Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 137 - Sepotong Kerinduan


__ADS_3

Sebagaimana Papa Mikhail yang begitu menerima Bima dengan baik, Papa Atma juga berusaha melakukan hal yang sama sekalipun terlambat. Ya, dia sudah meninggalkan kesan tidak baik di pertemuan pertama bersama Lengkara, tapi rasa malu Papa Atma yang membentuk jiwanya menjadi lebih baik.


Jiwa angkuh dalam diri Papa Atma seketika runtuh di hadapan besannya. Setelah Yudha mengatakan jika Bima berada di rumah sakit, keesokan harinya mereka segera terbang ke Jakarta.


Bima tidak mengatakan dengan jelas apa yang terjadi, tapi yang pasti ketika tiba di rumah sakit tujuan Papa Atma didampingi Yudha berjalan dengan langkah panjang. Sepanjang koridor rumah sakit, Yudha berusaha bersikap tenang meski terlihat jelas jika dirinya bergetar.


"Tenanglah, Yudha ... Bima baik-baik saja."


"Bukan, Bima, Pa, tapi Lengkara."


Papa Atma menghela napas panjang, sudah dia duga hati pria itu sebenarnya masih menyimpan kekhawatiran. Sejak dahulu sudah dia katakan, mana mungkin Yudha benar-benar akan melupakan sosok wanita yang dicintainya.


"Kenapa kau harus merasakan yang papa rasakan, Yudha."


Meski tanpa bicara, Papa Atma tengah berperang dengan banyak perdebatan di dalam otaknya. Keadaan mereka berbeda, tapi entah kenapa Papa Atma merasa jika dalam lubuk hati Yudha terbesit rasa sakit walau sedikit.


Seperti yang dia rasakan kini, menyesali keputusan hanya karena terlalu mengikuti kata hati yang terlampau angkuh. Mereka adalah pria yang sama-sama kehilangan harta tak ternilai dan takkan mungkin kembali apapun caranya, cinta.


Tiba di kamar yang sempat disebutkan Bima, pria itu masuk tanpa aba-aba. Langkahnya yang begitu panjang menegaskan jika Yudha mengkhawatirkan Lengkara, cinta yang kini menjadi adik iparnya.


"Hai, Yud ... kau baru sam_"


Yudha seolah tidak peduli kehadiran Zean yang hendak memeluknya. Mantan bos sok akrab itu tercengang dan merasa diabaikan. Namun, hal itu belum seberapa karena apa yang Yudha lakukan semakin membuatnya tercengang lagi.


Mama Zia yang baru tiba beberapa saat lalu sontak menatap Bima yang berdiri di belakangnya. Sebagai saksi percintaan Yudha dan Lengkara, jelas saja dia mengerti situasi apa yang kini tengah terjadi.


"Kamu baik-baik saja? Kenapa bisa begini? Jatuh atau kenapa? Katakan mananya yang sakit? Hm?" tanya Yudha beruntun seolah tengah menuntut penjelasan dari Lengkara.

__ADS_1


"Mas?"


Sekian lama Yudha tidak seperti ini, Lengkara menatapnya penuh tanya usai Yudha melepas pelukan dan memastikan keadaannya. Entah karena terlampau khawatir atau kenapa, tapi Yudha seakan kehilangan kendali saat ini.


Tidak hanya Lengkara yang bingung, tapi semua yang ada di sana tercengang dan bingung tentu saja. Papa Mikhail sadar suasana nantinya semakin canggung, dia mengajak sang istri serata orang tua Bima untuk keluar sejenak.


"Kamu apa-apaan?" Lengkara mendelik seolah pasangan yang tengah tertangkap basah melakukan perselingkuhan, tindakan Yudha benar-benar di luar dugaannya.


"Ma-maaf, aku terlalu mengkhawatirkanmu."


Sadar kemana arah mata Lengkara, Yudha mundur seketika. Sekian tahun dia terbiasa, kali ini tidak bisa menahan diri hingga membuatnya sakit kepala. Yudha mengusap wajahnya kasar, sementara Zean yang menjadi penonton setia hanya membaca raut wajah ketiganya satu persatu.


"Bim, aku tidak bermaksud ... aku tid_ astaga aku kenapa sebenarnya." Yudha sudah berjanji tidak akan menjadi duri dalam kebahagiaan Bima. Dia sudah berkali-kali mengatakan ikhlas, tapi kekhawatirannya pada Lengkara seolah membuat Yudha buta.


"Tidak masalah, jangan diperpanjang ... kau khawatir jadi wajar saja," ucap Bima menghela napas panjang, sementara Yudha kini menatapnya penuh penyesalan.


Menarik sekali kisah cinta mereka, seketika Zean berpikir untuk membeli cemilan lebih dahulu. Hati siapa yang berbohong sekarang, karena mana mungkin Bima tidak panas melihat sikap lembut Yudha.


Mau bagaimanapun, Bima adalah suami sah dan Zean tahu bagaimana rasanya karena dahulu Sean juga kerap menguji kesabarannya. Sementara di sisi lain, Yudha tentu memiliki alasan kenapa dia bersikap demikian.


Sikap manis yang sama sekali tidak berubah. Bahkan nada bicaranya juga masih sama, Zean hapal betul karena memang cukup lama mengenal Yudha yang kala itu berstatus sebagai asisten sekaligus kekasih adiknya.


Tidak ingin semakin kentara jika dirinya kacau, Yudha memilih berlalu keluar dengan senyum yang terlihat kaku di sana. Menyisakan Zean yang kini berdehem demi mencairkan suasana.


Dia tahu, besar kemungkinan setelah dia ikut keluar Bima dan Lengkara akan mematung seperti itu. Sebagai kakak ipar yang baik, dia tidak ingin kehangatan rumah tangga adiknya berkurang karena hal ini.


"Jangan terlalu dipikirkan, Yudha memang begitu ... siapapun yang sakit spontan dia peluk," ujar Zean santai, padahal tidak begitu. Namun, Zean terpaksa berbohong usai melihat raut wajah Bima kian muram setelah Yudha pergi.

__ADS_1


"Ingat Bima, jangan cemburu!! Kau pemenangnya walau hadiah yang Tuhan berikan memang tidak seberapa," ujarnya sebelum kemudian mengambil langkah seribu lantaran menyadari Lengkara hendak melemparkan apel ke arahnya.


.


.


"Apa Yudha selembut itu, Ra?"


Beberapa menit usai kepergian Yudha, pria itu baru bicara. Seolah tengah merasa kurang percaya diri, Bima menatap sang istri begitu lekat dengan harapan Lengkara akan melontarkan kalimat yang tidak menyakitkan hati.


"Tidak, mungkin karena aku sedang sakit saja ... benar kata kak Zean, dia hanya spontan, Mas jangan terlalu dipikirkan."


Sedikit berbohong, mana mungkin dia mengutarakan faktanya. Yudha memang selembut itu, hal itulah yang membuat Lengkara seakan gila usai terbangun dari koma tiga tahun lalu. Kendati demikian, Lengkara akan memilih diam lantaran khawatir Bima justru terluka setelahnya.


"Benarkah? Tapi sepertinya tidak," jawab Bima kemudian, dahulu dia sempat mendengar interaksi antara Yudha dan Lengkara, memang lembut, tapi yang tadi lebih lembut lagi.


"Sudah lupakan, jangan dibahas lagi."


"Aku akan berusaha lebih baik nanti, wajar dulu kamu terkejut ketika bersamaku," ucap Bima tersenyum tipis, walau Lengkara sudah berusaha, Bima seolah paham jika sang istri tengah menjaga hatinya.


"Tidak perlu menjadi seperti orang lain, cintai aku dengan caramu ... tidak ada yang perlu diperbaiki, Mas."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2