
"Bangun, Le!"
"Masa hukuman mu sudah berakhir." ujar kyai Basori sambil merengkuh kepala Muhibbin yang di letakkan di pangkuannya.
"Saya ada dimana?" ujar Muhibbin lirih dengan mata masih terlihat remang-remang menatap orang-orang yang ada di sekelilingnya, tubuhnya terasa lemas, tenggorokannya pun terasa kering.
"Air, berikan saya air!" pinta Muhibbin merintih.
"Cepat ambilkan segelas air!" kyai Basori memberi perintah pada salah seorang santri yang ada didekatnya.
Tak lama kemudian santri itu membawa sebuah kendi dan gelas berisi air, di ulurkan pada kyai Basori yang masih bersila dan membantu Muhibbin bangkit.
Cahaya pun terlihat membantu membopong tubuh Muhibbin untuk duduk sambil tangannya mengarahkan gelas berisi air ke arah bibir adik laki-lakinya.
"Nduk, kamu pergilah ke dapur! masakkan adikmu unti untuk memulihkan kondisi adikmu." seru kyai Basori pada Cahaya.
Unti adalah kudapan yang terbuat dari beras dan gula merah mirip dengan bubur namun di bubuhi parutan kelapa yang biasanya disajikan pada orang-orang yang selesai melakukan puasa mutih atau ngebleng.
"Kesinggihan dawuh , mbah kyai." wanita itu beringsut meninggalkan masjid menuju dapur pesantren.
Kyai Basori menatap lekat-lekat Muhibbin yang mulai tersadar dari pingsannya.
"Sekarang apa kau sudah menyadari, betapa besar kesalahanmu?" ujar lelaki paruh baya itu pada Muhibbin.
"Maafkan saya, mbah kyai."
"Saya akui, apa yang saya lakukan itu perbuatan yang tak terpuji."
"Makanya saya tak berani menyampaikan melalui surat pada mbah kyai maupun pada keluarga saya."
Jawab Muhibbin dengan suara sedikit bergetar.
"Nasi sudah menjadi bubur, segeralah kau nikahi gadis itu!"
"Mintalah restu pada ibu dan mbak yu mu!" jawab kyai Basori sambil menghela nafas dalam-dalam, matanya menerawang dan tak lama kembali menatap Muhibbin.
"Tapi perlu kamu ingat! Sasmita yang kudapatkan semalam, gadis itu akan membawa perubahan besar dalam kehidupanmu dan mulai saat ini kamu harus mulai belajar menerima apa saja ketetapan Sang Pencipta." ujar kyai Basori menatap sendu penuh kecemasan pada muridnya. Seakan ada beban berat dan peristiwa besar yang akan menimpa murid kesayangannya itu.
"Nggih mbah kyai, Saya akan selalu mengingat pesan panjenengan."suara Muhibbin masih terdengar lirih menjawab nasehat gurunya.
"Sebaiknya kau beristirahat dulu, kondisimu masih lemah."
"Anak-anak, tolong bantu dan bawa Muhibbin ke rumahku!" seru kyai Basori pada santri-santri dewasa yang sedari tadi menunggu di serambi masjid.
Beberapa santri segera membopong tubuh Muhibbin dan membawanya ke kediaman sang kyai.
***
Pada waktu yang sama di Negeri Pantai,
"Sekar, apa kakakmu tak berpesan sesuatu sebelum kepulangannya ke Negeri Batu Ular?"
Sekar hanya menggelengkan kepala sambil menatap gadis di samping,
"Tidak, Dis! bli Ibbin hanya pamit padaku ingin menjenguk keluarganya dikampung."
"Ajik mungkin tau alasan bli Ibbin pulang, karena sebelum berangkat ku lihat ajik sempat berkunjung ke surau An Nur." ujar Sekar pada Disya.
__ADS_1
Disya hanya terdiam mendengar jawaban sahabatnya. Di dalam benaknya berkecamuk pertanyaan tentang kepulangan Muhibbin, "Kenapa kau tak berkabar padaku, Bin?" gumam Disya dalam hati.
" Lalu bagai mana tentang wanita penggoda itu, Kar? apa dia masih sering berkunjung ke An Nur menemui kakakmu?" tanya Disya kembali.
"Wanita penggoda yang mana maksudmu, Dis?"
"Sariwati?" tanya Sekar pada Disya, namun dari ekpresi ketidak sukaan di wajah Disya sudah mewakili jawaban yang di tanyakannya pada Sekar.
"Setau ku, Sariwati tak pernah muncul kembali ke An Nur dan bli Ibbin tak pernah bercerita tentang gadis itu."
"Memangnya kenapa Dis, Kau tumben bertanya tentang Sariwati?" kini Sekar balik bertanya, matanya lekat memandang sahabatnya itu.
"Aku tak suka bila kakakmu berhubungan dengan gadis penggoda itu!"
"Dia hanya akan membawa masalah pada kehidupan Muhibbin!" pungkas Disya sinis.
"Kau tau darimana, Dis"
"Setau ku, Sariwati orangnya biasa-biasa saja dan dia sangat hormat pada bli Ibbin. Karena bli Ibbin lah yang menolongnya saat tak memiliki tempat tinggal." ujar Sekar.
"Dia itu masih keturunan dinasti Harsuto, penguasa kerajaan Zamrud yang terkenal kejam pada siapa saja yang bermasalah dengan mereka."
"Ayahku sempat bercerita tentang siapa dia dan dia juga merupakan keponakan dari tuan gubernur."
"Apa ajikmu atau Muhibbin tak pernah cerita tentang hal itu?" pungkas Disya.
Mendengar penjelasan Disya, Sekar terlihat biasa saja. Gadis itu hanya menghela nafas dan berkata, "Aku rasa kau tak perlu khawatir berlebihan, Dis. Mungkin bli Ibbin punya alasan tersendiri tak pernah bercerita tentang siapa Sariwati pada kita." ujar Sekar pada Disya.
"Ya, sih!"
"Tapi aku khawatir Ibbin akan terkena masalah bila terlalu dekat dengan wanita itu."
"Otto itu mengingatkanku pada kejadian yang kelam dimasa laluku."
Kini mata Disya terlihat berembun, dalam benaknya masih terlihat jelas kejadian kecelakaan yang menimpa keluarga besarnya saat di Negeri Kelapa yang disebabkan oleh sebuah otto yang melaju kencang membuat kuda-kuda penarik kereta yang ditumpanginya bersama seluruh keluarganya terjatuh ke jurang.
"Ayah Sirkun pernah bercerita padaku bahwa gadis itu adalah kakak Sariwati, dia yang mewarisi semua kekayaan dan kekuasaan dinasti Harsuto."
"Dan wanita itupun terkenal kejam pada siapa saja yang tak disenanginya."
"Aku takut kakakmu bermasalah dengan wanita itu."
"Aku masih punya hutang budi pada kakakmu, Kar!"
"Karena hanya ingin memenuhi keinginanku saat itu, ayah Muhibbin meninggal."
Air mata Disya tak tertahan lagi, segala apa yang pernah dialaminya selama di dataran Ijen bersama keluarga Muhibbin dia ceritakan. Gadis itu menumpahkan segala beban yang dipendamnya selama ini pada Sekar.
"Aku paham apa yang kamu rasakan, Dis."
"Kita doakan saja mudah-mudahan kekhawatiran mu itu tak terjadi dan bli Ibbin tak terkena masalah." ujar Sekar menghibur Disya yang sedang menangis.
Kedua sahabat itu semakin larut dalam percakapan membahas Muhibbin dan kepulangannya. Tak terasa hari pun mulai senja dan Disya pamit pulang kembali ke kota Negeri Pantai.
***
"Dari mana saja kau, Nak!" sebuah suara terdengar menegur Disya, gadis itu menoleh kearah sumber suara,
__ADS_1
"Ayah!"
"Apa yang sedang ayah lakukan?" tanya balik Disya pada ayahnya, tuan Sirkun.
"Ayah lagi merapikan bonsai-bonsai ini." jawab tuan Sirkun pada Disya, tangannya masih sibuk merapikan ranting-ranting bonsai dengan gunting yang dipegangnya.
"Kamu darimana?" tanyanya kembali.
"Aku dari rumah Sekar, yah." jawab Disya sambil menyandarkan kereta anginnya.
"Bagaimana kabar Jero Bendesa?" tanya tuan Sirkun pada Disya.
"Beliau baik-baik saja, yah." kini Disya duduk di bangku yang ada di taman sebelah kediamannya.
"Oh syukurlah, lalu bagaimana kabar teman masa kecilmu itu? siapa namanya?" ujar tuan Sirkun sambil menoleh pada putri semata wayangnya.
"Muhibbin, maksud ayah?" sahut gadis itu.
"Ya, bagaimana kabarnya? lama ayah tak melihat anak itu sejak kejadian penyerangan di Banjar Manguntur waktu itu." seru lelaki paruh baya itu.
"Dia baik-baik saja, yah."
"Cuma kata Sekar dia sekarang pulang ke kampung halamannya." jawab Disya singkat.
"Nak, ayah ingin sampaikan sesuatu padamu." kini tuan Sirkun duduk di samping Disya.
"Dis, Ayah akan mengadakan pengajian memperingati meninggalnya seluruh keluarga kandungmu bulan depan, ayah akan mengundang anak-anak yatim dan orang-orang tak mampu untuk kita santuni, bagaimana menurutmu? tanya tuan Sirkun.
Disya terdiam sejenak, pikirannya kembali teringat pada keluarganya yang telah tiada.
"Aku setuju saja, yah."
"Cuma aku sedikit curiga dengan otto dan wanita yang ada di kediaman tuan gubernur." ujar Disya.
"Maksud mu Ni Mas Habsari, keponakan tuan Timoti?"
"Ada apa dengan wanita itu, Dis?" tanya tuan Sirkun pada Disya.
"Aku curiga dengan otto yang di bawanya itu, yah!"
"Otto itu mengingatkan ku pada peristiwa kecelakaan yang menimpa kami di Negeri Kelapa." ujar Disya.
"Bagaimana kau bisa yakin, apa bukan otto lain yang membuat kecelakaan itu terjadi?"
"Memang kita tau, tak banyak yang memilik kendaraan seperti itu di seantero kerajaan Zamrud, masih bisa dihitung jari dan hanya dari kalangan ningrat saja."
"Bisa jadi otto lain, nak." ujar tuan Sirkun.
"Aku yakin, yah! saat itu aku sempat lihat ada logo kepala garuda di bagian depan otto itu, sama persis dengan otto yang di kendarai Nona Habsari, yah." jawab Disya meyakinkan ayahnya.
"Tapi kejadian itu sangat lama sekali, nak. Apa mungkin kendaraan itu penyebabnya?" kini tuan Sirkun merangkul pundak putrinya untuk menenangkannya.
"Aku tau, yah."
"Mungkin aku bisa salah, tapi aku akan menyelidikinya, yah." pungkas Disya.
__ADS_1