Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 67 - Di Luar Prediksi BMKG


__ADS_3

Bagian paling sulit bagi Lengkara usai melewati malam panas yang mereka lalui ialah menghadapi esok pagi. Bukan hanya lelah yang membuat tubuhnya seakan kehilangan tenaga, melainkan malu menghadapi berbagai pertanyaan andai nanti dia keluar kamar.


Menjadi bahan ejekan semalam adalah sebuah gambaran yang akan kembali dia dapatkan andai menampakan diri di hadapan saudaranya. Terlebih lagi, keluarga om Syakil masih berada di sini, dia malu dan sedikit menyesali kenapa tidak menuruti kata Ameera saja agar menikah sesuai rencana dan mereka bisa menikmati malam pertama di hotel bintang lima.


Hampir satu jam dia berada di kamar mandi, mencoba mengembalikan tenaga dengan cara mandi pagi. Ya, bagi Lengkara mandi pagi merupakan obat paling mujarab untuk mengembalikan tenaga, jika tidak mandi maka dia akan lelah seterusnya.


"Nikmati, Ra ... kamu yang menginginkannya," gumam Lengkara memejamkan mata, memang berendam di air hangat usai olahraga berat adalah pilihan terbaik dibandingkan menerima tawaran Bima untuk memijat tubuhnya.


Persetan bagaimana pikiran orang-orang di luar sana, yang jelas Lengkara hanya ingin merasakan ketenangan lebih dulu. Dia terlalu menikmati hingga durasinya mandi membuat Bima khawatir dan mengetuk pintu beberapa kali, bukannya berharap Bima masuk seperti di drama yang kerap dia tonton, Lengkara justru bergegas menyelesaikan ritual pribadinya.


Dia takut dan tidak punya rencana untuk bercinta di dalam kamar mandi. Tidak seperti biasanya, Lengkara bahkan sama sekali tidak sempat mengeringkan rambut. Apapun, dia hanya berusaha menghindari Bima dan keluar dalam keadaan masih begitu basah, air menetes membasahi lantai yang dia pijaki.


"Kenapa lama? Apa masih sakit, Ra?"


Lengkara menggeleng, tidak akan dia katakan perih ataupun ngilu yang dia rasakan karena besar kemungkinan besar Bima akan kembali memeriksanya seperti pagi tadi. Untuk saat ini, Lengkara belum menginginkan tatapan penuh damba Bima tertuju ke arahnya.


"Jangan bohong."


"Sedikit, hampir hilang sakitnya," jawab Lengkara tersenyum tipis dan hendak melewati Bima segera.


Namun, belum sempat melewati sang suami, secepat itu Bima melingkarkan tangan di perutnya. Pundak Lengkara yang begitu polos dan masih tampak basah membuat pria itu tidak bisa andai tidak mengecupnya walau singkat.


"Kamu wangi." Dia memuji tanpa melepaskan Lengkara sedetik saja, seketika wanita itu kembali meremang kala Bima menyibak rambutnya.


"Mas ...."

__ADS_1


"Iya, kenapa?"


"Dingin, mau ganti baju."


Bima mengerutkan dahi, sungguh langka sekali seorang Lengkara mengatakan dingin dan ingin segera berganti pakaian. Biasanya, jika di rumah dia bisa menghabiskan waktu hampir satu jam dengan handuk melilit di tubuhnya, dia beralasan gerah dan tidak nyaman memakai baju jika tubuhnya masih basah.


"Lain kali jangan terlalu lama mandinya," tutur Bima kemudian melepas pelukannya.


Kendati demikian, melepas bukan berarti dia menjauh. Bima mengekor di belakang Lengkara, jangan ditanya bagaimana perasaannya karena kekhawatiran tiba-tiba Bima kembali menerkamnya membelenggu di benak wanita itu.


Setakut itu dirinya, hanya karena Bima tidak membiarkannya tidur nyenyak hingga jam empat pagi, stigma Lengkara terkait Bima berubah seketika. Tidak ada pria polos yang bahkan tidak tertarik kala dia menggoda, yang ada hanya pria lapar dan tidak ada kenyangnya.


Padahal, sejak bangun pagi sama sekali tidak terbesit dalam hati Bima untuk kembali menyerangnya. Terlebih lagi, usai dia menyaksikan sendiri bagaimana akibat perbuatannya tadi malam. Tidak lucu jika sang istri mendadak sulit berjalan, bisa mati dia dikeroyok mertua dan kakak iparnya.


"Ssssh aaww," desis Lengkara tertangkap basah menekan perut bagian bawahnya, Bima yang sejak tadi berada di sana jelas tidak tinggal diam.


Entah atas dasar apa Lengkara mendadak memilih celana jeans pagi ini, padahal mereka tidak ada rencana hendak pergi keluar atau semacamnya. Bima memintanya untuk duduk dan memilihkan pakaian yang nyaman dan tidak menyiksa sang istri.


"Kamu takut? Kemarin-kemarin menawarkan diri ... kenapa sekarang kusentuh saja bergetar."


"Entahlah, mungkin aku trauma."


Lengkara menjawab asal dan pasrah saja kala Bima memakaikan dress pilihannya, pilihan yang sama sekali tidak menguntungkan karena dengan dress itu semua tanda kepemilikan yang Bima berikan di leher dan dadanya terlihat begitu jelas.


"Hahaha mas tidak bisa menahan diri, Ra ... maaf ya," tuturnya begitu lembut seraya mengeringkan rambut Lengkara. Agaknya hari ini dia akan menjadi pengasuh untuk sang istri karena dari ekspresi Lengkara bisa dipastikan dia tidak memiliki tenaga untuk melakukan banyak hal.

__ADS_1


"Sudah, ayo turun ... bibi sudah tiga kali ketuk pintu dan minta kita sarapan," ucap Bima menepikan anak rambut Lengkara ke belakang telinga, dia hanya melakukan sebisanya saja.


"Mas saja, aku tidak ingin sarapan pagi ini." Dia mengelak, padahal tujuan sebenarnya adalah menghindari saudara-saudaranya.


"Tidak ada penolakan, sarapan itu wajib kamu tahu?"


"Aku malu ... nanti diledek lagi, kamu sih balas dendam tidak kira-kira mana susah hilangnya." Sejak tadi dia menahan diri agar tidak marah, tapi melihat dirinya di cermin membuat Lengkara seakan ingin mengubur Bima hidup-hidup.


"Sudah jam sepuluh, menurut kamu apa mereka masih di rumah? Kak Zean sangat menghargai waktu, begitu juga Ameera dan kak Mikha, malu sama siapa, Ra?"


"Eshan sama Zain gimana? Mulut mereka juga persis petasan tahun baru," gerutu Lengkara yang merasa benar-benar buntu saat ini.


"Apalagi mereka, sama-sama kerja dan sibuk juga ... mana mungkin mereka menyia-nyiakan waktu." Dia tahu perasaan Lengkara, memang besar kemungkinan malunya luar biasa.


"Yakin? Kalau sampai ada gimana? Mas makan mie lewat hidung ya."


"Apa wajahku meragukan?"


Setelah dirayu dan Bima yakinkan, wanita itu luluh juga. Meski begitu, tetap saja dia mengiring di belakang Bima bak tinggal di rumah mertua. Genggaman tangan seerat itu, seakan takut Bima jauh darinya.


"Widih!! Baru keluar ... berapa ronde, Bim?"


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2