
Benar seperti perkiraan Gus Aji Putra, terlihat empat orang pemanah dari kelompok Garuda Merah menaiki pepohonan, sementara yang lain mempersiapkan jebakan-jebakan dari batang-batang pohon yang di buat runcing laksana mata tombak,
mereka melakukannya dengan cepat dan mengikatkannya diantara batang kayu besar dengan pemberat sebuah batu yang diikat dengan tali panjang melintang di antara jalan setapak itu.
Setelah menyelesaikan beberapa jebakan, sisa-sisa kelompok Garuda Merah itu pun bersembunyi di semak-semak dengan kewaspadaan tinggi menunggu datangnya para Bhayangkara yang mengejarnya.
Sementara Habsari dan beberapa pengawalnya telah jauh meninggalkan tempat itu.
Perbukitan itu semakin sunyi, hanya terdengar binatang-binatang malam bersahutan di balut pekatnya kabut membuat udara semakin dingin.
Dari cabang-cabang pohon tinggi terlihat para pemanah dari kelompok Garuda Merah terus mengamati suasana.
Tanpa diketahui oleh pengintai tersebut, dua sosok bayangan mengendap-ngendap turun dari atas bukit, keduanya mengamati dari kejauhan.
"Arsana, apa kau melihat orang di dahan itu." ujar salah seorang bayangan tersebut yang tak lain Gua Aji Putra sambil menunjuk sebuah pohon besar yang tak jauh di bawahnya.
Arsana untuk beberapa saat terdiam memandang kearah yang ditunjukkan oleh Gus Aji Putra, dengan sedikit memicingkan matanya, Cantrik Resi Giri Waja itu berkata,
"Saya melihatnya, Gus Aji." jawab Arsana setengah berbisik pada lelaki tua disampingnya.
"Bagus"
"Dan di dahan pohon sebelah sana juga ada dua orang yang sedang bersembunyi." kembali Gus Aji Putra menunjuk dahan pohon yang tak jauh dari jalan setapak.
Kembali Arsana menatap ke arah yang ditunjukkan lelaki tua disampingnya,
"Benar, Gus Aji."
"Ada empat pengintai di bawah kita." jawab pemuda itu kembali, dalam hati Arsana kagum dengan kejelian penglihatan Gus Aji Putra.
"Apa kau biasa menggunakan panah?" tanya lelaki tua itu pada Arsana.
Dengan mengangguk ringan, Arsana menjawab,
"Bisa, Gus Aji."
"Saya biasanya di Griya Manuaba menggunakannya saat berburu celeng." ujar pemuda itu.
"Baiklah."
"Kebetulan tadi saat sebelum kita bergerak mengejar gerombolan yang membawa kakak ipar mu, aku sempat memungut beberapa anak panah dari bekas pertempuran di rumah tua itu."
"Aku merasa pasti akan berguna." ujar Gus Aji Putra menunjukkan beberapa anak panah yang di ikat di punggungnya.
"Untuk busurnya, kau bisa gunakan tongkat kayu yang kau bawa itu." ujar lelaki tua itu kembali sambil mengambil seutas tali yang terbuat dari kulit binatang di buntalan kain yang dibawanya.
"Ini ... ikatkan pada tongkatmu sebagai busurnya." ujar Gus Aji Putra.
Arsana segera mengikatkan tali yang diulurkan padanya, demikian pula Gus Aji Putra.
Pria tua itu terlihat kembali mengeluarkan sesuatu dari buntalan yang dibawanya.
"Kau oleskan semua anak panah yang kau pegang pada cairan ini,"
"Hati-hati! jangan sampai terkena kulitmu karena cairan itu adalah Cetik dari campuran bisa ular dan darah katak."
"Reaksinya sangat ganas jika terkena kulit."
"Kulit bisa melepuh."
"Tidak sampai beberapa detik racun itu akan bekerja dan berakibat fatal, bahkan seekor sapi pun akan roboh jika terkena cairan itu walaupun sedikit." ujar Gus Aji Putra mengulurkan bumbung kecil dari bambu sembari menjelaskan pada Arsana.
"Baik, Gus Aji."
Untuk beberapa saat kedua orang itu mempersiapkan senjata sederhana ditangannya sambil terus mengawasi situasi sasarannya. Arsana terlihat mencelupkan ujung anak panah pada bumbung bambu yang diberikan oleh Gus Aji Putra.
Suasana kembali hening, hembusan angin malam cukup memberikan rasa dingin yang menusuk tulang di perbukitan itu.
Tiba-tiba Gus Aji Putra memberi aba-aba pada Arsana,
"Sudah saatnya, Arsana."
"Pasukan Bhayangkara kurang dari setengah Li mendekat ke arah kita."
"Kita harus segera melumpuhkan para pemanah itu, agar rombongan kita tak terlalu mengalami kesulitan nantinya."
Pemuda itu manggut-manggut dengan apa yang disampaikan Gus Aji Putra padanya, dia berusaha menajamkan pendengarannya namun tak terdengar apapun kecuali hembusan angin.
"Kau bereskan dua orang pengintai di dahan pohon itu, sementara aku akan membereskan yang lainnya." ujar Gus Aji Putra memberi arahan.
"Tunggu aba-aba dariku sebelum kau menyerangnya." pungkasnya kembali sambil berlalu dari hadapan Arsana.
Pemuda itu hanya mengangguk sambil menatap Gus Aji putra yang mengendap-ngendap menuruni bukit menuju ke dahan pohon yang berada jauh didekat jalan setapak, sementara dirinya mulai bergerak perlahan mendekati pohon besar yang tak begitu jauh dibawahnya, dimana dua orang pengintai berada disana.
Keringat dingin mengucur dari wajah Arsana, pemuda itu terlihat gamang.
Tiba-tiba terdengar lengkingan suara burung hantu memecah heningnya malam.
"Apakah ini saatnya?" gumam Arsana, pemuda itu terlihat gugup namun dia menguatkan hatinya dan mendekati sasarannya, dari tangannya melesatkan anak panah menembus rimbunnya dedaunan.
'Crasss!'
'Crasss!'
Dua anak panah melesat ke arah dahan pohon,
__ADS_1
"Aahhhh!" pekik sebuah suara dibarengi dentuman sesuatu terjatuh dari atas pohon.
Arsana segera berlari dari tempatnya, melihat sasarannya terjatuh dan berusaha bangkit, dengan cepat pemuda itu menyerang dua orang didekatnya dengan menggunakan belati yang dipegangnya.
Kedua orang itu dengan tubuh limbung berusaha memberikan perlawanan, namun efek racun dari anak panah yang menancap di tubuh keduanya membuat gerakannya melambat dan hal itu mempermudah Arsana menyelesaikan tugasnya walaupun setelah itu dirinya jatuh terduduk dengan tubuh gemetar.
Pada akhirnya dua orang tersebut terlihat mengerang sejenak dan diam tak bergerak meregang nyawa setelah belati Arsana menusuk tubuh mereka.
Sementara didekat jalan setapak Gus Aji Putra pun melesatkan dua anak panah dalam sekali bidik, setelah itu lelaki tua tersebut terlihat melompat dengan tumpuan batang pohon dihadapannya sambil menyabetkan kerisnya kearah tenggorokan orang yang terkena anak panah beracun miliknya sebelum dua orang pengintai tersebut jatuh ke tanah.
Gerakan lelaki tua itu sangat cepat, sehingga kedua korbannya tak sempat memberikan perlawanan.
Melihat sasarannya sudah tak bernyawa, lelaki tua itu menyeret tubuh korbannya ke balik belukar sebelum meninggalkan keduanya menuju dimana Arsana berada.
"Bagaimana, apa kau sudah menyelesaikannya?" ujar Gus Aji Putra berbisik sambil mendekat ke arah Arsana.
Pemuda itu terhenyak dengan kedatangan Gus Aji Putra yang tak dirasakan kehadirannya,
"Sudah, Gus Aji." jawab Arsana sedikit bergetar, pemuda itu terlihat gugup dengan muka sedikit pucat.
"Arsana, kau kenapa?" tanya lelaki tua itu kembali.
Dengan menghela nafas dan suara sedikit parau pemuda itu menjawab,
"Saya tidak apa-apa, Gus Aji."
Tatapan Gus Aji Putra menelisik wajah pemuda di depannya.
"Apakah ini pertama kalinya kau membunuh orang?" tanya lelaki tua itu, namun Arsana masih diam tertegun dengan pandangan kosong, wajahnya tertunduk penuh penyesalan.
Melihat apa yang terjadi pada pemuda didekatnya, Gus Aji Putra berusaha menghibur,
"Sudahlah, wajar jika dirimu merasa bersalah."
"Karena ini pertama kalinya kau membunuh."
"Tapi semua itu demi kebaikan dan keselamatanmu, didalam pertempuran seperti ini, hanya ada dua pilihan, kau yang hidup dan mereka yang mati atau sebaliknya." ujar Gus Aji Putra sambil menepuk pundak Arsana.
Wajah pemuda itu tengadah dan sesaat menatap lelaki tua dihadapannya, dia pun kemudian mengangguk dan tangannya memetik dedaunan dan mengusap noda darah di lengannya.
***
"Lapor Ni Mas, jalan setapak didepan kita buntu." ujar seorang pria pada Habsari.
"Apa kau yakin tak ada jalan lain?" tanya wanita itu pada anak buahnya, tatapannya dingin pada orang yang baru saja membawa kabar tersebut.
"Benar Ni Mas, didepan kita hanya ada jurang yang cukup dalam."
"Memang di sana terdapat jembatan bambu, namun saya lihat sudah rapuh dan roboh dimakan usia." jawab lelaki itu kembali.
Dengan wajah gusar, wanita itu kembali berkata.
"Kira-kira berapa lama jika kau perbaiki jembatan itu?" tanya Habsari.
"Mungkin sebelum fajar kami bisa menyelesaikannya, Ni Mas." jawab lelaki itu kembali.
Habsari menatap satu persatu sisa-sisa pengawalnya, tak kurang tujuh orang anggota Garuda Merah yang masih bersama dengan dirinya, sedangkan anggota yang lainnya terbagi di bawah bukit untuk menahan pergerakan para Bhayangkara yang mengejarnya.
"Cepat kalian bantu dia untuk memperbaiki jembatan."
"Kita tak punya waktu banyak."
"Tiga orang yang lain tetap bersiaga ditempat ini." perintah Habsari pada anggotanya yang tersisa, pandangannya pun tak luput tertuju pada tubuh Muhibbin yang masih tak sadarkan diri.
Para anggota kelompok Garuda Merah itu pun bergegas melaksanakan perintah putri sulung Bendowo itu dan sebagian lagi bersiaga menjaga tempat itu seperti arahan wanita tersebut.
***
'Crass!'
'Crasss!"
'Acchhhh!'
"Kita diserang ..."
"Kita diserang!" teriakan salah seorang dari balik semak-semak.
Nampak beberapa orang berhamburan keluar dengan senjata tajam ditangan.
'Kraaaakkkk'
Sebuah batang kayu besar meluncur kearah orang-orang tersebut. Kerumunan orang-orang itu berhamburan menghindari jebakan yang dibuatnya sendiri, suasana gaduh terjadi di lereng bukit itu.
Melihat rencananya gagal, salah satu dari orang-orang itu berteriak.
"Bentuk formasi!" pekiknya keras dan orang-orang itu pun saling memunggungi untuk memberi perlindungan satu sama lain.
Sebuah bayangan melompat kearah orang-orang tersebut, dengan gesit bayangan itu menendang beberapa orang dengan cepat dan tak berapa lama pertarungan pun terjadi.
Sabetan parang dari orang-orang itu dengan mudah dihindari oleh bayangan hitam tersebut.
"Terus serang!" teriak salah satu orang itu kembali yang rupanya orang paling senior diantara kelompok itu.
Orang-orang itu terus mengepung dan berganti-ganti posisi menyerang bayangan hitam didepannya.
__ADS_1
"Apa hanya seperti ini kemampuan Garuda Merah yang sangat tersohor itu?" pekik bayangan hitam tersebut sambil terus berlompatan dan menyarangkan tendangannya pada orang-orang dihadapannya.
Orang-orang itu tak lain adalah sisa-sisa kelompok Garuda Merah yang ditugaskan oleh Habsari menghadang pengejaran yang dilakukan oleh pasukan Bhayangkara Negeri Pantai.
"Bentuk formasi Capit Urang."
"Sudutkan orang itu ke tebing jurang!" teriak pimpinan kelompok tersebut, para anggota Garuda Merah itu pun melakukan gerakan seperti yang dikatakan pemimpinnya.
Bayangan lelaki itu mulai tersudut ke tepi jurang diantara jalan setapak perbukitan itu, namun dengan tenang dirinya kembali melakukan serangan, tendangan menyusur tanah ke arah para pengepungnya, sontak saja beberapa anggota Garuda Merah itu terjungkal.
Melihat perkelahian yang tak seimbang antara bayangan hitam dan para anggota Garuda Merah, seseorang dari semak-semak mulai gelisah.
"Gawat ..."
"Gus Aji Putra dalam kesulitan." gumam orang itu yang tak lain adalah Arsana. Pemuda itu nampak cemas dengan situasi didepannya.
"Di mana para Bhayangkara, mengapa mereka lama sekali datang?" gumamnya kembali.
Sementara didepannya masih terjadi pertarungan antara kelompok Garuda Merah dengan Gus Aji Putra. Lelaki tua itu masih terlihat tenang walaupun sepintas terlihat dirinya disudutkan oleh para penyerangnya.
'Crasss ... '
'Craasass ... '
Sabetan keris ditangan Gus Aji Putra terus mencari sasarannya, lelaki tua itu terlihat lincah dalam pergerakannya, dia melompat dan berpindah dari satu tubuh ke tubuh yang lain sebagai tumpuan sambil melayangkan tendangan dan sesekali tusukan senjatanya mengenai sasaran.
"Kalian pikir dengan mengeroyokku mengunakan formasi itu akan menyulitkan ku?" seru Gus Aji Putra sambil terus menyerang orang-orang yang mengepungnya.
"Jangan dengarkan dia, ayo terus serang!" pekik pimpinan kelompok Garuda Merah itu melihat anak buahnya mulai kesulitan dan kehilangan semangat bertarung setelah beberapa rekan-rekannya berkalang tanah dihadapan Gus Aji Putra.
Pria itu melompat ke arah Gus Aji Putra, sabetan parangnya terus berkelebat ke arah lelaki tua itu, namun Gus Aji Putra dapat menghindarinya dengan mudah.
Melihat lawannya dapat menghindar dengan mudah, lelaki itu semakin berang, sabetan-sabetan parangnya semakin cepat, namun kembali semua itu bisa dihindari oleh Gus Aji Putra.
Para anggota Garuda Merah yang lain tak tinggal diam, mereka melesatkan anak panah untuk memecah konsentrasi Gus Aji Putra. Kini lelaki tua itu mulai meningkatkan kewaspadaannya, dia melompat menghindari hujan anak panah yang ditujukan padanya.
Melihat hal itu, Arsana yang berada sedikit jauh dari arena pertarungan mulai merangsek dan membantu Gus Aji Putra. Pemuda itu terlihat menyerang para pemanah dengan tongkat yang dipegangnya, beberapa pemanah kini mengalihkan serangannya pada Arsana.
Gus Aji Putra yang menyadari kehadiran Arsana kini semakin meningkatkan kecepatan serangannya, wajah lelaki tua itu berubah, dia mengkhawatirkan pemuda yang baru saja membantunya.
"Arsana, mengapa kau ikut menyerang? bukannya aku sudah menyuruhmu menunggu ditempat yang aman." seru Gus Aji Putra pada pemuda yang membantunya sembari terus bergerak menangkis serangan kelompok Garuda Merah.
"Saya tak bisa tinggal diam melihat Gus Aji diserang oleh mereka." jawab Arsana sambil sesekali memberikan perlawanan dengan tongkatnya.
Keduanya saling memunggungi dan menangkis serangan kelompok Garuda Merah.
Tiba-tiba suara riuh mendekati pertempuran itu,
"Serang!" teriak salah seorang pada rombongan yang baru saja datang.
Melihat sekelompok orang datang menyerang, konsentrasi gerombolan Garuda Merah terpecah, mereka menyambut datangnya serangan itu.
Rombongan tersebut rupanya para Bhayangkara sudah sampai di tempat itu, dentingan senjata tajam terdengar di barengi erangan beberapa orang yang mulai roboh terkena serangan Bhayangkara.
Kondisi jalan setapak yang sempit dimana disisinya terdapat jurang menganga, ditambah suasana malam yang gelap gulita mempersulit kedua belah pihak, tak sedikit anggota Garuda Merah terluka demikian pula para Bhayangkara.
Pertempuran sengit terjadi diantara kedua kelompok itu.
Beberapa saat setelah pertempuran tersebut, para Bhayangkara dapat membalikkan keadaan, anggota Garuda Merah yang tersisa mulai terdesak, nampak pula Gus Aji Putra dapat mengalahkan pimpinan kelompok tersebut.
Melihat pemimpinnya terbunuh ditangan lelaki tua itu, sisa-sisa Garuda Merah semakin turun mental bertarungnya dan dengan mudah para Bhayangkara meringkus mereka.
Beberapa orang yang tak kurang dari hitungan jari itu menjatuhkan senjatanya dan menyerah, nampak para Bhayangkara pun mulai meringkus dan mengikat sisa-sisa lawannya.
"Hidupkan obor dan kumpulkan anggota kita yang terluka." perintah salah seorang Bhayangkara pada rekan-rekannya.
"Gus Aji, anda tidak apa-apa?" tanya pria itu kembali sambil mendekati Gus Aji Putra.
Lelaki tua itu menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Aku tidak apa-apa."
"Tulang tuaku masih bisa mengatasinya." ucap Gus Aji Putra sambil mengarahkan pandangannya ke sekeliling tempat itu, tubuh para anggota Garuda Merah yang binasa terlihat bergelimpangan di jalan setapak itu.
"Prajurit, aku minta pada kalian untuk memberi pemakaman layak bagi semuanya tak terkecuali." ujar lelaki tua itu, bagaimanapun dirinya adalah mantan anggota pasukan ternama itu di zaman keemasannya.
"Aku akan meneruskan pengejaran pada sisa-sisa gerombolan ke atas bukit." ujar lelaki tua itu kembali.
"Saya ikut, Gus Aji." sergah Arsana sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Gus Aji Putra menganggukkan kepala dan berkata,
"Tapi ku harap dirimu tak berbuat ceroboh seperti tadi."
"Dengan sikapmu seperti itu dapat membahayakan dirimu dan rekanmu." ucap lelaki tua itu pada Arsana.
"Maafkan saya, Gus Aji."
"Saya tadi berfikir Gus Aji memerlukan bantuan saya." jawab Arsana penuh penyesalan.
"Sudahlah, tak perlu kau fikirkan ucapan ku."
"Ayo kita berangkat untuk menyelamatkan kakak ipar mu." ujar Gus Aji Putra tersenyum sambil menepuk pundak Arsana.
Keduanya pun melangkah menyusuri jalanan setapak sementara para Bhayangkara tetap berada ditempat itu menolong para korban yang terluka dan sebagian menguburkan jenazah dari kedua belah pihak.
__ADS_1
*****