
"Bunda kenapa menangis lagi?"
"Apakah makanannya tidak enak, Bunda?" tanya Tiara pada sang Ibu.
Wanita yang terbaring itu hanya tersenyum tipis walau dari sudut matanya meleleh butiran bening yang membasahi pipinya.
"Bunda tak apa-apa kok, Cah Ayu."
"Sudah cukup dulu makanannya, perut Bunda sudah kenyang." ujar wanita itu pada putrinya.
Tiara meletakkan mangkuk di atas meja, sesaat kemudian di ambilnya gelas berisi air dan diminumkan pada sang Ibu.
Suasana ruangan itu hening kembali, gadis kecil itu kini merebahkan kepalanya diatas dada sang Ibu.
"Bunda ... "
"Boleh Tiara bertanya pada Bunda?" ujar Tiara pada sang Ibu.
Wanita lumpuh itu mengerjapkan matanya dan berkata,
"Gadis cantik Bunda mau tanya apa, Nak?" jawabnya lirih.
Sebelum berkata, Gadis kecil itu mengangkat kepalanya dari dada sang Ibu dan menatap wajah wanita yang terbaring didepannya,
"Apa Tiara memiliki ayah, Bunda?"
"Tiara, ingin seperti teman-teman Tiara."
"Kawan-kawan Tiara di Asram sering dijemput oleh ayahnya saat pulang."
"Tiara hanya di jemput oleh We Landep atau Me Iluh saja selama ini."
"Kenapa Tiara tak bisa seperti mereka?"
"Apa benar yang dikatakan Bu De, kalau Tiara anak seorang blandong, Bunda?" ujar Gadis kecil itu pada sang Ibu.
"Kenapa Bu De selalu marah-marah pada Tiara?"
"Apa salah Tiara, Bunda?" imbuh Gadis kecil tersebut.
Wanita yang terbaring itu kini terisak, bibirnya bergetar dengan suara terbata-bata,
"Tiara jangan hiraukan omongan Bu De, ya Nak!"
"Mungkin Bu De sedang lelah dan banyak pikiran saat bicara seperti itu pada mu." ujar Wanita itu pada Putrinya, kini air mata semakin deras membasahi pipinya.
Gadis kecil itu ingin menyangkal jawaban sang Ibu, namun melihat ibunya menangis, Tiara mengurungkan niatnya.
Dipeluknya tubuh sang Ibu sementara pandangan Wanita yang terbaring itu menerawang menatap langit-langit kamar, kesedihan yang selama ini tak pernah ditunjukkan pada putrinya kini tak kuasa ditahannya.
Pikirannya melayang memutar jarum waktu kearah tujuh tahun yang lalu.
***
"Aahhhh ... sakit!" terdengar rintihan wanita dalam dekapan seorang pria paruh baya.
__ADS_1
Wanita itu meronta diatas sebuah pembaringan, beberapa orang mengerumuninya.
"Sabar, Wati!"
"Paraji akan segera datang!" ujar tuan Timoti terus mendekap Sariwati putrinya. Pemimpin Negeri Pantai itu terlihat mengusap peluh di kening putrinya dengan saputangan.
"Tim, biar Mbak Yu yang pegang Wati, kau keluar saja bersama Kang Mas mu."
"Habsari! bantu Mami pegangi adikmu, Nak!" pinta nyonya Warika pada Habsari yang memasang muka masam sepanjang waktu.
Terlihat ekspresi wajah Habsari dingin sebelum wanita itu mendekat ke arah Ibu dan Adiknya.
"Ayo, tunggu apa lagi!"
"Kalian keluar semua!"
"Biarkan aku dan Habsari yang akan membantu persalinan Wati." seru nyonya Warika pada semua yang ada diruangan itu.
"Dan kau Nak, Siapa namamu?"
"Bisa ibu minta tolong?" tanya nyonya Warika pada gadis yang masih diam kebingungan, kemudian gadis itu pun mengangguk pelan.
"Saya Disya, Nyonya." sahut Disya terbata-bata.
"Bantu ibu untuk siapkan air hangat dalam baskom dan cepat bawa ke mari." imbuh nyonya Warika pada gadis tersebut yang masih tertegun mematung di sebelah pembaringan.
"Baik, saya akan minta pelayan saya menyediakannya." ujar Disya dengan wajah panik, gadis itu bergegas ke luar ruangan di ikuti oleh rombongan tuan Timoti, tuan Bendowo dan tuan Sirkun.
Tak selang berapa lama Disya kembali ke dalam kamar bersama seorang wanita tua pelayannya dengan baskom berisi air hangat ditangannya.
Waktu serasa berjalan melambat, wajah-wajah tegang penuh kecemasan terpancar pada orang-orang yang ada di dalam ruangan tengah Selasar Rumah Budaya, sementara suasana hiruk pikuk pagelaran atraksi seni budaya memperingati hari jadi Negeri Pantai dan pesta panen raya masih terdengar di halaman bangunan megah itu.
Suasana tegang amat terasa.
"Seto, bagaimana semua ini terjadi?"
"Mengapa pemuda itu bisa berada bersama Wati?" seru tuan Bendowo pada Seto sang menantu.
Terlihat Seto dengan beberapa pria berbadan kekar masih meringkus Muhibbin yang babak belur akibat pukulan dan tendangan yang dilayangkannya bersama para pengawalnya.
Sebelum menjawab pertanyaan tuan Bendowo, Seto terlihat mendengus kesal,
"Orang ini berani berbuat tak senonoh pada Wati, Pi."
"Kulihat dia memeluk Wati di taman belakang Selasar ini." jawab Seto pada tuan Bendowo, sorot mata lelaki itu penuh rasa geram pada Muhibbin yang terkulai setengah sadar.
Rahang tuan Bendowo gemeretak menahan amarahnya,
"Anak ini memang biang keonaran."
"Tak tau aturan." ujar pewaris Dinasti Harsuto tersebut, Lelaki paruh baya itu masih mengingat betul wajah Muhibbin dengan jelas, apalagi sikap penentangan Muhibbin padanya saat keputusan melamar putrinya oleh pemuda itu dia tolak.
"Kalian bawa dia ke markas Bhayangkara dan jatuhi hukuman setimpal atas kelancangannya pada keturunan Harsuto." imbuh tuan Bendowo dengan wajah geram pada beberapa pengawalnya.
Tuan Sirkun hanya bisa terdiam melihat reaksi keluarga besar sang Gubernur pada pemuda yang dikenalnya tersebut.
__ADS_1
"Bawa dia dan introgasi,"
"Jika terbukti pemuda itu ingin mencelakai Wati dan sampai terjadi apa-apa dengan putriku, lelaki ini harus bertanggung jawab." kini tuan Timoti ikut menimpali.
Beberapa pria berbadan tegap di bantu oleh pasukan Bhayangkara membawa Muhibbin keluar dari ruangan itu dan Seto pun turut diantaranya.
Suasana kembali hening, wajah-wajah para pria paruh baya itu masih penuh kecemasan.
"Tuan!"
"Saya merasa ada kesalah pahaman akan semua ini."
"Pemuda itu sepertinya berada diwaktu dan tempat yang salah."
"Apalagi memang sudah saatnya putri tuan akan melahirkan jika ditilik dari usia kandungannya."
"Saya harap tuan berlaku bijak dalam memutuskan kejadian ini." bisik tuan Sirkun pada sang Gubernur Negeri Pantai.
Nampak ketidak sukaan terpancar dari wajah tuan Timoti dengan ucapan koleganya itu.
"Tuan tak perlu turut campur urusan keluarga saya."
"Saya masih bisa bedakan mana yang benar dan mana yang salah." jawab tuan Timoti dingin pada tuan Sirkun.
Suasana kembali hening, sudah sekian lama pintu kamar masih tertutup dan erangan-erangan kesakitan sesekali lamat terdengar.
***
"Bunda ... bunda!"
"Bunda, kenapa Bunda terdiam?"
"Apa ada yang salah dengan perkataan Tiara, Bunda?" kini bocah tujuh tahun itu melepaskan pelukannya pada sang Ibu.
"Tidak apa-apa, Nak."
"Maafkan keterbatasan Bunda selama ini." ujar Wanita itu pada sang putri.
"Suatu saat, Tiara akan mengerti sendiri dan tau jawaban dari semua pertanyaan mu." imbuhnya sambil menghela nafas, dari sudut matanya masih terlihat linangan air mata.
Tiara kembali menyeka butiran bening di pipi sang Ibu, bocah itu turut larut dalam kesedihan.
Sesaat kemudian, Gadis kecil itu kembali berkata,
"Bunda, kata Me Iluh ... Eyang itu orangnya baik dan sangat perhatian pada Bunda."
"Me Iluh juga bilang, Eyang sangat sayang dengan Tiara." ujar Tiara sedikit ragu-ragu.
"Setiap hari jumat, Tiara selalu diajak Me Iluh dan We landep mengunjungi makam Eyang." imbuh Tiara polos, gadis kecil itu terlihat memperbaiki posisi kepala sang Ibu.
Wanita yang terbaring itu hanya mengulas senyum pada putri semata wayangnya.
Bayangan peristiwa pertikaian antara tuan Timoti dan Habsari beserta keluarga besarnya menghampirinya kembali.
*****
__ADS_1