
"What? Bagaimana bisa?"
Mata Bima membola mendengar ucapan sang papa, andai tahu akan tarjadi hal semacam ini Bima tidak akan mungkin meminta Yudha sepenuhnya memantau orang-orang yang menjaga Panji. Selain itu, tidak juga hatinya akan luluh kala Raja merengek hendak ikut ke Jakarta waktu itu, sungguh sama sekali tidak dia duga jika Raja bisa betindak sejauh ini.
"Ya, Tuhan anak ini? Aku tidak pernah mengajakmu bertemu untuk melakukan hal semacam itu, Raja!!"
"Kenapa jadi Kakak yang marah? Biasa saja lah, salahmu kenapa hanya dibuat sekarat," jawab Raja seenteng itu, entah sejak kapan jiwa pembangkang dalam diri Raja benar-benar terpancar hingga Bima menelan salivanya susah payah.
Tidak hanya sekadar menjawab enteng, dia juga sama sekali tidak merasa bersalah karena menghajar Panji. Yang dia takutkan hanya kemarahan Papa Atma, dan setelah merasa pembicaraan mereka cukup dia berlalu begitu saja.
"Kau lihat, kenapa tidak dipikir dulu, Bima?" tanya Papa Atma menghela napas pelan, kali pertama dia melihat sisi yang berbeda dari Raja.
"Mana kutahu dia punya rencana semacam itu, Pa."
Sebenarnya Papa Atma bingung, di sisi lain dia sadari jika Raja bukan putranya. Namun, dia juga tidak dapat bertindak banyak lagi. Bahkan, untuk marah saja Papa Atma merasa tidak berhak lagi, mungkin sama seperti mereka, Papa Atma juga kacau luar biasa.
"Tenangkan Raja, jangan buat dia merasa sendirian, Bima."
Sedikit iri, tapi dari sini Bima ketahui bahwa papanya memang penyayang seperti yang Yudha katakan. Bahkan, setelah semua yang terjadi, Raja masih memiliki tempat di hati Papa Atma.
"Papa tidak membencinya?"
"Tidak, salah sasaran jika membencinya juga."
Walau sesuatu dalam diri Bima bergejolak mendengar ucapan sang papa, tapi dia berusaha untuk tidak mempermasalahkan hal itu. Dia menurut dan berlalu pergi, sebisa mungkin Bima berpikir baik jika papanya memang sudah berubah, itu saja.
"Bima."
Baru saja hendak membuka pintu kamar, Papa Atma menghentikan langkahnya. Dia menoleh dan menyaksikan sang papa yang duduk di atas kursi roda dengan raut wajah sendu di sana.
"Ada yang papa butuhkan?"
"Tidak, papa hanya ingin kau tahu ... tidak ada yang papa beda-bedakan, papa menyayangimu dan Yudha lebih dari segalanya," ucapnya tiba-tiba, Bima terdiam dan seketika bungkam tanpa suara.
"Papa terlalu malu mengakui bahwa pilihan papa salah sampai mencoba membenci ibumu ... papa malu mengakui kekalahan itu sampai kau merasakan sakit bertahun-tahun hanya karena memiliki papa yang buta dan bodoh seperti ini."
Kemarin biasanya Bima akan memotong pembicaraan Papa Atma dengan kalimat katakan pada ibu, bukan padaku, tapi kali ini dia mendengarkan dengan baik ucapan Papa Atma tanpa sedikitpun berniat menyela.
"Jaga istrimu baik-baik, Bima ... wanita tulus tidak akan datang dua kali."
__ADS_1
Sekian tahun, Bima menunggu papanya bicara perihal hati. Ya, dia ingin mendengar itu sejak lama, sangat lama. Bima cukup bisa memahami, begitu jelas Papa Atma nyatakan jika dia memang terjerat penyesalan dan hal itu tergambar jelas di wajah pria yang tidak lagi muda itu.
"Bersiaplah, nanti kalian terlambat ... sampaikan salam papa pada mertuamu," ucap Papa Atma kemudian, padahal waktu Bima di sana masih tersisa cukup lama sebenarnya, tapi dia seolah tidak ingin Bima berlama-lama di sana.
"Ehem, tidak sekalian titip salam buat ibu?"
Bima bertanya tanpa sadar, dia bahkan menepuk bibirnya seketika usai mengutarakan hal itu. Entah karena terlalu bahagia mendengar penyesalan Papa Atma, atau karena hal lain. Yang jelas, tawaran Bima sempat membuat Papa Atma tertawa kecil.
"Aku serius, Pa, jika mau akan kusampaikan."
"Hm, jika kau tidak keberatan salamkan saja." Papa Atma malu, bukan malu karena tengah kasraman, tapi memang malu dan merasa hina di hadapan Seruni untuk saat ini.
"Salam apa?"
"Memang ada jenisnya?" tanya Papa Atma menatap wajah serius putranya.
"Tentu saja ada, katakan saja papa mau salam apa? Salam rindu?"
"Bukan," jawab Papa Atma seraya menghela napas panjang.
"Lalu salam apa? Salam sayang? Salam cinta?"
"Permintaan maaf saja," jawab Papa Atma cepat sebelum Bima selesai bicara.
"Bima!!" Sudah lama tidak melayangkan tatapan tajam ke arah putranya, kini Papa Atma kembali mengulanginya hingga Bima tertawa sumbang.
Mereka tidak pernah bercanda sebelumnya, tentu saja hal semacam itu membuat hati Bima merasa berbeda. Bertahun-tahun dia hidup, dapat dihitung berapa kali Papa Atma tersenyum padanya jika bicara.
Kini, dia merasa ada yang berbeda. Setelah pengakuan jika menyesal, Papa Atma tampak lebih bebas dengan apa yang dia rasakan. Bima, merindukan sosok papa yang begitu. Meski tidak mampu sehangat Papa Mikhail, tapi untuk ukuran papanya yang kali ini sudah begitu luar biasa.
.
.
Pertama kali dalam hidup, dia keluar dari kamar sang papa dengan gelak tawa tak berkesudahan. Tanpa dia ketahui, sejak tadi Raja terdiam di atas sofa seraya menggigit ujung kukunya. Sebuah kebiasaan yang membuat Bima gemas sendiri dan memukul kepala Raja dari belakang.
"Aarrgh!!"
"Jorok, jangan dibiasakan."
__ADS_1
Raja mendelik menatapnya, bicara soal kebiasaan sementara dia juga sama. Tangan Bima seenteng itu jika menegurnya, andai saja keadaan masih sama mungkin Raja akan merengek pada papanya.
"Kau kenapa? Bukankah sudah berjanji tidak akan membuat masalah jika ikut aku, Raja?"
"Sudah kucoba, empat hari aku bantu ibu merajut sarung tangan bayi asal kau tahu," ketus Raja seketika membuat Bima tersenyum simpul.
"Bagaimana caramu bisa sampai ke sana? Kau masuk ke kamarku, Raja?" Tidak seperti dahulu, kali ini Bima bertanya baik-baik sekalipun Raja sudah pasti lancang masuk kamarnya.
"Terpaksa, jika harus menunggu pengantin bulan madu lama ... waktuku tidak banyak," jawabnya kemudian, sama sekali tidak takut andai amarah Bima tiba-tiba meledak nantinya.
"Kau hanya datang untuk memukulnya?" tanya Bima kemudian, dia tidak tahu masalah ini karena kemungkinan besar Yudha menyembunyikan faktanya.
"Awalnya tidak, tapi ketika melihat matanya aku benar-benar marah ... terlebih lagi, kata dokter aku mirip dengannya," jawab Raja tanpa menatap Bima sedikitpun.
"Tapi tidak seharusnya kau melakukan itu, Raja ... bagaimanapun, dia adalah ayahmu," tutur Bima pelan, mungkin Raja akan tersinggung, tapi mengingat air mata Panji kala memohon agar tidak menyakiti Raja kala itu, hati Bima seolah tak tega saja.
"Kakak tahu, di mata orang-orang aku tidak lebih dari anak haram. Hahah kotor sekali ya, Tuhan ... bukankah lebih baik aku tidak punya ayah saja?" Dia tertawa sumbang, sama sekali tidak menangis, tapi kemungkinan besar hatinya tergores.
"Tidak ada istilah anak haram, semua manusia yang lahir ke dunia itu suci dan tidak berdosa."
"Sudahlah, jangan menghiburku."
Bima berdecak kesal, bukan hal mudah baginya menyiapkan kata-kata mutiara semacam itu. Sialnya, Raja justru mematahkan hatinya.
Lebih menyebalkan lagi, Raja mendadak berubah kala mendengar Lengkara tengah menuruni anak tangga. Dia menoleh dan menyapa Lengkara seakan sama sekali tidak ada masalah, padahal dengan jelas Bima lihat beberapa saat lalu Raja persis manusia paling terluka di dunia.
"Kak Kara aku kangen," ucapnya sesantai itu, padahal Bima sudah mendelik tajam.
"Masa? Baru juga lima hari tidak ketemunya." Lain halnya dengan Bima, Lengkara justru menanggapi Raja dengan perasaan yang berbeda.
"Tapi aku kangennya tiap detik gimana dong?" tanya Raja seketika membuat asam lambung Bima naik segera.
"Hahaha ada-ada saja, apa kamu tidak ada pekerjaan lain hah?" Lengkara mengacak pelan rambutnya, sejak dahulu Lengkara memang menginginkan adik laki-laki, tapi Mama Zia dengan tegas mengatakan jika sudah berhenti produksi.
"Memangnya tidak boleh ya? Kira-kira aku boleh kangen Kakak berapa kali sehari? Aku takut overdosis soalnya."
Lengkara tergelak, baru dia pahami jika adik iparnya tengah menggombal. Sementara Bima yang sejak tadi duduk di samping raja hanya memerhatikan Raja dengan ekor mata sebelum kemudian membenamkan kepala Raja di bawah ketiaknya.
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -