KAHANAN

KAHANAN
CH 69 - KIDUNG PANGURIPAN


__ADS_3

Udara kian dingin terlepas hujan mulai mereda, derik roda kereta angin memecah keheningan  membelah pekatnya malam diantara jalanan yang masih membasah. Seorang pemuda dengan wajah penuh keletihan mengayuh  besi tua yang dikendarainya  menuju sebuah surau, pemuda itu tak lain adalah Muhibbin.


Pemuda itu menyandarkan kereta anginnya di sengker surau, setelah mengantarkan Jero Balian Kanta, Muhibbin membelokkan arah kereta anginnya menuju surau An Nur yang hampir dua purnama dia tinggalkan sejak kepulangannya ke Negeri Batu Ular menjemput keluarganya, surau berwarna  putih diantara dinding-dindingnya kini terlihat kusam tak terawat, rumput-rumput mulai meninggi di sela-sela bunga kumitir yang tumbuh disamping sengker surau itu.


Diambilnya sebuah obor yang terpasang di dinding bangunan itu, tak berapa lama Muhibbin menghidupkan obor ditangannya.


Hatinya gundah melihat bangunan tak terawat itu, ada rasa bersalah menyeruak di batin Muhibbin.


"Ini semua karena ke egoisanku." gumam Muhibbin dalam hati.


"Aku terlalu larut dan mementingkan keinginanku saja."


" Semua yang terjadi dan  menimpa emak adalah kesalahan dan kebodohanku."


"Andai saja aku tak mengenal Wati mungkin semua ini tak akan terjadi."


Muhibbin terlihat larut dalam alam pikirannya, ada gurat-gurat kekesalan dan kekecewaan di wajah pemuda bersahaja itu. Tak bisa di pungkiri kejadian demi kejadian yang dialaminya mulai bermunculan tatkala mengenal Sariwati, walaupun di satu sisi gadis itu membawa keceriaan dan secercah harapan untuk menjalin sebuah komitmen hubungan namun di sisi lain kejadian tragis yang menimpa ibu dan keluarganya akibat bersinggungan dengan sebuah trah dinasti yang pada masa kejayaannya sangat di takuti.


Setelah membersihkan beberapa bagian surau An Nur, Muhibbin berjalan ke sebuah gazebo di sebelah kanan surau An Nur, pemuda itu merebahkan badannya di atas balai-balai bambu yang hanya beralaskan tikar. Matanya tak bisa dipejamkan walaupun tubuhnya terasa penat dan suasana malam kian temaram yang hanya diterangi cahaya obor di bagian bangunan utama surau An Nur.


Lamat-lamat terdengar seseorang bersenandung, Muhibbin mencari tau dari mana asal datangnya suara itu. Pemuda itu berdiri, di ambilnya obor yang ada di gazebo tempatnya duduk, dengan penerangan dari cahaya obor ditangannya, dia melangkah mencari arah datangnya suara itu.


Tak terasa kakinya melangkah diantara pematang sawah di luar surau An Nur, Muhibbin semakin mempertajam pendengarannya dan tatapannya di arahkan ke segala arah mencari sumber suara. Setelah sekian lama melangkah dan mencari, lamat-lamat pandangan matanya melihat sesosok lelaki duduk diantara batu di tepian sawah dan mendekati bibir pantai. Sesosok lelaki dengan pakain hitam dan ikat kepala hitam sedang melantunkan tembang yang terdengar terasa pilu, syair demi syair yang keluar dari mulutnya membuat Muhibbin terenyuh.


'Padang rembulane kembang arum


Wengi gumilar tabuh samun


Moco ati iling ing kalbu


Sukmo nafas pas di dudut landung


Tepis wiring ndalu sepi suwung


Ono tembang mecah ati ngalamun


Ngudar werdi wadine Hyang Agung'


Pemuda itu masih mematung di tempatnya berdiri, serasa tak kuasa kakinya untuk melangkah mendengarkan alunan tembang yang dilantunkan lelaki misterius yang duduk tak jauh dihadapannya, terdengar kembali lelaki misterius itu membawakan tembang,


'Tembang sinom pangeran katon


Nyangking rino wengi mbabar lelakon


Rikolo bayi banyu gede wus keprabon


Najan gede nanging jiwa isih enom


Badane wus ora turu nang pangkon


Pindo lakune dino mangulon


Satindake dadi lakon


Satindake dadi pitakon


Yen nganti luput dadi layon'


Tak terasa air mata muhibbin menetes di pipinya, pemuda itu masih berdiri tak jauh dari lelaki misterius. Seolah-olah larut dan terhipnotis dengan apa yang didengarnya, dia masih terpaku dan tiba-tiba  sang lelaki misterius itu menghentikan senandungnya dan menoleh ke arah  dimana Muhibbin berdiri. Dengan senyum tersungging, sang lelaki misterius itu menyapa Muhibbin,


"Kemarilah, Cah Bagus."


Duduklah di sebelahku." ujar lelaki itu pada Muhibbin.


Dengan perasaan ragu Muhibbin melangkahkan kakinya mendekati lelaki misterius itu, alangkah terkejutnya Muhibbin tatkala cahaya obor menerangi wajah lelaki misterius yang duduk di sebuah batu di depannya.


"Abah!" suara Muhibbin serasa tercekat dengan bibir gemetar dan dari kelopak matanya semakin deras mengalir air mata.


"Abah, benarkah ini panjenengan, Bah?" tubuh pemuda itu semakin gemetar melihat lelaki yang duduk di hadapannya.


"Apakah aku tak salah lihat?" Muhibbin mengerjapkan matanya dan memastikan orang yang duduk di hadapannya adalah sang ayah Ahmad.


"Kau tak perlu terkejut, Le!"


"Iya ini memang abah."


"Kemarilah, duduklah di dekat ku." imbuh pak Ahmad pada putranya Muhibbin.


Pemuda itu bersimpuh di hadapan Ahmad, perasaan campur aduk mendera Muhibbin. Ahmad adalah ayah kandung Muhibbin yang telah meninggal saat usia pemuda itu baru menginjak tujuh tahun.


"Tapi bagaimana bisa abah berada disini?"


"Bukankah abah-? Muhibbin menghentikan pertanyaannya tatkala Ahmad menggelengkan kepala dan  memberinya isyarat dengan  tangannya pada putra bungsunya.


"Tak ada yang tak mungkin, Le"


"Jika Allah sudah berkehendak,  Kun Fayakun, jadi maka terjadilah." pungkas lelaki paruh baya itu.


Muhibbin yang tak kuasa menahan gejolak jiwanya, bangkit dan memeluk sang ayah. Sedu sedan tangisan pemuda itu pecah dalam pelukan sang ayah. Dengan penuh kasih sayang Ahmad membelai rambut putranya, ada kerinduan terpancar dari anak-beranak itu.


"Le, sepertinya ada masalah  yang berat kau alami saat ini."


"Ceritakanlah pada Abah, mungkin dengan itu semua beban yang kau tanggung akan sedikit berkurang." ujar Ahmad pada Muhibbin.


Dengan terbata-bata pemuda itu menceritakan semua yang terjadi sepeninggal sang ayah, hingga peristiwa akhir-akhir ini yang menimpa dirinya baik tentang sakitnya sang ibu hingga hubungannya dengan salah satu trah dinasti Harsuto. Sesekali Muhibbin menatap wajah sang ayah yang terlihat teduh dengan busana sorjan hitam dan ikat kepala hitam yang di kenakannya, setiap Muhibbin menyelesaikan kalimatnya, sang ayah hanya tersenyum memandang dirinya yang masih keheranan penuh tanda tanya.


"Semua ini sudah di tetapkan oleh Sang Maha Kuasa, Bin."


"Kau harus belajar dan berupaya untuk menerima semua kodrad ini dengan keikhlasan."


ujar pak Ahmad pada putranya Muhibbin.


"Kau sudah tumbuh dewasa namun kedewasaan mu belum paripurna."


"Selaku seorang laki-laki, kau harus mempertanggung jawabkan semua yang telah kau perbuat."


"Dalam bertindakpun harus selalu Waspodo, artinya waspada dalam mengendalikan hawa nafsumu."


"Waspada pada apa yang ada di kahanan mu."


"Setiap melangkah ataupun bertindak, dirimu adalah tokoh utamanya yang harus tau apa yang kau lakukan."


"Kau harus tau dampak dari yang kau perbuat."


"Sehingga dirimu tak terjerumus oleh nafsu yang mengendalikanmu."


"Jika tak hati-hati maka kau akan terjebak didalamnya dan tak akan bisa tertolong."


"Dalam hidup yang utama itu prosesnya bukan hasilnya. Menanamlah jangan berharap buahnya karena yang memberi buahnya itu hanya Allah. "

__ADS_1


"Kau harus berdamai dengan dirimu sendiri." pungkas Ahmad.


Muhibbin hanya terdiam mendengarkan apa yang dikatakan pak Ahmad. Pemuda itu merebahkan kepalanya di pangkuan ayahnya, ada rasa kedamaian yang sudah lama tak dirasakannya. Sejak kecil Muhibbin memang sangat dekat dengan sang ayah, Ahmad.


Disetiap kesempatan apa saja, Muhibbin  selalu ikut bersama ayahnya dan sejak sepeninggal Ahmad merupakan kehilangan terbesar bagi Muhibbin, sosok pelindung dan panutan yang selama ini dia banggakan hingga akhirnya keluarga besarnya kembali ke Negeri Batu Ular tempat asal sang ayah dan  pemuda itu berguru  pada kyai Basori yang tak lain adik seperguruan Ahmad.


Terdengar Ahmad melantunkan sebuah tembang dan tangannya masih membelai rambut sang anak,


'Angen manis puspito lagu ngetus samirana


Tabuh wektu ngitung dino


Ponang gede dewasa salin salaga


Wani beka ngugang salira


Mbekani sang enom gampang keno reka


Mulo enom pikir gampang keno asmoro


Mulo enom pikir gampang keno gudo


Karep duwur sundul langit kemul mego


Tan mampu ngudar panca driyo


Mung manis-manis kang dadi sedya


Tan weruh manis pahit isining dunyo


Lamung jroning jiwo tan pirso panca driya


Dadi menus, ciloko'


"Le, bangunlah!"


"Sudah saatnya abah pergi."


"Selepas ini kau harus lebih pasrah dalam menerima ketetapan Ilahi."


"Abah pergi dulu, jaga dirimu baik-baik" ujar Ahmad pada Muhibbin.


Pemuda itu kebingungan dengan yang disampaikan ayahnya, belum hilang rasa rindunya pada sang ayah,


"Abah akan pergi kemana?"


"Apakah abah tak ingin bertemu Emak, Mbak yu Cahaya dan Raya? mereka ada disini juga, Bah." pekik Muhibbin pada sang ayah, tangannya menggenggam erat-erah lengan pak Ahmad seolah-olah tak ingin berpisah kembali.


"Ndak, Le."


"Abah akan menunggu Emakmu, Cahaya dan Raya di keabadian." pungkas pak Ahmad, tiba-tiba kabut tipis menyelimuti tubuh lelaki paruh baya itu hingga tak nampak lagi di mata Muhibbin. Pemuda itu dengan sekuat tenaga berteriak menahan kepergian sang ayah,


"Abah!"


"Jangan tinggalkan Ibbin, Bah!"


"Abah, kembali Bah!" derai air mata Muhibbin tak tertahan lagi, di berontak merengkuh kabut yang menyelimuti tubuh sang ayah.


"Nak Bagus, bangun!"


"Nak Bagus, ayo bangun!" seseorang menggoncang-goncangkan tubuh Muhibbin,


"Bangun, Nak Bagus!" ujar lelaki itu kembali.


"We Landep!"


"Sedang apa kau disini?"


"Mana ayahku?" tanya Muhibbin pada lelaki paruh baya di depannya.


Lelaki tua itu munjawab,


"Aku tak tau siapa yang Nak Bagus maksud."


"Sedari tadi tak ku temui ada orang lain di tempat ini."


"Aku diminta Ni Mas Sariwati menemui Nak Bagus." ujar We Landep yang tak lain pelayan Sariwati di villa sandat pada Muhibbin. Lelaki itu terlihat menyerahkan sepucuk surat di tangannya pada Muhibbin.


"Jadi aku tadi bermimpi." gumam Muhibbin sambil menerima surat yang di  bawa oleh We Landep.


Pemuda itu masih kebingungan mencerna kejadian pertemuannya dengan sang ayah yang terlihat nyata. Tatapan matanya mengarah kembali pada We Landep dihadapannya.


"Aku  tadi mencari Nak bagus ke kediaman Jero Mekel." ujar lelaki tua itu.


"Beliau menyampaikan bahwa Nak Bagus ada di surau ini." seru We Landep kembali.


"Apa gerangan yang membuat Wati menyuruhmu mencari ku, We?"


"Apa dia belum puas dengan apa yang telah keluarganya lakukan pada keluargaku?" sahut Muhibbin dengan nada emosi.


"Aku tak tau, Nak Bagus."


"Ni Mas hanya berpesan sebelum fajar menyingsing akan menunggu Nak Bagus di tempat pertama kali kalian bertemu."


"Dan aku di minta menyerahkan surat itu langsung ke tangan Nak Bagus." ujar We Landep. Pria itu terlihat terburu-buru.


"Aku harus segera pergi dari sini, Nak Bagus."


"Aku tak ingin kedatanganku diketahui oleh orang-orang tuan gubernur maupun orang-orang papi Ni Mas Sariwati."


We Landep bangkit dari duduknya dan bergegas meninggalkan surau An Nur menyisakan Muhibbin yang masih kebingungan dengan kejadian yang baru saja dia alami.


*********


*Syair-syair dari tembang yang di tulis oleh author di atas adalah bagian dari Kidung Panguripan berisi tentang Sinom, Dandang gulo dan Asmaradana.


SINOM


Tembang sinom pangeran katon


Nyangking rina wengi mbabar lelakon


Rikolo bayi banyu gege wus keprabon


Najan gede nanging jiwa isih enom


Bedane wus ora turu nang pangkon


Pindo lakune dina mangulon

__ADS_1


Satindake dadi lakon


Satindake dadi pitakon


Ywa nganti luput dadi layon


Sinom: Si-enom, nom-noman, remaja


Terjemah:


Nyanyian Remaja bagai penampakan sang pangeran


Membawa siang malam, membuka cita-citanya


Di saat bayi dimandikan dan menjadi remaja


Meskipun besar jasmaninya tetapi jiwanya masih muda


Yang membedakan, tidurnya tidak lagi dipangkuan


Seperti hari-hari berjalan ke arah barat


Setiap tindakannya menjadi lakon


Setiap tindakannya menjadi pertanyaan


Jika tidak hati-hati dapat tidak tertolong


DHANDANGGULO


Angen manis puspito lagu ngetus samirana


Tabuh wektu ngetung dina


Ponang gede dewasa salin salaga


Wani mbeka ngugung salira


Mbekane sang enom gampang kena reka


Mulo enom pikir gampang keno asmara


Mulo enom pikir gampang keno goda


Karep duwur sundulangit kemul mego


Tan mampu ngudar panca driya


Mung manis manis kang dadi sedya


Tan weruh manis pahit isening donya


Lamun jroning jiwa tan pirsa panca driya


Dadi menus……..cilaka


Terjemah:


Melamunkan keindahan, bersama nyanyian dan angin semilir


Detak waktu menghitung hari


Sang bayi menjadi remaja berubah sifatnya


Berani kepada orang tua, menuruti hawa nafsunya


Itulah sebabnya remaja muda mudah terperdaya


Karena darah muda gampang kena asmara


Karena darah muda gampang tergoda


Angan-angan setinggi langit, berselimut mega


Tak mampu membuka panca indera


Angan-angan hanya yang manis-manis saja


Tak tahu pahit getirnya hidup di dunia


Sekali lagi, itu karena tak mampu membuka panca indera


Apabila manusia tak terurus......celaka


Dhandanggulo: Berangan-angan yang manis-manis


ASMARADANA


Pepajange tembang asmaradana


Panjange den arani asmara dahana


Werdine sifat janmo jroning asmara


Pinda padang rembulan padange rina


Wong enom tan waskito rusaking jiwa raga


Tan **** welinge ibu lan rama


Agni ngobong ati ngidung asmara


Dadi lakon keprabon pinda raja


Terjemah:


Hiasan tembang asmaradana


Singkatan dari asmara dahana (asmara yang berapi-api)


Rahasianya sifat manusia dalam asmara


Seperti terangnya rembulan terangnya matahari


Remaja yang tidak waspada merusakkan jiwa dan raga


Tak ingat pesan Bapak dan Ibunya


Api membakar, gelorakan lagu asmara

__ADS_1


Menjadi lakon(tokoh idola), bagaikan raja berkuasa


Asmaradana: Asmara Dahana(api asmara, gelora cinta)


__ADS_2