
"Yudha tunggu!!"
Jika biasanya Zean kerap membuat suasana memanas, kali ini dia berbeda. Usai berlalu meninggalkan kamar sang adik, Zean membuntuti Yudha dengan langkah panjangnya. Cukup lama Zean mengikutinya, hingga Yudha baru berhenti ketika memasuki area parkir.
"Kau mau kemana?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu hendak kemana," jawab Yudha tertawa pelan, dia bingung tentang apa yang terjadi pada dirinya.
"Hatimu sakit, kau tidak butuh pelukanku?"
Sebagai sahabat, Zean merentangkan tangannya jika Yudha bersedia. Namun, dengan Zean yang bersikap demikian justru membuat pria itu tertawa. Ada-ada saja, sama sekali tidak dia duga jika bos banyak mau dan kerap menyita waktunya selama bertahun-tahun ini akan bersikap manis di masa depan.
"Berlebihan, aku tidak selemah itu."
"Aku harap kau tidak sedang berbohong," ucap Zean menatap lekat wajah Yudha, andai jadi dia mungkin Zean juga takkan sanggup.
"Semalam Bima mengatakan dia terluka, aku bahkan takut tidak akan pernah melihatnya esok hari. A-aku tidak sadar sungguh, semua itu terjadi tiba-tiba dan aku lupa tentang Bima." Tanpa diminta, Yudha justru memaparkan penjelasan secara rinci pada Zean dengan harapan tidak akan ada kesalahpahaman nantinya.
"Kau menyayanginya?"
"Pertanyaanmu konyol sekali," balas Yudha terkekeh pelan, seolah tidak ada pertanyaan lain.
"Aku hanya tanya ... benar masih sayang?" selidik Zean seolah menggantikan Bima, padahal adik iparnya mungkin biasa saja sembari menemani sang istri di ruang rawat.
"Tentu saja, tapi bukan sayang yang bagaimana ... aku tahu batasku, Ze tenang saja." Walau Zean tidak memperlihatkan kekesalannya, tapi sorot tajam Zean dapat dengan jelas dia definisikan.
"Bagus jika begitu, aku yakin kau mengerti cemburunya laki-laki pada wanita yang sudah berstatus istri itu berbeda, Yudha ... terlebih lagi kau adalah masa lalunya, enam tahun bukan waktu singkat dan jangan membuat Bima merasa kalah."
Yudha mengangguk pelan, tanpa dijelaskan sebenarnya dia paham. Selama ini juga sudah Yudha lakukan, dia mengerti bagaimana perasaan Bima dan karena itulah dia bersikap santai pada Lengkara.
"Sudah lupakan, aku percaya suatu saat nanti Tuhan akan mempertemukanmu dengan cinta yang sesungguhnya ... kau kaya, tampan dan pria sempurna. Kau berhak dapat yang lebih baik dari Kara, setidaknya waras dan tidak banyak ulah."
Selalu saja, sejak dahulu memang Zean tidak berubah. Padahal, yang jadi adiknya adalah Lengkara, tapi dia selalu berada di pihak lain. Anehnya, cara ini selalu berhasil menjadi penenang.
"Sebentar, aku hubungi Papa ... mereka kemana sebenarnya."
Sebelum kedatangan Papa Atma, Papa Mikhail mengatakan jika akan makan siang bersama. Mungkin karena tidak begitu penting, keduanya ditinggal begitu saja. Cukup lama Zean mencoba, tapi hasilnya sama.
"Kenapa? Tidak diangkat?"
__ADS_1
"Papa kebiasaan lupa anak kalau sudah sama mama ... menyebalkan sekali, apa aku ini anak tiri?" Dia mengomel lantaran panggilannya seolah diabaikan sang papa.
Kemungkinan besar masih marah perkara bunga tabur dan penyebaran aib di depan Bima. Memang, setelah hal itu terjadi Papa Mikhail seolah melayangkan tatapan permusuhan padanya selama di ruang rawat Lengkara.
"Astaga, Papa!! Benar-benar ... aku benar-benar dibuang sekarang? Aih aku minta mama cari papa baru tahu rasa dia."
Tingkah Zean yang kesal sendiri lantaran diabaikan papanya seketika membuat Yudha tertawa. Jika dahulu dia yang akan jadi sasaran, kini bebas karena Zean tidak lagi memiliki kuasa atas dirinya. Status mereka sama, bahkan keduanya akan menjadi rekan bisnis di masa depan.
"Kau mengejekku sekarang?" tanya Zean kembali datar dan menunjukkan kekesalannya.
"Hahah tidak, tapi sepertinya kau memang dibuang," jawab Yudha tanpa rasa takut kali ini, beruntung saja Zean tidak marah.
"Kalau begitu coba kau yang telepon, Yudha."
"Oh iya, kenapa aku tidak berpikir kesana," ucap Yudha kini merogoh ponsel dari sakunya. Namun, kali ini nasib mereka sama, sama-sama sial dan merasa diabaikan karena papa Atma melakukan hal yang sama.
"Apa? Tidak diangkat juga?"
"Hm, sepertinya papaku sib_"
"Hahaha rasakan, kau juga tidak dianggap," ucap Zean bahagia sekali, padahal mereka sama-sama menyedihkan kali ini.
.
.
Bukan karena putra mereka tidak penting, tapi memang di antara mereka tidak berpikir akan dihubungi. Lagi pula ponsel sengaja diatur dengan mode senyap demi kenyamanan dan memang tidak ingin diganggu.
Niat hati hanya ingin memberikan ruang untuk anak-anak mereka menyelesaikan masalah, Papa Mikhail justru memutuskan untuk mengajak makan siang. Sejak tadi pagi dia hanya sempat sarapan bubur ayam, jelas saja sebelum jam makan siang perutnya mulai berontak.
Semua terlihat baik-baik saja, baik Bu Seruni maupun Papa Atma mereka seolah menyatu dalam pembicaraan. Keduanya terlihat seperti pasangan, sama seperti Papa Mikhail dan Mama Zia.
Tanpa terduga, jika wajah yang terlihat sumringah itu tengah berperang dengan pikiran masing-masing. Setelah puluhan tahun terpisah, pria tampan yang tak lagi muda bernama Atmadjaya Aksa itu kembali ke tempat yang dahulu kerap dia datangi demi memenuhi keinginan istrinya.
"Ayam bakar di sini enak sekali, coba lah." Papa Mikhail mana tahu isi pikiran pria di hadapannya, yang dia lakukan jelas hanya menjadi duta kuliner belaka.
Bu Seruni kini terdiam, senyumnya terlihat pudar kala Papa Atma mulai mencicipi menu tersebut. Entah kenapa, dia seolah menunggu jawaban pria itu.
"Bagaimana? Enak bukan?"
__ADS_1
"Rasanya sedikit berbeda dari generasi pertama ... cara memasaknya mungkin sudah berubah," jawab Papa Atma tanpa menatap lawan bicaranya, melainkan ayam bakar yang memang sangat berbeda seperti yang dia nikmati sewaktu muda.
"Wah, jadi Anda sudah pernah makan di sini sebelumnya?" tanya Papa Mikhail mendadak tertarik, padahal hanya perkara ayam bakar.
"Beberapa kali, dulu istri saya benar-benar menyukainya dan ketika saya ke Jakarta hanya ini yang dia minta jadi saya juga ikut suka," ucap Papa Atma terdengar santai, sementara Bu Seruni mulai panas dingin dengan dada yang mendadak sesak mendengar ucapan mantan suaminya.
Hendak bertanya lebih lanjut, tapi Mikhail urungkan lantaran sang istri sudah mencubit perutnya. Kemungkinan besar demi menjaga batas agar tidak berlebihan.
"Anda benar-benar suami yang baik, wajar Bima juga baik juga." Entah benar atau tidak, yang jelas Mikhail asal bicara karena mulai menyadari situasi mulai kacau saat ini.
"Tidak, saya adalah suami yang paling buruk di dunia mungkin," ucapnya kemudian terkekeh pelan dan membuat, sementara Papa Mikhail yang telanjur mengorek masa lalu besannya tidak punya pilihan lain selain ikut tertawa.
"Papa!!"
Dewa penyelamat itu muncul, Papa Mikhail bergegas menoleh dan menyambut putra kesayangannya itu untuk duduk segera. Sungguh, dia menyesal sekali tidak menunggu Zean, dia lupa jika putranya yang satu ini pandai bicara dan mampu mengembalikan keadaan secepatnya.
"Kau dari mana saja? Papa menunggumu lama sekali!!"
"Menunggu apanya? Papa bahkan tidak mejawab teleponku," kesal Zean menghela napas pelan, sama sekali dia belum paham kenapa papanya mendadak baik.
"Ah sudahlah, adikmu bagaimana? Tidak ada masalah, 'kan?"
"Tidak ada, mereka akur-akur saja mungkin sudah pelukan," jawabnya kemudian dengan mata yang sudah tertuju pada hidangan di meja.
"Ya sudah, ayo bergabung," tutur Papa Mikhail merangkul keduanya, tidak hanya Zean, melainkan Yudha juga.
Kedua pria berbeda generasi itu masih terus bertikai kecil layaknya seorang anak yang menuntut keadilan karena merasa diabaikan. Sementara di sisi lain, hati Yudha justru menghangat melihat pemandangan di hadapannya.
Dia tidak salah lihat, dengan mata kepalanya sendiri Yudha menyaksikan kedua orang tuanya duduk berdampingan siang ini. Andai Bima melihatnya, mungkin yang mereka rasakan akan sama.
"Andai papa tidak menodai janji, mungkin pemandangan ini akan kami lihat setiap hari," Yudha membatin sebelum kemudian duduk di sisi Zean, demi apapun ingin rasanya dia sesumbar pada Bima jika hari ini makan di meja yang sama bersama kedua orangtua secara utuh.
.
.
- To Be Continued -
Hai, aku lupa kasih tahu dari kemarin ... buat yang mau intip visual sudah aku up di Instagram ya, follow ig : desh_puspita terima kasih❣️
__ADS_1