
Malam pun semakin menua, kokok ayam jantan bersahutan menyambut datangnya sang fajar. Udara segar menyeruak di sela-sela jendela walaupun diluar bayangan pepohonan terbunuh oleh pekatnya malam.
"Bin, Muhibbin!" seru Cahaya membangunkan sang adik yang terlelap di balai Dangin rumah Balian tua.
"Kenapa kau tidur disini?"
"Ayo cepat bangun, hari sudah menjelang pagi."
"Malu dengan tuan rumah bila kita telat terjaga." ucap Cahaya pada adiknya. Di goncang-goncangkan tubuh muhibbin yang terbaring setengah meringkuk.
"Hmmm"
"Mbak yu! apa sudah pagi, Mbak yu? Muhibbin mengerjapkan matanya dan sesekali menggeliat kemudian bangkit dari tempatnya berbaring.
"Ya, sudah pagi, ayo bangun! malu kalau keduluan tuan rumah."
"Kenapa kau tidur disini?"
"Mungkin aku kelelahan, Mbak yu."
"Tadi aku ngobrol dengan tuan Balian disini dan setelah itu aku ketiduran." jawab Muhibbin masih setengah terjaga.
"Ayo cepat ke pancuran!"
"Bersihkan badanmu dan sembahyang subuh." seru Cahaya kembali.
Muhibbin bergegas meninggalkan kakaknya menuju pancuran yang berada di belakang rumah Balian tua. Tak selang berapa lama pemuda itu kembali lagi menghampiri Cahaya yang masih duduk di balai Dangin,
"Mbak yu sudah sembahyang?" tanya pemuda itu pada kakaknya dan gadis itu mengangguk ringan.
"Aku akan bangunkan Raya dulu dan berkemas-kemas, karena aku lihat kondisi Emak sudah membaik."
"Pagi ini jadi kita berangkat ke Manguntur, Bin? tanya Cahaya pada adiknya.
"Insya Allah jadi, Mbak yu."
"Semalam aku sudah menanyakan tentang keadaan Emak pada tuan Balian. Beliau berkata, kita bisa melanjutkan perjalanan karena kondisi Emak sudah membaik dan nanti kita pamit pada beliau, Mbak yu." ujar Muhibbin, Cahaya hanya menganggukkan kepala kemudian berlalu meninggalkan Muhibbin yang hendak melaksanakan sembahyang subuh di balai dangin itu.
**
Cahaya mentari pagi mulai menyeruak dedaunan dan suara-suara burung berkicauan riang gembira, hari ini terlihat cerah sekali dengan hembusan semilir angin pagi yang segar terhirup kedalam paru-paru.
Terlihat Cahaya dan Raya Suci mengemasi beberapa barang-barangnya yang tersisa sedangkan Suratmi duduk di pinggiran ranjang bambu,
"Adik mu kemana, Nduk? taya Suratmi pada Cahaya. Wanita tua itu bangkit dan tangannya memungut kain jarik di sebelahnya untuk di lipat.
"Ibbin masih menemui tuan Balian, Mak."
"Aku tadi yang menyuruhnya berpamitan pada beliau." jawab Cahaya.
Namun tiba-tiba pintu kamar di ketuk dari luar dan terlihat mulai di dorong terbuka. Wajah manis Setyowati menyembul di balik pintu.
"Selamat pagi, Mbak yu, Ibu ! sapa dara manis itu pada Cahaya dan Suratmi.
"Selamat pagi, Ni Mas." jawab Cahaya tersenyum pada gadis di depannya sedangkan Suratmi dan Raya Suci menganggukkan kepala melihat kedatangan gadis cucu Balian tua itu.
__ADS_1
"Saya di suruh kakek untuk mempersilahkan kalian sarapan pagi." ujar Setyowati pada orang-orang di depannya.
"Maafkan kami, Nduk! jika kehadiran kami membuat mu repot."
"Emak sebenarnya malu dengan kebaikan kalian ini." ujar Suratmi pada Setyowati.
"Ibu tak perlu sungkan, hanya sambutan kecil yang tak begitu berarti, Ibu." senyum Setyowati tersungging menjawab perkataan Wanita tua di hadapannya.Tutur kata gadis itu halus dan sopan menggambarkan keluhuran budi sang dara cucu Balian tua.
"Kalian orang-orang baik,"
"Semoga Allah melipat gandakan darma baik kalian ini." ujar Suratmi kembali, wanita tua itu mengelus pundak Setyowati dengan penuh kasih sayang.
Setyowati hanya tersenyum menanggapi apa yang di lakukan Suratmi.
"Mari Ibu, Mbak yu dan Gek! kita sarapan dulu, kakek dan Bli Muhibbin sudah menunggu kita." pungkas gadis itu kembali.
Mereka keluar dari dalam kamar menuju serambi balai Dangin dan terlihat di sana Balian tua serta Muhibbin dengan hidangan makanan yang tertata di atas tikar di depannya. Sementara itu Balian tua sedang memberikan wejangan pada Muhibbin yang bersila di depannya sambil menunggu Setyowati dan keluarga Muhibbin untuk sarapan bersama.
"Nak Mas, saya harap selepas ini kamu harus selalu waspada karena bagaimanapun saya sangat hafal sepak terjang keluarga besar dinasti Garuda Emas. Saran ku, Nak Mas hindari berhubungan dengan mereka dan jika memungkinkan jauhi, jangan sampai kamu mencari masalah dengan keluarga besar raja Harsuto."
"Mereka itu sangat licik dan kejam serta sanggup melakukan apa saja untuk meraih yang mereka inginkan.
"Saya tak mau kejadian yang menimpa keluarga besar saya di alami oleh Nak Mas pula." ujar Balian tua pada Muhibbin. Pandangan mata lelaki tua itu lekat menyapu wajah Muhibbin di hadapannya dan kembali dia berkata,
"Di Kota Negeri Pantai, aku memiliki sahabat, kamu bisa menemuinya bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan menimpa dirimu dan keluargamu."
"Tunjukkan benda ini padanya dan sampaikan bahwa kau adalah salah satu keluargaku." ujar Balian tua sambil menyerahkan sebuah benda terbuat dari logam berbentuk cakra dengan anak panah di tengahnya yang diambilnya dari balik bajunya.
"Nama kawanku itu adalah Resi Giri Waja, dia adalah pelingsir Griya Budha Manuaba."
"Saya tak bisa berkata apa-apa lagi tuan, yang bisa saya sampaikan hanya selaksa terimakasih yang tak terhingga atas semua kebaikan tuan pada kami sekeluarga." Muhibbin mencium tangan Balian tua yang bersila didepannya. Lelaki tua itu membelai rambut sebahu Muhibbin yang terurai dan menepuk-nepuk pundak pemuda itu.
"Semoga Dewata selalu melindungi dirimu dan keluargamu, Nak Mas." seru Balian tua itu kembali.
Percakapan kedua orang itu berhenti ketika Setyowati dan keluarga Muhibbin mendekat menghampirinya. Mereka pun segera menikmati sarapan pagi yang disiapkan oleh setyowati, disela-selanya kadang diselingi tawa dan obrolan kecil penghangat suasana.
***
"Pasek, antarkan Nak Mas Muhibbin hingga ke Manguntur, setelah itu kau pergilah ke Griya Budha Manuaba! temui Resi Giri waja dan sampaikan surat ku ini padanya." pinta Balian tua pada Pareknya yang bernama Pasek. Lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya dan kedua telapak tangannya di tangkupkan di depan dada.
"Nak Mas, Pasek ini adalah salah satu pembantuku disini, dia yang akan mengantarkan mu hingga sampai ke Manguntur dan untuk Nak Mas ketahui dia ini bisu namun tidak tuli."
"Dia mengerti dan bisa mendengar apa yang Nak Mas katakan padanya." ujar Balian tua pada Muhibbin.
Muhibbin menganggukkan kepala mendengar penjelasan Balian tua. Diapun berkata,
"Mohon maaf tuan, semoga pertanyaan ku ini tak menyinggung tuan." ucap Muhibbin pada Balian tua, pria tua itu hanya tersenyum dan mengangkat telapak tangannya memberi isyarat untuk Muhibbin melanjutkan kata-katanya.
"Sejak kemarin kami tak tau nama tuan, kami hanya memanggil dan mengenal tuan sebagai tuan balian."
"Bolehkah kami mengetahui nama tuan sebelum kami pergi, karena kebaikan dan pertolongan tuan merupakan hutang budi bagi kami sekeluarga." ujar Muhibbin hati-hati sambil menangkupkan telapak tangannya pula di depan dada.
Balian tua tertawa mendengar pertanyaan Muhibbin, senyumnya yang meneduhkan tersungging diantara wajah tuanya yang penuh kharisma.
"Kau tak perlu merasa hutang budi, Nak Mas."
__ADS_1
"Tak kenal maka tak sayang," ujarnya
"Baiklah Nak Mas, orang-orang di banjar Gelumpang ini memang mengenalku sebagai tuan Balian namun mereka biasa juga memanggilku Ida Bagus Putra Narayana atau dikenal dengan Gus Aji Putra, sedangkan cucuku Setyowati ini adalah Ida Ayu Ketut Setyowati." pungkasnya pada Muhibbin, sedangkan Setyowati yang sedari tadi berdiri di sampingnya hanya tersenyum simpul sambil matanya lekat memandang pemuda di hadapannya.
Muhibbin menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Balian tua dan lelaki itu kembali berkata,
"Berangkatlah Nak Mas, hari sudah mulai siang. Jika tak ada halangan, sore nanti kalian akan sampai di Manguntur." ujar Gus aji Putra atau lebih dikenal tuan Balian pada Muhibbin di hadapannya.
Muhibbin mencium tangan Gus aji Putra diikuti oleh Cahaya dan Raya Suci, sedangkan Suratmi hanya menangkupkan telapak tangannya sebagai tanda perpisahan pada lelaki tua dan cucunya yang ada di depannya.
Pasek terlihat cekatan mempersiapkan kereta kuda dan lelaki bisu itu membantu Muhibbin mengangkat barang-barangnya kedalam kereta.
Kereta kuda yang ditumpangi Muhibbin sekeluarga mulai meninggalkan banjar Gelumbang menuju banjar Manguntur. Cerahnya hari mengantarkan perjalanan rombongan itu, sesekali Raya Suci bertanya tentang daerah yang dilaluinya pada Muhibbin dan sang paman dengan telaten menjawab semua keingintahuan keponakannya itu.
***
Tak terasa waktu cepat berlalu, sang surya pun mulai beringsut ke barat menandakan sandikala akan tiba. Kereta kuda yang di kendarai Pasek mulai memasuki perbatasan banjar Manguntur desa Batubulan.
"Emak, Mbak yu! kita hampir sampai di Manguntur. Sebaiknya kita langsung ke rumah Ajik Nengah dulu sebelum kita ke tempatku di surau An Nur." ujar Muhibbin pada ibu dan kakaknya. Suratmi dan Cahaya hanya mengangguk mendengar perkataan Muhibbin, Sedangkan Raya Suci terlelap di pangkuan Muhibbin.
Muhibbin memberitahukan arah tujuannya pada Pasek yang sedari tadi mengendalikan tali kekang kereta kuda itu, lelaki bisu itu menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang dikatakan Muhibbin padanya.
Kereta kuda itu berhenti tepat di depan angkul-angkul sebuah rumah yang tak asing di mata Muhibbin, terlihat seorang gadis sedang menyapu halaman rumah itu. Sang gadis menghentikan pekerjaannya dan pandangannya tertuju pada kereta kuda yang baru saja berhenti di depan rumahnya.
Seorang pemuda berambut sebahu turun dari kereta kuda menggendong gadis kecil yang tertidur di pelukannya disusul seorang gadis muda dan wanita tua.
"Bli Ibbin!" teriak gadis yang sedang menyapu halaman rumah, dia melempar sapu yang dipegangnya dan berlari menubruk dan memeluk lelaki yang baru saja turun dari kereta kuda.
"Bli Ibbin! benar ini dirimu, Bli?" seru gadis itu sambil melepaskan pelukannya.
"Apa kabar, Gek." jawab Muhibbin penuh senyum. raya Suci yang sedari tadi terlelap dalam gendongan Muhibbin terbangun oleh pekikan gadis yang memeluk pamannya. Dia turun dari gendongan sang paman dan bertanya,
"Dimana kita ini, Pak Lik?" tanya gadis kecil itu. semua yang melihat kebingungan Raya Suci tertawa dengan tingkah lucu gadis kecil itu.
"Kita sudah sampai, Raya."
"Ini Bu Lik Sekar, adik Pak Lik di Negeri Pantai ini." jelas Muhibbin pada Raya Suci keponakannya. Gadis kecil sepuluh tahun itu hanya mengangguk ringan sembari matanya menyapu semua yang ada di depannya.
:Sekar, ini ibu dan kakakku."
"Dan yang ini Raya Suci, keponakan Bli." ujar Muhibbin pada Sekar Jempiring adik angkatnya.
"Emak, Mbak yu! perkenalkan ini Sekar, putri ajik Nengah Wirata." imbuh lelaki itu.
Mereka terlihat saling mengenalkan diri satu sama lain, Sekar mengajak keluarga Muhibbin masuk ke dalam rumah. Sementara Muhibbin di bantu Pasek menurunkan bawaannya dan melangkah kedalam rumah menyusul Sekar dan keluarganya.
"Kok sepi, Sekar! kemana ajik? tanya Muhibbin setelah mereka masuk ke dalam rumah.
"Ajik sedang ada Paruman di balai banjar dari siang tadi, Bli"
"Sebentar lagi beliau pasti datang." ujar Sekar pada kakak angkatnya. Gadis itu meninggalkan Muhibbin dan Pasek serta mengajak Suratmi, Cahaya dan Raya Suci ke balai dauh untuk beristirahat.
------------------------------------------------------
*Parek : Abdi atau pembantu
__ADS_1
*Paruman : Pertemuan atau rapat