkara angguki. Dia sudah terbuai dengan panas yang membakar tubuhnya, mana mungkin dia menolak kala Bima meminta izin untuk menerobos pertahanan miliknya yang sejak tadi sudah basah.
"Mas ...."
Bima sudah melakukannya dengan hati-hati, tapi Lengkara tetap berteriak kala merasakan sesak di bawah sana. Agaknya Bima cukup sulit dan Lengkara merasakan sakit, tidak hanya sedikit, melainkan sakit sekali.
"Tahan sedikit, Ra."
Lengkara mengangguk dan pasrah saja menunggu usaha Bima menyatukan dalam dirinya. Dia tidak ingin membuat Bima kembali kecewa, untuk itu sesakit apapun Lengkara tidak meneteskan air mata. Selain itu, dia juga tidak ingin Bima berhenti di tengah jalan karena melihatnya menangis.
Sementara Lengkara menahan sakit, di sisi lain Bima merasa sulitnya menerobos lorong sempit itu. Menurut pengakuan Kenzo, memang butuh usaha dan cukup sulit jika baru pertama kali melakukannya, terlebih jika pasangan belum pernah terjamah.
Begitu pelan Bima melakukannya, walau Lengkara selalu menggeleng kala dia bertanya sakit atau tidaknya pria itu sangat tahu dan mengerti jika istrinya tengah berbohong. Namun, untuk berhenti dia juga tidak kuasa, sampai kapan lagi dia mampu menahan gejolak yang sudah meronta sejak lama.
"Dihentak sekali saja, Mas kalau pelan begitu lama," desak Lengkara yang berhasil membuat Bima terkekeh, entah karena tidak sabar atau pegal dan bosan menunggu hingga berani meminta Bima untuk menghujam miliknya dalam satu kali hentakan.
"Sabar, nanti kamu terkejut kalau dihentak, Ra," ucap Bima kemudian, sungguh yang dia pikirkan adalah Lengkara sendiri, bukan sengaja ingin menikmati prosesnya.
"Tidak, aku sudah siap ... makin sakit kalau kamu sepelan itu," gerutu Lengkara mencubit lengan Bima kala pria itu justru sengaja berhenti demi mendengarkan permitaannya.
__ADS_1
"Galak juga ternyata."
"Aku serius, Mas ... buruan jangan di slowmo begitu, gerakannya kaya mimpi dikejar han_ tuuhhiyyyaaaaaa!!!"
Teriakan Lengkara pecah seketika kala Bima benar-benar menghujam miliknya dengan satu hentakan sesuai keinginan Lengkara. Air mata yang tadinya dia tahan tumpah juga, melihat Lengkara yang kini menangis Bima bingung hendak bagaimana.
Secepat mungkin dia menenangkan sang istri dengan kecupan di bibirnya. Bima mengusap pelan air mata Lengkara sembari bergerak perlahan demi mengembalikan kenyamanan untuknya.
"Maaf, Ra ... mas cuma mengikuti kemauanmu."
"Tapi tidak perlu sekuat itu juga," desis Lengkara menatap sebal Bima yang berkuasa di atas tubuhnya.
Bukan sengaja, tapi Bima hanya memenuhi keinginan Lengkara yang tampak bosan menunggu Bima menerobos pertahanan miliknya dengan cara pelan.
Beruntung saja Lengkara bukan wanita yang kerap memperbesarkan masalah. Nasib baik Bima malam ini mampu merayu wanitanya hingga kembali terbuai dengan memberikan kenikmatan yang hanya boleh Lengkara dapatkan darinya.
Rintihan dan raut kekesalan akibat sakit yang dia rasakan perlahan terganti dengan racauan berpadu dengan dessahan di setiap kali Bima mencumbu tubuhnya. Seolah benar-benar mengutamakan kebahagiaan pasangannya, Bima tidak mengizinkan Lengkara merasakan jeda dan kenikmatan yang dia rasakan terputus.
Penantian tiga tahun itu terbalas sudah, sebuah proses yang membuat keduanya tersadar jika saling membutuhkan satu sama lain. Keduanya bertukar energi dengan peluh yang bercampur menjadi satu, layaknya Bima yang berusaha membahagiakan Lengkara, Lengkara juga berusaha mengimbangi.
Kamar tidur Lengkara menjadi saksi bisu penyatuan cinta keduanya setelah semua luka yang menyiksa di masa lalu. Bima mengenggam erat jemari Lengkara yang kini terengah-engah usai mencapai puncak ketiga kalinya.
__ADS_1
Dia lemas, sudah sangat lemas tapi Bima secandu itu dengan tubuhnya hingga tidak rela jika harus berhenti segera. Mata sendu Lengkara hanya bisa menatap Bima yang masih begitu leluasa di atasnya.
Selang beberapa lama, Bima merengkuh tubuh sang istri dan mempercepat gerakannya di detik-detik terakhir menuju puncak kenikmatan yang dia inginkan. Napasnya begitu berat dengan sisa erangan yang masih terdengar usai menebar benih yang dia harapkan akan menumbuhkan setitik nyawa di rahim Lengkara.
"Mas."
Usai menggila beberapa saat lalu, kini Bima masih betah menengelamkan wajah di ceruk leher Lengkara. Sama sekali tidak tidur, tapi Lengkara justru mengira jika Bima terlelap dan melupakan dia begitu saja.
"Mas sana kalau mau tidur, berat," desak Lengkara berusaha mendorong tubuh sang suami, sejak tadi dia biarkan dan karena sudah terlalu lama kesabaran Lengkara habis juga.
"Apa? Tidur? Kulepas saja belum, Ra," ucap Bima tersenyum tipis kala mengangkat wajahnya, sontak Lengkara tersedak ludah kala menyadari bahwa Bima memang belum melepaskan diri darinya.
"Te-terus maksud Mas apa?" tanya Lengkara sedikit pias, karena dirinya saja masih begitu lelah usai Bima ajak terbang ke awang-awang.
"Babak kedua ... kamu pikir bisa tidur setelah ini? Tidak, Sayang!!"
"Apa katanya? Siallan, kata kak Zean dia terlalu polos untukku ... polos dari mananya!!!"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -