Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 115 - Happy Anniversary, Pa.


__ADS_3

Setelah pergolakan batin keduanya, Yudha mengalah dan mengikuti kemauan adiknya. Perasaan tak tega dalam diri Yudha tidak bisa melawan rasa sakit di hati Bima. Entah bagaimana ke depannya, yang jelas dia mengikuti skenario Bima hingga akhir.


Sesuai janji Yudha, dia mempersiapkan semua dengan matang. Baik itu tempat maupun konsep pesta, sementara untuk tamu undangan jelas diambil alih ratu tanpa mahkota, Gilsa. Sebenarnya tidak banyak yang berubah, perayaan ulang tahun pernikahan adalah kegiatan rutin setiap tahunnya bagi pasangan itu.


Tidak hanya sekadar memperingati, tapi memang dirayakan besar-besaran di sebuah hotel mewah dengan turut mengundang kolega dan rekan bisnisnya. Ini adalah tahun pertama Yudha turut serta, dua tahun terakhir kondisinya belum memungkinkan dan tengah berjuang untuk kesembuhannya.


Acara akan dimulai tiga puluh menit lagi, tapi situasi sudah ramai dan Gilsa telah menyapa teman sosialitanya. Gaun bak putri kerajaan melekat di tubuh wanita itu, dia terlihat bahagia dan tengah menegaskan pada dunia bahwa dia adalah ratunya.


Yudha tersenyum getir, dari kejauhan dia dapat menyaksikan kebahagiaan itu. Baru dia mengerti bagaimana sakitnya Bima selama ini, wajar saja dia tidak suka perayaan apapun, termasuk ulang tahun kedua adiknya.


Mata Yudha seakan terbuka, betapa tidak adil dunia Bima kala itu. Mungkin untuk saat ini sudah sedikit berpihak, Papa Atma tidak lagi berat sebelah dan ternyata tetap ada perasaan sakit berada di situasi ini. Lantas, bagaimana Bima yang dahulu benar-benar sendiri bahkan merasa asing di mata papanya? Agaknya lebih sakit bahkan mati rasa.


"Yudha." Suara sang papa menyadarkan Yudha yang sejak tadi terpaku menatap nanar ke depan, dia menoleh dan menyadari Papa Atma terlihat gusar di sana.


"Iya, Pa? Kenapa?"


"Bima masih lama? Dia benar-benar akan datang bukan?" tanya Papa Atma penuh harap, meski tidak dia ungkapkan mata sayu itu jelas menegaskan betapa besar harapannya tentang kehadiran Bima.


"Sebentar lagi, Pa ... Pak Chan juga sudah kuminta menjemput mereka di Bandara," ujar Yudha lembut, pria itu paham betul jika sang papa hanya ingin ditenangkan.


"Syukurlah jika begitu." Papa Atma menghela napas panjang, semalam dia sempat meminta secara terang-terangan agar Bima pulang sebenarnya.

__ADS_1


Beberapa saat Papa Atma memilih untuk berdiri di samping putranya, menatap sekeliling dengan harapan akan bertemu Bima segera. Namun, matanya justru dibuat bingung kala menyadari hal yang aneh di depan sana.


"Wartawan? Siapa mengundang mereka?" tanya Papa Atma menatap bingung sang putra.


"Ehm soal itu_"


"Aku, Mas, aku yang undang mereka." Entah kapan wanita itu berada di sini, tapi yang jelas Yudha merasa kehadiran Gilsa benar-benar menyelamatkan dirinya.


Sejak awal bagian itu adalah rencana Bima, tapi Yudha mampu mengubahnya menjadi keinginan Gilsa. Bodohnya, Gilsa iya-iya saja kala Yudha menawarkan untuk mengundang awak media. Niat buruk mereka justru Gilsa anggap kesempatan baik dan seharusnya dilakukan sejak dahulu.


"Untuk apa? Publik tidak harus tahu kehidupan pribadi kita, Gilsa." Sama seperti Bima, pria itu juga tidak sika privasinya tersebar kemana-mana.


"Apa salahnya? Kehidupan pribadi rekan bisnismu juga sering disorot, kenapa mas anti sekali?"


Hingga, mereka baru berakhir kala MC menghampiri dan mengatakan jika acara akan segera dimulai. Gilsa kembali berpura-pura terlihat manis seraya menggandeng tangan sang suami, sementara Papa Atma masih gusar karena hingga detik ini Bima belum datang jua.


"Mas apalagi? Acaranya hampir dimulai, ayo."


"Bisa kita tunda dulu, Gilsa? Bima belum ada."


"Dengan atau tanpa Bima, bukankah acara harus tetap berlanjut!! Kamu tahu seberapa sibuknya tamu-tamu kita? Jangan membuat mereka marah hanya karena kebiasaan putramu yang tidak menghargai waktu itu," bisik Gilsa pelan, tapi dapat terdengar dengan jelas oleh Yudha.

__ADS_1


Sakit hati mendengarnya, bahkan jiwa Yudha terguncang hingga tangannya mengepal kuat. Tidak salah jika Bima membenci Gilsa sebenci-bencinya, dia memang tidak pantas disebut manusia.


Lebih sakit lagi, kala Papa Atma justru mengalah dan melangkah ke depan demi mengikuti keinginan Gilsa. Meski sebenarnya memang tidak salah, acara itu tetap harus berjalan dengan atau tanpa adanya Bima.


"Kemana dia sebenarnya?" Tidak hanya Papa Atma yang menunggu, tapi Yudha juga sebenarnya.


Bima mengatakan jika dirinya sudah di Bandara sejak satu jam lalu, tapi hingga detik ini belum juga tiba. Pak Chan juga mendadak tidak dapat dihubungi, begitu juga dengan Lengkara.


Entah apa yang Bima rencanakan, tapi Yudha dibuat kebingungan. Dia tidak dapat menikmati kebahagiaan di momen bersejarah ini, sementara di sisi lain Atma dan Gilsa kembali tampak sebagai pasangan bahagia yang tengah memotong kue di depan sana.


"Aku bahagia sekali, aku harap Seruni melihat semua ini ... mas Atma adalah milikku sejak awal, hingga akhir dia tetap milikku dan dunia harus tahu akan hal itu."


Tidak peduli sekalipun suaminya mungkin tidak nyaman, Gilsa tanpa malu mengecup bibir sang suami di depan para tamu. Kebetulan ada awak media yang ternyata tertarik untuk mengabadikan mereka, tanpa pikir panjang Gilsa menggunakan kesempatan ini untuk memperlihatkan pada siapapun bahwa dia adalah pemenangnya.


Suara tamu bersorak dan begitu banyak yang memuji keharmonisan mereka. Terlebih lagi, bagi yang tahu jika Gilsa dan Atma menjalin hubungan sejak mereka masih kuliah. Hingga, suasana mendadak berubah kala musik yang mengiringi kehangatan mereka terhenti dan lampu mendadak mati.


"Happy anniversary, Papa."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2