KAHANAN

KAHANAN
CH 73 - MELARIKAN DIRI PART IV


__ADS_3

Di dalam kamar itu menyisakan Suratmi dan Sariwati, kedua wanita itu masih terdiam namun sesekali Sariwati mengarahkan pandangannya pada wajah teduh wanita tua yang ada didepannya, ada perasaan  pilu di rasakannya.


"Nduk Cah Ayu, mendekatlah kemari." ujar Suratmi pada Sariwati, tangan rentanya menggenggam jari jemari gadis ayu di depannya.


"Emak tau kau sangat mencintai Muhibbin, walaupun Emak tak bisa melihatmu namun aku dapat merasakannya."


"Apakah kau benar-benar sudah mempertimbangkan keputusanmu ini pergi dari rumahmu?" Wanita itu dengan lembut mengusap tangan Sariwati, penglihatannya yang sudah tak berfungsi terlihat menerawang.


"Nggih, Mak."


"Saya mohon doa restu panjenengan, itu sudah cukup bagi saya dan Muhibbin."


"Selebihnya biar kami tanggung semua resikonya." ujar gadis ayu itu lirih, dari kelopak matanya mengalir bulir-bulir air mata.


"Dulu, ketika Emak seusia mu pernah mengenal seorang pemuda bersahaja."


"Dari golongan keluarga sederhana, namun bukan itu intinya yang akan aku ceritakan padamu."


"Yang ingin ku katakan bahwa sebagai wanita kita hanya makmum bagi laki-laki yang akan kita percayai dimana jiwa raga kita serahkan semua padanya."


"Jika kau telah menjatuhkan pilihanmu maka kau harus perjuangkan semuanya tanpa ada keraguan lagi."


"Seorang istri itu adalah 'Garwo' sigaring nyowo, belahan jiwa bagi seorang suami."


"Di manapun dan dalam keadaan apapun kita sebagai wanita harus menjadi sosok penyejuk bagi suami dan keluarga kita walaupun kadang kala hati kita merasa sendiri dan merasa beban itu berat namun jangan pernah kita perlihatkan pada siapapun tentang yang kita rasakan."


"Sebenarnya kaum  lelaki itu tak sekuat yang kita lihat, mereka itu adalah mahluk yang rapuh dan tugas kaum wanita mengisi dan menguatkannya. Bagi seorang istri, suami adalah nahkoda dan imam dalam kehidupan dan kita harus menjaga marwah itu, 'Surgo Nunut,Neroko katut' kesurga kita ikut ke neraka pun kita tak bisa mengelak, baik buruknya seorang suami juga baik buruknya bagi kaum istri."


Ujar Suratmi pada Sariwati yang masih terdiam di hadapannya, terlihat wanita renta itu menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya,


"Nduk, keadaan yang kau alami sebenarnya hampir sama dengan yang aku alami dulu."


"Orang tua Emak juga tak menyetujui pernikahan ku dengan abah Muhibbin." Suratmi terlihat tersenyum dan wanita tua itu berkata kembali pada Sariwati,


"Sosok bersahaja dan bertanggung jawab dari abah Muhibbin membuatku membulatkan tekat untuk hidup bersama dengannya."


"Karena aku yakin, abahnya Muhibbin bisa menjadi imam yang baik."


"Walau akhirnya aku pun kehilangan status keningratan ku sebagai keturunan trah Patria." pungkas Suratmi pada gadis ayu di depannya.


Sariwati masih terdiam tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya. Pandangannya menerawang dan dalam benaknya terbayang bagaimana pertama kali dia bertemu dengan Muhibbin dan karena pemuda itulah dia bisa bertahan dalam masa pengasingan dan hukumannya yang dijatuhkan oleh Bendowo, papinya.


Gadis itu teringat bagaimana Muhibbin membelanya mati-matian tatkala para warga Manguntur menuduhnya sebagai pengamal ilmu hitam, ketika semua orang meragukannya hanya Muhibbin yang masih mempercayainya dan selalu membelanya.


Banyak hal yang telah mereka berdua lewati bersama, tersungging senyuman manis di bibir Sariwati mengenang perkenalannya dengan pemuda bersahaja itu.


"Nduk, Emak tanya sekali lagi,"


"Apa benar kamu sudah siap dengan segalanya yang akan terjadi?" ujar Suratmi lirih membuyarkan lamunan Sariwati.


"Sampun, Mak."


"Saya lebih baik hidup sendiri bila tak bisa bersama dengan Muhibbin."


"Saya sangat mencintai Muhibbin, Mak."


"Dan sejak dia menyelamatkan saya, saya sudah berjanji akan memberikan segalanya yang saya miliki untuknya." jawab Sariwati lirih sambil menyeka air matanya yang mulai mengalir di pipinya.


Suratmi menghela nafas dalam-dalam, dia tersenyum mendengar tekat Sariwati. Pikiran wanita tua itu  menerawang mengenang  akan masa mudanya ketika bertemu Ahmad ayah Muhibbin, sikap yang di tunjukkan gadis itu mengingatkan pada dirinya saat masih di Negeri Patria.


"Kau harus segera pergi dari tempat ini, Cah Ayu."


"Aku yakin orang tuamu sebentar lagi akan mencari mu kemari."


"Jika kau telah memantapkan niatmu, ajaklah Muhibbin bersamamu."


"Emak titipkan dia padamu, anakku itu kelihatannya saja tegar, tapi sebenarnya hatinya lembut dan rapuh."


"Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian, restuku bersamamu." pungkas Suratmi pada gadis di depannya, mata rentanya mengembun seakan-akan merasakan bahwa kedepannya hidup anaknya dan gadis ayu itu tak akan mudah."


"Tapi bagaimana dengan Mbak Yu Cahaya , Mak?"


"Kelihatannya Mbak Yu tak merestui hubungan kami." isak Sariwati pada Suratmi, dengan lembut wanita tua itu membelai rambut Sariwati,


"Cahaya biar aku yang urus."

__ADS_1


"Kau tak perlu merisaukannya."


"Tolong panggilkan Muhibbin kemari, Cah ayu." ujar Suratmi.


Sariwati beranjak dari tempatnya duduk, di keluar kamar itu dan melihat Muhibbin sedang duduk bersama kakaknya, pak Nengah, Sekar dan Raya.


Gadis itu memberi isyarat dan memanggil Muhibbin untuk ikut bersamanya bertemu sang ibu. Keduanya duduk di tepian ranjang bambu menatap Suratmi yang masih berbaring.


"Emak memanggil aku? ujar Muhibbin lirih, tangannya merengkuh tangan sang ibu.


"Iya Le."


"Mendekatlah kemari."


"Nduk Cah ayu, kamu juga." pinta Suratmi pada Muhibbin dan Sariwati.


Dengan meraba-raba tangan renta itu meraih tangan Muhibbin dan Sariwati, di satukannya kedua tangan itu dalam rengkuhan genggamannya.


"Yang akan kalian lalui ini tak akan mudah."


"Saling mengalahlah diantara kalian."


"Jika Muhibbin panas, kau harus menjadi orang yang mendinginkannya, Cah Ayu."


"Demikian sebaliknya, kau pun begitu Le."


"Ku harap kalian saling menguatkan setelah ini,"


"Emak selalu mendoakan kalian, pergilah!".pungkas Suratmi sambil menitikkan air mata.


Muhibbin yang masih bingung dengan yang dikatakan ibunya memandang Sariwati di sampingnya seolah-olah ingin tau apa yang diperbincangkan ibunya dengan Sariwati dan memastikan jawaban dari gadis itu.


Sariwati hanya mengaggukkan kepalanya pada Muhibbin, sejurus kemudian gadis itu bersimpuh di hadapan Suratmi sambil mencium tangannya.


"Segera pergilah kalian."


"Aku akan baik-baik saja." ujar Suratmi.


Sariwati menggenggam tangan Muhibbin dan mengajaknya keluar dari ruangan itu. Muhibbin terlihat ragu, dia berpaling ke arah ibunya.


Suratmi merasakan keraguan menggelayuti hati anaknya dan kembali berkata,


"Hilangkan keraguan mu." seru Suratmi.


"Nduk, bawalah Muhibbin pergi."


"Segera tinggalkan tempat ini."


pungkas Suratmi  pada Sariwati. Gadis itu memandang kekasihnya dan memberikan isyarat agar segera pergi.


Muhibbin mencium telapak kaki ibunya sebelum pergi  mengekor Sariwati yang sudah keluar dari kamar, wanita tua itu terlihat bangkit dari tempatnya berbaring dan memeluk putra kesayangannya.


Setelah keluar, sekilas Muhibbin melihat Sariwati berbincang serius dengan p Nengah dan Cahaya yang ada di balai Dangin, pemuda itu mendekati mereka dan sejurus kemudian pak Nengah berkata pada Muhibbin,


"Gus, semalam Ajik sudah berbicara dengan ibumu tentang situasi ini, saat kau mengantarkan Jero Balian Kanta."


"Walaupun aku tau keadaan ini akan semakin rumit dan kita semua akan dalam masalah, namun kami tak bisa memisahkan kalian dan ibumu pun sadar akan hal ini."


"Pergilah ke tempat kediaman Resi Giri Waja di banjar Galuh."


"Untuk sementara waktu Ni Mas Wati biar tinggal di sana."


"Aku rasa di sana lebih aman untuk sementara waktu."


"Karena aku yakin tuan gubernur dan para Bhayangkara akan mencari Ni Mas Wati ke mari."


"Aku telah minta persetujuan Mbak Yu mu dan aku sudah berbicara dengan ibumu tentang kemungkinan ini."


Ujar lelaki paruh baya itu, sorot matanya yang berwibawa memandang Muhibbin dengan teduh. Sementara Cahaya terus menatap lekat wajah Sariwati,


"Aku tak bisa berbuat apa untuk kali ini dan tak dapat memisahkan kalian berdua."


"Setelah apa yang adikku lakukan padamu, aku tau itu."


"Dan dia harus mempertanggung jawabkan apa yang diperbuatnya padamu."

__ADS_1


"Namun perlu kau ingat, jangan pernah sakiti hati adikku seperti yang telah keluargamu lakukan pada kami." ujar Cahaya pada Sariwati.


Bagaimana pun juga dia tau perbuatan adiknya di villa Sandat itu salah walaupun dalam hati Cahaya tak menyetujui hubungan adiknya dengan Sariwati setelah  perlakuan keluarga gadis itu pada sang adik  dan ibunya.


Sariwati hanya mengangguk kecil dengan tatapan sayu pada Cahaya, gadis itu masgul dengan kegeraman Cahaya atas perlakuan Papinya pada keluarga Muhibbin.


***


Sementara di kota Negeri Pantai kediaman tuan Timoti terjadi keributan pagi itu, tuan Bendowo yang mengetahui Sariwati tak berada di kamarnya naik pitam, pagi itu dia hendak menemui putrinya namun di kamar Sariwati tak ditemukan siapa-siapa, malah yang di lihatnya lemari pakaian anaknya terbuka dan beberapa pakaian Sariwati tak ada di tempatnya.


Di kumpulkannya semua anggota keluarga termasuk Habsari, suasana tegang terasa di ruangan kerja tuan Timoti.


"Kurang ajar, bagaimana bisa Wati tak ada di kamarnya dan semua tak ada yang tau tentang kepergiannya!" teriakan tuan Bendowo menggema di ruangan itu, wajah pria tua itu terlihat  merah padam menahan kegeramannya.


"Kalian tau pernikahan Wati dan Seto akan dilaksanakan pekan ini, apa yang akan ku katakan pada keluarga Haryo tentang semua ini?"


"Memalukan!" pekik tuan Bendowo. Tulang rahangnya terlihat mengeras dan gemeretak.


Nyonya Warika yang tau suaminya naik pitam berusaha meredam keadaan walaupun suasana hatinya pun campur aduk dengan kepergian Sariwati .


"Sabar dulu, Pi."


"Mungkin Wati pulang  ke villa Sandat atau kalau tak ada disana mungkin di rumah kawan-kawannya."


"Papi tak perlu marah-marah dulu, kita pastikan dulu keadaannya." ujar nyonya Warika menenangkan suaminya.


"Benar yang di katakan Mbak Yu, Kang Mas."


"Sebaiknya kita pastikan dulu sebelum mengambil kesimpulan bahwa Wati kabur dari sini." timpal tuan Timoti pada tuan Bendowo.


"Aku akan memerintahkan  Bhayangkara untuk memastikan Wati pulang ke villa Sandat atau ke rumah kawan-kawannya seperti yang Mbak Yu Warika katakan."


"Kalau perlu akan ku minta pasukan Bhayangkara menyisir seluruh wilayah Negeri Pantai untuk menemukan Wati jika benar anak itu kabur dari sini." pungkas sang gubernur.


Bendowo mendengus kesal, tak menyangka anak gadisnya akan senekat ini kabur dari kediaman gubernuran, bagaimana pun dia sangat hafal watak keras Sariwati, namun tiba-tiba Habsari yang turut berada di ruangan itu  angkat bicara,


"Anak itu selalu membuat masalah,"


"Kebiasaanya bergaul dengan orang-orang pinggiran membuat sikapnya laksana orang-orang urakan."


"Itu akibat terlalu dimanjakan selama ini." ujar Habsari ketus


"Habsari!"


"Tak seharusnya kau berkata seperti itu tentang adikmu."


"Kau sebagai kakaknya harusnya ikut urun rembuk yang baik untuk masalah ini, bukan malah saling menyalahkan." tegur nyonya Warika  pada anak sulungnya, tuan Bendowo hanya melirik dingin ke arah Habsari.


"Memang kenyataannya seperti itu, Mi!"


"Anak itu selalu menjadi biang masalah dalam keluarga kita."


"Dan aku merasa dia bukan adikku, dia hanya anak pungut yang terlalu dimanja oleh kalian." pekik Habsari tak kalah sengit pada ibunya walau dalam hatinya bergumam ini adalah kesempatannya untuk menjatuhkan Sariwati di depan ayahnya dan menjalankan semua rencananya untuk merebut kotak Giok Hujan yang di miliki adiknya.


Tatapan Gadis itu sinis mengarah pada nyonya Warika dan tuan Timoti di depannya.


"Sudah-sudah!"


"Kalian jangan malah ribut sendiri."


"Saat ini yang perlu kita fikirkan bagaimana menemukan Wati." ujar tuan Bendowo pada istri dan anaknya.


"Tim, segera kau kerahkan anak buah mu untuk mencari Wati."


"Segera temukan anak itu."


"Dan aku harap jangan sampai keluarga Haryo mendengar hal ini." pungkas tuan Bendowo.


Tuan Timoti segera meninggalkan ketiga orang itu untuk mengumpulkan para Bhayangkara  mencari keberadaan Sariwati.


---------------------------------------------


PENGUMUMAN


Mohon maaf kepada  para pembaca atas keterlambatan up novel KAHANAN, karena kesibukan pekerjaan utama author di RL, namun saya akan usahakan up setiap hari atau paling lambat maksimal dua hari sekali sebagai bentuk tanggung jawab saya selaku penulis kepada para pembaca budiman, walaupun dari tulisan ini author tidak atau belum mendapatkan apa-apa tapi saya sangat mengapresiasi sekali atas kesetiaan para pembaca pada tulisan sederhana ini.

__ADS_1


Jaga kesehatan, jaga protokol  dan tetap sabar dalam berusaha walaupun sangat berat di masa pandemi ini, semoga kita bisa melalui ujian ini. Jangan lupa dukungannya untuk tulisan pinggiran ini dengan vote,rate dan like nya agar KAHANAN tetap eksis, sukur-sukur ada tipsnya. 🤭


Salam


__ADS_2