Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 98 - Tidak Adil


__ADS_3

Baru saja dipikirkan, Lengkara justru mendapat kabar buruk. Wajar saja firasatnya tidak enak, setiap kali mengingat Bima dia seolah ingin menitikkan air mata. Benar kata Mama Zia, pasangan yang saling mencintai begitu dekat bahkan batin keduanya saling terikat.


Meski Zean menghubunginya hampir larut malam, Lengkara tidak berpikir dua kali untuk segera ke rumah sakit. Dia begitu terburu-buru, bahkan pakaiannya saja belum berganti. Sama sekali Lengkara tidak berpikir jika nanti sang suami justru ketar-ketir jika melihat penampilannya.


"Kenapa bisa ... ya, Tuhan sudah tahu penyakit kenapa masih dimakan, Mas."


Sepanjang perjalanan Lengkara terus menggerutu dan ingin marah sebenarnya. Sama seperti tiga tahun lalu, Bima kembali tersiksa akibat alergi daging merah. Dimana dia dapatkan Lengkara juga tidak tahu karena wanita itu tidak bertanya pada Zean, yang jelas saat ini dia ingin segera tiba ke tempat tujuan.


Tanpa ditemani siapa-siapa, Lengkara mengemudi dengan kecepatan tinggi dan hanya membutuhkan waktu untuk tiba di rumah sakit. Tiba di sana, kakinya seakan lemas dan menghampiri Bima yang tampak terkejut dengan kedatangannya.


"Ra? Kamu sama siapa, Sayang?" tanya Bima masih sedikit terkejut dan tidak menyangka yang ada di hadapannya benar-benar sang istri.


"Kak, kenapa bisa? Baru sekali ikut langsung sakit begini ... aku jaga Hudzai sepenuh hati, kenapa kakak tidak begitu?"


Bukannya menjawab pertanyaan Bima, Lengkara justru beralih pada sang kakak yang kini mengerjap pelan dan bingung dimana letak kesalahannya. Dia sudah berusaha melakukan kewajiban sebagai kakak ipar yang baik untuk Bima, bisa-bisanya menjadi sasaran amarah.


"Mana kutahu Bima alergi, Kara ... Bima sendiri yang seharusnya sadar dan sudah tahu berbahaya jangan dimakan, itu akibat terpesona istri bang Justin jadi tidak sadar itu daging sapi atau daging unta."


Zean yang kesal lantaran menjadi objek kemarahan Lengkara, sengaja mencari celah agar Bima terkena batunya. Susah payah dia menjaga Bima, bahkan sejak awal pria itu sesak napas dia paling panik sementara Kak Evan tampak tenang sembari fokus dengan kemudinya.


Niat Kak Evan mengajak Bima malam ini adalah menemui sahabatnya yang juga siap menjadi pendukung Bima. Sebagai tuan rumah yang baik, sudah jelas mereka dijamu sedemkian rupa hingga ketiganya makan malam di sana.

__ADS_1


Namun, entah bagaimana cerita menurut versi Bima, yang jelas ketika di perjalanan pulang Bima mendadak aneh. Dia tidak mengetahui jika Bima memiliki alergi terhadap daging merah.


Sekalipun dulu sudah pernah dirawat, tapi apa yang terjadi pada Bima dahulu sama sekali tidak sampai ke telinga Kak Zean. Dia pikir sakit karena kelelahan, jelas saja kali ini dia bingung dan tidak terima ketika pemilik pria itu marah.


"Ya setidaknya tanya dong!!"


"Sudahlah ... aku pulang saja, ngantuk dan kepalaku bisa sakit terus-terusan di sini. Lekas membaik, Bim. Aku sudah mengabari Yudha, besok dia datang jadi tunggu saja," ucap Kak Zean memilih mengalah, meski jujur saja dia masih ingin membuat pasangan itu perang sekalian.


Sama halnya seperti Kak Zean, kak Evan juga memutuskan untuk pergi setelah menemani Bima. Kebetulan sang istri yang merupakan dokter paling cantik di rumah sakit ini juga sebentar lagi pulang.


Bima benar-benar merasa tidak enak pada keduanya. Terlebih lagi kala Lengkara justru meluapkan amarah lantaran Kak Zean seakan gagal menjaganya, tidakkah Lengkara sadar jika sang suami sudah sedewasa itu? Agaknya tidak perlu dilindungi pengasuh layaknya bocah ingusan lagi.


"Jangan khawatir, mas baik-baik saja, Ra."


"Tidak enak ditolak, Ra, mas pikir tidak akan jadi masalah ternyata masih."


Kembali Lengkara menghela napas panjang, sikap Bima yang memang selalu berusaha menjaga perasaan orang lain adalah hal baik yang tidak perlu dipertahankan sebenarnya.


Hanya karena menghargai istri Justin, sahabat Kak Evan dia sampai rela kembali menyiksa diri seperti dahulu. Bima mengenggam jemari Lengkara seolah menjelaskan bahwa dia baik-baik saja.


"Jangan berlebihan menjaga hati orang, Mas ... beruntung saja kak Zean cepat bertindak, kalau tidak gimana? Andai kamu sendirian dan tiba-tiba mengalami hal ini lalu mau gimana? Kamu tidak hidup sendirian di bumi ini, Bima. Jika sesuatu yang buruk terjadi, orang-orang yang menyayangimu bagaimana? Coba pikirannya diperluas lagi, bisa?"

__ADS_1


Bima terdiam, dia mengatupkan bibir mendengar celotehan panjang lebar dari sang istri yang lagi-lagi seakan tengah menegaskan jika dia benar-benar takut kehilangan. Tatapan keduanya terkunci sesaat, Bima terenyuh mendengar penuturan sang istri yang membuatnya merasa begitu dicintai.


"Mas dengar tidak? Kenapa cuma bengong begitu?"


"Dengar, Sayang dengar ... maaf ya, lain kali tidak akan mas ulangi. Ayo tidur, kamu pasti sudah tidur tadi, 'kan?" Bima meminta sang istri untuk tidur di sisinya, pemandangan di depannya mulai membuat tidak fokus dan lebih baik masuk di selimut yang sama dengannya.


"Belum, aku sengaja tunggu kamu."


"Wajar pakai baju ini," ucap Bima seketika membuat Lengkara tersadar dan menunduk segera.


Seketika mulutnya menganga dan bertanya, apa mungkin sejak tadi dia begini? Wajar saja orang-orang melayangkan tatapan aneh padanya. Dugaan Lengkara jika orang-orang terpesona dengan kecantikannya ternyata salah besar.


"Mas aku malu, jelas banget ya?" Lengkara menggigit bibir dan tampak begitu panik, padahal sudah terjadi.


"Hm, jelas sekali dan rasanya aku ingin marah ... berapa banyak yang melihatmu?"


"Banyak, di depan orang semua, Mas."


"Iya, mas tahu, mana mungkin ada kudanil, Ra."


.

__ADS_1


.


- Eits!! Tunggu dulu ... sebelum ditutup jan lupa ritual hari senin (vote dulu ya, Best)😗💕 Terima kasih -


__ADS_2