
Sariwati masih terisak menangis mendengar jawaban ketus kakaknya Habsari, keduanya masih terlibat perdebatan sengit. Habsari mendekat ke arah Sariwati yang masih terduduk di kursi, tiba-tiba tangan wanita ayu itu mencengkram krah baju Sariwati.
"Katakan, dimana kau simpan kotak Giok Hujan itu?" ujar putri sulung tuan Bendowo itu, mata Habsari menyalang dengan wajah dingin mengintimidasi ke arah Sariwati.
Cengkraman tangan wanita itu pada baju Sariwati membuat sang gadis terasa tercekik dan sulit bernafas, dengan linangan air mata Sariwati berusaha melepaskan diri dari kakaknya.
"Aku tak tau apa yang kakak maksudkan!"
"Lepaskan aku, kak!" iba Sariwati pada sang kakak.
"Kau masih keras kepala! atau kau ingin sisa-sisa keluarga pemuda kampungan itu aku binasakan, termasuk kekasihmu itu!" hardik Habsari pada adiknya, wajahnya mendekat dan hanya terpisah sejengkal dari wajah Sariwati.
"Katakan! dimana benda itu? sebelum kesabaran ku hilang." seru Habsari kembali sambil menghempaskan tubuh adiknya di atas kursi yang didudukinya.
"Aku tak tau apa yang kakak maksud, lepaskan aku!"
"Dan kakak jangan coba-coba menyakiti keluarga Muhibbin kembali, atau- !"
"Atau apa? kau berani mengancamku!" sanggah Habsari naik pitam, tangan wanita ayu itu melayang ke arah wajah Sariwati, sebuah tamparan keras membekas di pipi gadis itu, darah merembes dari sela-sela bibir mungilnya yang terlihat pucat pasi.
Plaakkkk!
"Kakak!" teriak Sariwati menahan rasa sakit di wajahnya.
"Kakak jahat!" pekik gadis itu kembali dengan bibir bergetar dan air mata bercucuran, rahangnya gemeretak menahan amarahnya.
"Sampai kapan pun tak akan kuberikan benda itu pada kakak!" pungkas Sariwati pada Habsari, tangannya memegang erat-erat buntalan kain yang selalu dibawanya.
Habsari semakin naik pitam dengan sikap adiknya, wanita itu mendekat dan berbisik di telinga Sariwati, " Katakan! atau ku bunuh sisa-sisa keluarga pemuda kampungan itu. tak akan ada yang bisa menahan ku!"
Senyum dingin tersungging di sudut bibir Habsari, pandangannya mengarah pada buntalan yang di dekap oleh adiknya, Sariwati yang melihat gelagat aneh dan perubahan sikap Habsari segera mendekap erat-erat buntalan yang di bawanya.
Dengan paksa, Habsari menarik buntalan yang di dekap adiknya, wanita itu berusaha merebutnya dari tangan Sariwati.
"Serahkan barang-barang mu!"
"Percuma kau menutupinya, atau kau memang lebih memilih pemuda kampungan itu beserta sisa keluarganya aku musnahkan!" teriak Habsari sambil menarik buntalan yang ada pada Sariwati.
Kain buntalan yang didekap Sariwati terlepas, gadis itu bangkit berusaha merebut kembali dari tangan kakaknya. Namun posisi Habsari lebih diuntungkan, dengan tangan kanannya Habsari mendorong tubuh Sariwati hingga terjerembab, gadis ayu itu jatuh terjengkang ke lantai, rasa nyeri menjalar di belakang kepalanya yang terbentur ubin, Sariwati mengerang lirih dan berusaha bangkit namun belum sempurna dirinya berdiri, kembali tangan Habsari melayang di wajahnya. Tamparan berkali-kali di terima Sariwati.
Gadis itu kembali terduduk akibat tamparan kakaknya, dengan wajah sembab dan linangan air mata, Sariwati sesenggukan di depan Habsari.
"Kembalikan buntalan itu padaku, kak!"
"Tolong kembalikan!" iba Sariwati yang masih duduk bersimpuh di lantai.
Habsari tak menghiraukan tangisan adiknya, wanita itu membongkar isi buntalan kain yang dibawa oleh Sariwati.
__ADS_1
Sebuah benda terbungkus sapu tangan berwarna merah jambu menyembul dari dalam buntalan kain ditangannya. Dengan wajah antusias dan pandangan berbinar, Habsari membuka benda yang terbungkus sapu tangan tersebut dan sebuah kotak kecil kehitaman dengan ukiran ikan mas saling berlawanan berbentuk lingkaran di atasnya dan kepala burung garuda di sisi-sisinya menyembul dan mengeluarkan aura dingin kebiruan.
"Hahahahah, akhirnya benda ini berada di tanganku."
"Dengan kotak ini, aku akan bangkitkan kembali kejayaan dinasti Garuda Emas." suara tawa Habsari menggema di ruangan rumah tua itu.
"Sekarang tinggal aku cari cincin Saiman Madu itu, aku yakin pemuda kampungan itu menyimpannya." gumam Habsari masih dengan wajah berbinar dan tawa penuh kemenangan. Putri sulung tuan Bendowo itu melangkah ke arah pintu dan memanggil anak buahnya.
"Martin, masuklah!" teriak Habsari memanggil pengawal setianya.
Dengan tergopoh-gopoh lelaki berperawakan tinggi besar dan berwajah garang datang menghampiri Habsari.
"Ni Mas memanggil saya?"
"Apa yang perlu saya lakukan saat ini, Ni Mas?" ujar Martin pada majikannya.
Habsari dengan wajah datar berkata, "Bawa anak sialan itu pulang ke rumah!"
"Antarkan dia langsung menemui papi Bendowo."
"Katakan pada papi, bahwa kau menemukannya di Griya Manuaba kediaman Resi Giri Waja dan pemuda kampungan itu yang telah membawanya ke tempat itu."
"Sisanya biar aku yang urus semua."
"Setelah ini, kau dan anak buahmu jangan memperlihatkan pergerakan mencurigakan, tunggu perintahku!" pungkas Habsari pada Martin.
"Baik, Ni Mas."
Sebelum meninggalkan ruangan itu, Habsari kembali menghampiri Sariwati yang masih menangis dan duduk bersimpuh, tangan wanita itu meraih wajah Sariwati dan mendongakkannya.
"Ingat, jika sampai kau berkata macam-macam pada paman dan papi, maka dirimu akan ku buat sengsara dan kekasihmu serta sisa keluarganya akan ku habisi!"
"Mengerti, kau!" ujar Habsari dengan wajah mengintimidasi.
Sariwati hanya terdiam sesenggukan tanpa sepatah katapun, bagian belakang kepalanya masih terasa nyeri akibat dorongan Habsari yang membuatnya terjengkang membentur lantai.
tak lama kemudian Martin memerintahkan Sanglir dan Sentot untuk menggelandang Sariwati, sementara dirinya mengekor di belakang Habsari.
***
Sementara disebuah bangunan di kota Negeri Pantai, terlihat pengamanan ketat dilakukan oleh para Bhayangkara.
Tuan Timoti sang gubernur Negeri Pantai berjalan tergesa-gesa ke dalam bangunan yang tak lain adalah markas para Bhayangkara.
Lelaki dengan wajah berwibawa itu segera memasuki sebuah ruangan yang didalamnya telah berada seorang tabib bersama para cantriknya.
"Bagaimana keadaan Cokro, Tabib?" tanya tuan Timoti tatkala sudah berada di tepian ranjang dimana tubuh Cokro sang Prawira Utama selaku pimpinan Bhayangkara masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
Lelaki tua itu memandang ke arah tuan Timoti, dia pun berkata,
"Keadaan tuan Prawira Utama sudah mulai membaik, tuan."
"Luka dalam yang dideritanya akibat pukulan pemuda itu sudah berangsur-angsur mengalami Perkembangan positif dan masa kritis sudah dilaluinya."
"Kini kami tinggal mengobati luka memarnya dan patah tulang yang diderita Tuan Cokro." ujar tabib tua itu pada tuan Timoti.
Tuan Timoti memandang lekat tubuh orang kepercayaannya yang sedang terbaring tak sadarkan diri di depannya, pandangannya beralih pada salah seorang Bhayangkara yang berada di ruangan itu,
"Hai, kau! bagaimana peristiwa itu bisa terjadi? tolong ceritakan padaku." tanya tuan Timoti pada salah satu anggota Bhayangkara yang ada di ruangan itu.
Anggota Bhayangkara Itu pun menjawab apa yang ditanyakan oleh Gubernur Negeri Pantai tersebut.
"Maaf tuan Gubernur, saat itu kami bersama tuan Prawira Utama melakukan penyidikan dan penyelidikan untuk menemukan keberadaan Ni Mas Sariwati,"
"Dan kami atas perintah tuan Prawira Utama menyisir wilayah banjar Manguntur hingga ke surau An Nur tempat di mana pemuda itu berada,"
"Saat itu kami mendapatinya bersimpuh di antara dua makam yang tak lain adalah makam ibu dan kakaknya. "
"Tuan Prawira Utama menanyakan keberadaan Ni Mas Sariwat namun pemuda itu tidak memberi jawaban yang pasti."
"Ketika kami hendak membawanya untuk menemui tuan, dia melakukan perlawanan kepada kami, sehingga perkelahian tak bisa dielakkan lagi."
"Kami sempat kewalahan menangkap pemuda itu, namun tuan Prawira Utama turun gelanggang dan berusaha menangkapnya."
"Perkelahian sengit antara Tuan Prawira utama dan pemuda itu terjadi beberapa saat, hingga keduanya saling tukar menukar jurus andalannya."
"Dan dapat kita ketahui bahwa perkelahian keduanya seimbang dengan luka dalam yang diderita baik tuan Cokro maupun pemuda itu." ujar anggota Bhayangkara itu pada tuan Timoti.
Pemimpin Negeri pantai itu menghela nafas sebelum melanjutkan pertanyaannya pada anggota Bhayangkara dihadapannya itu.
"Apakah kalian berhasil mengorek keterangan tentang keberadaan anakku?" tanya tuan Timoti pada lelaki di hadapannya.
Bhayangkara itu hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan sang gubernur.
"Lalu Bagaimana keadaan pemuda itu dan di mana dia sekarang?" tanya Tuan Timoti kembali pada Bhayangkara di hadapannya.
"Pemuda itu sekarang berada di ruang tahanan, tuan."
"Dirinya juga mengalami luka dalam."
"Dan tabib telah memeriksa keadaannya." jawab anggora Bhayangkara itu.
Tuan Timoti terlihat manggut-manggut dengan ekspresi wajah datar,
"Sekarang kau antarkan aku ketempat pemuda itu berada."
__ADS_1
"Aku sendiri yang akan mengorek keterangan pada pemuda itu dan kamu tabib, terus awasi perkembangan Prawira Utama, jika ada sesuatu segera laporkan padaku!" ujar tuan Timoti pada tabib dihadapannya sebelum meninggalkan ruangan itu untuk menemui Muhibbin.
*****