KAHANAN

KAHANAN
CH 107 - BARA DALAM SEKAM


__ADS_3

Jalanan Negeri Pantai mulai gelap gulita, bayangan pepohonan pun diselimuti petang nan pekat, udara dingin mulai terasa menusuk tulang.


Cahaya obor nampak meliuk-liuk diterpa angin di tiap-tiap sudut rumah pemukiman warga Manguntur, nampak sebuah kereta angin perlahan menyusuri jalanan tanah yang membelah sepinya malam.


Para penduduk pun mulai beristirahat setelah seharian berjibaku dengan kegiatan masing-masing menyisakan suasana sunyi temaramnya hari.


Sayup terdengar kidung Mantram Gayatri dilantunkan oleh suara-suara parau penembang memuji keagungan Sang Pencipta berlomba dengan suara nyanyian binatang malam yang saling bersahutan.


Banyak perubahan yang terjadi di desa Batubulan terutama banjar Manguntur, sejak peristiwa raja pati yang menimpa tokoh panutan desa itu seolah-olah mencerabut keceriaan setiap warga.


Dulu sebelum kejadian tragis itu, biasanya para warga selalu bercengkrama setiap sore menjelang petang walau hanya dengan meneguk tuak dan bercakap ringan melepas penat keseharian, anak-anak kecil nampak bermain dan bercengkrama di depan rumah masing-masing sebelum beranjak ke peraduan, para wanita nampak menjarit Canang sambil bersenda gurau walau kadang yang di obrolkan hanya sebatas kehidupan keseharian.


Kini suasana itu menghilang, yang nampak hanya kesunyian di setiap harinya.


Kereta angin itu berhenti disalah satu rumah, nampak dua orang pengendaranya turun, salah satu diantara keduanya memapah orang disampingnya.


Kedua orang itu adalah Muhibbin dan Raya Suci sang keponakan,


"Hati-hati, Nduk."


"Mari Pak Lik bantu dirimu." ujar Muhibbin ingin memapah Raya Suci.


Gadis kecil itu nampak tersenyum ke arah sang Paman,


"Gak usah Pak Lik."


"Biar aku belajar jalan seperti biasanya."


"Nanti kalau Pak Lik terus membantuku, aku gak bisa mandiri."


"Lalu kapan aku bisa sembuhnya." ujar Raya Suci pada Muhibbin sambil terus tersenyum manja.


Muhibbin hanya membalas dengan anggukan dan senyuman setelah apa yang diutarakan sang Gadis kecil, Pemuda itu mengamati langkah sang Keponakan yang terseok-seok dibantu sebuah tongkat di tangannya.


"Mbak Yu, Mbak Yu ... aku pulang!" suara Raya memecah keheningan rumah itu.


Nampak dari arah balai Dlod seorang gadis dengan senyum ceria menyambut keduanya.


"Mengapa kalian pulang sampai petang?"


"Raya apa tak lelah, seharian ikut Bli Ibbin ke Surau?" tanya Gadis yang tak lain adalah Sekar pada Raya Suci.


"Gak, Mbak Yu."


"Wong di Surau, aku hanya tidur aja gak ada kegiatan setelah membersihkan makam Mbah Uti dan Bu Lik." jawab Raya polos.


"Ya, dia kerjanya hanya tidur."


"Itupun harus di iringi senandung, kayak anak bayi saja." timpal Muhibbin sambil tersenyum pada Sekar.


"Ah, Pak Lik."


"Aku kan tadi ngantuk." rajuk Raya Suci pada sang Paman.


Melihat tingkah kedua orang didepannya, Sekar hanya tersenyum simpul, Gadis itu menghampiri Raya Suci,


"Raya apa tak lapar?"


"Tadi Mbak Yu masak pepes ikan nila dan jukut plecing."


"Kebetulan tadi We Sapat membawakan beberapa ekor ikan nila ke mari." ujar Sekar pada Gadis kecil di depannya.


Raya terlihat girang setelah mendengar perkataan Sekar.


"Ayo Mbak Yu, aku lapar sekali."


"Tadi di Surau aku gak dibuatin apa-apa oleh Pak Lik." senyum Raya merekah sambil melirik Pamannya.


"Ih kamu,"

__ADS_1


"Tadi Pak Lik tawari makanan gak mau."


"Kamu bilang sudah makan dirumah dan Mbak Yu mu memasakkan mu." sahut Muhubbin pada Raya.


"Iya, aku kan sudah mengira kalau Mbak Yu bakalan masak enak, Pak Lik."


"Kalau aku makan di Surau tadi, kan gak makan lagi di rumah jadinya."


"Padahal aku ingin dimasakin Pak Lik juga." jawab Raya manja.


"Hu dasar, anak banyak akalnya." ujar Muhibbin sambil mengacak-acak rambut keponakannya.


Ketiganya pun tertawa dengan kejahilan Raya,


"Sudah-sudah, Bli Ibbin bersihkan badan dulu, dan Raya juga gitu."


"Mbak Yu akan siapkan makanan di dapur." ujar Sekar pada Muhibbin dan Raya Suci.


keduanya pun beranjak meninggalkan Sekar yang berjalan ke arah dapur.


**


Udara malam semakin dingin, tak berapa lama setelah membersihkan badan, Muhibbin dan Raya menyusul Sekar yang tengah sibuk mempersiapkan makan malam di dapur.


Terdengar gemeretak kayu terbakar dan kobaran api dari Tumang yang terbuat dari susunan batu bata dan polesan tanah liat di setiap sisinya, membuat suasana ruangan menjadi hangat, cahaya Dimar Ublik menerangi dapur yang nampak sederhana namun terlihat bersih dan rapi, nampak hidangan di atas sebuah balai bambu di sudut ruangan tertata rapi.


Ketiganya menikmati makan malam dengan diselingi canda dan tawa seolah melepas segala beban dan persoalan yang telah terjadi.


Raya dan Sekar duduk bersimpuh di balai bambu, sementara Muhibbin duduk di Dingklik kecil yang terbuat dari kayu didepan tungku perapian.


"Oh ya Bli, tadi Disya berkunjung kemari bersama Puan Rizza dan Diera."


Mereka menitipkan salam buat Bli Ibbin dan Raya." ujar Sekar sambil menikmati makanannya.


Muhibbin hanya tersenyum kecil mendengar kabar dari Sekar adiknya. Pemuda itu tak bergeming dan sedang asyik menyantap lezatnya Jukut Plecing buatan Sekar.


"Disya juga berpesan ingin bertemu dengan Bli Ibbin di Selasar Rumah Budaya."


Muhibbin bangkit menuju ke pancuran yang berada di dekat dapur setelah menandaskan makanan dan mencuci piring yang ada ditangannya, Pemuda itu meneguk segelas air sebelum membalas perkataan Adik angkatnya,


"Kita lihat saja nanti, Gek."


"Bli gak janji bisa hadir di acara itu."


"Karena saat ini peternakan peninggalan Ajik butuh perhatian dan di Surau pun sudah mulai ada anak-anak yang belajar mengaji."


"Mereka anak-anak para perantau yang jauh-jauh dari banjar lain hanya untuk belajar mengaji pada Bli." ujar Muhibbin sambil duduk kembali di depan perapian dengan sebatang rokok yang terselip di jarinya.


"Raya ingin melihat pertunjukan itu, Pak Lik."


"Selama disini aku belum pernah Pak Lik ajak melihat hiburan." rengek Raya Suci pada sang Paman.


Gadis kecil itu terlihat ingin bangkit dan membawa piring kotor di tangannya namun Sekar menahan dan mengambil piring yang ada di tangan Raya Suci.


"Sini, biar Mbak Yu yang cuci."


"Raya cuci tangan saja." sergah Sekar pada Raya, Gadis kecil itu mengangguk dan membersihkan tangannya lalu kembali duduk di balai bambu dan merapikan bekas hidangan yang tersisa.


Dari pancuran yang tak jauh berada di dekat dapur, Sekar menimpali kembali.


"Benar itu yang dikatakan Raya, Bli."


"Sekali-kali kita ajak dia jalan-jalan menikmati indahnya Negeri Pantai dan menyaksikan pagelaran seni yang ada disini."


"Lagian juga aktifitas di peternakan bisa siang hari dan sore harinya Bli bisa mengajar mengaji murid-murid Bli."


"Toh juga pagelaran di Selasar Rumah Budaya diadakan malam hari seperti biasanya." imbuh Sekar pada sang Kakak.


Muhibbin hanya termangu mendengar kedua orang terkasihnya tersebut, Pemuda itu menghisap rokok dan menghembuskan asapnya perlahan-lahan.

__ADS_1


"Ya, nanti Bli akan usahakan hadir di acara itu." jawab Muhibbin singkat.


Sekar dan Raya tersenyum girang mendengar jawaban Muhibbin yang masih duduk didepan perapian.


***


Sementara disebuah rumah megah di kota Negeri Pantai, nampak seorang wanita berkerudung merah jambu berdiri di tepian jendela yang terbuka, matanya lekat memandang langit malam yang nampak cerah, taburan bintang gemintang bagaikan butiran-butiran pasir dilaut dan nampak elok rembulan sabit tergantung diantaranya.


Udara semelir menerpa wajah ayu sang wanita, kerudungnya tersibak memperlihatkan legam rambutnya yang halus terawat, diusapnya bagian perut yang nampak menonjol dengan tangan lentiknya.


"Hem-hem." suara seorang lelaki berdeham membuyarkan lamunannya.


"Disini kau rupanya."


"Aku mencari mu di ruang tengah dan tak ku dapati kau disana."


"Apa yang kau lamunkan?"


"Papi dan Mami menunggu kita makan malam." ujar orang itu pada Wanita dipinggir jendela.


"Kau makanlah terlebih dahulu, aku belum lapar." ujar sang Wanita singkat tanpa menoleh ke arah datangnya suara.


Lelaki itu mendekat ke arah sang Wanita dan memeluknya dari belakang.


Sontak kejadian itu membuat sang Wanita berang dan berbalik mendorong tubuh lelaki yang saat ini berada dihadapannya,


"Seto, jangan kurang ajar kau!"


"Jangan sekali-kali kau berani menyentuh diriku!" ujar Wanita itu melotot pada lelaki yang dipanggilnya Seto.


"Hai, kau ini istri sah ku!"


"Aku berhak mendapatkan perlakuan sebagai seorang suami!" seru Seto tak kalah tinggi.


"Akan sampai kapan kau selalu menghindari ku, Wati?"


"Apa harus ku bongkar semuanya dihadapan Papi dan mami mu serta pada ayah Timoti bahwa selama ini kau selalu menolak kewajiban mu sebagai seorang istri?"


"Dan benih yang ada di kandungan mu saat ini bukan darah daging ku."


"Kesabaran ku sudah habis untuk terus berpura-pura bahwa perkawinan kita ini baik-baik saja." pungkas Seto mendengus kesal pada wanita didepannya yang tak lain adalah Sariwati.


"Lakukan!"


"Adukan saja pada semua orang."


"Aku tak takut."


"Namun harus kau ingat, sebelum kau mengadukan semua itu, kau akan melihat tubuhku terbujur tak bernyawa."


"Dan jangan harap aku akan menganggap mu sebagai suamiku!" teriak Sariwati naik pitam.


"Kita lihat saja nanti!" jawab Seto penuh amarah, Lelaki itu keluar meninggalkan Sariwati seorang diri didalam kamar.


*****


Note Author:


*Raja Pati: Pembunuhan.


*Mantram Gayatri: Puji-pujian kepada Dewa.


*Jukut Plecing: Sayuran yang terbuat dari kangkung dan bumbu kacang makanan khas pulau Dewata.


*Tumang: Tungku perapian untuk menanak nasi.


*Dingklik: Kursi kecil terbuat dari papan kayu.


*Dimar Ublik: Lampu minyak.

__ADS_1


*Karawitan: Seni Gamelan


*Drama Gong: Seni pertunjukan drama klasik dengan kostum tradisional dan dekorasi panggung khas pulau Bali diiringi oleh gamelan, mirip Wayang Wong di Jawa Tengah dan Ludruk di Jawa Timur.


__ADS_2