
Udara sore yang sejuk dengan rona jingganya menyapa bumi Negeri Pantai.
Disebuah bangunan megah, terlihat kesibukan orang-orang yang ada didalamnya, nampak beberapa pekerja mempersiapkan dekorasi di sebuah pelataran yang menyerupai panggung dan sebagian lagi mempersiapkan tempat duduk di depan panggung tersebut.
Seorang Wanita cantik tengah berdiskusi dengan salah satu pekerja,
" Pak Min, bagaimana semua persiapannya?"
"Apakah tidak ada kendala?" tanya Wanita itu pada salah seorang pekerja yang di panggilnya pak Min.
Lelaki paruh baya itu menjawab pertanyaan Wanita cantik didepannya.
"Untuk penataan panggung dan dekorasi semua sudah siap, Non."
"Para Seniman yang akan tampil pun sudah berada di Selasar ini dan mereka sudah memahami apa yang harus dipersiapkan untuk pementasan nanti malam."
"Untuk hidangan para tamu pun saya tadi sudah memastikannya pada Bi Sumi dan bagian konsumsi di dapur, semua sudah siap sesuai perencanaan, Non." pungkas pak Min pada Wanita di hadapannya yang tak lain adalah putri tuan Sirkun pemilik Selasar Rumah Budaya.
"Bagus, pak Min."
"Aku tak ingin acara nanti malam terkendala oleh hal-hal yang tak kita harapkan."
"Acara ini harus sukses karena pagelaran ini diadakan dalam rangka hari jadi Negeri Pantai."
"Pementasan Drama Gong dan sendra tari ini pun harus berjalan lancar, karena ini pertama kalinya aku menangani sendiri dan undangan yang hadir adalah orang-orang berpengaruh di Kerajaan Zamrud utamanya Negeri Pantai." ujar Wanita itu yang tak lain adalah Disya Kumala Dewi.
Lelaki yang dipanggil pak Min mengangguk dengan hormat pada Disya.
"Sekarang lanjutkan semua persiapan mu, aku akan melihat persiapan di dalam." ujar Disya kembali.
Gadis ayu itu melangkah ke arah ruangan dalam Selasar Rumah Budaya, namun terlihat Gadis itu membalikkan badannya kembali dan berkata pada pak Min yang masih tak beranjak dari tempatnya berada.
"Pak Min, apa kau melihat Ayahku?" tanya Disya pada lelaki paruh baya itu. Dengan masih menunjukkan rasa hormat, pak Min pun menjawab pertanyaan majikannya,
"Kalau tak salah tadi beliau berpesan pada para pekerja akan menemui tuan Gubernur, Non."
"Saya pun belum bertemu beliau sejak siang tadi." ujar lelaki itu.
Disya terlihat manggut-manggut mendengar jawaban pak Min dan Gadis itu pun berkata kembali,
"Pantas saja, di rumah pun aku tak melihat Ayah."
"Ya sudah, lanjutkan kembali pekerjaan mu, pak Min."
"Aku kedalam dulu." pungkas Disya berlalu menuju kedalam ruangan Selasar Rumah Budaya.
***
Disebuah balai dangin, seorang Pemuda tengah duduk sambil menghisap sebatang rokok yang terselip di jemarinya, matanya menerawang jauh menatap langit yang kian pekat menandakan Sandikala.
"Rupanya Bli ada disini."
"Aku tadi mencari mu di kamar." ujar seorang Wanita muda membuyarkan lamunan sang Pemuda.
"Ada apa Bli?"
"Terlihat Bli Ibbin gelisah sekali sejak pulang dari Surau tadi." imbuh Wanita muda itu yang tak lain adalah Sekar Jempiring.
Dengan menghela nafas, Muhibbin berkata lirih tanpa menoleh ke arah Sekar yang mulai duduk disampingnya.
"Entahlah, Gek."
"Perasaan ku serasa tak tenang."
timpal Pemuda itu sambil menghisap rokok yang ada di jemarinya, dihembuskannya asap benda tersebut kuat-kuat seolah melepaskan beban yang dirasakannya.
"Ceritakanlah Bli, mungkin dengan Bli bercerita akan sedikit meringankan beban yang Bli rasakan." ujar Sekar pada Muhibbin.
Pemuda itu terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan adik angkatnya,
"Gek ... Jika aku tak ada, kuharap kau bersedia merawat Raya,"
"Atau kau kirimkan surat ini ke kampung ku."
"Supaya nanti sanak saudaraku di kampung menjemput Raya ke mari." ujar Muhibbin lirih sambil menyerahkan sepucuk surat yang diambilnya dari balik pakaiannya.
Sekar mengernyitkan dahinya, pandangannya menelisik kearah Muhibbin disampingnya,
"Ada apa ini, Bli?"
"Tumben Bli berkata seperti itu."
"Bli akan kemana?"
"Apa yang terjadi, Bli?" desak Sekar pada Muhibbin, kini pandangan gadis itu meremang melihat kakak angkatnya tertunduk lesu dihadapannya.
"Tadi sore ketika aku mengajar di Surau, ada beberapa orang datang ke sana."
"Orang-orang itu tumben aku lihat." ujar Muhibbin lirih. Pemuda itu menatap Sekar disampingnya yang mulai terisak.
"Maafkan Bli, Gek."
"Selama ini Bli merepotkan mu dan mendiang Ajik."
"Dan Kalian semua ikut terseret dan menerima getah dalam pusaran masalah yang aku lakukan."
"Firasat ku mengatakan, orang-orang tadi yang datang ke Surau akan mendatangkan persoalan baru di kehidupanku."
"Aku tak ingin kau dan Raya kembali mengalami masalah akibat ulah kelakuanku selama ini." kata Muhibbin sambil menggenggam jemari adik angkatnya.
"Aku semakin tak mengerti arah pembicaraan mu, Bli."
"Jangan membuat ku khawatir, lebih baik jika ada masalah kita bagi bersama."
"Bagaimanapun, Bli adalah kakakku."
"Aku sudah tak memiliki siapa-siapa selain Bli Ibbin dan Raya." seru Sekar sambil menyeka air matanya.
"Sejak kepulangan Bli dari Surau tadi, aku mengamati Bli yang terus terlihat murung."
"Apa ini ada kaitannya dengan Perempuan itu lagi, Bli?" imbuh Sekar pada Kakak angkatnya.
Muhibbin menganggukkan kepalanya,
__ADS_1
"Tadi, orang yang datang ke Surau mengaku saudara Sariwati."
"Dia datang bersama beberapa orang dan marah-marah pada Bli."
"Dia mengancam Bli."
"Dari perkataannya, dia akan melakukan sesuatu yang mungkin akan membahayakan kita semua."
"Aku tak ingin sesuatu terjadi pada dirimu dan Raya, Gek."
"Cukup bagi ku kehilangan Ajik, Emak dan Mbak Yu Cahaya."
"Aku tak ingin kehilangan dirimu dan Raya."
"Jika sampai mereka berbuat buruk pada kalian, aku pastikan akan mengejarnya sampai dimana pun." pungkas Muhibbin lirih sambil menatap adik angkatnya, terbersit rasa geram dari nada perkataannya.
Pandangan Sekar pun terus lekat menatap wajah Muhibbin disampingnya.
"Jika memang seperti itu, Bli."
"Sebaiknya kita minta petunjuk paman Jero Pecalang atau Jero Balian Kanta."
"Siapa tau mereka dapat memberikan solusi tentang hal yang Bli alami." ujar Sekar sambil menepuk tangan Muhibbin.
"Ya Gek, rencananya besok Bli akan menemui mereka sekaligus akan ke Griya Manuaba untuk Nangkil ke Bapa Resi Giri Waja."
"Dan kebetulan juga Bli akan menjumpai Gus Aji Putra bersama Setyowati yang saat ini ada di sana."
ujar Muhibbin pada Adiknya.
Mendengar penuturan sang Kakak, Sekar manggut-manggut,
"Jika seperti itu pertimbangan Bli, aku setuju saja dan mendukung apa yang akan Bli lakukan."
"Yang jelas kita tak perlu terlalu risau dengan tipu daya dan keangkuhan keluarga Perempuan itu karena aku yakin Tuhan tak akan membiarkan angkara murka dan perbuatan semena-mena terjadi pada hambaNya yang berserah diri."
"Karma pasti akan mereka tuai, Bli." ucap Sekar menghibur kakak angkatnya."
Keduanya pun terdiam sambil pandangannya tak lepas dari langit yang mulai gelap. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba Sekar dan Muhibbin di kejutkan oleh suara yang sangat dikenalnya,
"Pak Lik, Mbak Yu ... apa jadi kita ke kota melihat pagelaran di tempat Bibi Disya?" ujar suara itu yang tak lain Raya Suci yang melangkah dari arah kamarnya.
Dengan senyuman tersungging, keduanya berpaling ke arah Raya,
"Ya jadi lah!"
"Mbak Yu dan Pak Lik mu sudah sedari tadi siap dan menunggu dirimu, Raya." timpal Sekar dengan senyuman yang terkulum di bibirnya.
"Asyik!"
"Aku ingin tau seperti apa tari-tarian di Negeri Pantai ini, Mbak Yu." seru Raya Suci suka cita.
Melihat keponakannya riang gembira, rasa sedih dan gelisah Muhibbin menguap bersama tawa girang keponakannya.
"Jika kalian sudah siap, ayo kita berangkat, supaya tak terlalu malam dan terlambat menyaksikan pagelaran di Selasar Rumah Budaya." pungkas Muhibbin pada Sekar dan Raya.
Sekar dan Raya mengangguk berbarengan, sebelum beranjak pergi, Sekar dibantu oleh Muhibbin menghidupkan lampu-lampu teplok yang tersemat di dinding-dinding setiap kamar.
Tak selang berapa lama, ketiganya pun melangkah keluar dari rumah itu dan mengayuh kereta angin menuju kota Negeri Pantai.
***
Disepanjang jalan kota Negeri Pantai, lapak-lapak kecil beratapkan daun ilalang berjejer rapi. Aneka mainan dan masakan terpampang di setiap lapak para pedagang, cahaya obor meliuk-liuk tertiup angin yang berhembus semilir.
Para penduduk bersuka cita dengan keramaian dan pertunjukan yang bisa dikatakan digelar setahun sekali ini, hari ini adalah hari jadi Negeri Pantai yang di selenggarakan bertepatan dengan masa panen raya sehingga kegembiraan sangat terasa sekali.
Anak-anak kecil berlarian bersenda gurau menyemarakkan suasana yang nampak penuh suka cita.
Di luar pagar Selasar Rumah Budaya nampak terlihat orang-orang berdesakan ingin melihat pagelaran Drama Gong yang selalu menjadi primadona dan sangat di tunggu-tunggu oleh sebagian besar warganya.
Panggung besar dihalaman Selasar Rumah Budaya mulai di semarakkan dengan penampilan tari-tarian dari penjuru negeri, tak luput penampilan duta dari negeri-negeri manca pun ikut memeriahkan acara itu.
Tepat disebuah balai bengong yang ada di samping bangunan Selasar Rumah Budaya, berdiri beberapa orang dengan pandangan takjub melihat atraksi para seniman Negeri Pantai yang memukau.
"Pak Lik, tarian itu indah sekali ya, apa namanya, Pak Lik?" tanya seorang gadis kecil pada pria disampingnya, gadis itu berdiri di atas sebuah bongkahan batu besar yang tak jauh dari balai bengong tersebut.
"Oh itu ... itu tarian Oleg Tamulilingan, Nduk." jawab si pria pada gadis kecil itu.
"Tarian itu energik sekali, Pak Lik."
"Lirikan mata penarinya indah dipadu gerak tubuh dan permainan kipas ditangannya yang lincah." ujar gadis kecil itu kembali, matanya terus lekat memandang gerakan-gerakan harmonis yang diperagakan sepasang penari di atas panggung.
Seorang gadis yang berdiri tak jauh dari kedua orang itu ikut menimpali,
"Iya Raya, itu tarian khas Negeri Pantai yang di ciptakan oleh seorang seniman bernama Mario."
"Tari Oleg Tamulilingan melukiskan gerak-gerik seekor kumbang, yang sedang bermain-main dan bermesra-mesraan dengan sekuntum bunga di sebuah taman."
"Tarian ini di peragakan berpasangan oleh seorang penari lelaki dan penari wanita."
"Oleg dapat berarti gerakan yang lemah gemulai, sedangkan Tamulilingan berarti kumbang pengisap madu bunga." ujar gadis itu yang tak lain adalah Sekar Jempiring menjelaskan pada Raya Suci yang masih takjub melihat kelincahan kedua penari di atas panggung.
"Gerakan penari lelaki terlihat gagah, Mbak Yu."
"Dan penari wanitanya dengan luwes mengimbanginya." ujar Raya Suci kembali tanpa memalingkan wajahnya.
"Iya, itu seperti gerakan Kumbang mengitari bunga yang siap untuk dihisapnya." jawab Sekar sambil tersenyum.
"Mbak Yu apa bisa menari seperti itu?" ucap Raya sambil memandang ke arah Sekar.
"Bisalah!"
"Mbak Yu kan di ajarkan di Pasraman." jawab Sekar kembali.
"Wah, Mbak Yu hebat!"
"Ajarin aku ya, Mbak Yu." ujar Raya merengek sambil menggoyang-goyangkan lengan Sekar.
Melihat tingkah Raya Suci, Sekar dan lelaki disampingnya yang tak lain adalah Muhibbin tertawa lepas.
"Ih, kalian kok malah tertawa."
"Aku kan ingin seperti penari itu, Mabk Yu, Pak Lik." ucap Raya memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Sudah-sudah, nanti Pak Lik yang ajarkan menari."
"Jelek-jelek begini Pak Lik juga bisa Menari lo, Nduk!" seru Muhibbin tersenyum menggoda keponakannya.
"Pak Lik bisa menari?"
"Kenapa aku tak pernah melihanya." ujar Raya kemabali.
"Ya kan itu rahasia, Nduk."
"Masak harus Pak Lik pamerkan sembarangan." jawab Muhibbin sambil menahan tawanya.
"Memangnya tarian apa, Pak Lik."
"Ajarin aku ya!" kini Raya merengek pada sang Paman.
"Iya, nanti Pak Lik akan Ajarin menari Kuda Lumping dan Raya jadi kudanya." ujar Muhibbin tak kuasa menahan tawanya.
"Ih, Pak Lik." Raya kembali memonyongkan bibirnya.
Melihat tingkah kedua paman dan keponakan didepannya, Sekar ikut tersenyum lebar dan ketiganya pun tertawa lepas sambil pandangannya terus tertuju ke arah panggung.
Tiba-tiba tawa ketiganya terhenti ketika seseorang menyapanya,
"Rupanya kalian ikut hadir juga malam ini disini." ujar suara itu.
Muhibbin, Sekar dan Raya Suci mengarahkan pandangannya ke arah datangnya suara.
"Disya!" gumam Muhibbin lirih.
"Bibi Disya!" Seru Raya sambil melompat dari atas batu yang dipijaknya.
Disya tersenyum melihat ketiga orang didepannya,
"Hati-hati, Raya!" ujar gadis itu pada Raya Suci yang melompat dari tempatnya berdiri dan bergegas memeluknya.
"Bibi cantik sekali!"
"Aku kangen dengan Bibi." ujar Raya sambil terus memeluk Disya.
Putri tuan Sirkun tersebut tersenyum sambil membelai rambut gadis kecil di pelukannya itu.
"Bibi juga kangen dengan Raya."
"Waktu Bibi berkunjung ke Manguntur, kata Mbak Yu Sekar, Raya sedang mengaji di Surau." imbuh Wanita ayu itu.
"Iya, Bi."
"Aku membantu Pak Lik mengajari ngaji anak-anak sebayaku di Surau." jawab Raya Suci sambil menggelayut di pelukan Disya.
Sekar dan Muhibbin hanya tersenyum melihat kemanjaan Raya pada Wanita pemilik Selasar Rumah Budaya itu.
"Hai, Kar."
"Apa kabarmu?"
"Kenapa tak memberi tahu aku dulu jika kalian hendak kemari?"
"Kan aku bisa minta pelayan ku menjemput kalian dengan kereta kuda." ujar Disya pada Sekar yang masih tersenyum pada sahabatnya itu.
"Ah, tak perlu repot, Dis."
"Aku tak ingin menggangu persiapan mu mengemas semua tampilan malam ini."
"Kami tadi naik kereta angin, sambil mengajak Raya agar tau suasana kota Negeri Pantai."
"Karena selama ini, dia belum pernah kemana-mana." jawab Sekar pada Disya sambil melirik kearah Muhibbin disampingnya.
Senyum manis tersungging di bibir Disya, pandangannya kini mengarah pada lelaki yang sangat dikenalnya,
"Kau apa kabar, Bin?
"Lama kita tak bertemu."
"Kau terlihat kurusan sekarang." ucap Disya pada Muhibbin yang masih terdiam di samping Sekar.
"Kabarku baik, Dis."
"Kamu, apa kabar?" ujar Muhibbin sedikit canggung pada Gadis cantik dihadapannya.
"Yah, seperti yang kau lihat."
"Aku baik-baik saja."
"Cuma saat ini aku lebih sibuk mengurus Selasar Rumah Budaya." jawab Disya sedikit kaku.
Keempatnya pun terdiam setelah beberapa saat berbasa-basi.
Sejurus kemudian Disya mengajak Muhibbin, Sekar dan Raya Suci untuk mengikutinya,
"Ayo, kalian ikut aku duduk didekat panggung."
"Di sana pandangan kalian akan lebih leluasa menikmati pagelaran seni malam ini." ujar Disya pada ketiganya.
Muhibbin terdiam sejenak dan terlihat canggung dengan ajakan Disya,
"Gak usah repot, Dis."
"Biarlah kami menonton dari tempat ini saja."
"Aku takut kehadiran kami akan mengganggu para tamu undangan." ujar Pemuda itu lirih.
"Ah, gak repot kok."
"Kau tak perlu berkata seperti itu."
"Apa kau tak ingin menyenangkan hati keponakanmu yang tumben-tumbennya melihat pagelaran seperti ini?" jawab Disya datar.
Muhibbin hanya termangu mendengar jawaban datar Disya.
"Iya Pak Lik, ayo kita ikut bibi Disya."
"Disini terhalang oleh para penonton dan aku tak begitu jelas melihat pertunjukan di panggung dari tempat ini." rengek Raya pada sang Paman.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Muhibbin, Disya menggandeng Raya dan diikuti oleh Sekar dibelakangnya menuju ke kursi yang ada didepan panggung, sementara Muhibbin masih terpaku ditempatnya berdiri melihat ketiganya berlalu.
*****