
Baru saja Bima merasa sedikit lebih tenang dengan Lengkara yang tidak memperpanjang masalah mereka. Kini, pria itu kembali dibuat sakit kepala akibat Yudha yang mendadak tidak bisa dihubungi. Tidak biasanya Yudha begini, meski tidak segera menelepon, tapi setidaknya setelah di rumah dia akan mengirimkan pesan singkat pada Bima.
Lengkara mengutarakan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Tidak dapat dia pungkiri seorang Yudha bisa saja lupa, karena sewaktu menjalin hubungan dengannya saja, Yudha kerap lupa memberikan kabar dan Lengkara tidak akan tahu keberadaannya dimana jika tidak menghubungi lebih dulu.
"Firasatku buruk, Ra, tidak biasanya aku begini."
Meski tidak ada pertanda seperti di sinetron favorit Bu Seruni, tapi hati Bima mengatakan hal lain. Dia berdebar tak karuan, ketakutan dan rada cemas menyatu hingga membuat pria itu benar-benar gusar.
Bima bangun dan menatap jam di atas nakas, berdasarkan perkiraan mereka seharusnya Yudha sudah berada di Semarang. Namun, hingga detik ini telepon Bima belum berdering dan tidak ada tanda-tanda pria itu akan mengabarinya.
Sekalinya berdering, pesan itu tidak lain dan tidak bukan dari operator dan sukses membuat Bima naik darah. Bukan hanya itu yang membuat Bima sakit kepala, tapi Raja dan Arjuna yang mendadak sulit dihubungi juga menjadi penyebabnya.
"Ya, Tuhan kemana kalian semua!!" Bima geram, dia mengepalkan tangan sembari terus mencoba menghubungi kedua adiknya.
"Raja?" Setelah beberapa saat berperang dengan kekesalan, suara Raja akhirnya sejenak menjadi penenang bagi Bima.
"Ada apa, Kak?"
"Papa dimana?" tanya Bima tanpa basa-basi, meski dia tidak yakin bahwa Raja ada di rumah saat ini, dia tetap saja bertanya.
"Bukankah seharusnya aku yang tanya?"
__ADS_1
Jawaban Raja kian membuat suasana hati Bima gusar. Tanpa bertanya lagi, pria itu mengakhiri sambungan teleponnya dan mencoba menghubungi Pak Chan. Meski sebenarnya sudah tahu jika akan percuma, tetap Bima lakukan.
Benar saja, jawabannya sama. Pak Chan sama sekali tidak tahu dimana keberadaan mereka. Belum berakhir kegundahan Bima, Bu Seruni mengetuk pintu kamar dengan cara yang tidak biasa.
"Kenapa, Bu?"
"Yudha ...." Suara Bu Seruni tampak tercekat, lidahnya kelu dengan mata yang kini telah mengembun.
"Yudha? Yudha kenapa?"
"Kamu harus lihat berita."
Sejak tadi firasat Bima sudah kacau, jelas saja kini kian menjadi. Tidak hanya Bima, Lengkara juga sama paniknya. Sebelumnya Lengkara yakin tidak ada yang salah, tapi jika sudah dihadapkan dengan fakta semacam ini lutut wanita itu sontak melemas.
"Mas Yudha?"
Tidak ada kata takut suaminya cemburu, Lengkara jelas saja tidak mampu menyembunyikan kesedihannya. Seakan kembali ke masa lalu, Lengkara bertanya kepada semesta kenapa Yudha harus berkali-kali mengalami kecelakaan tragis semacam itu.
Melihat keadaan semakin genting, Bima mencoba tenang meski hatinya kini hancur berkeping-keping. Yang benar saja, dia dan Yudha terpisah sejak lama, kenapa harus mereka mengalami hal sepahit ini? Sejahat itukah takdir padanya? Apa 27 tahun itu kurang hingga harus diakhiri dengan cara semacam ini.
"Tenanglah, bisa jadi mereka salah bukan?"
__ADS_1
Sama-sama hancur, jujur saja dirinya juga butuh kekuatan sebenarnya. Namun, melihat Lengkara yang kini tersedu-sedu, Bima menutupi kehancurannya. Tanpa mengalihkan pandangan, manik tajam Bima tetap fokus pada layar televisi seraya merengkuh sang istri begitu erat.
Untuk kesekian kali, Bima menjadi munafik. Mulutnya bicara begitu, tapi pikirannya sudah terlampau jauh. Bayangan tentang hari dia kehilangan Yudha terlampau jelas, entah jasad atau hanya tinggal nama, Bima tidak tahu bagaimana nantinya.
"Jika memang sepahit ini, seharusnya sejak awal aku tidak perlu tahu tentangmu Yudha."
Kembali, bayangan tentang semua kesulitan dan luka yang terjadi dalam hidup Yudha tergambar jelas di benak Bima. Semua memang berawal dari dirinya, andai saja kala itu memilih diam dan hidup masing-masing, maka Yudha tidak akan kecelakaan hingga lumpuh.
Tidak pula terjadi pernikahan yang membuat mereka terjerat konflik cinta segitiga. Terakhir, tidak akan pula terjadi mimpi buruk di hari ini. Sebuah fakta yang tidak dapat Bima pungkiri, nestapa Yudha berawal darinya dan hal itu membuatnya seolah merasa bersalah andai nanti hidup lebih lama.
"Maafkan aku, Yudha ... seharusnya aku saja, andai aku bisa maka aku akan merubah semuanya, kita tidak perlu saling mengenal dan kau bahagia dengan cita-cita dan cintamu," batin Bima dengan mata yang kini sudah memerah, dalam keadaan Lengkara dia meratapi luka yang Yudha terima sejak dirinya hadir.
Jika harus benar-benar kehilangan Yudha, jujur saja dia takkan sanggup. Bahkan, andai bisa memilih, dengan tegas Bima akan mengatakan lebih baik kehilangan Papa Atma dibandingkan Yudha, sungguh.
Yudha adalah salah-satu alasan Bima berambisi hidup lebih baik dahulu. Lewat Yudha pula dia mengetahui bahwa dunia tidak sejahat itu, andai harus kembali terpisah, maka hari ini akan menjadi mimpi paling buruk bagi Bima.
"Hubungi aku dan katakan kau baik-baik saja, Yudha, akan kulakukan segalanya dan aku tidak akan bertindak semaunya, kumohon," gumam Bima pelan seraya menatap wajah Yudha di layar ponselnya.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -