KAHANAN

KAHANAN
CH 100 - KEPUTUSAN BESAR PART III


__ADS_3

Derap langkah kaki memecah kesunyian lorong penjara bawah tanah yang ada di pusat komando Bhayangkara, sinar matahari tak bisa menembus ruangan itu dan hanya temaramnya obor yang di gunakan untuk penerangan ruangan.


Bau menyengat dan udara lembab membuat suasana pengap ruangan bawah tanah tersebut, yang di bangun khusus bagi para Bromocorah dan penjahat kelas kakap di Negeri Pantai.


"Buka pintunya, Penjaga!" ujar seorang lelaki yang tak lain adalah tuan Timoti, pria itu terlihat bersama seorang wanita dengan kerudung dan penutup muka.


Penjaga itu segera membuka pintu lorong ruangan bawah tanak itu. Keduanya melangkah ke ujung lorong dimana terdapat satu ruangan yang gelap tanpa penerangan. Tangan tuan Timoti terlihat memutar anak kunci yang di pegangnya, derik pintu jeruji besi yang di buka oleh pimpinan Negeri Pantai itu kembali memecah keheningan tempat tersebut.


Tuan Timoti terlihat menyalakan obor yang ada di sudut ruangan, nampak tubuh kurus seorang pemuda dengan kondisi tangan terikat rantai dan menggantung di tengah ruangan, pemuda itu terlihat lemas dengan kondisi bagian iganya terbalut perban putih yang melilit di tubuhnya.


"Tim, kau bisa tinggalkan aku berdua bersama Pemuda ini!"


"Segeralah temui tuan Sirkun untuk mempersiapkan semuanya, kau tak usah mengkhawatirkan ku."


"Nanti aku bisa pulang sendiri atau minta di antar para Bhayangkara." ujar wanita berkerudung dengan tutup wajah itu pada tuan Timoti.


"Apa Mbak Yu yakin tak ingin aku temani?" tanya tuan Timoti pada wanita di depannya.


"Sudahlah, pergilah dan segera temui tuan Sirkun."


"Aku tak apa-apa." jawab Wanita itu yang tak lain adalah nyonya Warika.


"Tapi sebelum kau pergi, apa kau bisa melepaskan ikatan tangan anak itu? kasihan dia, Tim." imbuh nyonya Warika pada adiknya.


"Baiklah Mbak Yu, lagi pula urusan pemuda itu sudah ku anggap selesai dan sebenarnya aku juga akan melepaskannya segera." jawab tuan Timoti sambil melangkah ke arah pemuda yang dengan tangan terikat menggantung di tengah ruangan tahanan.


Tubuh Pemuda itu lunglai dan wajahnya terlihat pucat, sedangkan sang Pemuda masih dalam kondisi setengah tersadar. Tuan Timoti memapahnya kesudut ruangan dan tubuh Pemuda itu di sandarkan di tembok bata ruangan tahanan itu.


Nyonya Warika mendekat, di ulurkan sebuah bumbung bambu berisi air yang dibawanya, dengan perlahan wanita tua itu memberi minum Pemuda yang ada didepannya.


"Tim, pergilah!"


"Tinggalkan aku berdua dengan Pemuda ini." ujar nyonya Warika pada adiknya. Pemimpin Negeri Pantai itu menganggukkan kepala dan bangkit meninggalkan nyonya Warika bersama sang Pemuda itu.


Sepeninggal tuan Timoti dari ruangan bawah tanah itu, nyonya Warika merebahkan kepala sang Pemuda di pangkuannya, lelaki itu masih belum tersadar dari pingsannya.


Dengan lembut nyonya Warika membelai rambut pemuda itu, ada rasa iba menyeruak di hatinya, tanpa terasa buliran-buliran bening menetes dari sudut mata keriputnya.


Tiba-tiba Pemuda yang terbaring di pangkuan nyonya Warika itupun terbangun,


"Dimana aku?"


"Siapa anda, Ibu?" tanya Pemuda itu pada nyonya Warika, lelaki itu berusaha bangkit namun rasa nyeri di tulang iganya membuatnya merintih kesakitan.


"Tetaplah berbaring, Nak!"


"Jangan kamu paksakan," ujar nyonya Warika menahan pundak pemuda itu agar tetap berbaring.


"Maaf Ibu, saya merasa ini tak sopan." ujar Pemuda itu kembali, kini dengan sekuat tenaga lelaki itu berusaha bangkit dan duduk bersandar di tembok bata ruangan tahanan itu, nafasnya memburu dan sesekali kembali terdengar erangan kesakitan dari bibirnya.

__ADS_1


Dengan mengatur nafas, Pemuda itu pun berkata,


"Maaf, Ibu ini siapa?"


"Mengapa berada disini?" tanya Pemuda itu pada Wanita tua berkerudung di sampingnya.


Nyonya Warika membuka cadar yang menutupi wajahnya dan alangkah terkejutnya Pemuda itu setelah melihat wajah wanita tua didekatnya.


"Nyonya!"


"Bukankah anda Ibu-"


"Benar, Nak."


"Aku Ibu Warika, orang tua Wati." jawab nyonya Warika memotong pembicaraan Pemuda disampingnya.


"Bagaimana kondisi luka dalam mu, Nak?" tanya wanita tua itu pada Pemuda yang tak lain adalah Muhibbin di sampingnya.


"Saya tak apa-apa, Nyonya." jawab Muhibbin sambil meringis menahan sakit.


"Jangan kau panggil aku Nyonya, panggillah aku Ibu." balas nyonya Warika pada Muhibbin.


"Bagaimana Nyo- eh Ibu bisa berada di sini?"


"Tak seharusnya Ibu berada ditempat kotor ini." kembali Muhibbin bertanya pada nyonya Warika.


"Kau tak perlu merisaukan hal itu, Ibu kemari hanya ingin menjenguk mu dan turut berbela sungkawa atas apa yang menimpa keluarga mu." ujar Ibu Sariwati itu.


Nyonya Warika menepuk-nepuk pundak Muhibbin dengan lembut, isakan tangisnya pun berbaur dengan tangisan Pemuda didekatnya,


"Tabahkan hatimu, Cah Bagus."


"Ibu doakan, semoga semua keluargamu mendapat tempat yang layak disisiNya." ujar nyonya Warika menghibur Muhibbin.


Detik pun berlalu, kembali kesunyian menggelayuti ruangan itu. Tiba-tiba suara nyonya Warika memecah kesunyian penjara bawah tanah itu.


"Kedatangan Ibu kemari selain menyampaikan bela sungkawa padamu, juga memohon pintu maaf darimu atas perlakuan Papi Wati dan kami semua yang telah menyakiti hatimu."


"Hal ini pula berhubungan dengan Wati." ujar wanita ningrat itu.


Wajah Muhibbin terangkat menatap nyonya Warika didekatnya,


"Sejak kejadian itu, saya dan keluarga sudah memaafkan semuanya, Ibu."


"Sebelum tiada, Ibu saya berpesan agar menanggalkan dendam walaupun kita disakiti oleh orang lain karena Gusti Ingkang Kuwaos boten Sare."


"Dan tentang Wati, Putri ibu saat ini berada di banjar Galuh di Pasraman Bapa Resi Giri Waja di Griya Manuaba."


"Saya sudah berpesan padanya untuk menunggu dan saya akan mengantarkannya pulang kerumah." pungkas Muhibbin pada nyonya Warika.

__ADS_1


"Ibu tau dimana keberadaan Wati sekarang."


"Namun bukan itu yang Ibu maksud, Cah Bagus." terlihat nyonya Warika menghela nafas dan berusaha berhati-hati menyampaikan apa yang menjadi tujuan dirinya menjenguk Muhibbin saat ini.


"Ibu mohon keikhlasan mu, Nak."


"Lepaskan dan lupakan Wati."


"Carilah pengganti dirinya yang lebih baik."


"Ibu akan memberikan apa yang kau mau, asalkan kau ikhlaskan Putri Ibu untuk menikah dengan tunangannya yang telah kami jodohkan sebelumnya." ujar nyonya Warika kembali.


Bagaikan disambar petir, Muhibbin terperangah dan terdiam mendengar apa yang diutarakan oleh Ibu Sariwati itu. Dengan mengumpulkan ketenangan diantara kekecewaan yang dirasakannya, Pemuda itu berkata,


"Ibu tak perlu khawatir tentang hal itu."


"Tak perlu Ibu memberi saya harta ataupun tahta untuk mengabulkan permintaan Ibu."


"Saya akan dengan suka rela melepaskan Wati untuk menjadi istri orang lain."


"Saya diajarkan oleh kedua orang tua dan guru saya untuk tidak merengek dan mengharap belas kasihan yang sekiranya memang bukan menjadi hak saya."


"Pantang bagi saya menerima belas kasihan ataupun harta dan kedudukan dengan menukar kehormatan saya dan keluarga."


"Tempat ini rasanya tak layak untuk Ibu berlama-lama disini."


"Saya ingin istirahat dan tolong tinggalkan saya sendiri." pungkas Muhibbin pada nyonya Warika. Wanita tua itu hanya terdiam sambil menyeka air matanya, dirinya seolah kehilangan kata-kata berhadapan dengan pemuda didepannya.


Tiba-tiba Muhibbin berteriak,


"Penjaga!"


"Cepat kemari."


"Nyonya ini ingin keluar!"


Tak berapa lama setelah mendengar teriakan Muhibnin, dua orang penjaga ruang tahanan yang sedari tadi ditugaskan oleh tuan Timoti untuk mengawasi dan menjaga nyonya Warika segera datang, dibukanya pintu besi ruangan itu.


Dengan wajah sembab dibalik cadarnya, nyonya Warika melangkah keluar meninggalkan Muhibbin, Pemuda itu hanya berbaring meringkuk memunggungi wanita tua itu sambil menangis terisak menahan rasa geram dan kekecewaan yang didapatnya tanpa menoleh dan melihat kepergian nyonya Warika.


*****


Noted :


Terimakasih saya sampaikan kepada seluruh pembaca novel KAHANAN yang saat ini sudah memasuki CH 100 setelah kurang lebih dua bulan lalu awal ditulis.


Tanpa dukungan dan suport kalian semua, novel ini tak ada apa-apanya.


Saya akan berusaha mengupdate CH-CH berikutnya sesuai kemampuan saya hingga novel ini tamat dan mohon maklum adanya jika ada keterlambatan dalam updatenya karena saya juga memiliki kegiatan RL yang perlu di perhatikan pula seiring bertambahnya tanggung jawab dalam keseharian saya dan dalam menghadapi masa-masa sekarang ini.

__ADS_1


Tetap semangat walaupun kehidupan saat ini berat, selalu berdoa pada Yang Maha Kuasa agar kita semua selalu di lindungiNya, jaga kesehatan, tetap patuhi PROKES dimasa-masa pandemi saat ini.. BADAI PASTI BERLALU.


Salam🙏


__ADS_2