
Layaknya putaran jarum jam, tidak selamanya akan terus berada di atas. Ada kalanya jatuh juga. Jika hari ini kau bersedih, kemungkinan esok hari berbeda, begitu juga sebaliknya. Semua hanya tentang waktu dan bagaimana manusia itu mensyukurinya.
"Bacakan lagi."
Berbanding terbalik dengan Bima yang kini perlahan merasakan kebahagiaan setelah bertahun-tahun mendekam dalam penderitaan, di sudut kota yang lain Atmadja justru mulai menuai luka yang dia torehkan di masa lalu.
Bertemankan Yudha dan Arjuna, ruangan dengan nuansa biru muda itu terasa lebih dingin. Air mata Atma luruh, ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Sesuatu yang begitu berharga dan amat mahal, sialnya bertahun-tahun dia melukai, tapi tak menyadari.
"Pa, sudah larut lebih baik tidur ya."
"Sekali lagi, Yudha," pinta Papa Atma tampak memohon, sejak tadi pria itu hanya menatap langit.
Begitu banyak yang dia ratapi, 29 tahun pernikahan adalah bukti betapa bodoh dirinya. Atmadja membuang permata hanya demi batu tak berharga. Kini, permata yang dia buang itu tetap bersinar sekalipun tanpa pendamping dalam hidupnya.
Tidak hanya Seruni permata yang Atma sia-siakan, tapi juga kedua putranya. Walau Bima bergelimah harta di sisinya, tetap saja dia terbuang, bahkan lebih menderita dari Yudha.
Bahkan, di saat Bima sudah begitu dewasa dan menghadirkan sosok istri di hadapannya, Atma masih melakukan hal gila yang menggores hati putranya. Dia yang merendahkan, meremehkan serta menyeret wanita yang Bima cintai jelas melukai hati Bima.
Terbukti, luka di hati Bima separah itu hingga dia berani bertindak di luar dugaan. Sama sekali tidak dia duga, jika sang putra yang penurut itu bukan Bima yang sesungguhnya.
Lantas kini hendak bagaimana? Bima yang diterima dengan baik di keluarga istrinya sudah membuat Atma kalah. Dia tidak lagi butuh uluran tangan, bahkan ketika datang menemuinya, Atma pernah menawarkan bantuan demi menunjang prosesnya.
Namun, Bima menolak mentah-mentah, dia tidak menerima bantuan apapun dari Papa Atma. Apa yang kini sudah Bima miliki mungkin tidak akan pernah bisa ditawar sekalipun Papa Atma menyerahkan seluruh harta kekayaan yang dia punya.
"Pa, sudah kubacakan, tidur ya."
__ADS_1
Yudha menepuk pelan pundaknya, pria itu terperanjat seraya mengerjap pelan. Terlalu dalam dia berpikir hingga sama sekali tidak mendengar suara Yudha, sang putra yang selalu tersenyum hangat padanya.
"Hem? Papa tidak dengar, Yudha."
"Mau kuulangi?" tanya Yudha menatap lekat manik sendu sang papa.
Sudah berapa lama mata Atma terus membasah. Yudha bingung hendak bagaimana, sejak Bima pergi sang papa tidak berhenti meneteskan air mata. Hal inilah yang membuat Yudha berusaha meyakinkan Bima bahwa Papa Atma begitu menyayanginya.
"Tidak, ada baiknya kau istirahat ... temani Arjuna," ucapnya menatap nanar seraya menghela napas panjang.
Bicara tentang Arjuna, jujur saja hati Papa Atma tak karu-karuan. Anak itu terlalu kecil dengan fakta samacam ini. mata Atma tertuju pada Arjuna yang terlelap tak jauh darinya.
Hati Papa Atma kacau, dia tidak bisa menguasai jiwanya. Ingin marah, tapi pada siapa? Penyesalanlah yang tepat untuk saat ini. Hanya demi Raja dan Arjuna, dia kerap menyakiti Bima dan mengabaikan jika dia memiliki Yudha juga.
"Papa dulu yang tidur, nanti aku."
"Apa papa masih pantas disebut papa?"
Yudha terdiam, pertanyaan itu sedikit menjebak dan membuatnya perlu berpikir sebelum menjawab. Papa Atma menatapnya, dia tersenyum getir sebelum kemudian menghela napas kasar.
"Tentu saja, kenapa Papa bertanya? Bukankah Arjuna sudah katakan, Papa adalah Papa yang hebat."
"Iya, tapi papa gagal menjadi papa untuk kalian berdua ... bahkan sejak kalian berdua lahir ke dunia, papa sudah gagal, Yudha," ucapnya seraya mengatur napas yang terasa begitu sulit, seolah ada bongkahan batu besar menghimpit dadanya.
"Papa gagal, gagal menjadi suami, gagal menjadi seorang ayah, bahkan gagal menjadi seorang anak."
__ADS_1
Hampir terputus-putus, tapi Papa Atma kembali meneruskan ucapannya walau dengan hati yang bergetar. 29 tahun menutup mata dan menolak jika dirinya salah, pada akhirnya Atma mengalah juga.
Apa yang dia katakan tidak ada yang salah, sejak Bima dan Yudha berada di dalam kandungan memang sudah gagal menjadi seorang suami dan sosok ayah. Dia berkhianat dari Seruni yang tengah mengandung anaknya.
Lebih parah lagi, pengkhianatan itu berlanjut dan dia terjebak dengan kesedihan yang Gilsa perlihatkan padanya. Gilsa berhasil membuat Papa Atma merasa bersalah karena telah memilih Seruni yang saat itu mengandung putranya.
Hingga, puncak kegagalan terakhir Atma ialah kala mengambil keputusan sepihak. Tanpa persetujuan sang ayah, dia menjatuhkan talak pada sang istri yang berakhir pertengkaran hingga sang ayah mengalami serangan jantung dan meregang nyawa tepat dua bulan pasca perceraiannya.
"Papa menyesal, Yudha ... ibumu, kau dan Bima pantas membenci papa," ucapnya dengan napas tersengal, sontak hal itu membuat Yudha panik.
"Jangan lakukan apapun, Yudha ... Papa baik-baik saja," lanjutnya kemudian mencegah usaha Yudha untuk meminta perawat datang segera.
"Baik-baik saja bagaimana? Papa begini!!" Suara Yudha meninggi, cengkraman tangan papanya di kedua tangan Yudha begitu kuat.
"Kalian bahkan lebih sesak dari papa dahulu, 'kan? Biarkan Papa berakhir Yudha, papa terlalu malu untuk meminta maaf pada ibumu." Suaranya semakin melemah, bahkan hampir berbisik hingga Yudha yang tadi setegar itu hancur juga.
"Papa bicara ap_ Pa? Ya, Tuhan ... Papa? Pa? Papa!!!" Teriakan Yudha membuat Arjuna terjaga, tapi di detik itu pula cengkraman di tangan Yudha melemah dengan mata sang papa yang kini tertutup sempurna.
"Papa!!"
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1