KAHANAN

KAHANAN
CH 19 - KEGADUHAN NEGERI PANTAI PART II ( SURAU AN NUR )


__ADS_3

Tak berapa lama Muhibbin keluar kembali dari dalam kamarnya.


"Mari Jik, " ajak Muhibbin pada ayah angkatnya.


"Kamu bawa kereta angin sendiri ya gus, soalnya nanti Ajik masih ke Balai Banjar setelah ini," kata pak Nengah pada Muhibbin.


Keduanya keluar dari dalam rumah, kereta angin pun dikayuh perlahan. Muhibbin mengikuti ayah angkatnya dari belakang.


Mereka menuju areal persawahan, jalan kecil berbatu yang membatasi persawahan dan sungai jernih dilalui keduanya, padi menguning terhampar di samping mereka dan pantai Purnama terlihat anggun dengan deburan ombak yang silih berganti berlari menggulung menyentuh bibir pantai didepannya.


Setelah berada di atas bukit, keduanya berhenti tepat di depan sebuah bangunan berbentuk panggung berukuran 6x8 meter yang terbuat dari papan kayu. Dari atas bukit terlihat pantai Purnama yang pasirnya berkilau kehitaman terkena sinar matahari dengan airnya berwarna biru toska semakin terlihat indah.


Aliran sungai kecil dari samping bukit membelah persawahan yang menguning.


Jalan berbatu yang dilalui Muhibbin dan ayah angkatnya tadi terlihat merah kecoklatan meliuk membelah antara sungai dan persawahan dari atas bukit tempat mereka berada sekarang.


"Bagaimana menurutmu gus lokasi ini ? " tanya pak Nengah pada anak angkatnya.


"Bagus Jik, pemandangan terlihat indah dari sini dan suasananya sangat tenang, " jawab Muhibbin pada ayahnya.


"Kamu suka ? " kembali pak Nengah bertanya


Mata Muhibbin menatap wajah ayah angkatnya masih belum mengerti.


"Maksud Ajik? " tanya Muhibbin.


Pak Nengah tersenyum ke arah anaknya yang masih kebingungan, para pekerja masih terus menyelesaikan pembangunan di bagian atap. Bangunan kayu itu berbentuk panggung dengan atap berbentuk limas dengan lima tingkat keatasnya yang semakin mengecil membentuk Meru.


"Ini untuk mu gus, Ajik sudah lama memperhatikanmu sembahyang berpindah-pindah dan juga Krama Tamu Selam disini tak memiliki tempat sembahyang" ujar pak Nengah.

__ADS_1


Krama Adat Negeri Pantai menyebut saudara Islam sebagai Krama Selam.


"Maksud Ajik ini dipakai sebagai Surau Jik? " tanya Muhibbin setengah tak percaya.


Karena selama ini ummat islam yang ada di desa Batubulan bila bersembahyang harus ke kota Negeri Pantai yang jaraknya satu jam dari desa Batubulan, di kota memang terdapat satu bangunan milik tuan Sirkun yang digunakan oleh pemeluk islam bersembahyang dan itupun satu-satunya yang ada di Negeri Pantai.


"Tanah perbukitan ini milik leluhur Ajik dan sekarang Ajik berikan padamu dan Nyame Selam yang ada di desa ini" imbuh pak Nengah sambil tersenyum.


Pak Nengah Wirata selain seorang peternak sukses adalah seorang seniman patung dan lukis, dia juga di desa Batubulan di tokohkan sebagai Perbekel desa Batubulan menggantikan mendiang ayahnya.


"Bagaimana menurutmu gus ? " lanjut pak Nengah.


"Saya gak bisa berkata-kata apa lagi Jik, saya banyak hutang budi pada Ajik," sahut Muhibbin mencium tangan ayah angkatnya dan memeluknya sambil terisak haru.


"Sudahlah, seharusnya kamu berbahagia bukan malah menangis," kata pak Nengah sambil menepuk punggung anak angkatnya ini.


"Nggih Jik, " muhibbin menyeka air matanya.


"Dan nanti dibelakang tempat ini akan Ajik buatkan sebuah balai tamu beserta dapurnya bila ada orang-orang yang kemalaman dan tak punya tempat menginap, " lanjut lelaki tujuh puluh tahun itu sambil menggandeng tangan Muhibbin ke arah belakang bangunan.


"Dan halaman sekitar tempat ini bisa kamu tanami bunga dan pohon sandat," kembali pak Nengah menjelaskan lokasi tempat itu pada Muhibbin.


"Nggih Jik, " sahut Muhibbin singkat karena lidahnya terasa kelu saking senangnya.


"Baiklah gus sekarang terserah kamu mau kamu beri nama apa tempat ini, Ajik hanya berpesan rawat tempat ini baik-baik dan amalkan ilmu yang kamu miliki agar lebih bermanfaat, " pungkas pak Nengah.


"Nggih Jik, saya akan selalu ingat pesan Ajik, " jawab Muhibbin


Muhibbin terdiam sesaat memikirkan sebuah nama dan tak berapa lama dia berkata

__ADS_1


"Saya ingin menamainya Surau An Nur yang artinya Cahaya Jik, agar bisa mencahayai semua" jawab Muhibbin dengan mantab.


Pak Nengah manggut-manggut mendengar sebuah nama yang akan digunakan untuk bangunan itu dan benak Muhibbin berputar mengingat nasehat Ibunya Suratmi serta nasihat gurunya Kyai Bashori sebelum dia memutuskan merantau ke Negeri Pantai.


Sang ibu berpesan padanya agar selalu menjaga imannya walau bagaimanapun keadaannya dan sang guru berpesan agar dia berguna untuk sekitarnya, karena ada pepatah mengatakan "URIP IKU URUP" yang artinya hidup itu harus bercahaya agar bisa mencahayai yang lainnya dalam artian hidup itu harus bermanfaat dan berguna bagi sekitarnya.


"Gus,....Ajik pulang dulu ya, mau ke Balai Banjar karena Ajik akan memberitahukan warga bahwa di desa ini akan dibuat tempat sembahyang Nyame Selam," kata pak Nengah.


"Kalau kamu masih mau disini gak apa, tapi pulangnya jangan terlalu petang, kasihan adikmu di rumah sendirian, karena Ajik mungkin agak malam nanti pulangnya, " pesan pak Nengah kembali.


"Nggih Jik, nanti sebelum Sandikala saya sudah ada di rumah, " jawab Muhibbin pada ayah angkatnya.


Pak Nengah berlalu dari tempat dia berdiri dan mengambil kereta anginnya yang disandarkan pada sengker.


Muhibbin duduk terdiam, sementara para pekerja masih sibuk memasang bagian atap surau itu.


 ******


* **Krama Tamu : Para Pendatang


* Krama Adat : Warga pribumi Negeri Pantai


* Perbekel : Kepala Desa


* Balai Kulkul : Bangunan seperti menara tempat meletakkan kentongan kayu berukuran besar yang digunakan pada saat menentukan waktu atau keadaan


* Nyame Selam : Sebutan bagi umat islam oleh warga Negeri Pantai


* Meru : Atap mengerucut semakin mengecil keatas seperti gunung

__ADS_1


* Sandikala : Waktu senja terbenamnya matahari


* Sengker : Pagar**


__ADS_2