
Sementara itu di banjar Manguntur, tepatnya di balai pengobatan terlihat hilir mudik para cantrik Balian Kanta masih disibukkan dengan aneka tanaman obat yang akan digunakan untuk merawat anggota keluarga mendiang Jero Mekel dan Muhibbin anak angkatnya.
Balian Kanta nampak memberikan arahan pada para cantrik yang membantunya.
"Bagaimana tentang persediaan tanaman obat yang telah kalian kumpulkan, apakah masih mencukupi untuk merawat kedua anak itu?" tanya lelaki tua itu pada salah satu cantrik yang membantunya.
Dengan hormat, Cantrik itu menjawab pertanyaan sang Balian.
"Untuk saat ini semua masih tersedia, Bapa Balian."
"Namun untuk tanaman Binahong dan minyak ikan gabus yang terlihat mulai sedikit di persediaan." jawab Pemuda itu pada Balian Kanta.
Sang Balian hanya manggut-manggut ringan,
"Jika begitu, besok pagi kau segera pergi membelinya, aku rasa untuk tanaman itu masih tersedia di Griya Manuaba dan sampaikan kepada Bapa Resi Giri Waja bahwa kita membutuhkannya untuk pengobatan Sekar dan Raya." ujar Balian Kanta sambil merogoh sesuatu di balik lipatan kain sarongnya, di ulurkannya beberapa lembar uang Ru pada sang murid di hadapannya.
"Oh ya, jangan lupa."
"Sekalian besok kamu temui, We Sapat untuk membeli ikan gabus hasil bubunya." pungkas Balian tua itu sambil berlalu dari hadapan para cantriknya yang masih berkutat dengan beberapa tanaman obat yang diraciknya.
Lelaki tua itu melangkah menuju serambi balai pengobatan banjar Manguntur, Sore itu nampak mendung menutupi langit bumi Manguntur dan tak selang berapa lama rintik-rintik hujan pun mulai turun.
Dari kejauhan sesosok pria dengan terburu-buru mengayuh sebuah kereta angin yang dikendarainya mendekat ke arah balai Pengobatan.
Mata Balian Kanta berbinar melihat lelaki yang tak lain Jero Pecalang yang baru datang di hadapannya. Pimpinan keamanan desa Batubulan itu terlihat memarkir kereta angin yang dikendarainya disebelah tembok bata bagian samping balai pengobatan.
"Kau kehujanan, Jero?" sapa Balian Kanta pada Jero Pecalang yang menyambutnya di serambi balai pengobatan.
"Hujan deras sekali disepanjang perjalanan, Jero."
"Untungnya aku segera sampai disini," ujar lelaki berperawakan tinggi besar itu sambil mengibaskan sisa-sisa air hujan di tubuhnya, Balian Kanta menuju ke dalam balai pengobatan dan tak selang berapa lama lelaki tua itu memberikan sebuah kain jarik kering dan diberikannya pada Jero Pecalang.
"Ini, keringkan dulu tubuhmu, Jero." ujar Balian Kanta pada Jero Pecalang sambil menyerahkan kain kering itu.
"Terimakasih, Jero." jawab lelaki itu sambil mengelap tubuhnya yang basah kuyup.
Setelah beberapa saat mengeringkan tubuhnya, Jero Pecalang dan Balian Kanta melangkah kesebuah balai bambu yang ada di serambi balai pengobatan itu.
"Bagaimana hasil pertemuan mu dengan tuan Sirkun, Jero?" tanya Balian Kanta sambil menatap lelaki didepannya yang masih sibuk mengibas-ngibaskan tangannya membersihkan sisa air hujan ditubuhnya.
"Sambutan Beliau sangat baik, Jero Balian."
"Beliau berjanji akan membantu warga Manguntur utamanya keluarga mendiang Jero Mekel untuk menyampaikan pada tuan Gubernur dan mengusut tuntas semua kejadian ini." jawab Jero Pecalang kembali.
Balian kanta terlihat menghela nafas, pandangannya menerawang menembus guyuran hujan yang mulai semakin deras.
"Aku berharap semua ini segera berakhir."
"Bagaimana pun kejadian ini sangat menyita perhatian kita semua."
"Aku tak tau akan seperti apa kedepannya jika semua ini tak segera diakhiri." ujarnya dengan suara lirih.
"Bagaimana dengan perkembangan Sekar dan Raya, Jero Balian?" tanya Jero Pecalang,
lelaki itu masih terus mengibaskan sisa-sisa air hujan ditubuhnya.
Balian kanta terlihat membuka sebuah kotak kecil di hadapannya,
"Perkembangan mereka berdua semakin membaik, cuma ada beberapa bahan obat sudah mulai menipis di persediaan kita."
"Aku sudah meminta para cantrik membelinya besok di Griya Manuaba dan pada tetanggaku di banjar Galuh." ujarnya Balian Kanta sambil memungut lembaran-lembaran daun sirih di dalam kotak kecil di hadapannya dan tangan rentanya dengan cekatan mengoleskan kapur dan gambir di bagian daun sirih kemudian mengunyahnya.
"Apa anak buah ku ada yang datang kemari, Jero?"tanya Jero Pecalang kembali.
Balian Kanta hanya menggelengkan kepala dan lelaki tua itu masih mengunyah daun sirih di mulutnya.
Guyuran hujan kian deras membasahi banjar Manguntur. Lamat-lamat diantara hujan yang deras terlihat beberapa kereta angin mendekat ke arah balai pengobatan. Tak selang berapa lama orang-orang itu tiba dan menyandarkan kereta angin masing-masing di bagian samping bangunan tersebut.
Dengan basah kuyup beberapa orang itu mendekat ke arah Jero Pecalang dan Balian Kanta, orang-orang itu tak lain para anggota keamanan desa dan beberapa warga Manguntur.
Jero Pecalang bangkit daan menyerahkan kain jarik yang digunakannya tadi untuk mengeringkan tubuhnya pada para anak buahnya.
"Bagaimana pencarian kalian, mana Nak Mas Muhibbin?"
"Mengapa dia tak terlihat bersama kalian?" tanya Jero Pecalang pada para anak buahnya.
Salah seorang dari anggota keamanan desa Batubulan itu berkata,
__ADS_1
"Maaf, Jero."
"Sedari pagi kita mencarinya di Surau An Nur hingga kami menuju ke Griya Manuaba karena ada beberapa warga yang melihatnya sebelum kejadian tragedi itu, Pemuda itu berada di Griya Manuaba bersama seorang gadis."
"Tapi Muhibbin tak berada di sana, Bapa Resi pun tak tau keberadaan pemuda itu." jawab salah seorang anggota keamanan desa pada Jero Pecalang.
Gurat cemas nampak di wajah Pemimpin keamanan desa Batubulan itu, demikian pula Balian Kanta yang masih bersila di balai bambu.
"Kemana anak itu?" gumam Jero Pecalang lirih, lelaki itu melangkah ke sebuah tiang di serambi balai pengobatan itu. Pandangannya menerawang jauh dengan beberapa pertanyaan yang berkecamuk di benaknya.
"Tapi kami menemukan ini di Surau An Nur, Jero." ujar salah seorang anggota keamanan itu kembali, lelaki itu mengulurkan sebuah slayer leher berwarna merah bergambar sebuah Tameng dengan rajutan benang emas.
Jero Pecalang segera mengambil benda yang diulurkan anak buahnya itu dan mengamatinya.
"Bukankah ini slayer leher pengenal para Bhayangkara?" serunya terkejut.
"Dimana kalian menemukan benda ini?" imbuh Jero Pecalang kembali.
"Kami menemukannya di halaman depan Surau An Nur dan kami pun melihat bekas perkelahian di sana." jawab salah seorang anggota keamanan desa.
"Perkelahian, kau bilang?" wajah Jero Pecalang berubah tegang, lelaki itu terlihat meremas slayer leher yang ada di genggamannya.
"Bagaimana menurut pendapat anda, Jero?" kini Pimpinan keamanan desa Batubulan itu bertanya pada Balian Kanta yang bersila di depannya.
"Itu jelas atribut pasukan Bhayangkara."
"Apa hubungannya dengan menghilangnya Muhibbin, apakah Pemuda itu ditangkap oleh para Bhayangkara?"
"Tapi jika benar, mengapa pasukan Bhayangkara menangkapnya?" jawab Balian Kanta pada Jero Pecalang, Tabib tua itu kini berdiri di samping Jero Pecalang.
"Ini terlihat janggal, Jero Balian."
"Kejadian tragis yang menimpa Jero Mekel dan keluarga Pemuda itu pun dilakukan oleh Bhayangkara."
"Kini Pemuda itu hilang dan ada bekas perkelahian di Surau yang bisa dipastikan itu adalah Muhibbin dan pasukan Bhayangkara jika melihat slayer leher ini." ujar Jero Pecalang sambil menyerahkan benda itu pada Balian Kanta.
"Apa tak sebaiknya kita tanyakan langsung di pusat komando Bhayangkara, Jero?"
"Jika ini dibiarkan berlarut-larut, masalah ini akan semakin rumit." sergah salah seorang warga yang ada di tempat itu pada Balian Kanta maupun Jero Pecalang.
Keduanya saling berpandangan mendengar perkataan salah satu warga yang turut dalam pencarian Muhibbin bersama para keamanan desa Batubulan.
"Baik, kita berdua yang akan berangkat ke kota, Jero." jawab Jero Pecalang singkat.
"Tidak, Jero."
"Kita semua turut ke kota untuk mendampingi andika berdua." ujar Warga itu kembali dan beberapa warga dan para anggota keamanan desa mengangguk setuju.
"Bagaimana ini, Jero Balian?" tanya Pimpinan keamanan desa Batubulan itu.
Sejenak Balian Kanta terlihat memandang semua orang yang ada di serambi balai pengobatan tersebut.
"Aku rasa tak ada salahnya, Jero."
"Bagaimanapun kita harus mendapat kepastian tentang penyelesaian masalah ini, apalagi saat ini Muhibbin hilang tanpa kabar."
"Kemungkinan besar Pemuda itu ditangkap Bhayangkara walau entah apa kesalahannya." pungkas Tabib tua itu.
Semua yang ada di tempat itu sepakat berangkat ke kota Negeri Pantai, hujan yang mengguyur wilayah itu telah reda menyisakan rintik-rintik kecil. Hari pun kian temaram seiring datangnya malam yang menyelimuti Manguntur.
***
Temaramnya malam terus merangkak menyisakan tetesan sisa air hujan di dedaunan, udara pun terasa dingin menusuk.
Di sebuah bangunan memanjang, tepatnya balai pengobatan pusat komando Bhayangkara, nampak terlihat penjagaan ketat disalah satu ruangan.
Seseorang dengan langkah lebar tergesa menyusuri lorong ruangan, setiap penjaga yang berpapasan dengan orang tersebut memberikan hormat.
"Bagaimana keadaan Prawira Utama, apakah dia sudah terbangun?" tanya lelaki itu yang tak lain adalah tuan Timoti sang gubernur Negeri Pantai.
Salah satu penjaga menjawab sang Gubernur,
"Sudah, Tuan."
"Beliau saat ini di temani oleh Tabib gubernuran." kata Penjaga itu pada tuan Timoti.
"Syukurlah kalau begitu."
__ADS_1
"Lalu dimana Pemuda yang ada di tahanan bawah tanah itu sekarang?"
"Menurut para penjaga di depan, dia dipindahkan ke ruang perawatan atas permintaan kakakku." tanya tuan Timoti kembali.
"Betul, Tuan."
"Pemuda itu saat ini berada di ruang rawat bersebelahan dengan ruangan dimana tuan Prawira Utama juga dirawat." jawab Penjaga itu penuh hormat.
"Antarkan aku menemuinya." seru tuan Timoti memberi perintah. Setelah pertemuannya sore tadi di kediaman tuan Sirkun, rupanya tuan Timoti langsung menuju pusat komando pasukan Bhayangkara.
Keduanya pun melangkah menyusuri lorong menuju ke ruangan dimana Muhibbin berada. Setibanya di depan kamar, tuan Timoti meminta Penjaga itu meninggalkannya dan Pemimpin Negeri Pantai itu melangkah memasuki ruangan.
Terlihat Muhibbin terbaring dengan balutan perban di sekitar tulang iganya, Pemuda itu terlihat tengah terlelap.
Tuan Timoti mendekat ke tepian ranjang yang terbuat dari bambu dimana Muhibbin berada, ditatapnya dalam-dalam wajah pemuda yang tengah terlelap itu.
Ada rasa iba menggelayuti hati sang Gubernur, pemuda yang sebaya dengan Putrinya itu atau lebih tua beberapa tahun tepatnya, mengalami ujian yang begitu berat dengan kehilangan sanak keluarganya akibat perbuatan kejam Habsari dengan orang-orang suruhannya.
Di satu sisi dirinya dituntut untuk menegakkan keadilan bagi para pelaku, disisi lain otak kekejaman itu dilakukan oleh keponakannya yaitu Habsari.
"Sungguh malang nasib mu, anak muda." gumam tuan Timoti dalam hati.
Namun tiba-tiba, Muhibbin membuka matanya. Pemuda itu terjaga dari tidurnya karena sentuhan tangan sang Gubernur di lengannya.
"Tuan!" ujar Muhibbin terkejut melihat ayah Sariwati itu berada di sampingnya. Pemuda itu berusaha bangkit namun dengan sebuah isyarat tangan, tuan Timoti menahannya.
"Berbaringlah!"
"Kau tak perlu banyak bergerak." pinta tuan Timoti pada Muhibbin.
"Ada yang ingin ku katakan padamu, anak muda." ujar tuan Timoti kembali pada Muhibbin yang masih terbaring.
Muhibbin hanya terdiam tanpa sepatah kata pun terlontar dari bibirnya. Melihat sikap dingin Pemuda itu, tuan Timoti kembali berkata,
"Aku ingin memberitahu mu, bahwa masa tahanan mu berakhir dan kau dibebaskan dari segala tuntutan hukum."
"Walaupun sebenarnya perbuatan mu melukai Prawira Utama itu adalah kejahatan yang serius karena berani melawan dan melukai aparat negera." ujar sang Pemimpin Negeri Pantai.
"Semua ini aku lakukan karena melihat kebaikan mendiang Jero Mekel Nengah Wirata ayah angkat mu dan bentuk turut prihatin ku dengan kejadian yang telah kau alami." ujar tuan Timoti kembali.
Muhibbin masih tak bergeming dengan apa yang dikatakan oleh tuan Timoti. Pemuda tersebut masih membisu dengan tatapan kosong ke arah jendela balai pengobatan itu.
Tuan Timoti masgul dengan sikap yang ditunjukkan Pemuda yang terbaring di depannya. Lelaki paruh baya itu pun kembali berkata,
"Ada hal lain yang perlu kau ketahui."
"Mulai detik ini, kau jauhi anakku dan aku tak ingin melihat kalian berhubungan lagi."
"Sepekan lagi, Wati akan menikah dengan lelaki keturunan Ningrat."
"Kau tak perlu mengharap akan bersatu dengan Wati, karena itu tak mungkin." pungkas tuan Timoti pada Muhibbin.
Pemuda itu masih tak bergeming dan tak menghiraukan perkataan lelaki di hadapannya itu, tatapannya kosong menembus pekatnya malam melalui daun jendela yang ada di samping bambu dimana dia terbaring.
Tiba-tiba seorang penjaga memasuki ruangan itu dengan wajah tegang.
"Maaf, Tuan."
"Saya ingin melaporkan hal penting." ucap Penjaga itu pada tuan Timoti.
Penguasa Negeri Pantai itu mengernyitkan dahi dan bertanya,
"Ada apa sehingga membuatmu tergopoh-gopoh menemui ku?" seru tuan Timoti pada Penjaga dihadapannya.
"Diluar halaman pusat komando, terlihat kerumunan puluhan warga menuntut ingin bertemu dengan tuan Prawira Utama atau dengan anda, Tuan." ujar Penjaga itu pada tuan Timoti.
"Puluhan warga, apa maksudmu?"
"Dari mana mereka?" seru sang Gubernur kembali.
"Betul , Tuan."
"Salah satu dari mereka mengatakan bahwa mereka adalah warga Manguntur. jawab Penjaga itu pada Penguasa Negeri Pantai.
" Manguntur kau bilang?" sontak wajah tuan Timoti berubah. Pemimpin Negeri pantai itu mengajak Penjaga itu meninggalkan ruang perawatan.
"Ayo kita segera menemui mereka." ujar tuan Timoti keluar di ikuti Penjaga dibelakangnya, meninggalkan ruangan dimana Muhibbin dirawat.
__ADS_1
*****