Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 69 - Ketakutan Bima


__ADS_3

Mendapatkan kesempatan kedua untuk memiliki Lengkara adalah sebuah anugerah, Bima jelas tidak akan menyia-nyiakan hal itu. Terlebih lagi, kehadirannya disambut begitu baik oleh keluarga besar Lengkara, jelas dia harus memastikan sang istri juga mendapatkan hal yang sama.


Namun, entah kenapa Bima seolah ragu bisa memberikannya pada Lengkara. Pria itu hanya tertawa pelan melihat para kakak iparnya di halaman belakang. Meski tidak begitu jelas apa yang mereka katakan, tapi besar kemungkinan Zean juga memiliki ketakutan yang sama sepertinya.


"Mas lihat apa?"


Setelah cemberut akibat ulah Bima di meja makan, baru kali ini Lengkara berniat bicara pada Bima. Masih dengan wajah yang kini tertekuk, Lengkara menghampiri sang suami sedikit malas. Maklum saja, sejak tadi dia menunggu Bima untuk merayu atau meminta maaf, nyatanya sang suami justru lebih tertarik ke halaman belakang.


"Mereka lucu sekali, kak Zean terutama."


"Lucu?" Lengkara mengerutkan dahi, baginya yang memang sudah bertahun-tahun bersama Zean, hal semacam itu tidak lucu lagi, tapi lebay.


"Iya, lihat mereka lucu sekali, Ra."


Entah karena selera humor Bima yang rendah atau Lengkara yang terlalu tinggi. Hanya karena melihat Zean terbirit-birit menghindari kejaran Sean, pria itu terbahak hingga wajahnya memerah. Padahal, seingatnya Bima adalah pria serius bahkan tersenyum saja enggan.


"Biasa saja ... lebih lucu kamu," jawab Lengkara mengu-lum senyum, setelah dia pikir-pikir mungkin Bima tertawa lantaran seolah melihat diri sendiri kala menyaksikan Zean yang menjerit hanya karena seekor cacing.


"Kenapa begitu?"


"Mas juga begitu, 'kan? Cuma kalau lagi dipantau papa pura-pura tenang, padahal kalau ditinggal beda cerita."


Bima terdiam, otaknya berpikir keras dan berusaha menerka dari mana Lengkara tahu tentang itu. Padahal, dia sudah yakin betul bahwa dia yang beberapa kali tidak bisa mempertahankan wibawanya sebagai pria sejati itu akan aman-aman saja.


"Tidak, memang tenang aslinya."


"Oh iya? Masa?" tanya Lengkara seraya mengangkat alis dan bersedekap dada demi menegaskan betapa ragu dirinya akan pernyataan Bima.


"Iya lah, kenapa wajahmu begitu?"


"Tidak."


"Kamu tidak percaya?"

__ADS_1


Setakut itu Bima jika Lengkara mengetahui bagaimana dirinya satu bulan terakhir. Memang tidak setiap hari, tapi ada beberapa hari dimana jiwa lelaki sejati dalam dirinya seolah lenyap begitu saja lantaran seekor ulat bulu, dia geli dan cara meluapkan kekesalannya terkesan mirip banci.


"Percaya ... aku bercanda," jawab Lengkara mengusap lengannya, wajah Bima yang mencoba seserius itu justru tetap terlihat lucu di mata Lengkara.


Niat hati ingin mengajak sang suami masuk, dia justru turut menyaksikan kakak-kakaknya merasakan penderitaan oleh sang papa. Bisa dipastikan kerja rodi itu tidak akan berakhir sampai sore, beruntung saja Bima tidak lagi diikutsertakan.


"Keluargamu hangat sekali, Ra ... mas khawatir keluarga mas tidak bisa memberikan hal yang sama untukmu."


Tidak lagi ada canda yang Bima lontarkan, pembicaraan pria itu tampak serius seraya memeluk erat sang istri. Dia tidak malu lagi, meski tahu terlihat jelas kakak-kakaknya, Bima tetap melakukan hal itu.


"Papamu galak ya, Mas?"


"Bukan lagi," jawab Bima menghela napas panjang.


Dia bingung harus bagaimana, tapi membawa Lengkara ke hadapan papanya adalah sebuah keharusan. Lambat laun, mau tidak mau Bima harus membawa sang istri ke Semarang, ditambah lagi setelah akad malam itu Mikhail menegaskan untuk menjaga hubungan baik dengan orang tuanya.


"Mama gimana?"


"Mengikuti arus papa saja ... mama tidak terlalu banyak bicara kalau di hadapanku," tutur Bima singkat untuk menggambarkan sosok mama tirinya.


Bima mengangguk pelan, selain papanya dia juga harus membawa Lengkara ke rumah sang ibu. Satu-satunya orang yang mengetahui rencananya ke Jakarta selain Yudha. Ya, meski Bima berusaha tertutup, sebelum pergi ke Jakarta untuk menemui Papa Mikhail dia menyempatkan diri meminta restu sang ibu.


Selain itu, dia juga yang meyakinkan Bima untuk kembali pada Lengkara meski wanita itu adalah masa lalu saudaranya. Sebab, bagi Ibu Runi ketika sudah terpisah dengan orang yang dicintai maka perasaan itu akan habis di orang lama dan dia khawatir Bima akan bernasib sama seperti dia.


"Mas tidak punya rencana bawa aku ke hadapan orang tuamu?"


"Ada, mana mungkin tidak," tutur Bima tertawa sumbang, belum juga dia sempat mengatakan niatnya Lengkara sudah tahu lebih dahulu.


"Siapa tahu, untuk kali ini aku tidak mau jadi istri rahasia lagi," ucapnya tanpa memalingkan wajah, jika harus begitu lagi jujur saja dia enggan.


"Sejak dulu tidak rahasia, Kara, siapa yang merahasiakan istri secantik ini? Hm?"


Kecupan di wajahnya Lengkara usap seketika, masih Bima tidak mengakui jika dia dianggap rahasia. Padahal, dahulu dia bahkan tidak mengetahui keluarga besar Bima kecuali Yudha dan ibunya.

__ADS_1


"Kenapa dihapus?" tanya Bima tak terima dan kembali mengulangi kecupannya.


.


.


Dunia seakan menjadi milik berdua, entah sengaja atau tidak padahal dari bawah sini dengan jelas tingkah dua orang itu tertangkap jelas dengan mata telanjang sekalipun.


"Mereka sengaja?" tanya Zean dengan napas terengah-engah, dia menatap kesal ke arah balkon kamar adiknya itu.


"Kenapa memangnya? Bukankah itu hal baik? Mereka romantis."


"Kenapa kau selalu membelanya, Sean? Kau tim sukses Bima atau bagaimana?" tanya Zean bingung sendiri, sejak awal perpisahan Lengkara dan Bima dia pusing sendiri seakan rumah tangganya yang diuji.


"Anggap saja begitu," ujar Sean kembali meratakan tanah yang sempat rusak akibat bencana malam itu.


"Huft papa mana? Kita sudah boleh pulang atau tidak? Pinggangku sakit, Sean."


"Begini saja sakit ... belum satu jam sudah mengeluh, kalau malas pegang cangkul sana bantu Eshan ambil telur ayam," ujar Sean dan hal itu membuat Zean tergoda dan melempaskan cangkul di tangannya.


"Kenapa tidak dari tadi, Se!!"


"Tapi sekalian bersihkan kandang dan kotorannya," tambah Sean lagi dan sontak membuat pria itu menatapnya sedatar mungkin.


"Hah? Apa? Kotoran ayam? Kau gila? Aku Presdir MN Group, ingat itu!!"


"Yang punya kandang ayam adalah pemilik MN Group, jangan lupakan itu!!" pungkas Sean kemudian berlalu meninggalkan Zean yang berdecih menatapnya.


"Iya juga, kalau aku dipecat Papa bagaimana? Bisa mati aku cari kerja."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -



__ADS_2