Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 87 - Aktingmu Bagus - Yudha


__ADS_3

"Iya, putra yang kamu dapatkan dari rahim pelaccur itu? Tetap saja haram, 'kan?"


"Gilsa hentikan!! Tidak perlu diperpanjang dan aku tidak ingin membahasnya jadi jangan membuat kepalaku semakin sakit," tegas Atma sebelum kemudian berlalu pergi meninggalkan Gilsa yang tenggelam dalam amarahnya.


"Satu lagi, putraku tidak lahir dari seorang pelaccur ... kau paham?" Sorot tajam itu terlihat benar-benar marah.


"Sial, aku salah langkah sepertinya."


Gilsa tidak sengaja, tidak seharusnya dia terbawa suasana dan membuat Atma justru mengabaikannya. Kembalinya Yudha dan Bima saja sudah membuat Gilsa resah, jika dia terus-terusan membuat Atma marah bukan tidak mungkin apa yang terjadi pada Seruni di masa muda juga berbalik padanya.


Tidak bisa, sama sekali dia tidak rela jika hal itu terjadi. Raja sudah dewasa begitu juga dengan Arjuna, akan tidak lucu jika dirinya dibuang sebelum kedua putranya berkuasa atas seluruh harta yang Atmadja punya.


"Bersabarlah, Gilsa ... semua hanya tentang waktu."


Iya, hanya tentang waktu dan dia menunggu saat itu. Saat dimana kebahagiaan itu hanya miliknya, tidak lagi mengikutsertakan Atmadja yang selalu berpihak pada putranya.


Padahal, sejak Bima kecil dia sudah berusaha agar mental anak itu benar-benar rusak, tapi anehnya Atma justru menuntutnya menjadi sempurna dari segala sisi hingga membentuk Bima yang serba bisa dan menjadi kebanggaannya.


Lebih menyebalkan lagi, ketika dewasa Bima justru kembali membuatnya benar-benar ingin gila kala dengan tegas menyinggung soal ibu dan saudaranya. Gilsa marah, dia tidak terima dan sempat meluapkan amarahnya pada putri pak Chan yang dia curigai sebagai penyebab Bima mengetahui masa lalu yang sudah berusaha dia ubah.


Tiga tahun lalu dia hampir menang, kedua putra Atma sama-sama tidak dapat diandalkan. Tidak becus dan sangat memprihatinkan, satunya cacat fisik dan satunya cacat mental. Ya, dia bahagia sekali kala itu. Namun, sayang sekali kebertuntungan belum juga berpihak karena Atma tidak juga menunjuk Raja untuk memimpin perusahaan, melainkan terjun sendiri.

__ADS_1


Berulang kali dia mencoba, membuat pengobatan Yudha terhambat, tapi sialnya Atma benar-benar memantau proses Yudha hingga dia tidak bisa berbuat banyak. Kini, semua justru semakin sulit dengan kehadiran Yudha yang ternyata mampu menggantikan Bima di perusahaan.


Fakta itu membuat Gilsa tak karu-karuan, dia ingin berteriak meluapkan kemarahan, tapi selalu dia tahan karena sadar jika sampai memperlihatkannya dengan jelas maka dia kalah. Saat ini, dia hanya bisa berpura-pura, dan menahan kegelisahan yang dia rasa sembari melakukan langkah apapun yang dia bisa.


"Ah sudahlah, kepalaku bisa sakit memikirkan ini," gumamnya sembari berbalik dan hendak bergegas masuk.


Belum sempat melangkah lebih jauh, Gilsa dibuat terkejut kala menyadari Yudha berdiri di ambang pintu. Tatapan tak terbaca dengan tangan yang masuk ke saku celana, sontak hal itu membuat Gilsa gelagapan.


"Yudha, bukankah mama memintamu masuk tadi?"


"Semua hanya tentang waktu? Waktu apa yang Mama tunggu?" Tanpa menjawab, Yudha justru balik bertanya dan membuat Gilsa meneguk salivanya susah payah.


Yudha tertawa hambar, lucu sekali wanita ini. Semudah itu dia bicara, padahal dengan jelas Yudha mendengar pertikaian mereka tanpa Gilsa ketahui. Awalnya dia memang tidak peduli, dia berpikir masalah keduanya tidak perlu dicampuri.


Namun, untuk malam ini Yudha seolah merasa terpanggil untuk mengetahui percakapan mereka. Tidak sia-sia dia menguping, walau hatinya agak sedikit sakit, tapi pembelaan papanya membuat pria itu merasa lebih baik.


"Dulu aku memiliki kekasih, bakat aktingnya luar biasa ... aku benar-benar bangga padanya."


"Lalu?"


Pertanyaan Gilsa membuat Yudha kembali tertawa. Bisa-bisanya tidak sadar jika tengah disindir habis-habisan, entah tidak sadar atau pura-pura bodoh tepatnya.

__ADS_1


"Melihatmu malam ini, aku jadi mengingatnya ... Mama keren, kenapa tidak jadi artis saja? Bakatmu luar biasa," ucap Yudha membuat raut wajah Gilsa berubah seketika.


"Apa maksudmu, Yudha? Sadar bicara apa barusan? Sopan santunmu mana?"


"Ahahaha bukan, Ma, itu pujian kenapa dianggap tidak sopan?" tanya Yudha tergelak, hatinya memang panas, tapi untuk menghadapi wanita seperti ini caranya sedikit berbeda.


"Lancang sekali, kau pikir Mama tidak mengerti maksudmu?"


"Santai, jangan terbawa emosi ... aku hanya ingin mengingatkan, jangan menyeret ibuku hanya demi membuatnya semakin terlihat buruk di mata Papa," tegas Yudha kini menatap Gilsa tajam, jika saja bukan wanita mungkin telapak tangannya sudah mendarat sempurna di wajah Gilsa.


"Satu lagi, ibu bukan pelaccur dan kehadiran kami sama-sama diinginkan ... bagaimanapun juga, ibu adalah istri papa yang dirampas kebahagiaannya karena seseorang yang tidak bisa menerima kenyataan. Padahal ikatan pernikahan itu suci dan tidak sebanding dengan sebuah hubungan yang bertahan hanya karena wanitanya mengemis minta dipertahankan."


Yudha berlalu usai bicara panjang lebar pada Gilsa dan membuat wanita itu naik darah. Rahangnya kini mengeras dengan tangan mengepal hingga buku jemarinya memutih, tanpa dia duga Yudha yang lembut ternyata lebih menyebalkan dari Bima.


"Eeeugh!! Seharusnya dia mati waktu itu!!"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2