
"Ra jangan ger_ sshhh, Kara."
Berawal dari permintaannya jangan bergerak, beberapa saat kemudian dia sendiri yang bergerak. Semudah itu Lengkara membuatnya takluk, padahal dengan jelas Evan sempat memanggilnya beberapa kali sebelum Bima menutup teleponnya.
Lengkara adalah wanita pertama baginya, dan jelas akan menjadi wanita terakhir yang mampu membuatnya mandi dua kali dalam jangka waktu kurang dari 30 menit. Bima terjebak, mana mungkin dia keluar menemui kakak ipar dengan adik kecil yang terbangun itu, sudah jelas harus ditidurkan lebih dahulu.
"Mas ... bajunya ambil sendiri ya," tutur Lengkara yang sudah terkapar di tempat tidur, dia yang memulai dia juga yang kelelahan.
"Hm, kamu mau tidur?"
Lengkara hanya mengangguk, tapi hal itu justru lebih baik dibandingkan di aktif lagi. Jujur saja Bima khawatir, dia agak sedikit takut jika Lengkara justru beranjak dan kembali menggodanya.
Bukan tidak ingin, bukan pula tidak rindu atau semacamnya. Hanya saja, untuk saat ini memang belum bisa dan ada sesuatu yang tidak kalah penting, yakni terkait masa depannya.
Bima agak gugup, dia berkali-kali menatap jam lantaran khawatir Kak Evan terlalu lama menunggu. Wajahnya mulai pucat, hanya hanya sepuluh menit yang mereka habiskan dan Bima merasa sudah begitu lama.
Jika sampai Kak Evan marah dan tak suka, maka besar kemungkinan langkah pertamanya ini akan gagal. Setelah sekian lama, Bima kembali seperti hendak pergi sekolah sewaktu SMP, gugup bahkan ritsleting saja membuatnya marah.
"Auuh sialan!! Apa maumu," umpatnya kesal dengan suara keras hingga Lengkara yang mulai terlelap bangkit dan memintanya mendekat.
"Mas mengganggu tidurmu? Maaf, Ra ... ritsletingnya susah." Suara Bima melemah, Lengkara yang mengusap pelan dadanya sudah menegaskan jika dia memang terkejut.
"Dibilangin sini juga."
"Bisa sendiri, Ra, tenang," tolak Bima yang membuat Lengkara mendadak tak suka.
__ADS_1
"Mas jangan ngeyel, kamu takut? Tidak akan kuelus, cuma bantu tutup juga."
Bima tertawa kecil, kenapa bisa tepat sekali perkiraan Lengkara. Memang fakta dia takut, jemari Lengkara terkadang jahil dan kerap cari perkara, itu penyebab Bima takut kali ini. Tidak lucu saja jika kembali mengulang babak kedua, maklum imannya agak sedikit tipis.
Sebagaimana yang Lengkara katakan, bahwa jemarinya memang bisa apa saja. Setelah Bima yang marah besar hanya karena kesulitan menutupnya, bagi Lengkara mudah saja dan tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga.
Untuk kali ini dia serius, niatnya benar-benar hanya untuk membantu sang suami, bukan yang lain. Selesai dengan tugasnya, Lengkara kembali merebahkan tubuh yang terasa begitu lelah, padahal dia tidak kerja.
"Mas pergi ya cantik, jangan ditunggu kalau nanti lama." Meski dalam keadaan tergesa-gesa, tetap saja Bima menyempatkan diri untuk mengecup sang istri. Tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali.
Kembali pada tujuan awalnya, Bima turun dengan sedikit tergesa. Besar kemungkinan Kak Evan sudah bosan menunggunya, hingga langkah Bima terhenti di ruang tamu kala mendapati kakak iparnya tengah duduk manis dengan tatapan tajam yang tertuju padanya.
Tidak hanya sendiri, tapi di sana hadir Zean juga. Sudah tentu tatapan tak terbaca Zean tengah mencari celah untuk melontarkan perkataan yang siap mengguncang batin Bima.
"Kenapa lama sekali, Bim?" tanya Kak Evan datar seperti biasa, bukan marah ataupun tidak suka, tapi memang begitu gayanya.
"Mandi?" Kak Evan melirik jam tangannya. Dia ragu, dan tampak mengira sesuatu di luar dugaan Bima. "Mandi apa sampai selama ini?" lanjut Kak Evan lagi yang berhasil membuat Bima mati kutu.
"Mandi dua kali mungkin, Kak ... Bima tanam saham mandiri sepertinya," sahut Kak Zean asal jeplak sembari tertawa sumbang, sementara Kak Evan hanya memijat pangkal hidung seraya menggeleng pelan.
"Iya, 'kan, Bim?"
Mana mungkin Bima menjawab ucapan Zean, sekalipun itu benar. Terpaksa, dia memilih diam demi menyelamatkan diri. "Diam berarti iya, rambutnya masih basah lagi ... jangan mandi terus, Bim, nanti masuk angin bahaya."
"Maklumi saja, Zean, dia pengantin baru, seperti kau tidak saja," timpal Kak Evan di luar dugaan, mungkin karena mereka memiliki istri yang sejenis, sama-sama berbakat membuat suami terpikat hingga tidak dapat mengelak.
__ADS_1
"Aih aku tidak ya, ada waktunya, Brother ... malam jum'at atau kamis malam, begitu." Zean tengah membual dan membuat Bima yang sempat mengingat kegiatannya di kantor sama sekali tidak percaya.
"Kenapa wajah kalian begitu?Memang benar dan ini fakta." Sadar dengan keraguan yang muncul di wajah kedua pria itu, Zean sontak membela diri.
"Hm, iyakan saja biar besok dia masuk peti mati ... ayo, Bim," ajak Kak Evan berlalu lebih dahulu dan diikuti Bima yang merasa merdeka karena pria waras dengan sejuta pesona itu berada di pihaknya.
"Woah? Aku diabaikan begitu saja? Hei tunggu aku anak kuda!!"
.
.
Detik, menit berlalu cepat dan siang yang tadi menyapa kini berganti, Lengkara sudah bangun sejak beberapa jam yang lalu dan memilih menanti sang suami di balkon kamar. Langit kelam yang kini dia tatap seolah mengerti jika suasana hati Lengkara sedang muram.
Dia sedih, mau sebahagia apapun Bima bersamanya, tapi tetap saja dia merasa bersalah atas apa yang terjadi selama tiga tahun terakhir. Walau sudah Bima katakan masa lalu sudah usai, tapi ketika mengingat semua itu yang ada dalam diri Lengkara hanya penyesalan.
Keputusan untuk keluar dari rumah hanya demi seorang wanita cukup membuat hati Lengkara menghangat, begitu jelas dia ingat bagaimana Bima sampai marah pada Papa Atma kala itu. Sayang, setelah ini mungkin dia harus terbiasa kembali dibatasi waktu dan tidak selamanya Bima berada di sisinya.
Lama dia menunggu, hingga ponselnya bergetar. Lengkara yang begitu merindukan Bima tanpa pikir panjang menerima panggilan tersebut, sudah tentu dengan panggilan Sayang yang mendayu hingga sang penelpon sesungguhnya merasa terganggu.
"Sayang kepalamu!! Ke rumah sakit sekarang!!"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -