Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 111 - Masih Punya Nurani


__ADS_3

Usai melampiaskan rasa sakit yang membelenggu dalam jiwa, Bima berlalu keluar dengan perasaan tak karu-karuan. Sesuai rencana awal, dia harus menyambut adik-adiknya nanti. Diperkirakan mungkin akan tiba siang hari, oleh karena itu dia masih memiliki waktu menjemput Lengkara dahulu.


Sama sekali istrinya tidak tahu soal ini. Dia jujur dan terbuka dalam setiap hal, tapi untuk yang kali ini Bima menutup mulutnya rapat-rapat. Bukan karena ingin bermain di belakang Lengkara, tapi besar kemungkinan tidak akan dia izinkan dan rencana yang melibatkan Kak Evan itu gagal total.


"Sudah?"


Di luar, pria tampan dengan kharisma yang begitu kuat sudah menunggu seraya tersenyum tipis melihat bercak darrah di tangan dan kemeja Bima. Agaknya, adik iparnya yang satu ini benar-benar marah dan dia sangat suka seseorang yang berani melangkah dan tidak takut akan resiko.


"Ganti pakaianmu, kau tahu istrimu pekanya luar biasa."


Bima sedikit terkejut kala pria itu melemparkan jaket dan pakaian untuknya. Dia bahkan tidak mempertimbangkan hal itu, jika saja bukan Kak Evan mungkin Bima akan kembali terjebak pertanyaan Lengkara nantinya.


Untuk beberapa saat Bima menghilang sebentar, meninggalkan tiga pria dewasa yang kini membicarakannya, lebih tepat disebut bertukar pikiran. Ya, tidak lain dan tidak bukan mereka adalah kakak ipar Bima, beserta dua teman dekatnya, Justin dan Kenny.


"Masih cupu, perlu dipoles sepertinya," tutur Justin menghela napas panjang, sama sekali tidak mereka duga jika akan kembali dipertemukan dengan kegiatan semacam ini.


"Bukan cupu, tapi dia masih punya nurani ... kau tahu sendiri dia sangat mencintai keluarga dan istrinya, jadi aku rasa Bima berpikir dua kali jika ingin menyakiti." Sebagaimana Bima segan pada Kak Evan, pria itu juga selalu menjadi pembela untuk adik iparnya.


"Benar, hati Bima selembut aku ... orang-orang yang terbiasa merasakan pahit seperti kami memang sulit untuk menyakiti orang lain."


Lihat siapa yang bicara, agak sedikit geli dan jujur saja keduanya ingin sekali memasukkan sepatu ke mulut pria yang sedang berusaha menunjukkan jiwa malaikatnya itu, Kenny.


"Kau kurang tidur, Ken?" tanya Evan usai memutar bola matanya malas, kesal sekali dia mendengarnya.


"Tidak, aku tidur dengan sangat baik. istriku memberikan service terbaiknya malam ini."

__ADS_1


"Aneh saja, kau mengigau siang hari," ucap Keyvan yang kemudian disambut gelak tawa oleh Keyvan, puas sekali hingga air matanya keluar.


Terdengar konyol, tapi pada faktanya memang benar hati Bima selembut itu. Terbukti jelas bagaimana dirinya malam kemarin, cukup lama Kak Evan membuat matanya terbuka. Hingga pada akhirnya Bima tergerak untuk mengikuti saran Kak Evan dan meringkus Panji di sebuah tempat hiburan.


Semarang ... 21:35


"Kau kenapa?" tanya Kak Evan pada akhirnya, sejak tadi dia gemas sendiri melihat Bima yang belum apa-apa sudah gusar luar biasa.


Padahal, yang bersalah adalah Panji. Namun, malam itu justru dirinya yang terlihat gugup. Dapat Kak Evan lihat dengan jelas bagaimana Bima mengatur napas berkali-kali kala memasuki tempat yang gemerlap cahaya itu.


Bukan karena dia cupu, tapi Bima merasa berkhianat pada sang istri. Dia bukan pria dengan masa lalu kelam, meski dahulu pernah melampiaskan kekacauan pada alkohol, tapi jujur saja Bima sama sekali tidak menyukai tempat ini.


"Istriku, Kak ... bagaimana aku menjawabnya?" Bima menunjukkan pesan singkat dari Lengkara yang tengah menanyakan keberadaannya.


Sontak hal itu membuat Keyvan dan kedua sahabatnya tertawa kecil. Tidak perlu diragukan lagi, adik iparnya benar-benar setia dan amat khawatir akan menyakiti Lengkara. Hendak berbohong saja dia ragu, bahkan Bima tidak memiliki keberanian untuk membalas pesan sang istri.


"Hm, aku sudah berjanji tidak akan pernah berbohong padanya," jawab Bima pasrah kemudian menyerahkan ponselnya. Sama sekali dia tidak malu, walau ketikan Lengkara persis anak muda yang baru pacaran untuk pertama kali.


"Adik kecilku sudah dewasa sekali ternyata." Keyvan mengenal Lengkara sejak dia berusia 7 tahun, jelas saja pria itu merasa lucu kala menyadari gadis kecil yang dahulu kerap membuatnya harus mengalah karena Mikhayla harus menjaganya kini sudah bersuami.


"Sudah, matikan ponselmu dan sekarang fokus pada tujuan awal kita ... arah jam dua, benar dia yang kau maksud?"


Mata tajam Bima kembali fokus pada pria yang Kak Evan maksud. Sesuai dugaan, Panji benar-benar datang untuk bersenang-senang demi menghabiskan uang yang Gilsa berikan. Ya, tanpa Gilsa ketahui sejak kedatangan Panji, dia menjadi objek yang diawasi seketat itu.


Tidak hanya sebatas diawasi dengan mata, tapi Yudha juga menyadap ponsel Gilsa hingga dia mendengar dengan jelas bagaimana Gilsa yang mengancam Panji agar tidak datang lagi. Sudah jelas, dengan bayaran yang tidak murah dan sialnya uang itu berasal dari Papa Atma.

__ADS_1


Sebuah fakta yang membuat Bima sangat tidak rela, hingga ketika berpura-pura untuk bersikap baik dia agak sulit. Dia melangkah pelan dengan tatapan tajam yang tertuju pada Panji, tidak lupa dengan tangan terkepal hingga buku jemarinya memutih.


"Om," sapa Bima sedikit kaku, jujur saja sejak pertama kali melihatnya dada Bima sudah sesak.


"Ah aku kenal siapa kau ... putra Atma?" Dia menyapa begitu lembut, bahkan jika dilihat saat ini rasanya aneh saja pria seperti dia berkhianat sedalam itu.


"Benar, boleh aku duduk di sini?"


"Tentu saja."


Bima bersikap layaknya orang baik di hadapan Panji, dia rela membayar mahal untuk semua minuman yang memabukkan dan membuat pengakuan yang sangat ingin Bima dengar itu lolos dari bibir Panji.


Pengakuan tentang misinya menghabisi Yudha, tapi gagal karena kehendak semesta. Hubungan bersama Gilsa yang ternyata dimulai sejak pernikahan Papa Atma berjalan baik dengan Seruni dan lain sebagainya.


"Woah, mengagumkan ... tapi apa om tidak merindukan Raja dan Juna?"


"Hahaha tentu saja, mereka putraku dan Gilsa tidak mengizinkan mereka mengenal ayahnya sendiri, sangat menyedihkan bukan?"


"Ah, turut berduka ... apa om bersedia aku pertemukan? Kebetulan, aku bisa mengabulkannya tanpa khawatir papa mengetahuinya."


Penawaran itu membuat hati nurani Panji sebagai seorang ayah tersentuh, dia menurut begitu saja begitu Bima menuntunnya keluar. Tanpa pernah dia jika mobil yang sudah dipersiapkan untuk membawanya itu tidak mengantarkannya pada Raja dan Arjuna, melainkan gudang kosong yang tampak gelap dan lembab dengan beberapa serangga yang hinggap bebas di tubuhnya.


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2