
Jika kini Gilsa tengah dirundung kegalauan, bahkan bisa dipastikan tidak dapat tidur tenang, Bima justru sebaliknya. Setelah sekian lama, malam ini dia dapat merasakan interaksi bersama seseorang yang dia sebut papa secara normal.
Ya, walaupun semua itu adalah permintaan dari Lengkara, pada akhirnya Bima juga merasakan kehangatan yang kerap Yudha ceritakan tentang papanya. Berawal dari Papa Atma yang memberikan kabar jika mereka sudah tiba, ternyata pria itu justru benar-benar menelponnya.
Kendati demikian, semua sudah telanjur sebenarnya. Beberapa tahun lalu mungkin Bima sangat ingin diperhatikan, sangat ingin papanya menanyakan kabar via telepon walau hanya sesekali. Namun, dahulu Bima sama sekali tidak merasakan hal itu, hanya pak Chan satu-satunya yang peduli padanya selama menempuh pendidikan di luar negeri.
Dunia memang sejahat itu, Bima adalah saksi betapa kejamnya dunia. Memiliki orangtua lengkap, tapi persis anak sebatang kara dan hal itu benar-benar menjadi luka. Kini, ketika semua sudah berpihak dan hidupnya dilimpahi kasih sayang, Papa Atma perlahan sadar dan menempatkan posisi Bima sebagai seorang anak.
Andai saja istrinya bukan Lengkara, maka besar kemungkinan Bima akan terus membencinya tanpa akhir. Namun, sejak papanya pamit tadi sore, Lengkara selalu mengutarakan kata-kata menenangkan yang membuat Bima sedikit lebih tenang.
"Belum selesai ya sama papanya?"
Sejak tadi Lengkara perhatikan, Bima memang fokus dengan benda pipihnya itu. Padahal, menurut pendengaran Lengkara tidak lagi pembicaraan antara Bima dan papanya.
"Hah? Selesai, ini lagi balas pesan Yudha," ucap Bima mendekat, khawatir jika sang istri merasa curiga dan berakhir salah paham.
"Malam-malam begini onta itu masih belum tidur? Ganggu saja."
Bibirnya menggerutu, tapi tetap tertarik dengan pembicaraan dua pria itu. Bima dan Yudha sedikit berbeda dengan kedua kakaknya, mereka memang lebih manis. Entah karena Yudha yang terlalu hangat, atau karena faktor terpisah bertahun-tahun.
Bima yang menyadari sang istri tampak penasaran dia persilahkan memeriksa keseluruhan pembicaraan mereka. Baru juga satu menit Lengkara sudah mengerutkan dahi dan sedikit geli melihat percakapan mereka.
"Kamu laki-laki, 'kan, Mas?"
__ADS_1
"Pertanyaan konyol, apa tidak ada pertanyaan lain, Kara?" Bima menggeleng, entah kenapa Lengkara seolah meragukan kejantanannya.
"Bingung saja, pembicaraan kalian lebih heboh dari kami berlima," jelas Lengkara jujur, memang pembicaraan Yudha dan Bima sudah persis pembicaraan di grup yang beranggotakan Mikhayla, Syila, Zalina, dirinya dan Ameera.
"Tadi mama-mu seperti istri yang di sinetron, Bim. Nunggu di depan terus diabaikan papa!! Lebih sedihnya lagi, dia ditampar dan dari bunyinya sih sakit."
Yang mengetik adalah laki-laki, tulen dan sangat normal. Lengkara tahu soal itu, Yudha adalah pria sejati yang diciptakan dengan gen seorang wanita yang merasuk dalam otaknya. Lucunya lagi, Bima yang dia kira enggan menanggapi justru sama iyanya.
"Benarkah? Ada videonya tidak, Yud?"
"Mana sempat, Bima ... tadinya mau kuminta ulang sambil bilang 'Cut!! Ulang!' begitu."
"Hahaha sialan, apa hanya itu saja, Yud? Aku baru saja telepon papa tapi, tidak ada aura marah sama sekali."
Masih banyak pembicaraan mereka berdua, tapi inti dari pesan itu ialah membahas tentang pertikaian Papa Atma dan istrinya. Sama sekali tidak Lengkara duga jika Bima tertarik bahkan meminta kabar terbaru tentang mereka.
"Sesekali ... sudah tidurlah," titah Bima meminta ponselnya kembali.
"Tiada kusangka, mas Bima suka ghibah juga."
"Bukan ghibah, Yudha hanya menyampaikan berita dan mas menyukai fakta," jelas Bima membenarkan tindakannya, walau memang dia sadari membicarakan masalah orang lain sama sekali bukan gayanya.
"Tetap saja ghibah, mas kenapa masih akrab sama dia sih? Inget ya beberapa jam lalu dia buat kita jadi bahan olokan karena ranjang itu ... jangan mau temenan lagi sama dia."
__ADS_1
Jika mengingat hal itu, tidak ada kata lain yang pas untuk Yudha selain menyebalkan. Entah kapan dia bisa berhubungan baik, padahal sudah sepakat akan memulai lembaran baru tanpa ada dendam.
Jika faktanya begini, jelas saja Yudha seolah membalaskan dendam pada Lengkara. Efek belum bisa move on atau kenapa, yang jelas setelah sempat menghangat dan Lengkara damai, Yudha kembali menabuh genderang perang.
"Hahaha tidak masalah, itu bukan sesuatu yang buruk, Sayang. Kak Sean juga bilang kalau kejadian yang kita alami adalah kabar baik, benar begitu bukan?"
Terserah, ini yang membuat Yudha semakin semena-mena. Bagaimana tidak? Apapun yang dia lakukan justru diterima-terima saja oleh Bima. Entah memang tidak peka atau sengaja, tapi memang yang merasa malu perkara ranjang itu hanya Lengkara, sementara Bima menganggapnya sebagai prestasi.
"Jangan diperpanjang, kita tidur yuk ... mas harus mulai melangkah lagi besok."
"Hm, pasti semakin sedikit waktu kamu ya?" tanya Lengkara sedikit melemah, dia sedikit keberatan andai seperti kemarin malam lagi.
"Sementara mungkin akan seperti itu, tapi semua yang kulakukan hanya demi kamu, Ra."
Baiklah, mereka juga perlu hidup. Atma yang perlahan melemah dan hubungan mereka yang kini menghangat sama sekali tidak membuat Bima goyah.
Bima berada di dalam pelukan sang istri, tapi jujur saja saat ini pikirannya tertuju pada sang papa. Entah sikap ini benar atau tidak, tapi dia benar-benar menunggu perkembangan cekcok mereka keesokan hari.
"Aku tahu ini salah, tapi Tuhan kumohon balaskan hati ibuku."
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -