KAHANAN

KAHANAN
CH 131 - LARA MANAH PART II


__ADS_3

"Kurang ajar!"


"Bagaimana wanita itu bisa melarikan diri?"


"Apa yang kalian lakukan sehingga teledor seperti ini?" tegas Habsari dengan wajah penuh kegeraman.


"Maafkan aku, Kak."


"Semua ini terjadi saat kita mengintrogasi lelaki bajingan itu."


"Pelayan yang ku tugaskan menjaga wanita itu terluka parah di bagian kepala akibat hantaman benda tumpul,"


"Aku curiga semua ini dilakukan oleh anak tuan Sirkun itu." jawab Seto dengan wajah terlihat ketakutan di hadapan Habsari.


"Kalian benar-benar bodoh!"


"Urusan sekecil itu pun kalian bisa lalai."


"Terutama dirimu, Seto!"


"Kau terlalu asyik bermain-main dengan lelaki kampungan itu."


"Itu yang membuatmu lengah dan lalai dalam misi kita ini." dengus Habsari sambil menatap tajam ke arah Seto.


"Jika semua yang telah direncanakan matang-matang ini gagal, kau lah orang pertama yang harus bertanggung jawab." tegas Habsari pada bekas iparnya itu.


Priyayi dari Negeri Tidar itu diam tertunduk, dia merasakan amarah Habsari yang membuatnya sedikit bergidik karena bagaimanapun Seto sangat mengetahui watak keras Habsari dalam mengambil setiap keputusan.


"Maafkan aku, Kak."


"Aku sudah mengerahkan anak buah ku untuk mencari gadis itu." jawab Seto masih dengan kepala tertunduk.


Dengan wajah dingin, putri tuan Bendowo itu kembali berkata,


"Bawa kemari lelaki kampungan itu!"


"Aku sendiri yang akan menanganinya." seru Habsari.


Seto segera memberikan isyarat pada beberapa anak buahnya dan tak selang berapa lama beberapa pria berbadan kekar memasuki ruangan kembali membawa seorang pemuda dengan tangan terikat dan sekujur tubuhnya dipenuhi luka.


Tatapan Seto terlihat menyalang melihat tubuh laki-laki yang dibawa oleh anak buahnya.


Habsari dengan lirikan matanya melihat ekspresi yang ditampakkan oleh bekas suami Sariwati tersebut kemudian berkata,


"Kalian tinggalkan ruangan ini."


"Kamu juga, Seto!" seru Habsari masih dengan wajah dingin.


Semua yang ada di ruangan tersebut beringsut meninggalkan Habsari dan pemuda yang masih tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai.


"Apa kelebihan mu sehingga membuat seluruh keluargaku membelamu mati-matian?" Gumam Habsari sambil terus menatap pemuda yang ada dihadapannya.


"Muhibbin!"


"Sayang sekali lelaki sepertimu terlibat urusan dengan keluargaku"


"Sebenarnya diantara kita tak ada dendam apapun, hanya saja aku tak suka melihat Wati bahagia dan dirimu pun memiliki apa yang kucari selama ini." kini Habsari bangkit, wanita ayu itu mengambil sebuah kursi dan membawanya mendekat ke tubuh lelaki yang terbaring dilantai yang tak lain adalah Muhibbin tersebut.


Dengan tatapan tajam, Habsari terus mengamati Muhibbin.


Tiba-tiba tubuh pemuda itu mulai bergerak, dengan suara lirih menahan sakit, pemuda itu terdengar menyebut sebuah nama,


"Disya ... "


"Disya ... "

__ADS_1


Melihat hal itu Habsari kembali mendekat.


"Rupanya kau sudah tersadar?" pandangan wanita ayu itu menelisik ke arah Muhibbin.


Dengan mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, pemuda itu beringsut dan berusaha duduk sambil sesekali erangan kesakitan keluar dari mulutnya.


"Tolong nona, lepaskan Disya."


"Jangan libatkan dia dalam permasalahan ini." iba Muhibbin dengan suara terbata-bata. Pemuda itu berusaha meraih telapak kaki Habsari dan bersujud dihadapannya.


"Tolong nona."


"Saya bersedia menukar nyawa saya asalkan nona mau melepaskan kekasih saya." ujar lelaki itu kembali.


Dengan tatapan dingin Habsari memandang wajah lebam penuh luka pria yang memohon kepadanya.


"Aku tak butuh nyawamu!"


"Nyawamu tak ada harganya bagiku."


"Yang ku butuhkan hanya benda itu, dimana Cincin Sulaiman Madu itu kau simpan?"


"Jika kau benar-benar menyayangi kekasihmu ..."


"Cepat serahkan benda itu padaku." balas Habsari dengan suara dingin.


"Sudah saya katakan, saya tak memiliki benda yang anda maksud, Nona."


"Aku mohon nona, lepaskan tunangan saya dan jangan kalian libatkan dengan semuanya ini." kembali dengan suara lirih menahan sakit Muhibbin menjawab apa yang dikatakan Habsari.


Habsari hanya mendengus kesal, dibenaknya terbayang wajah Sariwati dan Bendowo yang telah merubah hidupnya.


Tiba-tiba di rumah tua itu terjadi kegaduhan, diluar ruangan orang-orang berlarian, suasana hening areal rumah tua itu mulai hiruk pikuk, terjadi kekacauan dan terdengar kepanikan para penjaga sambil berteriak,


"Kita diserang!"


"Kita diserang!"


Lesatan anak panah terus menghujani ke dalam ruangan, dari dalam bangunan tua itu pun para penjaga membalas dengan melesatkan anak panah pula.


Malam yang semakin temaram mempersulit pandangan para penjaga yang sebagian besar terdiri dari gerombolan Garuda Merah dan para pengawal Seto Nugroho untuk mengamati keadaan diluar rumah.


Sementara para penyerang terus menghujani dengan lesatan anak panah tanpa henti.


"Menyerahlah!"


"Kalian sudah terkepung!" sebuah teriakan terdengar dari luar rumah.


Rahang Habsari bemeretak menahan amarahnya,


"Kurang ajar!"


"Martin!"


"Martin!" teriak Habsari dari dalam ruangan. Lelaki dengan bekas luka melintang diwajahnya tersebut menyeruak masuk.


"Ada apa ramai-ramai diluar?"


"Apa yang terjadi?"


"Mengapa banyak anak panah berseliweran?" tanya Habsari dengan wajah merah padam, sementara Martin mengangkat sebuah meja kayu dan berlindung dibalik benda itu bersama majikannya.


"Kita diserang, Ni Mas!"


"Segerombolan orang tak dikenal mengepung tempat ini."

__ADS_1


"Anak buah ku saat ini berusaha menahan serangan mereka." jawab Matin sambil membungkukkan tubuhnya dengan tangan masih memegang kaki meja sebagai pelindung dari lesatan panah-panah para penyerang.


"Kita harus segera keluar dari tempat ini, Ni Mas."


"Anak buah ku sudah membuka jalan dan kita harus segera bergegas." ucap pimpinan Garuda Merah itu kembali.


Wajah Habsari berubah kusut dengan pandangan tajam mengarah pada Martin


"Kurang ajar!"


"Bagaimana bisa tempat ini diketahui orang lain."


"Bajingan!"


"Ini pasti keteledoran Seto!"


"Anak itu memang tak bisa diandalkan!" umpat Habsari penuh rasa geram.


"Kau bawa pemuda itu!"


"Aku belum selesai dengannya."


"Benda yang ku inginkan belum kudapatkan darinya." perintah Habsari pada Martin.


"Tapi, Ni Mas?"


"Saat ini, keadaan kita tak mungkin membawa pemuda itu." jawab Martin sambil melirik ke arah Muhibbin yang setengah tersadar tergeletak dilantai.


"Lakukan saja perintahku!"


"Aku yakin, para penyerang itu bertujuan membebaskan pemuda itu."


"Dia bisa kita jadikan sandera untuk meloloskan diri dari tempat ini." pungkas Habsari dengan tatapan tajam ke arah Martin.


Untuk beberapa saat Martin terdiam sejenak, pria itu tiba-tiba beringsut ke arah Muhibbin dan membopong tubuh pemuda itu sambil sesekali menyabetkan parang yang dipegangnya untuk melindungi tubuhnya dari beberapa anak panah yang masih berkelebat di sekitanya.


"Mari Ni Mas, ikuti saya dari belakang." ucap Martin memberi aba-aba pada Habsari.


Ketiganya pun mengendap-endap berjalan menuju pintu belakang bangunan tua itu, terlihat beberapa anggota Garuda Merah memberi jalan dan sesekali melindungi majikannya dengan bertamengkan benda-benda seadanya.


***


"Bagaimana Tuan? orang-orang didalam ruangan itu tak ada tanda-tanda mau menyerah."


"Justru mereka memberi perlawanan pada kita." ujar Jero Pecalang pada Cokro di sebelahmya.


Prawira utama Bhayangkara itu terus mengamati keadaan, sementara para pasukan Bhayangkara terus menghujani bangunan itu dengan lesatan anak panah.


Sesaat nampak Cokro memberi perintah pada para anak buahnya, beberapa pasukan Bhayangkara dengan sedikit membungkukkan badan berlari mengitari bagian belakang bangunan tua itu setelah mendapat perintah dari Cokro.


"Jero, andika ikut dengan saya."


"Perasaan saya mengatakan, pimpinan para penyekap Muhibbin akan meloloskan diri melalui pintu belakang."


"Walau seluruh anggota ku telah mengepung tempat ini, jangan sampai mereka meloloskan diri." ujar Cokro pada Jero Pecalang, pria dari desa Batubulan menganggukkan kepala sambil menghunus keris dari pinggangnya.


"Ayo kita segera bergerak!"


"Saya minta beberapa anggota anda untuk membantu pasukan Bhayangkara menyergap dari depan."


"Dan anda, tuan Sikun, andika lebih baik tetap berada disini bersama beberapa anak buah saya." pungkas Cokro.


"Tapi, Tuan?" sanggah tuan Sirkun pada Cokro, namun pimpinan Bhayangkara itu memberi isyarat agar pengusaha tersebut tetap ditempatnya berada.


"Kita tidak tau siapa yang kita hadapi, Tuan."

__ADS_1


"Lebih baik anda berada disini demi keselamatan anda juga." pungkas Cokro pada tuan Sirkun.


****


__ADS_2