KAHANAN

KAHANAN
CH 10 - KUTUKAN RAJA NEGERI ZAMRUD PART III ( KEMURKAAN BENDOWO )


__ADS_3

"Mendengar penjelasan Sariwati tak serta merta membuat percaya tuan Bendowo. Karena selain ceroboh dan kekanak-kanakan Sariwati juga dikenal pembohong di kalangan keluarganya, walaupun kebohongan itu sebenarnya bertujuan baik untuk ketenangan semua pihak tapi yang dilakukan Sariwati dalam setiap kebohongannya banyak menyakiti pihak-pihak yang bersentuhan langsung dengan kehidupan Wati.


Pernah suatu ketika Kereta kudanya dibawa kabur koleganya dan hal itu tak diketahui oleh orangtuanya. Namun pada suatu ketika, Ayahnya menanyakan keberadaan kereta kuda pemberiannya yang tak pernah di gunakan oleh wati dan tak terlihat dikediamannya.


Pada akhirnya ayahnya tau kalau kereta kuda itu dibawa lari kolega Wati dan anak gadisnya itupun berbohong bahwa keretanya dipinjam koleganya untuk menutupi kekeliruannya, yang terkadang dari sikap dermawan dan murah hatinya banyak dimanfaatkan orang lain.


Pandangan tuan Bendowo semakin tajam dan seolah-olah ingin menelan putrinya yang ada didepannya itu.


"Tinus! bawa Setyanto menghadap


kemari!" teriak tuan Bendowo dari dalam ruangan kerjanya dan lelaki paruh baya yang dipanggil Tinus dengan sigap menjawab dan segera berlalu.


"Siap!"


Sejurus kemudian Tinus mengelandang lelaki muda bersama dua orang pria berbadan tegap yang membantu membawa pemuda itu.


Terlihat lebam-lebam diwajah pemuda itu bekas pukulan yang diterimanya.


Pintu ruangan kerja tuan Bendowo diketuk,


'Tok.. Tok.. Tok..'

__ADS_1


dan ketiga lelaki yang membawa pemuda itu menyeruak masuk.


"Ijin tuan," kata Tinus pada tuan Bendowo hormat dan menyeret Setyanto ke hadapan Bendowo.


"Tinggalkan kami, tutup kembali pintunya!"


Perintah Bendowo pada ketiga suruhannya, Namun tiba-tiba seorang wanita cantik juga ikut masuk ke ruangan kerja tuan Bendowo dengan wajah penuh amarah.


Tinus dan kedua kawannya berlalu dengan hormat menutup pintu ruangan dan berjaga diluar.


"Mecha, kenapa kau kemari?" tanya Bendowo pada wanita cantik yang baru masuk keruangannya.


"Mecha ingin tau apa yang terjadi dan duduk permasalahannya juga, Pi." jawab wanita itu dengan tegas.


Sariwati tak berani memandang ke arah Mecha, mukanya ditekuk dalam-dalam dan terdengar lirih isakan tangisnya.


"Setyanto, papi sudah dengar semua pengakuan Wati. Sekarang apa yang akan kamu katakan!" hardik tuan Bendowo pada pemuda yang berdiri didepannya.


"Saya khilaf pi! itupun saya lakukan karena dek Wati juga menginginkannya," jawab Setyanto lirih penuh ketakutan.


"BOHOOOONG! " teriak Wati spontan mendengar jawaban Setyanto.

__ADS_1


"Jangan percaya omongan bajing*an ini pi! demi Tuhan." lanjut Wati histeris sambil menangis.


"KAMU DIAM, BELUM SAATNYA KAMU BICARA!" hardik tuan Bendowo pada Wati.


"Setyanto lanjutkan!" ujar tuan Bendowo dingin.


"Kami memang pernah pacaran pi, sebelum Saya dan dek Mecha menikah" ujar Setyanto.


"Dan semua kejadian kemarin sungguh tiba-tiba." imbuh lelaki muda itu.


"BAJING*AN!" suara Mecha melengking, mendengar pengakuan suaminya sambil melempar fas bunga yang ada didepannya ke arah Setyanto, namun masih sigab dan bisa dihindari oleh Setyanto.


"Mecha, tahan dirimu atau kamu keluar dari ruangan papi!" bentak Bendowo pada Mecha putrinya dan nyonya Warika menenangkan sang putri dengan memeluknya.


"Apa benar seperti itu Wati?" kini wajah Bendowo beralih ke arah Wati sambil bertanya.


"Demi Tuhan itu semua bohong pi, Bajing*an itu pembohong!" sahut Wati geram dengan jawaban Setyanto.


"Demi Tuhan adek tak serendah itu pi, kalau papi, mami dan kak Mecha tak percaya, periksa saja kaca pengawas yang ada diruangan kamar adek." imbuh Wati membela diri.


Mendengar kata 'KACA PENGAWAS' dari mulut Wati, tubuh Setyanto bergetar penuh ketakutan.

__ADS_1


********


 


__ADS_2