KAHANAN

KAHANAN
CH 36 - ROMANSA PANTAI PURNAMA


__ADS_3

Keduanya bergegas keluar Surau An Nur, kereta angin yang di kayuh Muhibbin berderik menahan beban, Sariwati duduk di belakangnya. Ada desiran aneh nan lembut di dada lelaki itu ketika tangan dengan jemari lentik sahabatnya itu melingkar di pinggangnya.


Angin pantai membelai dan menerpa wajah keduanya seolah sebagai salam penyambutan atas kehadiran dua anak manusia ini.


Kereta angin yang dikendarai keduanya pun tersandar anggun di sebatang pohon kelapa ditepian pantai.


Tak menunggu lama Sariwati berlari ke arah air laut yang berkejaran di pantai, senyum manisnya tersungging lebar dengan binar mata laksana cahaya kunang-kunang di malam hari, mata bulat nan indah itu terlihat bahagia seolah menanggalkan beban yang selama ini di panggulnya.


"Ibbin, ayo sini!" teriak Sariwati dengan tawa renyah dan gamis yang melekat ditubuhnya mulai basah oleh air laut. Kerudung merah jambu yang dikenakannya tersingkap memperlihatkan rambut hitam panjang yang tersanggul mulai tergerai diterpa angin.


"Ayo sini, temani aku!" kembali gadis itu melambaikan tangan ke arah Muhibbin. Sariwati masih asik berlarian diantara ombak yang menyapu pantai, sesekali tawa riangnya terdengar. Kakinya yang jenjang sesekali melompat diantara hempasan ombak.


Mata Muhibbin memandang lekat dan terkesima ke arah sahabatnya itu, Sariwati yang selama ini dikenalnya selain buruk rupa pun sebagai gadis pendiam dan tertutup memiliki sisi lain yang tak diduganya.


Paras cantik dan penampilannya yang berbeda dari gadis yang dikenalnya dulu dengan segala Keceriaan terpancar di wajah gadis ayu itu, menghenyakkan rasa batin Muhibbin.


Muhibbin terlihat kaget ketika tangannya ditarik oleh seseorang, "Ayo temani aku, kok malah melamun." ternyata Sariwati sudah berada di sampingnya dengan senyuman yang semakin meluluhkan hati Muhibbin, matanya terbelalak seolah tak mau berpaling dari wajah didepannya.


"Hai, malah bengong, ayo Bin!" ujar Sariwati kembali.

__ADS_1


Gadis itu berjalan kembali menuju pinggiran pantai di ikuti Muhibbin di belakangnya. Keduanya pun terlihat berlari menerjang deburan ombak pantai Purnama, tawa keduanya pun pecah, sesekali pandangan keduanya beradu penuh makna.


"Aku seneng banget, Bin! lama aku tak bermain di pantai." ujar Sariwati pada sahabatnya.


"Cuaca siang ini pun cerah sekali, mungkin alam tau kalau aku akan akan kemari." gadis itu tertawa.


"Hahaha, bisa saja kamu." jawab Muhibbin salah tingkah.


"Aku pun lama tak bermain air laut, hari-hari ku setahun terakhir ini banyak di Surau dan membantu ayah angkat ku." ujar Muhibbin.


"Padahal dekat lo, jarak dari Surau ke pantai." sela Sariwati sambil tersenyum.


"Selama ini aku terbayang kejadian terakhir itu bila berada di pantai." ujar Muhibbin.


Sariwati paham apa yang di maksud sahabatnya, kejadian penyerangan dan penyekapan yang memakan korban jiwa oleh gerombolan Setyanto membekas di hati para penghuni Negeri Pantai.


"Ya, Aku paham Bin,"


"Tapi saatnya kita sekarang melangkah ke depan, tak larut oleh kejadian yang lalu dan peristiwa masa itu kita gunakan sebagai pengalaman berharga." ujar Sariwati.

__ADS_1


"Hei, lihat disana, ada kerang Bin!" telunjuk gadis itu mengarah ke benda yang tak jauh dari hadapannya.


Tangan Sariwati merengkuh jemari Muhibbin dan menariknya ke arah kerang yang dilihatnya. Wajah Muhibbin terlihat merona ketika jemarinya bertaut dengan jemari Sariwati.


Gadis itu jongkok memungut kerang yang tergeletak di pantai. Namun tiba-tiba gulungan ombak menghantamnya.


"Awas, Wati!" pekik Muhibbin merengkuh tubuh Sariwati yang terhuyung oleh hempasan ombak. Muhibbin mendekap tubuh sahabatnya itu kedalam pelukannya. Wajah keduanya beradu, binar-binar mata saling menelisik menghunjam jauh menyeruak kisi-kisi hati mereka. Hanya sejengkal jarak memisahkan wajah Muhibbin dan Sariwati, rona bias memerah terpancar di pipi muda-mudi itu dan


"BYUUURR"


Kembali hantaman ombak menerjang mereka, tubuh keduanya limbung jatuh saling tindih di atas pasir pantai yang basah dan sejurus kemudian tak sengaja bibir keduanya bertemu meninggalkan kecupan tipis skenario alam.


Bergegas Sariwati berdiri bangkit dari dekapan tubuh Muhibbin, terlihat wajah sang dara tersipu dengan seluruh pakaian dan tubuhnya yang terkena air laut, hal itupun terlihat pada sahabatnya yang basah kuyup.


Muhibbin pun bangkit dari tempatnya terjerembab sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia semakin salah tingkah dengan kejadian yang baru saja di alaminya. Lekat di benaknya kejadian singkat yang membuat bulu kuduknya meremang dan darahnya menghangat.


"Maafkan aku, Wati!" ujar Muhibbin malu.


Sariwati hanya tersenyum simpul meninggalkan Muhibbin dan melangkah ke arah kereta angin yang terparkir di bawah pohon kelapa.

__ADS_1


-----------------------------


__ADS_2