KAHANAN

KAHANAN
CH 89 - LELAYU


__ADS_3

Rintik hujan kembali turun membasahi bumi Negeri Pantai, langit kelabu terlihat pekat menutupi marcapada. Muhibbin masih tetap bersimpuh diantara kedua gundukan tanah memerah, tak dihiraukannya tetesan hujan mulai membasahi tubuhnya.


Pemuda itu terus meratap didepan pusara ibu dan kakaknya, ingatannya mengembara tatkala pertama kali bertekad mengadu nasib ke Negeri Pantai diiringi tangis dan doa ibu serta kakaknya Cahaya, saat itu kondisi kekurangan mengharuskannya mengambil alih tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga dan memutuskan pergi merantau ke negeri antah berantah yang belum pernah dikenalnya sama sekali.


Dua belas tahun telah berlalu semenjak kedatangannya ke Negeri kepingan nirwana, seusia dengan keponakannya Raya Suci yang saat itu masih berusia belum genap sembilan bulan.


Kini dua belas tahun dimana dia mengorbankan masa remajanya, dua belas tahun berjibaku sebagai lelaki terakhir yang harus mengambil alih tanggung jawab keluarga, dua belas tahun yang menjadi petaka dan awal rundung kesedihan ditinggal dua orang yang sangat disayanginya, bu Suratmi dan Cahaya serta sosok pak Nengah Wirata, seorang lelaki yang tak ada pertalian darah namun menganggapnya sebagai bagian keluarga, sosok yang sangat dihormatinya, yang pada akhirnya berkalang tanah membela dan melindunginya dari tangan tirani yang memberinya kedukaan tak terkira.


Dengan tubuh bergetar menahan nestapa bersujud diantara dua pusara, tangisnya pun pecah diantara hujan yang mulai deras, tangannya mengepal dan di hantamkan ke atas tanah berkali-kali dimana dia berada, percikan genangan air diantara dua gundukan tanah itu tak dihiraukannya.


"Aaaaahhhhhhh!"


"Aaaaahhhhhhh!" pekik Muhibbin melepaskan kesedihannya memecah keheningan yang hanya menyisakan suara hujan, wajahnya yang sembab dengan cucuran air mata tengadah ke angkasa seolah mencari jawaban,


"Mengapa ini terjadi, ya Allah!" teriaknya lantang, seolah meminta penjelasan pada Sang Pencipta tentang semua yang di alaminya.


"Mengapa Kau ambil keluargaku?"


"Mengapa tak Kau ambil saja nyawaku, ya Allah?"


"Aaaahhhhhhh!" teriak Muhibbin kembali.


Batinnya bergolak, bayang-bayang kekejaman yang menimpa keluarganya silih berganti bermain di benaknya. Tubuh penuh luka pak Nengah Wirata dan Cahaya kakaknya serta tubuh hangus terbakar bu Suratmi, saling berkelebat di kepalanya. Geram, dendam, amarah bercampur dengan kesedihan tatkala ingatan itu menyeruak di alam sadarnya.


"Benar, ini semua terjadi sejak pertemuanku dengan Wati, tapi apakah mungkin aku menafikan perasaanku padanya sedangkan nestapa ini sedikit banyak disebabkan kedekatan ku dengan dia."


"Mungkin jika tak mengenalnya, aku dan keluargaku tak berakhir seperti ini."


"Dan apakah benar, semua ini dilakukan oleh kelompok Garuda Merah, peliharaan keluarganya?"


"Apa yang di khawatirkan Gus Aji Putra akhirnya menjadi nyata."


"Apa yang harus kulakukan saat ini?"


"Akankah ku diam saja dengan semua yang menimpa keluargaku?"


"Apakah aku harus meninggalkan Wati ketika semua ini sudah terlanjur terjadi?"


"Lalu bagaimana dengan Wati nantinya jika ku tinggalkan?"


"Apakah dirinya akan menerima semua keputusanku ini?" gumam Muhibbin dalam hati.


Pergulatan batin dengan rentetan pertanyaan-pertanyaan di benaknya yang timbul membuat pemuda itu gamang diantara bara dendam yang dirasakannya.


***


Malam pun datang, suasana temaram bekas guyuran hujan menyisakan genangan-genangan sepanjang jalan. Seorang pemuda bergegas memperlebar langkahnya menaiki bukit di batas banjar Galuh sebelum akhirnya sampai disebuah bangunan tempatnya mengabdi dan menimba pengetahuan, Griya Manuaba terlihat lengang dengan temaram obor di setiap sudut-sudut bangunan yang tertata rapi.


Langkah kakinya semakin cepat menuju balai utama Griya Manuaba tempat kediaman Resi Giri Waja.


Seorang lelaki tua berpakaian serba putih duduk bersila dengan mata terpejam disebuah ruang pemujaan, didepannya terlihat dupa yang masih menyala. Sang pemuda itu duduk bersimpuh menunggu dan tak berani mengeluarkan suara, tak selang berapa lama lelaki tua dihadapannya membuka mata.


"Kau sudah datang, Ning? suara lelaki tua tersebut memecah keheningan ruangan itu.


"Inggih, Kakiang." jawab pemuda itu pada lelaki tua dihadapannya.

__ADS_1


Pemuda itu tak lain adalah Arsana sang cantrik yang ditugaskan menemani Muhibbin pulang ke banjar Manguntur. Arsana hanya tertunduk dengan wajah yang terlihat gelisah.


"Ceritakan semua kejadian itu padaku!"


"Bagaimana peristiwa itu bisa terjadi?" ujar lelaki tua itu kembali yang tak lain Resi Giri Waja tokoh pemuka agama banjar Galuh.


Arsana tampak terkejut dengan pertanyaan sang guru, wajahnya penuh tanda tanya bagaimana sang Resi tau perihal kejadian yang menimpa Muhibbin sekeluarga.


"Kau tak perlu terkejut."


"Aku sudah mengetahui peristiwa itu akan terjadi melalui Pewisik Dewata."


"Ceritakan apa yang terjadi di Manguntur." ujar sang Resi kembali. Lelaki tua itu menatap lekat Arsana yang bersimpuh dihadapannya.


Dengan suara lirih Arsana mulai bercerita tentang yang dilihatnya selama mengantar Muhibbin ke Manguntur.


"Saya tidak tau bagaimana tepatnya, Kakiang."


"Ketika kami sampai di Manguntur, semua sudah terjadi."


"Jero Perbekel desa Batubulan meninggal dengan luka-luka ditubuhnya, sementara ibu Muhibbin tewas mengenaskan dengan tubuh hangus terbakar."


"Adik angkat dan keponakannya pun mengalami nasib yang tak kalah tragisnya."


"Sementara tatkala para warga Manguntur selesai mengebumikan jenazah bu Suratmi dan melakukan upacara pengabenan Jero Mekel, selisih satu malam, kembali sesosok tubuh ditemukan oleh para Pecalang dalam kondisi tak bernyawa."


"Tubuh penuh luka dan bekas penganiayaan itu tak lain adalah Cahaya kakak dari Muhibbin, Kakiang." ujar Arsana sambil mengatur nafasnya sebelum melanjutkan apa yang di temuinya di Manguntur.


"Peristiwa itu sangat mengerikan, Kakiang."


"Saya sempat mendengar kasak-kusuk para Pecalang bahwa pelakunya adalah para Bhayangkara."


"Informasi itu disampaikan oleh Sekar putri Jero Mekel tatkala siuman dari pingsannya."


"Semua kejadian yang menimpa keluarga Jero Mekel dan Muhibbin sekarang dalam tahap penyelidikan."


"Dan Prawira Utama Bhayangkara mengambil alih langsung penyelidikan itu karena menyangkut dengan nama baik kesatuan Bhayangkara." ujar Arsana menceritakan yang diketahuinya pada Resi Giri Waja.


Lelaki tua itu terdiam mendengar semua penuturan muridnya, terlihat wajahnya yang teduh menghela nafas dalam-dalam.


"Lelayu-lelayu!" ucapnya singkat sambil menghembuskan nafas pelan.


"Kau kabarkan pada para cantrik yang lain, untuk beberapa hari kedepan agar mulai waspada dan memperketat Asram ini"


"Firasatku mengatakan bahwa peristiwa ini tak akan berhenti di tragedi Manguntur saja."


"Peristiwa ini tak semudah yang nampak dipermukaan, ada kepentingan tirani dibelakangnya yang bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya."


"Aku akan menulis surat untuk Ida Bagus Putra Narayana di banjar Gelumpang dan kau antarkan suratku padanya."


"Sekarang istirahatlah terlebih dahulu, besok sebelum fajar segeralah berangkat." ujar Resi Giri Waja pada Arsana. Pemuda itu menganggukkan kepala dengan tangan menangkup di dada dan berlalu dari hadapan sang Nabe.


***


Suara binatang malam bagaikan simphoni, bersahutan memecah keheningan. Seorang gadis dengan perasaan gelisah duduk di selasar sebuah bangunan Balai Dauh Griya Manuaba, matanya menerawang jauh memandang pekatnya langit tak berbintang, pikirannya mengembara mengingat rangkaian peristiwa demi peristiwa yang di alaminya hingga terdampar di Negeri Pantai dan berada di asram Resi Giri Waja.

__ADS_1


Lamunannya pupus tatkala seorang pemuda dengan langkah tergesa menghampirinya.


"Selamat malam, Ni Mas." sapa pemuda itu pada sang gadis.


"Bli Arsana, kapan andika datang?"


"Dimana Muhibbin, Bli?" tanya sang gadis yang tak lain adalah Sariwati.


Arsana mengatur nafas sebelum menjawab pertanyaan Sariwati, pemuda itu mendekat dan berdiri di hadapan putri tuan gubernur Negeri Pantai itu.


"Maafkan saya tak segera menemui andika, Ni Sanak."


"Saya baru saja tiba dan sebelum kemari saya menghadap Bapa Resi terlebih dahulu."


"Bli Ibbin tak ikut kembali dengan saya dan dia menitipkan surat ini untuk Ni Mas Wati." ujar Arsana pada gadis di hadapannya sambil mengulurkan tangan menyerahkan sepucuk surat yang dititipkan Muhibbin padanya.


Sariwati menerima surat itu dan segera membukanya. Kata demi kata yang tertulis diatas kertas putih itu di bacanya, wajahnya nampak berubah pucat dan tak berselang lama deraian air mata mengalir di pipinya. Isakan tangisnya semakin menjadi, Arsana yang ada di depannya hanya diam terpaku melihat pemandangan didepannya.


Dengan terbata-bata dan tetesan air mata, Sariwati memandang Arsana.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi, Bli?"


"Bagaimana keadaannya sekarang?" ujar Sariwati masih menggenggam erat surat di tangannya.


Dengan helaan nafas berat, Arsana mulai bercerita tentang apa yang diketahuinya. Panjang lebar pemuda itu menggambarkan peristiwa yang dilihatnya selama di Manguntur ketika menemani Muhibbin, Sariwati tercekat dan menangkupkan kedua telapak tangan menutupi wajah ayunya, gadis itu sesenggukan menangis mendengar kabar yang disampaikan Arsana.


"Itulah yang terjadi, Ni Mas."


"Bli Ibbin memintaku untuk menyampaikan surat itu pada Ni Mas."


"Dia juga berpesan akan menjemput Ni Mas segera dan akan mengantarkan Ni Mas pulang ke rumah orang tua andika." ujar Arsana.


Tak berapa lama pemuda itu kembali berkata pada gadis di depannya,


"Saya mohon diri dulu, Ni Mas."


"Karena saya harus bersiap-siap untuk menjalankan amanah Bapa Resi besok sebelum fajar."


"Saya turut berduka dengan apa yang di alami Ni Mas dan Bli Ibbin." pungkasnya, pemuda itu memahami bahwa gadis didepannya membutuhkan waktu sendiri dan dia segera beranjak dari tempatnya berdiri meninggalkan Sariwati seorang diri.


Sariwati memandang kepergian Arsana yang berlalu dan menghilang di gelapnya malam.


"Ini semua salahku." gumam Sariwati masih terisak.


*****


Note :


*Kakiang : sinonim dari kata kakek namun diperuntukkan pada orang-orang yang sangat dihormati dan memiliki posisi tinggi dalam masyarakat


*Pewisik : petunjuk batin


*Lelayu : kabar duka tentang kematian


*Asram : sebutan untuk sebuah perguruan atau tempat menuntut ilmu bagi kalangan Brahmana

__ADS_1


*Nabe : panutan atau guru besar


__ADS_2