
Hingga fajar menjelang mata Habsari masih tak dapat dipejamkan, sementara nyonya Warika sudah sedari tengah malam meninggalkan putrinya seorang diri didalam kamar.
Dalam benak sulung bendowo itu terus berkelebat kejadian yang dialami dalam mimpinya, hujaman senjata tajam didadanya dan senyum dingin We Landep masih terus terbayang, Habsari bangkit dari pembaringannya dan mendekat ke arah jendela kamar yang masih terbuka, pandangannya menerawang jauh menembus pekatnya pagi.
"Apa yang ku perbuat selama ini salah?"
"Apa aku terlalu keras terhadap Wati dan anaknya?" gumamnya dalam hati.
"Ini semua gara-gara ambisi Papi, andaikan saat itu Papi tak membuang ku ke Negeri Angin dan memisahkan dirku dengan Angga mungkin tak akan seperti ini jadinya."
"Wati, maafkan kakak."
"Tak seharusnya kau jadi pelampisan kesalahan Papi terhadapku selama ini." seru Habsari lirih, tak terasa buliran bening mengalir dari sudut mata wanita itu.
Dia mengingat masa-masa kecilnya bersama sang adik, Sariwati adalah adik terkecilnya selain Mecha dan Arvan.
Dari seluruh anggota keluarganya, Sariwati lah yang paling menonjol walaupun bukan keluarga kandungnya.
Selain dikenal cerdas dan pintar, kehadiran Sariwati selalu bisa memberikan keceriaan dan mencairkan suasana dalam menjembatani hubungan yang terkesan formal dikeluarga besar pewaris Dinasti Garuda Emas tersebut, dengan tingkah dan sifatnya yang tanpa sekat pada siapa saja, membuat Sariwati amat disayangi keluarga besarnya .
Kini wanita ayu berbadan sintal itu terlihat melangkah mendekati lemari pakaian yang ada di ujung kanan tempat pembaringannya, diambilnya sebuah kotak kayu berukir ornamen bunga diantara tumpukan pakaian yang tertata rapi dan mulai dibukanya, nampak setangkai bunga aidelweis didalamnya dan beberapa lembar surat yang tersimpan rapi.
Dibacanya satu persatu surat ditangannya, kelopak matanya pun mulai kembali meremang, embun-embun bening menggelayut diantaranya, senyum Habsari tersungging manakala teringat setiap saat mendiang kekasihnya Angga selalu menitipkan surat pada sang adik dan Sariwati selalu merajuk meminta kembang gula sebagai upahnya.
"Angga!" gumam Habsari tanpa sadar.
Wanita yang biasanya angkuh itu kini tersedu sambil menciumi lembaran-lembaran surat ditangannya.
***
Jalanan Negeri pantai yang basah akibat hujan semalam masih menyisakan buliran-buliran air diantara dedaunan.
Sebuah kereta angin melaju sedang membelah pekatnya pagi, temaramnya embun masih menyelimuti negeri para Dewa itu.
"Dimana kau berada, Dis?" gumam sang pengendara lirih, orang itu tak lain adalah Muhibbin yang sedari hari sebelumnya mencari keberadaan Disya sang kekasih.
Nampak tersirat keletihan di wajah sayunya. Pemuda itu menyusuri setiap rumah maupun tempat yang diperkirakan tau tentang keberadaan Disya.
"Kemana kau , Dis?"
"Ini semua kesalahanku, tak seharusnya kuceritakan masalah Wati padanya."
"Andai ku tau akan seperti ini, mungkin lebih baik aku diam dan menyimpannya sendiri." kembali Muhibbin bergumam dengan penuh rasa penyesalan akan perbuatannya.
Namun tiba-tiba ...
__ADS_1
Bruaakkk!
Seorang gadis kecil tiba-tiba muncul dari sisi jalan berlari memotong jalan yang dilalui Muhibbin, lelaki itu tak bisa mengendalikan kereta anginnya, dia membanting setir kendaraan besinya hingga menabrak sebuah tembok bangunan yang ada di tepi.
Dengan meringis kesakitan, Muhibbin bangkit dari tempatnya terjatuh dan menghampiri gadis kecil yang hanya berdiri terpaku didepannya dengan wajah penuh ketakutan.
"Kau tak apa-apa, Nduk?" tanya Muhibbin pada gadis kecil tersebut, lelaki itu mendekati dan memeriksa keadaan anak kecil didepannya.
Gadis kecil itu hanya menggeleng penuh rasa bersalah, wajahnya masih menyiratkan ketakutan pada lelaki didepannya.
"Syukurlah jika kau tak apa-apa."
"Lain kali jika ingin menyebrang jalan, lihat kanan-kiri, Nak!"
"Untung paman tadi tak begitu kencang melaju." ujar Muhibbin pada sang gadis kecil.
"Maafkan saya paman!"
"Tadi saya tak melihat ada kereta angin melintas." jawab sang gadis kecil masih dengan wajah bersalah.
"Ya sudah tak apa-apa." ujar Muhibbin sambil mengibaskan tangannya membersihkan lumpur di pakaiannya.
"Kau sekarang hendak kemana? mengapa sepagi ini sudah keluar rumah?" tanya Muhibbin kembali.
Dengan ragu-ragu sang gadis kecil pun menjawab.
Lelaki itu mengerutkan dahinya dan memperhatikan gadis kecil dihadapannya.
"Mengapa kau yang ke pasar, kemana orang tuamu, Nduk?" tanya Muhubbin kembali.
Keraguan tersirat diwajah gadis kecil itu, dengan wajah tertunduk dia pun menjawab, "We dan Meme sedang ngayah di banjar, saya yang menggantikan berbelanja untuk keperluan Bunda di rumah." ujarnya pada lelaki dihadapannya.
"Oh begitu, ya!"
"Apa kau tak memiliki saudara, Nduk?" tanya Muhibbin kembali.
Gadis kecil itu kembali menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Muhibbin.
"Heemmm ..."
"Ya sudah, ayo paman antarkan kamu ke pasar."
"Kebetulan kita satu arah." ujar Muhibbin pada sang gadis kecil, lelaki itu terlihat menuju ke arah dimana kereta anginnya tergeletak.
"Terimakasih tidak usah, paman."
__ADS_1
"Nanti saya merepotkan paman."
"Biar saya berjalan kaki saja." jawab gadis kecil itu.
Muhibbin memberi isyarat dengan gelengan kepala,
"Tidak apa-apa, ayo paman antar dirimu."
"Paman tidak merasa direpotkan." pungkas Muhibbin.
Lelaki itu menaiki kereta anginnya,
dengan ragu-ragu sang gadis kecil pun duduk di bagian belakang kendaraan besi itu, keduanya pun berlalu dari tempat itu.
Tak berapa lama tibalah keduanya di pasar Tenten pusat kota Negeri Pantai.
Suasana pagi yang dingin tak menghalangi aktifitas para penduduk negeri itu, sepanjang jalan terlihat lapak-lapak para pedagang menjual aneka kebutuhan rumah tangga, liukan cahaya obor diterpa angin menerangi setiap lapak para pedagang.
"Kita sudah sampai, Nduk." ujar Muhibbin pada gadis kecil yang duduk dibagian belakang kereta anginnya.
"Iya paman, terimakasih paman sudah mengantarkan saya." ucap gadis kecil itu pada Muhibbin.
"Kau tak perlu sungkan, Nduk."
"Oh ya, siapa namamu, boleh paman tau?" tanya Muhibbin
Dengan wajah malu-malu gadis itu menjawab,
"Nama saya Tiara, paman."
"Mutiara Rahmani, tepatnya." jawabnya singkat.
"Nama yang indah, secantik wajahmu dan seindah Surat Ar Rahman dalam Al Qur'an." ujar Muhibbin tersenyum, gadis kecil itupun ikut tersenyum mendengar perkataan lelaki dihadapannya.
"Nama paman Muhibbin, Rahmat Muhibbin ..."
"Semoga Allah selalu melindungi mu, Cah ayu."
"Paman pamit dulu, ada urusan yang harus paman selesaikan segera." pungkas Muhibbin membalikkan badan dan mengayuh kereta anginnya.
Gadis kecil itu mengangguk ringan dan tatapannya terus memandang punggung Muhubbin yang mulai hilang di kegelapan pagi.
***
Note Author:
__ADS_1
*Ngayah: Melakukan kegiatan gotong royong baik acara-acara adat maupun kegiatan biasa lainnya yang biasa dilakukan oleh masyarakat.
*Pasar Tenten: Pasar kaget, biasanya setelah waktu tertentu pasar tersebut berganti menjadi peruntukan awalnya.