
"Kau!"
"We! lepaskan aku!"
"Apa salahku padamu, We?" serunya pada lelaki yang dikenalinya itu.
"Lepaskan!"
"Lepaskan aku, We" jerit wanita itu kembali pada lelaki paruh baya dengan keris berlumuran darah ditangannya.
Namun lelaki tua itu tak bergeming dan terus merangsek mendekat kearah sang wanita.
"Maaf, Ni Mas."
"Saya tidak bisa mengabulkan permintaan Ni Mas."
"Ini demi masa depan keluarga besar anda, Ni Mas!"
"Saya harus membunuh Ni Mas." ujar lelaki itu kembali, dengan wajah dingin dia melangkah mendekati wanita yang terikat di tiang.
Sementara dua orang masuk kedalam ruangan dan berteriak ke arah lelaki tersebut,
"Apa yang kau lakukan, We?"
"Ada apa ini?" ujar salah satu pria bertudung.
"Iya We, apa yang terjadi?"
"Lanus! bangun Lanus!" teriak salah satunya sambil menggoyangkan jasad Lanus yang tergeletak bersimbah darah.
"We! mengapa kau bunuh Lanus?"
"Apa salah dia?" ujar pria bertudung yang menggoyangkan tubuh lanus baru saja.
"Diam kalian!"
"Ini demi majikan kita."
"Wanita ini adalah penghalang terbesar masa depan majikan kita, kita harus singkirkan dia!"
"Atau kalian akan bernasib sama seperti Lanus yang telah menentang tujuan besar ini!" hardik lelaki paruh baya itu pada kedua rekannya, tatapannya tajam mengintimidasi, lelaki tua tersebut membuat kedua pria bertudung itu bergidik dan diam tercekat.
Kembali lelaki tua itu melangkah mendekati wanita yang terikat di tengah tiang. Wanita itu meronta berusaha melepaskan diri dan sorot matanya menyiratkan ketakutan tatkala melihat wajah dingin pria yang mendekatinya.
"Apa yang akan kau lakukan!"
"We, aku mohon ... "
"Lepaskan aku!"
"Aku akan memberimu hadiah besar jika kau melepaskan aku!" seru wanita itu mengiba dan berusaha mempengaruhi pria yang mendekat dihadapannya namun lelaki itu tak menghiraukan seruan wanita tersebut.
Masih dengan wajah dingin dan tatapan penuh kebencian, lelaki itu menghujamkan keris di tangannya tepat pada dada sang wanita,
"Jangan, We!"
"Tidak!"
"Jangan!"
"Aahhhhhhh!" teriak wanita itu tatkala keris ditangan lelaki tua tersebut tepat menancap di dadanya.
"Habsari!"
"Habsari! Nduk ... bangun!"
"Habsari bangun!" seru nyonya Warika sambil menggoyangkan tubuh putri sulungnya yang berteriak histeris dalam keadaan tertidur.
__ADS_1
"Habsari, bangun!"
"Bangun, Nak!"
"Apa yang terjadi sampai kau berteriak mengagetkan seisi rumah seperti itu?" kembali nyonya Warika bertanya.
Dengan nafas tersengal
Habsari menjawab,
"Mami!"
"Tolong aku, Mi?"
"Aku takut Mi!" ujar Habsari dengan wajah pucat terbangun dari tidurnya, keringat dingin nampak terlihat membasahi dahinya, dipeluknya tubuh sang ibu erat-erat.
"Apa yang terjadi?"
"Apa yang kau impikan, Nak?"
"Bangun dan duduklah." seru nyonya Warika merapikan gaun tidur yang dikenakan Habsari sambil membantu putri sulungnya duduk di sandaran dipan.
Wanita paruh baya itu kemudian melangkah ke arah jendela dan membukanya, angin malam semilir berhembus memasuki ruangan, nampak nyonya Warika mengambil segelas air di atas meja yang selalu tersedia di ruangan tersebut, di ulurkannya gelas itu pada sang anak.
Dengan wajah yang masih menyisakan rasa ketakutan, Habsari meraih gelas dari tangan sang ibu, wanita itu terlihat terburu-buru meminum air didalam gelas sehingga membuatnya tersedak.
"Pelan-pelan, Nak!"
"Tak perlu buru-buru." ujar wanita paruh baya itu.
Sesaat kemudian nyonya Warika kembali berkata,
"Apa yang membuatmu histeris ketakutan seperti ini, Nak?" ucap nyonya Warika.
Dengan mengatur nafas yang masih tersengal, Habsari berusaha mencerna apa yang di alaminya didalam mimpi.
Dengan wajah pucat dan suara terbata-bata dia pun bercerita perihal yang terjadi dalam mimpinya.
Dia mengingat-ingat satu persatu kejadian dalam mimpinya. Tiga orang lelaki bertudung dan seorang pria paruh baya menyekapnya disebuah rumah tua dipinggiran Banjar Manguntur dan salah satu diantara penculiknya dikenalnya sebagai We Landep, pembantu setia mendiang tuan Timoti sekaligus tukang kebun dirumahnya.
Setelah mendengar penuturan putri sulungnya, nyonya Warika tersenyum teduh pada sang anak, di belainya rambut Habsari sambil berkata,
"Itu hanya mimpi, Habsari!"
"Tak mungkin We Landep berani berbuat nekat seperti itu."
"Apalagi kau tau, pembantu itu hanya seorang lelaki tua dan membantu merawat Tiara semenjak adikmu sakit,"
"Mami pun tak melihat ada tampang seorang penculik di dirinya." ujar nyonya Warika menahan tawanya.
Habsari nampak terdiam sambil sesekali menyeka keringat di dahinya.
"Walaupun dia sangat setia pada mendiang Timoti, lelaki tua itu tak akan berani bertindak diluar batasannya."
"Mungkin kau terlalu lelah seharian bekerja."
"Sehingga keadaan itu terbawa kedalam mimpimu."
"Mami lihat kau akhir-akhir ini sangat sibuk sekali sehingga tak ada waktu untuk kita sekedar berbincang walau sejenak." pungkas wanita tua itu pada sang anak.
Pandangan Habsari menerawang ke arah jendela kamar yang dibuka oleh sang ibu agar udara segar masuk kedalam ruangan itu.
"Ini semua gara-gara Paman dan Anak tak tau diri itu!"
"Semua usahaku sia-sia akibat ulah Paman dan Wati."
"Semua kegiatan yang menyangkut keluarga Garuda Emas diambil alih oleh Papi." gerutu Habsari pada sang ibu.
__ADS_1
"Bahkan usaha ku selama ini mengelola semua aset mendiang Eyang tak ada nilainya di mata kalian!"
"Hanya gara-gara kejadian sepele itu semua hak ku dicabut oleh Papi itupun karena hasutan Paman." imbuh Habsari.
Nyonya Warika terlihat menghela nafas, wanita tua itu kini bangkit dari duduknya.
"Kau kira kekacauan yang kau lakukan dengan menjadi otak pembunuhan terhadap keluarga Muhibbin dan Jero Perbekel satu dasa warsa yang lalu itu hal sepele?"
"Sadar Habsari, sadar!"
"Yang kau lakukan itu kelewat batas."
"Jika kau bukan keturunan keluarga Harsuto mungkin hukuman berat sudah kau terima dan bisa jadi hukuman mati yang akan kau dapat!" hardik nyonya Warika pada putri sulungnya.
"Masih untung Papi dan Paman mu melindungi mu sehingga kau terbebas dari jeratan hukum."
"Mami mohon, ubahlah sikap dan keras kepala mu dalam bertindak sehingga tak merugikan orang lain, Habsari."
"Papi dan Mami sudah tua, siapa lagi yang akan melindungi mu jika kami sudah tiada?"
"Camkan kata-kata Mami itu, Habsari." pungkas nyonya Warika pada putri sulungnya, dengan wajah kecewa wanita tua itu menatap putrinya.
"Di saat masa-masa sulitku dulu, kalian malah membuang ku."
"Dimata kalian memang aku tak ada artinya dan Wati yang selalu di anak emaskan."
"Saat aku memulai usaha sendiri kalian malah mencurigai ku."
"Di saat aku meneruskan usaha yang dirintis Paman dengan rekan kerjanya dan mulai menampakkan hasil, semua diambil alih tanpa persetujuanku."
"Mengapa semua ketidak adilan selalu menimpaku, Mi?" pekik Habsari pada sang ibu.
Nyonya Warika lekat memandang anaknya.
"Tadi siang tuan Sirkun datang ke pengolahan kayu."
"Secara sepihak dia mengambil keputusan tanpa meminta pendapatku!"
"Pengusaha tua bangka itu sekarang mempercayakan pengelolaan usaha kayu kita pada anak kampungan itu!" ujar Habsari kembali, kini nampak kegusaran diwajahnya.
"Jaga ucapanmu, Habsari."
"Tak sopan menyebut orang yang lebih tua dengan perkataan seperti itu."
"Anak kampungan mana yang kau maksud , Habsari?"
"Apa Muhibbin yang kau maksud itu?"
Habsari terdiam tak menjawab pertanyaan nyonya Warika, wanita itu hanya mendengus dan wajah pucatnya mengisyaratkan rasa geram tatkala mengingat usaha pengolahan kayu yang digelutinya kini beralih pada Muhibbin selaku wakil dari tuan Sirkun yang tak lain pemilik modal terbesar usaha patungan antara mendiang tuan Timoti bersama pengusaha dari Negeri Kelapa tersebut.
Melihat tingkah putrinya yang terlihat kesal, nyonya Warika paham siapa yang dimaksud oleh putrinya dan wanita paruh baya itu kembali berkata.
"Kau tak boleh seperti itu."
"Itu hak dari tuan Sirkun mau menunjuk siapa saja untuk mengelola usaha kalian tersebut."
"Apalagi mami dengar, Pemuda itu saat ini dekat dengan Putri satu-satunya tuan Sirkun dan mereka akan segera melangsungkan pernikahan." ujar nyonya Warika pada sang anak yang sedang di selimuti rasa geram.
Habsari kembali mendengus dengan rahang terlihat mengeras, wanita itu kesal tatkala mengingat pertemuannya siang tadi dengan tuan Sirkun di pusat pengolahan kayu miliknya.
*****
Note Author :
Saya sampaikan rasa terimakasih pada semua pembaca KAHANAN, mohon bersabar karena saya sendiri juga memiliki kesibukan di RL sebagai keponakan raja Salmon untuk jualin hotelnya karena menulis di NT gak ada penghasilannya π....namun tetap saya berkomitmen untuk terus berusaha meng update kelanjutan kisah ini sampai tamat.
Dan bagi yang bertanya-tanya tentang Disya tunggu jawabannya di chapter-chapter kedepan, khusus untuk Puji terimakasih telah 'rusuh' dalam komen-komen selama ini, komen mu membuat abang putar haluan dan main sedikit tipuan-tipuan dalam alur kejadian KAHANAN π€, tapi gak apa yang penting tetap dukung dengan cara subrek, lek dan fot nya π... Salamπ
__ADS_1