
Gelap malam pun kian berpendar dan semburat kemerahan mulai nampak di ufuk timur, rombongan kereta angin yang membawa Sariwati beserta para Bhayangkara menyusuri jalanan banjar Galuh menuju kota Negeri pantai.
Kereta angin yang dikendarai oleh Sariwati diapit oleh para Bhayangkara yang mengiringi disamping kanan kirinya dengan Sanglir dan Sentot memimpin di depan sebagai pembuka jalan.
Hingga beberapa lama rombongan itu pun memasuki perbatasan kota Negeri pantai. Rombongan para Bhayangkara yang membawanya mengarahkan kereta angin menuju ke pinggiran kota, dengan perasaan gelisah dan bertanya-tanya dalam hati, Sariwati mengikuti rombongan Bhayangkara yang membawanya dan menyadari dirinya tidak menuju ke kota.
Rombongan tersebut menuju ke sebuah rumah tua dan nampak terlihat disudut-sudut bangunan itu dijaga oleh orang-orang yang berpakaian para Bhayangkara.
Dalam hati Sariwati semakin bertanya-tanya tempat apakah gerangan yang ditujunya ini, "Kenapa aku sampai disini, mengapa mereka membawaku ke tempat seperti ini?" gumam Sariwati.
Namun gadis itu hanya terdiam dalam pergulatan pikirannya, dari raut wajahnya nampak kegelisahan dan perasaan penuh tanda tanya.
Tiba-tiba rombongan itu berhenti di sebuah rumah tua yang terlihat lama tak dihuni.
Kembali Sariwati bertanya dalam hatinya, "tempat apa ini?" gumam gadis itu sambil menyapu pandangannya ke sekitar bangunan tua itu dan menuntun kereta anginnya.
Dengan mengumpulkan keberanian, gadis itu bertanya kepada Sanglir, salah seorang Bhayangkara yang membawanya,
"Tempat apa ini, mengapa kita berada di sini? mengapa kita tak menuju kerumah ayah Timoti?" rentetan pertanyaan dilontarkan Sariwati pada Sanglir.
"Mengapa aku dibawa ke tempat ini, siapa kalian?" tanya gadis itu kembali.
Dengan menyeringai licik dan mata menelisik, Sanglir berkata kepada Sariwati,
"Nanti Ni Mas akan tau sendiri."
"Mari Ikuti saya, Ni Mas? kehadiran anda sudah ditunggu di dalam." ujar lelaki berperawakan bogel itu pada Sariwati.
Dengan memicingkan mata dan menautkan kedua alisnya, Sariwati kembali bertanya,
"Apa maksudmu? siapa yang menungguku didalam?"
"Kau jangan main-main denganku, ayah tak akan senang jika mengetahui anaknya dipermainkan dan diperlakukan tidak senonoh!" hardik Sariwati pada Sanglir.
Gadis itu berniat memutar kereta angin yang dituntunnya dan hendak berlalu dari tempat itu, namun tangan Sanglir memegang kemudi kereta angin Sariwati dan menghalanginya.
"Ni Mas jangan mempersulit saya, mari ikut saya ke dalam." ujar Sanglir dengan mata tajam mengintimidasi sambil menggelandang Sariwati menuju ke dalam bangunan tua tersebut.
"Lepaskan aku! siapa kalian?"
"Kalian bukan pasukan Bhayangkara!"
"Kalian jangan kurang ajar padaku!"
"Aku akan melaporkan kalian pada ayah!" pekik Sariwati, gadis itu meronta dan berusaha melepaskan diri kedua orang yang membawanya.
"Lepaskan aku!"
"Tempat apa ini, apa yang kalian inginkan dari diriku?" pekik Sariwati kembali sambil terus meronta dari cengkraman tangan Sanglir yang menariknya dibantu salah seorang laki-laki yang juga mengenakan pakaian Bhayangkara.
Suara pintu bangunan tua itu berderik dibuka Sentot yang berjalan di depan, sementara Sanglir masih terlihat menyeret Sariwati dibantu seorang laki-laki yang juga berpakaian Bhayangkara.
Temaramnya cahaya di dalam ruangan, membuat pandangan mata sedikit terhalang, namun di ujung bangunan, tepatnya di dekat sebuah jendela nampak berdiri sesosok tubuh dengan pandangan mengarah keluar bangunan.
Sanglir membawa Sariwati ke ruangan utama bangunan itu, terlihat sebuah kursi berada tempat di tengah ruangan dan didudukkan lah Sariwati di kursi tersebut.
Sariwati terus meronta dan berteriak pada orang-orang yang membawanya.
"Lepaskan aku!"
"Apa yang kalian inginkan dariku?"
__ADS_1
"Dimana ayahku?" pekik gadis itu dengan wajah memerah penuh kemarahan.
Orang-orang di ruangan itu tak ada yang membuka suara termasuk Sanglir. Terlihat lelaki itu meninggalkan Sariwati menuju ke arah sosok tubuh yang berada didekat jendela, Sanglir nampak membisikkan sesuatu pada orang yang ada di hadapannya dan tak selang berapa lama keduanya menghampiri Sariwati yang terus meronta dan menghardik orang-orang yang mengapitnya.
Derap langkah kaki dan suara hentakan sepatu memecah kesunyian ruangan itu, seorang berperawakan tinggi besar dengan wajah garang menghampiri Sariwati.
"Selamat datang, Ni Mas."
"Aku harap anak buahku tak merepotkanmu selama dalam perjalanan ke mari." suara berat laki-laki itu menyapa Sariwati, senyum dingin tersungging dari bibirnya.
"Martin?" pekik Sariwati terkesiap dengan seseorang yang ada dihadapannya.
"Jadi semua ini ulahmu dan kalian berpura-pura menjadi pasukan Bhayangkara?"
"Jangan bilang bahwa ini semua skenario kak Habsari?" hardik Sariwati pada Martin.
Gadis itu mengenal Martin sebagai salah seorang pengawal keluarganya, Martin adalah salah satu pimpinan Garuda Merah, pasukan khusus yang mengawal dan bertugas memastikan keselamatan keluarga besar dinasti Harsuto.
"Saya sudah perkirakan dan tak terkejut dengan reaksi anda, Ni Mas."
"Sudah beberapa pekan ini kami melacak keberadaan Ni Mas." ujar lelaki itu dingin.
Sariwati mendengus kesal mendengar jawaban Martin, gadis itu kembali meronta namun dua anggota Garuda Merah yang berpakaian Bhayangkara menahannya.
"Kurang ajar! lepaskan aku!"
"Aku akan mengadukan semua ini pada Papi Bendowo dan Ayah!" hardik Sariwati pada Martin.
Lelaki itu tetap tenang dengan wajah dingin menelisik ke arah Sariwati.
Tiba-tiba dari arah belakang, langkah kaki mendekati mereka dan berkata pada orang-orang di ruangan itu,
Para anggota Garuda Merah segera meninggalkan ruangan tersebut demikian pula dengan Martin yang sebelumnya membungkukkan badannya memberi hormat pada orang yang baru saja tiba.
Mata Sariwati terbelalak melihat sosok yang kini ada di hadapannya,
"Kakak, ternyata dirimu di balik semua kerusuhan ini!"
"Aku benci kakak!" pekik Sariwati.
Dengan terbata-bata gadis itu kembali berkata,
"Apa salah mereka hingga dengan tega, kakak melakukan kekejaman itu yang membuat seluruh keluarga Muhibbin menderita hingga ibu dan kakaknya meninggal beserta ayah angkatnya, keponakannya serta adik angkatnya saat ini berjuang antara hidup dan mati akibat perbuatan kakak!" pungkas gadis itu tak bisa menahan kegeramannya.
Mata Sariwati berkaca-kaca melampiaskan semua yang dirasakannya pada sosok di depannya yang tak lain adalah Hapsari.
Dengan wajah dingin putri sulung tuan Bendowo itu menatap adiknya yang terduduk di kursi yang ada di depannya.
Habsari berkata,
"Bukankah aku sudah memperingatkan mu untuk menyerahkan kotak Giok Hujan yang kau miliki padaku!"
"Andaikan kau tak keras kepala dan meremehkan aku, semua ini tak akan terjadi. Keluarga Pemuda kampungan itu pun tak akan meregang nyawa akibat ulah yang kau sebabkan bersama lelaki pujaanmu itu." hardik Habsari pada adiknya.
Sariwati terus menangis dihadapan sang kakak, wajah ayunya sembab berlinang air mata memandang Habsari penuh kekecewaan dan kemarahan.
Gadis itu berkata,
"Kakak memang manusia yang tak memiliki hati dan perasaan, kau tega melakukan apa saja untuk meraih Apa yang kau inginkan."
"Dari dulu, kakak memang tak pernah menyayangi aku dan tak pernah menganggap ku ada sebagai saudaramu."
__ADS_1
Ujar Sariwati penuh kegeraman.
Hapsari hanya mendengus mendengar perkataan sang adik, tatapannya semakin dingin mengintimidasi, wanita Ayu itu berkata,
"Kau tahu apa tentang penderitaan, hidupmu dari dulu selalu enak dan dimanjakan oleh papi dan mami."
"Apakah kau tahu apa yang ku alami selama ini?"
"Akibat Ambisi papi sebagai pewaris trah dinasti Garuda Emas, Papi tega membuang ku ke Negeri Angin dan memisahkan ku dengan Angga Kekasihku, semua itu papi lakukan hanya demi harta dan kehormatan keturunan raja Harsuto."
"Apakah kau tahu hal itu? memang Angga bukan keturunan darah biru, namun aku sangat mencintainya dan dengan tega papi memisahkan ku dengannya, apalagi saat itu papi dengan kekuasaan dan pengaruhnya mengasingkan Angga beserta seluruh keluarganya hingga membuat mereka sengsara."
"Jangan kau ajari diriku tentang Apa itu penderitaan, karena aku sudah mengalaminya dan semua mimpi-mimpiku terkubur oleh ambisi papi." pungkas Habsari pada adiknya.
Dari sudut mata Habsari mengalir bulir-bulir bening air mata, bayangan masa lalu terlintas dipikirannya, wanita ayu itu kembali mengingat kejadian dua puluh dua tahun yang lalu, dimana dirinya menjalin hubungan asmara dengan seorang pemuda dari Negeri Kelapa bernama Angga.
Angga adalah kawan Habsari di sebuah tempat pendidikan ilmu perniagaan yang cukup ternama di Negeri Kelapa.
Pemuda itu putra seorang saudagar kaya dan cukup terpandang dan memiliki pengaruh besar pada kelompok kelas menengah kerajaan Zamrud.
Saat itu dinasti Garuda Emas sedang memerangi orang-orang yang hendak menggulingkan kekuasaan penguasa kerajaan Zamrud yang tak lain mendiang raja Harsuto dan setiap pemberontak di buang ke pengasingan di sebuah pulau terpencil yang tak berpenghuni.
Bahkan sebagian dari pemberontak itu di eksekusi mati untuk meredam pergolakan yang di timbulkan oleh kaum pedagang dan kelas menengah yang tidak setuju dengan kebijakan monopoli bisnis oleh lingkaran kekuasaan dan keluarga raja.
Orang tua Angga adalah salah seorang aktifis penggerak pemberontakan itu dan di eksekusi mati sedangkan keluarganya termasuk Angga di buang di sebuah pulau terpencil tanpa ada beritanya hingga saat ini.
Hal itu yang membuat Habsari remaja menentang sang ayah dan gadis remaja itu dengan penuh kekecewaan segera menyusul Angga dan keluarganya menggunakan sebuah Otto hingga ke dermaga, namun kapal yang membawa kekasihnya telah berlayar meninggalkan Habsari muda yang histeris di tepian dermaga.
Tuan Bendowo yang mengetahui hubungan putri sulungnya dengan anak seorang pemberontak naik pitam, tanpa menunggu lama, Habsari dikirimnya ke Negeri Angin dengan alasan mengelola semua aset kekayaan dinasti Harsuto sebagai bentuk hukumannya karena telah menjalin hubungan dengan Angga.
Habsari tersadar dari lamunannya, wanita ayu itu menyeka air mata di pipinya.
Melihat pemandangan langka di hadapannya, Sariwati berkata pada sang kakak.
"Aku turut prihatin dengan apa yang kakak alami."
"Namun apakah adil, kakak melampiaskan kekecewaan kakak terhadap papi pada diriku, terutama pada keluarga Muhibbin?"
"Muhibbin tak salah apa-apa, Kak!"
"Apalagi keluarganya." isak Sariwati pada Habsari.
Mendengar perkataan adiknya, kemarahan Habsari kembali timbul, mata wanita ningrat itu melotot pada adiknya.
"Aku ingin memberi pelajaran dan membalas sakit hatiku pada papi!"
"Aku ingin melihatnya menderita dengan membuatmu sengsara!"
"Aku ingin membuat papi merasakan apa yang aku rasakan selama ini!" pekik Habsari dengan penuh emosi.
Melihat reaksi kakak sulungnya, Sariwati berkata,
"Kakak! kau jangan durhaka pada orang tua!"
"Biar bagaimana pun, papi itu ayah kandungmu, orang tua kita!" ujar Sariwati tak kalah geram.
"Kau tau apa!"
"Sejak papi menghancurkan mimpi-mimpiku dan mengirim ku ke Negeri Angin, saat itu pun ayahku telah mati dan dia bukan ayahku lagi!" ujar Habsari.
*****
__ADS_1