KAHANAN

KAHANAN
CH 147 - PERTEMUAN


__ADS_3

"Putri kita ada disini sekarang, Bin."


"Papi-Mami ku pun juga ada disini."


"Kami datang ke tempat ini setelah mendapat surat dari Gus Aji Putra yang mengabarkan bahwa dirimu saat ini sedang sakit." ucap Sariwati memberi penjelasan kedatangannya bersama keluarganya.


"Aku benar-benar minta maaf atas apa yang dilakukan Kak Habsari Padamu, Bin."


"Aku benar-benar tak menyangka jika dia akan berbuat senekat itu demi mendapatkan yang diinginkannya." Pungkas Sariwati yang kini duduk kembali ditepian ranjang.


"Itu semua bukan kehendak Papi ataupun keinginanku, yang dilakukan kak Habsari adalah inisiatifnya."


"Aku tau memang semua itu tak mudah bagimu untuk menerimanya karena apa yang dilakukan kakakku padamu sungguh keterlaluan." Ucap Sariwati pada Muhibbin. Pandangan Sariwati menerawang membayangkan apa yang dilakukan Habsari pada lelaki disampingnya itu.


"Sudahlah ... tak perlu kau jelaskan apa yang kakakmu telah lakukan padaku semuanya."


"Yang ingin aku dengar, apakah anakku tahu jika aku ayahnya?" Tanya Muhibbin pada wanita yang kini duduk disampingnya.


Sariwati terdiam sesaat, dihelanya nafas dalam-dalam.


"Aku belum memberitahunya tentang siapa ayahnya."


"Yang diketahuinya adalah dirinya tak memiliki ayah."


"Sejak aku melahirkannya, Seto telah menceraikan diriku."


"Ayah Timoti saat itu terpukul dengan apa yang aku alami, hingga membuatnya meninggal."


"Sejak kepergian ayah Timoti, akhirnya kami hanya hidup berdua ditemani pembantuku."


"Disaat diriku terbaring lumpuh, Tiara diasuh dan dibesarkan oleh We Landep dan Me Iluh."


"Hari-hari kami lalui hanya penuh penghinaan dan cacian dari kakak sulungku."


"Dan akhir-akhir inilah setelah Tiara mulai beranjak besar, Papi Bendowo dan Mami Warika datang ke Negeri Pantai, mereka berdua menetap disini bersama kami." Pungkas Sariwati sambil menyeka air matanya.


Muhibbin hanya terdiam sambil melihat langit-langit kamarnya. Ada rasa bersalah menyeruak di hati lelaki itu.


"Bisakah kau pertemukan aku dengannya?" ucap Muhibbin lirih sambil menatap wajah Sariwati.


Wanita berkerudung merah jambu itu pun menganggukkan kepala. Dengan senyuman lembut disentuhnya pipi Muhibbin sebelum dia beranjak dari tempat duduknya.


***


Semantara diluar ruangan, nampak orang-orang masih bergerombol didepan kamar itu, nampak terlihat Resi Giri Waja dan Gus Aji Putra sedang berbicara serius dengan tuan Bendowo, sementara Gung Niang Mirah terlihat bersama nyonya Warika dan seorang gadis kecil yang selalu disampingnya.


Disebuah sudut teras bangunan tersebut, Disya duduk dengan wajah sembab karena menangis, disampingnya duduk Sekar dan Raya Suci menemaninya. Sementara Puan Rizza dan Diera hanya berdiri terdiam tanpa sepatah katapun didekatnya.


"Aku masih tak habis pikir, ada wanita tak tau malu seperti Sariwati itu."


"Di saat-saat seperti ini dirinya mengambil kesempatan mencari perhatian Muhibbin."


"Ingin rasanya ku ludahi wajahnya agar dia sadar bahwa semua ini dialah penyebabnya." Runtuk Disya geram sambil meremas ujung kerudungnya.


Sekar yang melihat sahabatnya seperti itu berusaha menenangkannya,


"Kau yang sabar, Dis."


"Aku yakin bli Ibbin tau mana yang baik dan mana yang bukan."

__ADS_1


"Dia tak akan mudah dipengaruhi oleh intrik yang dilakukan Sariwati dan keluarganya."


"Aku percaya bli Ibbin tak akan berpaling darimu."


"Saat ini dia hanya memikirkan anaknya."


"Bagaimanapun marahnya bli Ibbin pada Wanita itu, dia tak akan tega mengabaikan anaknya."


"Saat aku dan Raya menemuinya, dia sangat berharap berjumpa denganmu."


"Dia sangat mencintaimu, Dis."


"Ku lihat binar harapan terpancar dari tatapannya saat namamu kusebutkan, dia sangat antusias dan gembira."


"Yang terpenting saat ini dirimu harus kuat memperjuangkan cintamu."


"Kau jangan menyerah, aku selalu akan mendukungmu." Pungkas Sekar pada sahabatnya.


"Tapi aku merasa bukan siapa-siapa bagi Ibiin, Kar."


"Apalagi keadaanku seperti ini."


"Bagaimana reaksi Ibbin jika dia tau saat ini aku sedang mengandung." Ucap Disya sambil tersedu.


Hati Disya bergolak dan ada keraguan tersirat didirinya untuk bertemu dengan kekasihnya.


"Entahlah Kar, saat ini aku bingung antara ingin bertemu dengannya atau aku menghindarinya."


"Aku tak bisa membayangkan bagaimana terpukulnya kakakmu mendapati keadaanku seperti ini." Imbuhnya kembali. Dibenamkannya wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Disya menangis tersedu-sedu membayangkan apa yang akan dilakukan Muhibbin tatkala bertemu dengan dirinya.


"Sudah ... sudah."


"Engkau tak payah bersedih macam tu."


"Tak ada yang nak mendapatkan musibah macam awak alami saat ini, semua itu takdir, Dis." ucap Puan Rizza menghibur sahabatnya.


"Benar Dis, apa yang dikatakan kak Rizza dan Sekar. Aku yakin Muhibbin tak sepicik itu menilaimu." Timpal Diera turut menghibur Disya.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, semua mata terarah pada Sariwati yang keluar dari ruangan itu. Terlihat wanita itu mendekat ke arah Resi Giri Waja dan tuan Bendowo serta Gus Aji Putra.


Sejurus kemudian mereka nampak sedang membicarakan sesuatu dan tak selang berapa lama Sang Resi serta orang-orang yang berada di depan pintu itu masuk kedalam tanpa terkecuali, sebelum melangkah sekilas tatapan Sariwati tertuju pada Disya dan kawan-kawannya yang berada disudut teras bangunan itu sebelum akhirnya wanita itu kembali masuk ke dalam ruangan.


Melihat hal itu Disya nampak semakin geram dan berkata,


"Kalian lihat ... kali ini mereka masuk semua ke dalam dan mengacuhkan kita yang ada disini."


"Seolah-olah memang kehadiranku di tempat ini tak di kehendaki." Ucap wanita itu dengan perasaan penuh kecewa.


"Kau jangan berkata seperti itu, Dis."


"Mungkin saja ada hal yang membuat Wati sekeluarga harus masuk ke dalam menemuai Bli Ibbin."


"Aku yakin Bli Ibbin tak akan mengkhianatimu karena waktu aku menemuinya bersama Raya tadi, dia sangat ingin bertemu denganmu ketika namamu kusebutkan." Ujar Sekar Jempiring menghibur Disya yang nampak terlihat sedih dan kecewa.


Semua orang-orang yang berada di tempat itu hanya terdiam, sementara matahari di atas Griya Manuaba mulai tertutup mendung walaupun hari telah beranjak siang.


***


Ruangan kamar yang tak begitu besar itu nampak dipenuhi orang-orang yang baru saja masuk bersama sang Resi.

__ADS_1


Resi Giti Waja berdiri didekat Muhibbin yang masih terbaring lemah, semantara yang lainnya tak jauh dari pemilik Griya Manuaba itu.


"Nak Mas, saat ini keluarga tuan Bendowo datang untuk menjengukmu."


"Mereka ada di Griya Manuaba ini atas undanganku dan Putra."


"Aku harap Nak mas tak keberatan tentang hal itu." Ucap sang Resi pada Muhibbin sambil menyentuh pundaknya.


Muhibbin hanya terdiam dan ditatapnya satu persatu wajah orang-orang yang mengelilingi tempatnya berbaring. Pandangan lelaki itu terhenti pada sosok gadis kecil yang berdiri tak jauh dari Sariwati. Sorot matanya lekat mengamati gadis dengan rambut panjang terurai tersebut.


Tiba-tiba nyonya Warika maju dan mendekat ke arah pembaringan.


"Bagaimana keadaanmu saat ini, Nak?" Tanya nyonya Warika menyadarkan Muhibbin dari lamunannya.


"Emh ... saya baik-baik saja, Nyonya." Jawab Muhibbin sedikit tergagap dan berusaha duduk dan menggerakkan tubuhnya.


Lelaki itu masih mengingat dengan jelas wajah ibu Sariwati itu.


"Berbaringlah, tak perlu kau bangun dari tempatmu." Ucap Wanita tua itu kembali.


Dengan sedikit kikuk, Muhibbin berbaring kembali.


"Mohon maaf Nyonya dan Tuan-tuan, jika saya tak sopan." Jawab Muhibbin.


"Tak apa, Nak."


"Kau berbaringlah, keadaanmu saat ini masih lemah dan semoga kondisi tubuhmu akan segera kembali seperti semula." Ucap nyonya Warika kembali. Sementara yang lainnya hanya terdiam melihat Muhibbin yang masih terbaring dan nyonya Warika yang kini berdiri di tepian ranjang bambu itu.


Dengan tatapan iba nyonya Warika kembali berkata,


"Maafkan keluarga kami, Nak."


"Kami semua tak tahu dan tak menyangka jika kakak Wati melakukan ini semua padamu dan kami sangat menyesali dengan apa yang kau alami saat ini." Ucap nyonya Warika lirih, ada perasaan bersalah terdengar dari nada suaranya.


"Tak apa, Nyonya."


"Sudah biasa bagi kami orang kecil menerima perlakuan seperti ini."


"Tak ada yang dapat kami perbuat selain pasrah menerima semuanya." Jawab Muhibbin dingin.


Nyonya Warika masgul mendengar sindiran dab jawaban dingin pemuda yang terbaring didepannya.


Suasana kembali hening diruangan itu, namun tiba-tiba nyonya Warika meminta pada gadis kecil berusia kisaran sembilan tahunan yang berdiri disamping Sariwati untuk mendekat ke arahnya.


"Kemarilah, Nduk."


"'Mendekat ke arah eyang putri." Ucap nyonya Warika pada gadis kecil itu.


Dengan ragu-ragu, gadis kecil itu mendekat kearah ranjang dimana neneknya dan Muhibbin berada.


Pandangan Muhibbin terus lekat menatap gadis kecil itu, tanpa terasa butiran air mata jatuh di pipinya. Ingin rasanya dipeluknya gadis kecil yang kini berdiri disamping nyonya Warika.


"Tiara ... salim pada ayahmu." Ucap nyonya Warika kembali dengan suara bergetar, perasaannya saat ini campur aduk melihat pertemuan cucunya dengan lelaki yang terbaring didepannya. Ada keharuan dirasakannya selain kekecewaan mengetahui kenyataan bahwa selama ini putrinya Sariwati telah menutupi kebenaran yang seharusnya diketahuinya sejak awal.


Sementara tuan Bendowo yang sedari tadi terdiam hanya menghela nafas dalam-dalam menyaksikan pemandangan yang terjadi di depannya.


"Mungkin aku selama ini terlalu keras pada Sariwati dan pemuda itu."


"Aku tak akan pernah bisa memisahkan pertalian darah diantara mereka, anak dan cucuku telah begitu lama menjalani penderitaan karena keegoisanku."

__ADS_1


"Dan lelaki itu ... sungguh malang apa yang telah menimpanya." Gumam pewaris Dinasti Harsuto itu dalam hati.


***


__ADS_2