Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 65 - Suhu Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Terus mas pikir aku pernah?!"


Dalam pikiran Bima, Lengkara adalah pemimpin dalam sebuah permainan. Terlebih lagi, aksi Lengkara yang membuat Bima kewalahan malam itu memang benar-benar liar layaknya seorang pemain profesional.


"Bukankah kamu ahlinya?"


Lengkara menggeleng, kemampuan yang pernah tertangkap oleh mata Bima sama sekali tidak muncul malam ini. Jangankan hendak meraup leher dan bibirnya serakus itu, menatap Bima saja dia malu.


"Ahli apanya?" Kening Lengkara berkerut, dia merasa pertanyaan Bima sedikit konyol.


"Bagaimana kamu malam itu sudah menjelaskan kalau kamu ahli dalam segalanya, Ra ... ayo lakukan lagi, mas pasrah."


Bima tersenyum tipis dengan tatapan penuh damba dan begitu pasrah andai mendapat serangan sang istri, tapi anehnya wanita itu bergeming seolah bingung hendak melakukan apa. Kemana Lengkara yang bahkan kehilangan akal sehat kala itu? Kenapa kini dia terlihat kaku bahkan tangannya benar-benar dingin.


"Jangan aku lah, Mas yang imam jadi mas yang pimpin."


"Kamu dong, nanti mas imbangi."


"Mana bisa ... waktu itu aku mabuk, kalau dalam keadaan sadar tidak bisa," ucapnya berusaha beranjak dari tubuh Bima, tapi di detik itu juga Bima menahan pinggang Lengkara agar tetap berada di atasnya.


"Oh iya? Lalu bisanya apa?" tanya Bima tanpa melepaskan manik indah Lengkara dari tatapannya, wanita buas yang kini seakan kehilangan taringnya.


"Bisanya goyang-goyang dikit doang."


"Goyang yang gimana memangnya?" tanya Bima lagi, entah kenapa pembicaraan kali ini bahkan lebih menarik dari apapun.

__ADS_1


"Ya goyang begini, Mas ... gini pokoknya." Dengan polosnya dia menggerakkan tubuh demi mengikuti permintaan Bima hingga pria itu terbahak, sungguh istrinya terlalu lucu.


Lengkara yang memerah semakin kesal kala Bima justru tertawa usai dia memperlihatkan kemampuannya. Tidak terima dengan reaksi yang Bima tunjukkan, Lengkara mengikis jarak hingga hidung keduanya bersentuhan.


"Lucu?"


"Hm, sangat-sangat lucu," jawab Bima mengusap bibir Lengkara dengan ibu jarinya, bibir yang begitu terawat dan besar kemungkinan sebelum tidur dia kembali memoles wajahnya untuk menyenangkan Bima.


"Oh iya? Bagiku tidak sama sekali tuh." Dia mencebikkan bibir dan menepis jemari Bima yang kembali berusaha mengusap wajahnya.


Dia terlihat marah, suasana hati Lengkara seolah dibuat jungkir balik sejak pasca akad oleh pria itu. Malam pertama yang dia dambakan akan sehangat itu, nyatanya tidak demikian.


Bukan kali pertama, yang dahulu juga lebih parah bahkan Lengkara sempat mendapat penolakan dari Bima. Kini, mendadak sang suami menjelma sebagai pemuda polos yang tidak terjamah sama sekali.


"Sudah bercandanya ya, Sayang ... kita serius mau?"


Lengkara butuh waktu untuk mencerna ucapan Bima. Namun, belum sempat dia bertanya maksudnya, mata wanita itu kembali dibuat membola kala Bima justru bertukar posisi hingga kini dia yang terjebak dalam kungkungan sang suami.


Tanpa kata, hanya ada kedua pasang manik indah yang saling bertukar rasa. Bima perlahan mengikis jarak hingga mendapatkan kembali bibir ranum itu menyambut kecupannya.


Sudah begitu lama, berpisah di detik-detik penyatuan tiga tahun lalu membuat Bima tidak mampu melupakan wanita ini. Kecupan dengan tetes air mata Lengkara kala itu seolah membekas dalam diri Bima.


Dia ingin menghapus kenangan itu, kenangan yang terasa begitu pahit dan Bima seakan menorehkan luka untuk keduanya secara sengaja. Perlahan, tapi pasti semua akan terganti.


Malam ini, keduanya kembali dipertemukan dengan gelora yang membakar tubuh masing-masing. Decapan yang diakibatkan pertukaran saliva mereka menemani denting dari jam di dinding kamar.

__ADS_1


Rasa manis dan asin bercampur menjadi satu yang menciptakan sensasi memabukkan hingga Lengkara mengalungkan tangan di leher Bima seolah takut ditinggal pergi. Keduanya sama saja sebenarnya, baik Bima maupun Lengkara seolah saling menipu di awal.


Lengkara yang mendadak malu-malu dan Bima mengatakan jika belum pernah. Padahal, untuk masalah semacam itu jelas dia pahami karena Bima adalah pria dewasa dan sudah pasti tidak sepolos itu. Terbukti dengan ciuman keduanya yang kini kian memanas, tapi mampu mengambil napas tanpa khawatir salah-satunya sesak.


"Mas balas dendam boleh, Sayang?"


Pertanyaan semacam itu Bima lontarkan kala melepas pagutan dari bibir ranum sang istri. Lengkara yang telanjur terbuai hanya mengangguk pelan tanpa sedikitpun curiga terhadap apa yang Bima rencanakan.


Berawal dari menelusuri leher dengan kecupan, beralih dengan gigitan kecil hingga membuat Lengkara memekik kala merasakan sedikit sakit setiap kali Bima memberikan tanda kepemilikan di lehernya dengan cara yang sama seperti Lengkara malam itu.


Sakit akibat gigitan Bima tidak begitu terasa akibat sentuhan yang membuainya. Bahkan, Lengkara tidak menyadari kapan Bima membuatnya polos bak bayi baru lahir. Lengkara berusaha menutupi bagian intinya kala sadar Bima tengah memandang ke arah sana, masih dengan tatapan penuh damba tentu saja.


Secepat mungkin Bima menepis pelan tangan Lengkara, tidak sanggup memandang Bima dia memilih memalingkan muka seraya mencengkram sprei kuat-kuat. Bima berbohong, dia bahkan lebih lihai dari yang Lengkara bayangkan.


Entah belajar dari mana, tapi belum apa-apa Lengkara dibuat menganga dengan dada yang menengadah ke atas kala Bima melakukan aksinya di bawah sana. Sensasi ini benar-benar asing dan baru pertama kali Lengkara rasakan.


Permainan jemari dan lidah Bima berhasil membuatnya mabuk kepayang dengan desshan tertahan yang tetap lolos dari bibirnya. Tidak butuh begitu banyak waktu tubuhnya menggelinjang dan sedikit menjauh dari sisi Bima dengan tangan tangan yang Lengkara gunakan untuk menutup mulutnya.


"Jangan ditahan, hanya aku yang mendengar suaramu, Lengkara," ucap Bima kembali menarik pinggang Lengkara hingga aset pribadi miliknya menyentuh permukaan bagian sensitif Lengkara.


"Mas masuk ya ...."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2