
Suasana riuh terdengar di halaman pusat komando Bhayangkara Negeri Pantai, puluhan orang berteriak meminta kehadiran Prawira Utama maupun tuan Gubernur untuk menemui mereka.
Para penjaga terus berusaha menenangkan masa yang mulai nampak ricuh, suasana gerimis tak menyurutkan mereka untuk menyuarakan maksud dan tujuannya.
Tak selang berapa lama, seorang pria didampingi beberapa pasukan Bhayangkara menemui kerumunan warga, pria itu tak lain tuan Timoti sang gubernur Negeri Pantai.
"Tenang, tenang!"
"Satu persatu jika ingin sampaikan maksud dan tujuan kalian!" teriak salah satu Bhayangkara yang lebih senior pada para warga, sementara Bhayangkara yang lain terus bersiaga dengan senjata ditangan masing-masing.
Dari kerumunan warga, menyeruak dua orang lelaki ke depan. Tuan Timoti yang berdiri di balik pagar betis para penjaga itu pun ikut maju menyambut setelah melihat kedua orang lelaki yang di kenalnya.
"Ada apa ini, Jero Pecalang, Jero Balian?"
"Mengapa kalian datang kemari bersama puluhan warga Manguntur?"
"Apalagi ku lihat mereka membawa senjata tajam, apa kalian ingin terjadi pertumpahan darah dan memberontak melawan aparat negara?" seru tuan Timoti dengan lantang ditengah riuh suara para warga , pandangannya menyapu ke arah kerumunan, wajah lelaki itu terlihat keruh melihat masa yang terus berteriak.
Dengan tenang, Balian Kanta selaku orang yang lebih tua diantara para rombongan warga Manguntur itu berkata,
"Maafkah kami, Tuan."
"Jika kedatangan kami ini membuat Tuan dan para Bhayangkara bertanya-tanya."
"Kami hanya ingin menanyakan kejelasan penyelesaian atas kasus yang terjadi dan menimpa keluarga Jero Mekel Nengah Wirata."
"Bagaimanapun Beliau adalah tokoh dan panutan kami di desa Batubulan."
"Dan satu lagi Tuan, kami ingin menanyakan keberadaan Muhibbin."
"Dimana pemuda itu sekarang?"
"Karena beberapa anggota keamanan desa dan para warga menemukan ini di Surau An Nur, dari laporan yang mereka sampaikan pada kami, ditempat itu menyisakan bekas perkelahian."
"Apakah para Bhayangkara terlibat akan semua ini?"
"Kami ingin meminta keadilan." pungkas Balian Kanta pada tuan Timoti, lelaki tua itu menyerahkan slayer leher khas atribut Bhayangkara Negeri Pantai pada tuan Timoti.
Sementara Jero Pecalang yang berada disampingnya terus menatap sang Gubernur dan sesekali Pimpinan keamanan desa Batubulan itu mengangkat tangannya ke arah para warga untuk lebih tenang.
Tuan Timoti menerima slayer leher yang di ulurkan oleh Tabib tua itu. Pimpinan Negeri Pantai itu mengamati benda ditangannya, dia terlihat menghela nafas dengan wajah masih terlihat berkerut.
"Sebaiknya hal ini kita bicarakan di dalam ruangan saja, Jero."
"Aku juga memiliki beberapa pertanyaan untuk kalian berdua." ujar tuan Timoti pada Balian Kanta dan Jero Pecalang.
Sang Gubernur memberi aba-aba pada para Bhayangkara yang mendampinginya untuk memberikan jalan pada Balian Kanta dan Jero Pecalang. Tabib tua itu menganggukkan kepala pada Pimpinan Negeri Pantai itu dan terlihat lelaki tua tersebut berdiskusi dengan Jero Pecalang.
Sebelum melangkah memasuki ruangan pusat komando Bhayangkara beserta tuan Timoti dan Balian Kanta, Jero Pecalang terlihat memberikan arahan pada anggota keamanan desa Batubulan dan warga Manguntur yang turut serta malam itu untuk tetap tenang menunggu hasil yang akan di peroleh dengan pertemuannya bersama sang Gubernur.
Tak selang berapa lama, ketiganya melangkah kedalam ruangan pusat komando Bhayangkara, terlihat beberapa penjaga mendampingi ketiga orang tersebut.
Setelah berada didalam, tuan Timoti mempersilahkan kedua tokoh desa Batubulan itu untuk duduk di hadapannya, sang Gubernur memerintahkan para penjaga yang mendampinginya untuk keluar meninggalkan ketiganya didalam.
Sebelum memulai pembicaraan, sang Gubernur kembali menghela nafas dalam-dalam.
"Jero Balian, Jero Pecalang, ada yang perlu kalian ketahui tentang duduk permasalahan hal ini."
"Sore tadi aku sudah mendapat informasi dari tuan Sirkun tentang apa yang tengah kalian dan warga Manguntur risaukan, perihal tragedi berdarah yang menimpa Jero Mekel dan seluruh keluarganya."
"Aku memaklumi semua itu namun seharusnya tidak seperti ini caranya dengan membawa puluhan warga Manguntur ke tempat ini, seharusnya kita bisa bicarakan dengan baik dan mencari solusinya." ujar tuan Timoti pada kedua orang dihadapannya.
"Maaf Tuan, kami tak bisa melarang ataupun menahan para warga untuk turut serta ke tempat ini."
"Sebagaimana yang disampaikan Jero Balian baru saja saat di halaman, ini semua karena warga Manguntur khususnya dan seluruh warga desa Batubulan, merasa mendiang Jero Mekel adalah tokoh panutan kami."
"Apa yang terjadi pada mendiang Jero Mekel beserta Muhibbin putra angkatnya telah mengusik rasa kemanusiaan kami."
"Dan benar yang anda sampaikan, bahwa tadi sore saya sendiri menghadap ke tuan Sirkun untuk meminta bantuan Beliau menjembatani penyelesaian kasus ini."
"Kami berdua sadar, jika hal ini tidak ditangani dengan cepat dan tepat, kami khawatir keadaan keamanan di Negeri Pantai ini akan terganggu dan pemerintah pusat akan menyoroti permasalahan ini." jawab Jero Pecalang pada tuan Timoti sambil memandang Balian Kanta di sampingnya yang terlihat manggut-manggut membenarkan apa yang dikatakannya.
__ADS_1
Tuan Timoti menyimak dengan seksama penuturan Pimpinan keamanan desa Batubulan itu.
Sang Penguasa Negeri Pantai itu terlihat kembali menghela nafas dan menghembuskannya pelan seolah-olah melepaskan beban yang dipikulnya dan terlihat dengan guratan-guratan tegas di keningnya.
"Semuanya telah kami tangani dan selidiki, Jero."
"Walaupun aku tak bisa membuka semua informasi kepada kalian termasuk kepada para warga Manguntur." ujar tuan Timoti lirih, Balian Kanta dan Jero Pecalang mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Pimpinan Negeri Pantai itu.
"Namun bukan berarti kalian tak boleh mengetahui duduk permasalahannya,"
"Tidak, bukan itu maksudku." imbuh tuan Timoti memberi pengertian kepada kedua tokoh desa Batubulan itu.
"Aku sudah menyelidiki langsung tentang semua ini."
"Memang ku akui ada pengkhianatan di dalam tubuh Bhayangkara sendiri yang dilakukan oleh salah satu pimpinan Bhayangkara yang telah menggadaikan kehormatan dan sumpah prajuritnya pada Tirani."
"Hal itu telah aku lakukan pendalaman secara langsung dan aku jamin untuk kalian beserta para warga Manguntur akan mendapat keadilan serta penyelesaian yang terang benderang atas semua yang terjadi, termasuk menghukum para pelaku kejahatan itu." pungkas tuan Timoti tegas pada Balian Kanta dan Jero Pecalang.
"Tentang masalah keberadaan Pemuda itu, memang benar yang kalian duga."
"Pemuda itu kami tahan ditempat ini." ujar tuan Timoti kembali.
Jero Balian Kanta dan Jero Pecalang kembali mengerutkan keningnya mendengar ucapan sang Gubernur.
"Ada hal apa sehingga Muhibbin di tahan di tempat ini, Tuan?" tanya Tabib tua itu pada tuan Timoti, lelaki itu nampak tak mengerti walaupun dalam pikiran dan praduganya ada sesuatu yang telah terjadi antara Muhibbin dan para Bhayangkara.
"Tentang Pemuda itu, sebenarnya semua hanya salah paham, seperti yang telah diceritakan oleh beberapa saksi mata dan para Bhayangkara padaku."
"Semua ini berawal tentang kaburnya Putri ku."
"Pemuda itu melakukan perlawanan pada aparat negara saat akan dimintai keterangan seputar keberadaan Putriku karena aku yang memerintahkan Cokro dan anak buahnya untuk mencari keberadaan anakku itu."
"Walaupun saat ini Putriku sudah kembali ke rumah."
"Namun kesalah pahaman itu menimbulkan perkelahian dan dengan terpaksa para Bhayangkara menahannya."
Panjang lebar tuan Timoti menceritakan secara runut apa yang telah terjadi, mulai dari menghilangnya sang Putri dan pencarian keberadaan anaknya yang dilakukan Prawira Utama beserta para anggota Bhayangkara sampai akhirnya terjadi kesalah pahaman dan perkelahian antara Muhibbin dan para Bhayangkara yang berakibat terlukanya Cokro sang Prawira Utama Bhayangkara dan Pemuda dari Negeri Bati Ular itu.
"Walaupun sebenarnya hal itu merupakan kejahatan yang cukup serius dengan melawan aparat negara tapi aku masih mempertimbangkan jasa dan kebaikan mendiang Jero Mekel serta kebaikan Pemuda itu saat menolong anakku, tatkala terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh juragan Yanto beserta antek-anteknya beberapa tahun lalu."
Balian Kanta dan Jero Pecalang manggut-manggut mendengar penuturan tuan Timoti, masih lekat diingatan keduanya bagaimana Muhibbin berperan dalam peristiwa berdarah yang menewaskan beberapa pelaku kejahatan dan para keamanan desa serta anggota Bhayangkara yang gugur dalam kerusuhan beberapa tahun silam.
"Lalu dimana Pemuda itu sekarang, Tuan?" tanya Balian Kanta pada sang Gubernur.
"Anak itu saat ini ada diruang pengobatan, Jero."
"Saat ini kondisinya sedang terluka dan dirawat akibat perkelahian dengan Prawira Utama, Cokro pun juga masih dalam penyembuhan pula dengan keadaan tak kalah seriusnya."
Sesaat ruangan itu hening, ketiganya larut dengan pikiran masing-masing dimana sebelumnya belum pernah terjadi keadaan sekacau saat ini sehingga menyita pikiran dan menjadi sorotan di masyarakat Negeri Pantai.
"Mari aku antar kalian menemui Pemuda itu." pungkas tuan Timoti sambil beranjak dari tempat duduknya.
Balian Kanta dan Jero Pecalang sejenak saling berpandangan, keduanya pun menganggukkan kepala dan mengikuti langkah tuan Timoti menuju ke ruangan perawatan dimana Muhibbin berada
***
Sementara itu di kediaman Gubernur Negeri Pantai, nampak seorang wanita tua dan seorang gadis sedang berbicara di selasar bangunan megah itu.
Keduanya adalah nyonya Warika dan Sariwati.
Nampak Sariwati terisak dan sang Ibu memberi pengertian,
"Wati, Mami tau hal ini berat bagimu."
"Tapi kamu harus pikirkan keadaan Papi mu yang saat ini terbaring sakit."
"Pernikahanmu dengan Seto akan segera di laksanakan, ayah mu Timoti saat ini sedang mempersiapkan semuanya."
"Pernikahan ini adalah bentuk rasa bakti mu pada kami orang tua mu."
"Jadi, jangan kecewakan kami, Nak." ujar nyonya Warika lembut pada putrinya.
__ADS_1
Sariwati masih tertunduk dengan isakan tangisnya, wajahnya sembab bersama buliran air mata yang membasahi pipi putihnya.
"Tapi Wati tak mencintai Seto, Mi."
"Cinta ku hanya untuk Ibbin."
"Walau dia anak orang tak punya dan bukan dari keluarga berkasta, dia sangat baik padaku selama ini."
"Selama pengasingan ku di Negeri Pantai ini, dialah satu-satunya orang yang mau menerimaku dan melindungi ku, Mi."
"Bagaimana perasaannya jika dia tau pernikahan ini terjadi? apalagi saat ini dia sedang berkabung dengan kepergian sanak keluarganya."
"Aku tak sanggup melakukan semua ini, Mi." ujar Sariwati pada nyonya Warika.
Gadis itu terlihat sedih dan rasa gundahnya hanya bisa dibaginya bersama sang Ibu.
"Mami tau apa yang kau rasakan."
"Tapi apakah kau juga akan mengorbankan perasaan Papi mu?"
"Jika kau menolak pernikahan ini, sama saja kau mempermalukan kami di hadapan keluarga besar Haryo,"
"Dan apakah kau ingin melihat Papi mu bertambah malu dan sedih sedangkan saat ini Papi mu dalam keadaan sakit."
"Apa kau ingin hal buruk terjadi pada Papi mu?" ujar nyonya Warika pada Sariwati, wanita tua itu berusaha meyakinkan dan membujuk anak gadisnya.
"Tapi aku tak mencintai Seto, Mi." ucap Sariwati kembali sambil terisak.
"Witing trisno jalaran soko kulino, Nduk."
"Cinta datang karena sering bertemu."
"Seiring waktu, cinta itu akan tumbuh diantara kalian."
"Contohnya Papi dan Mami mu ini."
"Kami menikah atas dasar perjodohan keluarga, toh juga akhirnya kami dikarunia kalian anak-anak Mami dan kami bahagia sampai saat ini." pungkas nyonya Warika.
Wanita ningrat itu terlihat membelai rambut putrinya yang bersandar dipundaknya.
"Mami tadi menemui Pemuda itu, Wati." ujar nyonya Warika kembali.
Mendengat ucapan Ibunya, Sariwati mengangkat kepalanya dari pundak nyonya Warika.
"Dimana Mami menemui Ibbin, Mi?"
"Bagaimana keadaan dia?"
"Aku pun harus berjumpa dengannya." ujar Gadis itu pada sang Ibu.
Dengan senyum lembut Wanita tua itu kembali berkata,
"Sudahlah! lupakan dia, Wati."
"Kau tak perlu menemuinya."
"Mami sudah minta pada kawanmu itu untuk menjauhi mu."
"Dia sudah tau kalau kau akan menikah dengan Seto."
"Dan dia menitipkan ini pada Mami untuk diberikannya padamu." pungkas nyonya Warika sambil mengambil sesuatu dari dekatnya duduk.
Nyonya Warika menerima selembar kain yang selalu melingkar dileher Muhibbin yang saat itu tergeletak dilantai sebelum Pemuda itu berteriak memanggil Penjaga ruang tahanan bawah tanah untuk mengantar nyonya Warika keluar.
Sariwati menerima selembar kain endek berwarna hijau dengan rajutan benang emas di sisi-sisi nya sambil tersedu.
Gadis itu tau benda apa yang ada ditangannya tersebut, selebar kain endek yang dihadiahkan pada Muhibbin kekasihnya dan tak pernah lepas selalu melingkar dileher Pemuda itu kala pertemuannya kembali setelah kejadian kerusuhan yang dilakukan oleh Setyanto beberapa tahun lalu.
Isakan tangisnya semakin menjadi, Sariwati membenamkan wajahnya di antara kedua tangan yang masih memegang selembar surban endek itu yang pernah diberikannya pada Muhibbin.
"Maafkan aku, Bin." gumamnya dalam hati.
__ADS_1
*****