KAHANAN

KAHANAN
CH 88 - BENANG MERAH PART III


__ADS_3

"Baiklah tuan, kali ini saya akan berikan kesempatan pada pemuda itu untuk melaksanakan kewajiban pada kakaknya."


"Namun saya tetap akan membawa pemuda itu untuk menghadap tuan Timoti dan meminta keterangannya seputar Ni Mas Sariwati, saya tak ingin ada yang menghalangi dan ada perdebatan kembali dalam menjalankan tugas saya." ujar Prawira Utama Bhayangkara pada Balian Kanta.


Sementara itu persiapan pemakaman jenazah Cahaya telah dipersiapkan oleh para warga Manguntur di bantu beberapa Pecalang. Liang lahat kembali di gali di surau An Nur bersebelahan dengan pusara bu Suratmi yang masih memerah.


Setelah beberapa lama kembali iring-iringan pembawa jenazah mendekati surau diatas bukit itu. Beberapa orang pembawa keranda terlihat menaiki bukit dan Muhibbin terlihat pula diantara pengusung keranda tersebut. Pemuda itu terlihat sayu dengan wajah tertunduk, hanya berselang sehari pemuda itu kembali melakukan ritual pemakaman sang keluarga yang didahului oleh pemakaman ibu dan kremasi ayah angkatnya serta kini sang kakak tercinta akan dikebumikan, sungguh peristiwa yang menguras kesabaran dan kepasrahan pada Sang Pemilik Kehidupan.


Semua orang hanyut dalam rasa duka yang mendalam tatkala jazad Cahaya mulai diturunkan ke liang lahat, tuan Sirkun kembali menjadi pemimpin prosesi pemakaman. Lelaki paruh baya itu membacakan talqin dan doa mengantar perjalanan terakhir gadis dari Negeri Batu Ular itu.


Rintik hujan mulai turun membasahi bumi Manguntur, gundukan tanah kemerahan bertabur kembang setaman dan aroma setanggi kemenyan menambah sendunya suasana sore di surau An Nur, terlihat para warga mulai meninggalkan tempat tersebut setelah semua rangkaian upacara pemakaman dan hanya menyisakan beberapa orang saja yang masih duduk bersimpuh diantara gundukan tanah didepannya. Setiap pelayat menyalami dan memeluk Muhibbin sebelum benar-benar berlalu dari tempat itu. Kini hanya tersisa Muhibbin dan keempat sahabatnya.


"Bli Ibbin, saya harus segera kembali ke Griya Manuaba."


"Saya turut berduka dengan semua yang terjadi pada andika."


"Saya akan sampaikan pada Bapa Resi mengenai apa yang terjadi."


"Sekali lagi, saya turut berduka dan berbela sungkawa." ujar Arsana cantrik Resi Giri Waja yang ikut menemani Muhibbin dalam kepulangannya ke Manguntur.


Muhibbin menatap lekat sahabat barunya itu. Tatapan penuh kedukaan terpancar dimata Muhibbin.


"Sampaikan pada kekasih saya tentang apa yang terjadi, Bli Arsana."


"Setelah masa berkabung, saya akan menjemputnya dan mengantarkan pada orangtuanya."


"Berikan surat ini padanya." ujar Muhibbin pada Arsana sambil mengulurkan secarik kertas pada cantrik Griya Manuaba itu.


"Sampaikan rasa terimakasih saya pada Bapa Resi, Bli Arsana."


"Setelah semua selesai saya akan segera ke Galuh menemui beliau." pungkasnya kembali.


Muhibbin memeluk tubuh pemuda itu sebelum melangkah keluar dan berlalu dari surau An Nur.


***


Kini hanya tersisa Disya, Diera dan puan Rizza yang menemani Muhibbin di surau An Nur, mata sembab terlihat di ketiga wajah perempuan itu. Selain Muhibbin, Disya adalah salah seorang yang sangat terpukul dengan apa yang menimpa bu Suratmi dan Cahaya. Kedua orang itu sangat dekat dan berarti bagi Disya, Suratmi adalah pengasuhnya sewaktu kecil di perkebunan kopi milik keluarga Harsuto, sedangkan Cahaya adalah sahabat karibnya yang telah di anggab sebagai kakaknya sendiri.


Disya terlihat menghampiri Muhibbin, tiba-tiba tangannya melayang dan menampar wajah pemuda di hadapannya, sontak semua yang ada di tempat itu terkesiap dengan apa yang dilakukan Disya,


"Apa-apaan kau, Dis?" tanya Muhibbin masih dengan wajah terkejut. Pemuda itu meraba pipinya yang terasa panas akibat tamparan Disya sahabatnya.


"Kau lihat, ini akibat kau bergaul dengan wanita jalang itu!" pekik Disya sambil menangis, kembali tangannya meluncur ke wajah Muhibbin namun pemuda itu dengan sigab menangkap tangan Disya.

__ADS_1


"Hentikan, Dis!"


"Cukup!" teriak Muhibbin pada sahabatnya itu. pemuda itu terlihat menangis sambil menggenggam tangan Disya yang bergetar.


"Ini tak ada hubungannya dengan Wati, Dis!"


"Cukup, hentikan tuduhan tak berdasar mu pada Wati." imbuh Muhibbin pada karibnya itu.


"Matamu apa buta, Bin!"


"Kau masih membela wanita jalang itu!"


"Apa kau tak sadar, semua ini terjadi sejak dirimu mengenal wanita binal itu!" pekik Disya tak kalah geram.


"Kau anggab aku bodoh?"


"Aku mendengar sendiri dari para Pecalang ketika Sekar sadar dari pingsannya."


"Semua yang menimpa Emak, Mbak Yu Cahaya, Raya, Sekar serta pak Nengah, itu ulah para Bhayangkara yang mencari wanita jalang itu."


"Dan baru saja yang kau sampaikan pada Arsana tentang Bapa Resi dan keberadaan perempuanmu itu di Galuh menyadarkan ku bahwa kau benar-benar bajing*an."


"Disaat keluargamu meregang nyawa, kau masih ber asik ria dengan perempuan sunde*l itu!"


"Apa kau anggab aku bodoh, hah?" ujar Disya semakin Murka. Gadis itu semakin histeris dan terus meronta melepaskan tangannya dari genggaman Muhibbin, air matanya bercucuran membasahi pipinya yang putih bersih.


"Sudah!"


"Sudah!"


"Kalian tak payah berdebat."


"Saatnya kita pikirkan kondisi Sekar dan Raya."


"Kita harus segera kembali ke Manguntur untuk melihatnya." ujar Diera pada kedua karibnya yang sedang bersitegang.


"Biarkan saja, Di!"


"Biar Disya puas dengan ganjalan hatinya."


"Aku sudah lelah dituduh mementingkan Wati dan mengabaikan keluargaku." ujar Muhibbin lirih, terlihat pemuda itu menyeka air matanya dan melepaskan genggamannya pada Disya.


"Kau memang keras kepala, mata hatimu tertutup karena perempuan binal itu!"

__ADS_1


"Kau abaikan semua kenyataan hanya demi cintamu pada wanita penggoda itu!" pekik Disya masih berapi-api.


"Apa kau tak punya sedikit rasa kepercayaan pada masukan orang-orang terdekatmu!"


"Kau abaikan fakta bahwa semua ini dilakukan oleh keluarga besar wanita jala*ang itu!" seru Disya masih dengan perasaan geram.


"Aku bukannya mengabaikan semua masukan orang-orang termasuk dirimu, Dis!"


"Justru peristiwa ini sangat memukulku, kau tau mereka itu orang-orang yang aku sayangi dan aku hanya memiliki mereka sebagai orang terdekatku."


"Tuduhan mu padaku itu tak berdasar."


"Apalagi masalah Wati, dia tak tahu menahu tentang hal ini."


"Aku yang kehilangan keluargaku!"


"Bukan kamu!" pekik Muhibbin penuh emosi dengan tuduhan Disya.


"Terserah!"


"Kau memang keras kepala."


"Telingamu tuli dan matamu buta oleh cinta!"


"Percuma mulutku berbuih jika hanya kau anggap angin lalu."


"Mulai detik ini urus saja kehidupanmu sendiri dan jangan harap aku akan bersimpati lagi padamu!" pekik Disya kembali pada Muhibbin, gadis itu terlihat menangis dan benar-benar geram dengan sikap Muhibbin yang selalu bersebrangan dengan dirinya, apalagi mengenai Sariwati.


"Hai, sabar lah!"


"Apahal kalian ini,"


"Tak baiklah kalian bergaduh di depan pusara yang masih basah ini."


"Tahanlah amarah kalian berdua." kini puan Rizza menyela perdebatan kedua orang didepannya.


"Mari kita kembali ke Manguntur saja,"


"Alangkah eloknya bila masa-masa berat ini kalian bisa saling mendukung." ujar wanita dari Negeri Serumpun itu kembali.


"Sudahlah kak, saya sudah lelah!"


"Terserah manusia itu sekarang, saya tak akan perduli lagi dengannya." seru Disya pada puan Rizza sambil berlalu dari surau An Nur.

__ADS_1


Diera dan puan Rizza hanya menggelengkan kepala melihat kepergian Disya, keduanya pun menyusul gadis itu, sementara Muhibbin masih bersimpuh di pusara ibu dan kakaknya.


*****


__ADS_2