Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 104 - Tidak Dapat Diandalkan


__ADS_3

"Sayang ... kau tahu kemarin aku baru saja kecelakaan dan mobilku rusak parah. Kau hanya memberiku 50 juta, jelas kurang!!"


"Berapa kali kukatakan jangan panggil aku sayang."


Gigi Gilsa bergemelutuk mendengar panggilan dari pria itu. Sudah berapa kali dia tegaskan berhenti memanggilnya sayang, tapi hal semacam itu hanya dianggap angin lalu.


"Hahah kau garang sekali ... Gilsa benar-benar tidak berubah, karena itu aku menyukaimu," ucapnya tertawa pelan seraya memberikan kecupan jarak jauh yang hanya membuat dada wanita itu kian panas.


Hari ini semua manusia benar-benar menyebalkan bagi Gilsa, tidak ada yang bisa bersahabat dan hanya membuat jiwanya tertekan. Wanita itu mengumpat pelan, dia melontarkan ucapan kotor yang justru dianggap lucu oleh pria itu.


"Hahah lucu sekali, kenapa kau begitu marah? Apa kau merasa keberatan memberiku uang sekarang? Atma sangat-sangat kaya, tidak ada salahnya berbagi."


"Dasar egois!! Kau hanya mengutamakan dirimu sendiri tanpa berpikir bagaimana denganku."


"Memangnya ada apa denganmu?Katakan," pinta pria itu dengan suara lembut, layaknya seorang pria yang memperlakukn pasangan tercinta.


"Saat ini, kedua putra suamiku mulai berani memperlihatkan taringnya, apalagi sejak mas Atma lebih peduli pada mereka hingga membuat mereka sok berkuasa, terutama Yudha."


Gilsa mulai menjelaskan secara lengkap tentang apa yang dia alami akhir-akhir ini. Yudha kerap melontarkan sebuah kalimat yang membuat dirinya bungkam, entah hanya menggertak atau benar-benar berniat melakukan sesuatu padanya.


"Yudha?"


"Iya, dan semua ini terjadi karena kebodohanmu!!" Setelah sebelumnya tenang, wanita itu kembali meninggi seolah kehilangan akal sehat.


"Kebodohanku? Kenapa kau menyalahkanku, Gilsa ... sementara yang tinggal bersamanya adalah kau, mungkin dirimu saja yang tidak bisa menjaga sikap di hadapan anak itu."


"Kau dengar aku, karena kebodohanmu tiga tahun lalu langkah kita menjadi semakin sulit." Tidak seperti biasa, kali ini Gilsa tidak segera memberikan uang yang diminta, melainkan dia membahas Perkara Yudha lebih dahulu.


"Soal itu, bukankah kau tahu sendiri aku sudah melakukannya sebaik mungkin!! Bahkan korban lainnya meninggal di tempat, soal dia yang ternyata hidup jelas saja di luar kendaliku."

__ADS_1


Pria itu membela dirinya, jelas saja dada Gilsa makin bergemuruh. Sejak dahulu sudah Gilsa katakan, Yudha memang berpotensi akan berbahaya. Namun, dengan keadaannya yang lumpuh kala itu, mereka sedikit lengah.


Kini, mereka yang terlena jelas saja salah langkah. Bagaimana tidak, sudah bisa dipastikan Yudha semakin berani padanya. Cara Yudha bicara sudah berbeda, dia seolah tidak lagi peduli tentang sopan santun, jelas saja Gilsa khawatir.


"Hallo, Gilsa kau dengar aku?"


"Kau memang benar-benar tidak bisa diandalkan!! Jangan harap aku akan memberimu uang kali ini," tekan Gilsa semakin naik darah.


"Ah baiklah, kalau begitu aku akan menemuimu di rumah ... sudah lama juga aku tidak bertemu Atma."


Mata Gilsa sontak membola mendengar pertanyaan itu, dia berbicara santai, tapi jujur saja berhasil membuat Gilsa ketar-ketir. Jelas saja tidak akan dia izinkan, Gilsa hendak melarang, tapi terlambat karena pria itu memutuskan teleponnya secara sepihak.


"Aarrgghh!! Kenapa semua membuatku sakit kepala sialan!!"


Belum terlambat, dia masih berusaha menghubungi kembali dengan tangan bergetar dan dingin luar biasa itu. Sialnya, pria itu justru sudah berada di panggilan lain, tidak peduli bagaimana Gilsa mencoba tetap gagal juga.


Dewi Fortuna mungkin tidak berpihak pada Gilsa malam ini. Belum selesai penantiannya, pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Atma di sana. Sebisa mungkin Gilsa bersikap tenang dan biasa saja.


Dia masih mengulas senyum, meski Atma sama sekali tidak meliriknya. Wanita itu harus kembali memupuk rasa sabar dengan sikap dingin Atma yang begitu menyakitkan hati.


Ya, menyakitkan sekali. Dapat Gilsa lihat dengan bagaimana cara Atma berbincang dengan seseorang di balik telepon, sungguh berbeda. Pria itu tertawa, suaranya begitu bersahabat dan sama sekali tidak terbit kemarahan di sana.


"Hahah bisa saja kau, datang saja ... anakku sudah empat sekarang," ucapnya kemudian, seketika Gilsa mengerutkan dahi dan dadanya berdegub tak karu-karuan.


Siapa yang menghubungi Atma? Mendadak firasatnya semakin buruk dan kini tersisa Gilsa yang tenggelam dalam kekhawatiran. Bibirnya kian pucat, keringat dingin membasahi kening dan telapak tangannya.


Hingga ketika Atma mengakhiri panggilan itu, Gilsa nekat bertanya demi menuntaskan rasa penasaran. Awalnya dia berpikir untuk mengabaikan semua itu dan berpikir yang baik-baik lebih dulu, tapi ketakutan begitu mendominasi hingga memaksa lidahnya untuk bertanya.


"Siapa, Mas?" Persetan sekalipun akan diabaikan, Gilsa akan tetap bertanya siapa orang itu.

__ADS_1


"Panji," jawab Atma singkat, padat dan berhasil membuat wajah Gilsa semakin pucat.


Pria itu benar-benar gila, bahkan tanpa terduga lebih berbahaya dari Yudha. Gilsa terdiam, ternyata ucapan Panji bukan hanya sebatas ancaman, tapi akan dia lakukan. Gagal mendapat persetujuan dari Gilsa, dia menghubungi Atma dan hal ini jelas saja menjadi bencana.


Puluhan tahun semua berjalan secara sempurna, bisa-bisanya Panji merubah kesepakatan dan bertindak semaunya di luar kendali Gilsa. Agaknya, sang kekasih mulai memperlihatkan kemarahan dengan cara yang tak biasa semacam ini.


"Panji? Panji yang mana, Mas?"


"Iya, teman kita dulu ... kupikir sudah ditelan bumi, ternyata masih hidup." Atma tertawa pelan, di mata pria itu seakan terlihat bahwa dia memang merindukan teman dekatnya itu.


Habislah sudah Gilsa, bisa dipastikan malam ini dia tidak akan bisa tidur tenang. Hendak bagaimana dia saat ini, sementara Panji tidak lagi bisa dihubungi dan seakan sengaja membuatnya sakit jiwa.


.


.


- To Be Continued -


Sementara up, mampir dulu ke sini ya❣️



Karena keadaan ekonomi, menjadikan ia wanita yang harus kuat dalam menghadapi segala keadaan. Membantu keluarga, dan berusaha menabung untuk masa depannya nanti. Meskipun ia sering dipandang hina karena setatusnya yang seorang janda.


Namun, ia selau bertekad agar ia bisa menjalani kehidupan yang lebih baik lagi untuk kedepannya. Ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di kotanya. Hingga suatu saat karena ingin meningkatkan gajinya iapun rela pindah dari tempat kerjanya ke kota besar lainnya.


Namun, di suatu malam yang kelam, malam yang mungkin tidak akan pernah ia bisa lupakan. Di mana malam itu dirinya ternodai oleh majikannya sendiri. Kesalah pahaman menjadikan mereka saling mencari. Di satu sisi ia ingin menjauh dari majikannya karena takut di ambil anaknya, namun disis lain majikannya mencarinya seperti orang gila demi ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Akankah cinta mereka bersatu? Nantikan kisahnya ya dan mohon dukungannya trimakasih

__ADS_1


__ADS_2