
Disya sesenggukan di pelukan Suratmi, tangisannya seolah mewakili apa yang selama ini di alaminya. Pertemuannya dengan wanita tua itu seolah-olah mengobati segala kerinduannya pada almarhum kedua orang tuanya yang telah lama meninggal. Beban yang dipanggulnya seakan menguap bersama rengkuhan lembut Suratmi yang juga pengasuhnya saat kecil.
Keharuan di ruangan itu menyebar bersama udara siang yang cukup terik, sang waktu seolah menjadi saksi dimana sebuah kisah anak manusia yang berjibaku dengan takdir yang telah ditetapkan Sang Maha Kuasa dan dipertemukan kembali di sebuah Negeri indah di timur pulau Jelai.
"Mak, bagaimana seandainya Emak, Mak Yu Cahaya dan Raya tinggal bersama ku di kota?"
"Ayah Sirkun pasti tak akan keberatan."
"Aku akan merasa terhormat bisa turut merawat Emak sebagai balas budi ku karena bagaimanapun Emak yang dulu mengasuhku ketika di Sektor Tujuh." pinta Disya pada Suratmi, di genggamnya erat-erat tangan renta itu dan sesekali pandangannya tertuju pada Cahaya dan Raya Suci untuk meminta persetujuannya.
"Tak perlu, Non."
"Biarlah Emak disini, kalaupun saatnya kondisi ku telah pulih, Emak tak ingin merepotkan pak Nengah sekeluarga dan kalian semua."
"Emak akan tinggal di tempat Ibbin." ujar Suratmi lembut.
Disya hanya bisa menatap sendu bekas pengasuhnya dulu.
"Tapi ijinkan aku turut merawat Emak, walaupun Emak tak ingin tinggal denganku." seru Disya pada Suratmi.
"Dan untuk Raya, biarkan Raya masuk pendidikan di Pasraman milik Ayah."
"Biar bagaimana pun Raya harus mendapatkan pendidikan."
"Aku mohon, Mak!" pungkasnya kembali.
Suratmi menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab permintaan momongannya.
"Kalau tentang hal itu, Emak serahkan pada Cahaya dan Ibbin bagaimana enaknya."
"Emak rasa mereka tak akan keberatan." jawab Suratmi pada Disya.
Cahaya yang menyimak obrolan ibunya dan Disya hanya mengangguk kecil tatkala tatapan matanya beradu dengan pandangan Disya.
***
Sementara di Kota Negeri Pantai, tepatnya di Salah satu bangunan termegah kota itu.
"Bagaimana semua itu bisa terjadi, Jero Mekel?" ujar lelaki berkharisma pada tamunya. Terlihat wajahnya penuh rasa tanda tanya.
"Tuan masih ingat dengan peristiwa penyerangan banjar Manguntur Satu setengah tahun lalu?" ujar Jero Perbekel Nengah Wirata pada lelaki di hadapannya sebelum melanjutkan ceritanya.
Lelaki berkharisma itu tak lain tuan Sirkun, dia menganggukan kepalanya mengamini pertanyaan sang kepala desa Batubulan.
"Saya tak akan melupakan peristiwa pedih itu, Jero."
"Apa ada hubungan tentang semua yang sedang menimpa keluargamu dan peristiwa berdarah itu?" pungkas tuan Sirkun.
Jero Perbekel Nengah Wirata pun mulai bercerita tentang yang di alami keluarganya, mulai hubungan Muhibbin dengan Sariwati sampai terlukanya ibu Suratmi dengan bukti-bukti yang mengarah pada gerombolan Garuda Merah, sebuah organisasi pengamanan yang terdiri dari mantan pasukan Darmayudha yang berada dibawah kendali keluarga dinasti Harsuto.
Mendengar penuturan pak Nengah, wajah tuan Sirkun berubah seketika. Sorot mata yang awalnya tenang berkharisma berubah penuh kecemasan dan kekhawatiran.
"Sungguh ini permasalahan pelik, Jero."
"Karena hal ini berkaitan dengan keluarga besar mantan orang terkuat di Negeri Zamrud dan gadis itu putri dari tuan Timoti yang di besarkan oleh tuan Bendowo, sang pewaris dinasti Garuda Emas seperti yang anda ceritakan."
"Hal ini tak akan mudah, apalagi sekarang gadis itu kabur dari rumahnya bersama anak angkat mu."
"Justru itu akan memperkeruh suasana." pungkas tuan Sirkun pada pak Nengah.
Lelaki itu menghela nafas dalam-dalam dan berusaha merekonstruksi semua cerita pak Nengah di dalam kepalanya.
"Saya tau, Tuan."
"Namun di satu sisi, ibu Suratmi tak ingin melihat anaknya Muhibbin bersedih, bagaimana pun selama ini anak angkat saya itu mengorbankan masa mudanya demi menghidupi dan mengambil alih beban sebagai kepala rumah tangga di keluarganya.
Saya pun tak tega dengan Muhibbin, walaupun resiko berurusan dengan keluarga tuan gubernur sudah ada di depan mata."
"Tadi sepanjang saya berangkat kemari, saya lihat pemeriksaan di setiap perbatasan wilayah oleh pasukan Bhayangkara sedang terjadi."
"Saya berkeyakinan, ini ada kaitan dengan kaburnya putri tuan Timoti, karena tak biasanya para Bhayangkara melakukan pemeriksaan di setiap perbatasan." ujar pak Nengah pada tuan Sirkun.
Pemimpin desa Batubulan itu
terlihat ragu dengan apa yang ingin di katakannya lebih lanjut. Melihat hal itu, tuan Sirkun masgul dan bertanya pada pak Nengah.
"Saya tau anda khawatir tentang masalah ini, Jero."
"Lalu apa yang bisa saya bantu?" ujar tuan Sirkun singkat. Pengusaha sukses itu memandang lekat ke arah pak Nengah.
"Sebetulnya kami sudah terlanjur kecewa dengan perlakuan keluarga tuan Timoti, Tuan."
"Penghinaan tuan Bendowo pada Muhibbin sekeluarga mengusik nurani saya."
"Namun ini demi kebaikan bersama, saya harap tuan Sirkun menjembatani dua keluarga ini."
"Saya tau, keputusan yang diambil tuan Bendowo sekeluarga tak bisa di anulir dan di ganggu gugat."
"Namun kepergian Ni Mas Sariwati tak ada hubungannya dengan Muhibbin, itu murni keinginan gadis itu."
__ADS_1
"Muhibbin hanya mengantarkannya ke suatu tempat dan anak angkat saya itu akan menitipkan Ni Mas Wati disana sampai keadaan lebih tenang." ujar pak Nengah pada tuan Sirkun.
"Tentang keterlibatan Garuda Merah harus di dalami oleh tuan gubernur selaku pengayom di negeri ini."
"Saya tak ingin ini menjadi preseden buruk yang akan menimbulkan gejolak di Negeri Pantai." imbuhnya kembali.
"Hanya suara tuan Sirkun yang bisa didengar oleh tuan gubernur saat ini." pungkas pak Nengah, tatapannya sayu dengan wajah penuh pengharapan.
"Baiklah, Jero."
"Saya akan usahakan semampu saya."
"Namun suatu saat bila saya memerlukan bukti dan saksi untuk masalah gerombolan Garuda merah, saya harap Jero Perbekel bersedia menghadirkan semuanya."
"Saya tak tau mengapa gerombolan Garuda Merah menginginkan benda milik keluarga pemuda itu, yang jelas masalah ini tak sesederhana yang kita lihat.
Saya akan menyampaikan ini pada tuan gubernur untuk dijadikan perhatian dan penyelidikan pihak Bhayangkara." ujar tuan Sirkun pada tamu di depannya.
"Lalu dimana sekarang keberadaan anak angkat anda, Jero?" tanya tuan Sirkun kembali.
Pak Nengah menghela nafas,
"Dia tadi pagi mengantar Ni Mas Sariwati ke Griya Manuaba di banjar Galuh, Tuan."
"Saya rasa saat ini mereka sudah sampai disana dan saya berpesan pada anak angkat saya untuk segera kembali ke Manguntur setelah selesai urusannya karena saya tak ingin Muhibbin terkena masalah dan dianggap melarikan anak orang, Tuan." jawab pak Nengah pada tuan Sirkun.
"Ya sudah tak apa-apa jika keberadaan mereka atas sepengetahuan pak Jero."
"Sekarang pak Jero lebih baik segera pulang ke Manguntur, saya khawatir pasukan Bhayangkara mendatangi kediaman Jero dan di sana tak ada yang bisa menjelaskan keadaannya." pinta tuan Sirkun.
Jero Perbekel menganggukkan kepala dan tak berapa lama lelaki paruh baya itu pun meninggalkan kediaman tuan Sirkun.
***
Hari pun beranjak sore, udara terasa lembab menandakan hujan akan turun dengan barisan awan berarak di atas langit Negeri Pantai. Sepasang muda mudi terlihat berjalan menyusuri rimbunnya hutan bambu yang menjadi pembatas antar wilayah banjar di desa Batubulan.
"Bagaimana, apa kau lelah, Wati?" tanya Muhibbin pada gadis yang berjalan disebelahnya.
Pemuda itu terlihat memanggul tas dan bungkusan yang di bawa oleh Sariwati, sedangkan sang gadis dengan muka letih berjalan pelan menahan penat di tubuhnya.
"Aku baik-baik saja, Bin."
"Sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan kita agar tak kemalaman sampai di banjar Galuh." pungkas perempuan itu lirih.
"Tapi kalau kau merasa lelah, kita berhenti saja sebentar untuk beristirahat." ujar Muhibbin kembali namun gadis di sebelahnya hanya menggelengkan kepala.
"Rasanya didepan kita sudah terlihat sebuah jalan raya." pungkas gadis itu, tangannya menunjuk ke satu arah yang lamat-lamat terlihat sebuah jalan raya yang menghubungkan ke sebuah pemukiman penduduk.
"Betul, Wati."
"Kita sudah hampir memasuki wilayah banjar galuh." ujar Muhibbin.
kedua orang itu bergegas memperlebar langkahnya menembus rimbunnya hutan bambu yang di laluinya. Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi tanah Negeri Pantai dan tak lama tetesan air hujan semakin deras.
"Ayo Wati, cepat!"
"Hujan semakin deras." seru Muhibbin sedikit berlari sambil memanggul bawaannya di pundaknya, Sariwati mengekor di belakang pemuda itu.
Tak berapa lama keduanya sudah meninggalkan hutan bambu dan menapaki jalanan perkampungan.
"Itu ada sebuah rumah, kita bisa menumpang berteduh sebentar sambil bertanya dimana kediaman Resi Giri Waja." ujar Muhibbin kembali, sambil berlari kecil di gandengnya tangan kekasihnya menembus guyuran hujan yang semakin lebat.
Langit senja kian pekat tertutup mendung menghitam dan sesekali kilatan petir melintas di angkasa, bersamaan dengan bunyi gemericik dari atap serambi rumah sederhana itu.
Tiba-tiba sebuah kepala melongok di balik jendela melihat dua orang muda mudi yang berteduh di depan rumahnya.
Pintu terbuka dan seorang perempuan tua renta keluar dari dalam rumah sederhana itu.
"Hem-hem," suara wanita tua itu mendeham mengagetkan kedua orang dihadapannya yang masih asik melihat tetesan air hujan di sela-sela barisan genting.
"Oh, emm, Swastiastu Niang."
"Mohon maaf saya menumpang berteduh sebentar di rumah Niang." ujar Muhibbin sopan pada wanita tua di hadapannya.
"Oh tidak apa-apa."
"kalian siapa dan mau kemana?" tanya wanita tua itu pada kedua muda-mudi di depannya.
Tatapannya lekat memandang ke arah Sariwati yang terlihat menggigil kedinginan dengan pakaian yang mulai basah akibat air hujan.
"Tapi tunggu dulu sebentar!" ujar wanita tua itu kembali sebelum melangkah kedalam rumahnya. Tak berapa lama wanita tua itu kembali dengan membawa selembar kain jarik di tangannya dan di serahkan pada Sariwati yang masih kedinginan di depannya.
"Ini pakailah, keringkan badanmu, Ning." tangan rentanya mengulurkan kain jarik itu pada Sariwati.
"Terimakasih, Niang."
"Gak usah, kami di berikan ijin berteduh sebentar saja sudah terimakasih." tolak Sariwati dengan halus.
"Gak apa, pakailah."
__ADS_1
"Keringkan badan mu, Ning."
"Oh ya, kalian ini siapa? dari mana dan hendak kemana?" imbuh wanita tua itu kembali.
"Kami ini dari Manguntur, Niang."
"Ini Sariwati, teman saya."
"Dan saya Muhibbin." jawab Muhibbin memperkenalkan diri pada wanita tua itu.
"Kami hendak ke Griya Manuaba, tempat kediaman Sri Resi Giri Waja." imbuh Muhibbin kembali, sementara Sariwati hanya tersenyum tipis sambil memakai kain jarik pemberian wanita tua itu untuk mengurangi rasa dingin akibat hujan.
"Dari Manguntur? kalian naik apa kemari?"
"Oh ya, lebih baik kita ngobrol didalam saja."
"Diluar sini dingin, kasihan teman wanita mu ini terlihat kedinginan." seru wanita tua itu kembali.
Muhibbin memandang ke arah Sariwati meminta persetujuan atas tawaran nenek itu.
Sariwati mengangguk kecil dan keduanya mengikuti langkah wanita tua itu kedalam rumah.
"Duduklah, aku akan buatkan minuman hangat untuk kalian." ujar wanita tua itu.
"Gak perlu repot-repot, Niang." jawab Muhibbin dan Sariwati hampir bersamaan.
"Gak apa-apa, apalah artinya sebuah air hangat. Aku tak merasa direpotkan." pungkas wanita tua itu kembali sambil melangkah ke arah bagian belakang rumahnya.
Tak selang berapa lama sang wanita tua kembali dengan dua buah gelas berisi minuman hangat yang di bawanya di atas nampan.
"Mari silahkan di minum supaya hawa dingin di tubuh kalian sedikit berkurang." wanita tua itu mempersilahkan kedua muda mudi di hadapannya.
Muhibbin dan Sariwati menganggukkan kepala dan meminum suguhan wanita tua itu.
"Terimakasih Niang, atas kebaikan Niang pada kami," ujar Muhibbin memandang ke arah wanita tua itu.
Dengan tersenyum sang pemilik rumah menganggukkan kepala dan berkata,
"Griya Manuaba masih jauh dari sini,"
"Tempat itu ada di pinggir perbatasan Galuh."
"Kalian harus melewati pematang sawah di ujung banjar Galuh ke arah timur dan sedikit menaiki bukit yang ada disana."
"Di balik bukit itulah kediaman Sri Resi." ujar wanita tua itu, senyum lembut tersungging di bibir tuanya.
"oh begitu ya, Niang."
"Sekali lagi terimakasih atas bantuan dan informasi dari Niang."
"Mohon maaf kalau boleh tau nama Niang, kami berhadapan dengan siapa, nggih?" tanya Muhibbin sopan pada wanita tua itu.
"Oh ya, aku lupa tak mengenalkan diri pada kalian."
"Namaku Anak Agung Estri Sumirah."
"Orang-orang disini biasa memanggilku Gung Niang Mirah." jawab wanita tua itu memperkenalkan diri.
"Kalau boleh Niang tau, ada keperluan apa kalian ke Griya Manuaba?"
"Dan jika menilik dari logat kalian, aku rasa kalian bukan asli orang Negeri Pantai." tanya Gung Niang Mirah menyelidik, tatapan matanya tenang memandang ke arah kedua tamunya.
"Benar Niang, saya dan Wati berasal dari Dauh Tukad."
"Dan kami ingin menjumpai Sri Resi atas anjuran orang yang telah menolong keluarga saya." ujar Muhibbin singkat.
"Oh begitu, ya?"
"Ya sudah, tunggulah sampai hujan reda untuk pergi ke sana, kasihan kondisi teman wanita mu."
"Dia terlihat kelelahan dan kedinginan atau jika kalian mau bisa bermalam disini sampai besok pagi."
"Sekarang sudah mulai menjelang petang apalagi dengan kondisi seperti ini pasti jalanan menuju ke Griya Manuaba licin akibat hujan." ujar Gung Niang Mirah pada kedua tamunya.
"Tak apa, Niang."
"Kami akan lanjutkan perjalanan setelah hujan reda."
"Kami terimakasih atas tumpangan berteduh di tempat ini." ujar Sariwati turut menimpali.
Suasana diluar masih diguyur hujan deras, langit di banjar Galuh mulai gelap menjelang petang.
*****
*Pasraman : tempat pendidikan untuk anak-anak Negeri Pantai
*Niang : Nenek
*Dauh Tukad : Sebutan Negeri seberang laut dari Negeri Pantai
__ADS_1