
Setelah pertikaian itu, Gilsa menyadari jika Yudha berbahaya. Wanita itu mengepalkan tangan seraya menatap tajam punggung Yudha yang kian menjauh. Sejak kehadirannya tiga tahun lalu, Gilsa sudah merasa keberatan.
Firasatnya mulai buruk, dan hal itu kian terbukti seiring dengan Yudha yang perlahan membaik. Atma yang dahulu condong pada Raja dan Arjuna kini tidak lagi, sekalipun itu terlihat adil, tapi Gilsa benar-benar tidak suka.
Entah apa yang dilakukan Yudha, yang jelas Gilsa curiga jika otak Atma sudah dicuci hingga berpaling secara perlahan. Padahal, dahulu dia tidak demikian dan memang hanya terfokus untuk membentuk Bima agar perusahaan tidak pernah terguncang.
"Calmdown, Gilsa ... kamu harus mengalah dahulu, ingat itu!!"
Persetan dengan Yudha, jika dia terlalu fokus dengan pria itu maka besar kemungkinan Papa Atma akan semakin membencinya. Untuk itu, Gilsa tidak ingin membuat semuanya menjadi rumit dan memilih untuk menghampiri sang suami.
Sempat tersaingi di masa muda membuat Gilsa benar-benar seakan gila. Meski Atma hanya mengatakan menjenguk Bima, tapi firasat Gilsa sudah berbeda dan dia menduga jika ada sesuatu yang terjadi antara sang suami dengan Seruni, wanita yang merampas Atma secara paksa atas datar tanggung jawab.
Perasaan itu semakin memburuk kala tiba di kamar, Papa Atma seakan mengabaikannya. Gilsa yang benar-benar bingung kesalahannya apa jelas saja mengepalkan tangan. Selama ini, sekalipun pernah bertikai, tapi tidak sampai menyakiti dan mendiamkannya begini.
"Mas ... bukankah seharusnya aku yang marah?"
Masih diam, Papa Atma tetap bergeming seolah tidak peduli celotehan istrinya. Dia kembali fokus menggulir layar ponsel demi mengirimkan pesan singkat untuk Bima, hanya sekadar mengabari jika dia sudah tiba.
Hal yang tidak pernah Papa Atma lakukan sebelumnya. Walau Bima mungkin terpaksa demi terlihat baik-baik saja di hadapan sang mertua, tapi jujur saja kalimat Pa, kalau sudah sampai kabari aku yang dia lontarkan membuat Papa Atma melemah, bahkan dia tersenyum kala Bima membalas pesannya.
Entah siapa yang menasihati putranya hingga masih berbaik hati seperti itu, andai saja Lengkara sudah pasti dia benar-benar merasa malu. Dia terlena hanya karena Bima, hingga sang istri yang sejak tadi memperhatikannya sama sekali tidak Papa Atma gubris.
__ADS_1
"Oh begitu sekarang? Kamu coba-coba menghubungi Seruni, Mas?!"
Tanpa aba-aba Gilsa merampas ponsel Papa Atma begitu kasar. Dia terkejut, keningnya berkerut dan kembali menatap tajam Gilsa yang lancang dan bertindak sesuka hatinya.
"Curigamu keterlaluan, kenapa belum berubah juga, Gilsa?"
Sejak dahulu, Gilsa memang selalu curiga padanya. Khawatir jika Atma pergi dari hidupnya, khawatir jika Atma kembali menghubungi Seruni dan masih banyak lagi. Dia takut, karena bagaimanapun juga antara Atma dan Seruni sudah terikat lebih dahulu.
"Setelah perlakuanmu hari ini, jelas saja aku curiga, Mas ... akhir-akhir ini kamu memang berbeda, dan malam ini adalah puncaknya. Apa salahku? Aku istrimu, salah jika bertanya seperti tadi? Hm?" tanya Gilsa lembut sekali, salah-satu cara yang dia gunakan untuk membuat Papa Atma luluh ialah kelembutannya.
"Ya kau memang istriku, istri yang aku percayai bisa menjaga putraku ... tapi ternyata kau bahkan lebih kejam dari hewan, Gilsa."
"Aku benar-benar bodoh dan terlalu mempercayaimu, sampai aku tidak pernah berpikir untuk mendengar penjelasan dari sudut pandang putraku," sesal Papa Atma yang tengah mengutuk diri sendiri akibat lebih percaya ucapan Gilsa yang kerap mengatakan betapa nakal Bima kecil hingga dia turut menghukumnya.
"Pengaduan apa? Mas jangan bercanda, aku sangat menyayangi Bima dan kamu tahu soal itu."
"Sayang? Jika sayang menurutmu sampai tega mengurungnya di kamar hingga kelaparan setiap aku pergi, lalu bagaimana jika tidak sayang? Mungkin sudah kau bunuh putraku bukan?"
Gilsa meneguk salivanya pahit, ucapan Papa Atma sontak membuat matanya mengerjap pelan. Apa maksudnya? Bukankah selama ini dia berhasil bersikap baik di hadapan Atma? Lagi pula, sudah lama dia tidak melakukan hal semacam itu, terlebih lagi kala Bima beranjak remaja.
Wajah Gilsa seakan memerah, dia bingung hendak bagaimana karena posisinya semakin terancam. Wajar saja sang suami sampai hati menamparnya, ternyata bukan soal Seruni, tapi pengaduan Bima.
__ADS_1
Agaknya dia tidak memiliki kesempatan untuk melunakkan hati Papa Atma, pria itu memilih pergi usai menarik ponselnya kembali dari tangan Gilsa. Tanpa sepatah kata, Gilsa sempat bergetar mendengar pintu yang dibanting hingga mengeluarkan suara yang luar biasa memekakkan telinga.
"Dasar anak pelaccur!! Berani sekali kalian mengusik ketenanganku!!"
Setelah tadi sempat sakit kepala menghadapi Yudha, kini dia semakin gusar karena Bima juga sudah berbeda. Pria lugu dan penurut itu tidak lagi sama, dia berani berulah dan membuat posisi Gilsa terpojok.
Dalam keadaan kacau dan kepala yang sakit luar biasa, Gilsa mendapat panggilan dari seseorang yang kemungkinan akan membuatnya semakin sakit jiwa. Dadanya naik turun, dia menatap kesal nama seseorang di layar telepon.
"Apa lagi? Bisakah kau tahu waktu sedikit?!!" sentak Gilsa meninggi dan mungkin saja telinga sang penelpon mendadak sakit.
"Seperti biasa, aku harus pindah apartemen dan yang ini harganya agak sedikit mahal."
"Kau gila? Dalam satu bulan ini aku sudah mengirimimu dua kali, kemana saja uangnya?" tanya Gilsa sama sekali tidak bersahabat, dan dia benar-benar ingin marah kali ini.
"Sayang ... kau tahu kemarin aku baru saja kecelakaan dan mobilku rusak parah. Kau hanya memberiku 50 juta, jelas kurang!!"
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1