
"Bagaimana kabarmu, Bin?"
"Keadaan Raya bagaimana sekarang?"
"Dan perkembangan murid-murid mu sejauh ini apa tak ada kendala?"
"Ayah untuk akhir-akhir ini belum sempat ke Surau An Nur." ujar seorang lelaki paruh baya pada Muhibbin yang duduk di hadapannya.
"Alhamdulillah, semua lancar dan baik-baik saja, Yah."
"Keadaan Raya juga sudah banyak kemajun, kakinya sudah bisa berjalan normal walau kadang kala masih menggunakan tongkat." jawab Muhibbin penuh hormat.
Lelaki tua itu manggut-manggut dan menyunggingkan senyumnya pada pemuda dihadapannya, tak berapa lama dia pun memanggil putrinya yang sedang menyiapkan makanan dan minuman diruang tengah rumah mewah itu.
"Disya!"
"Kemari sebentar, Nak." seru lelaki tua itu.
Dari dalam ruangan tengah seorang wanita berparas ayu melangkah keluar dengan membawa baki berisi hidangan di tangannya.
"Nak, ayah sengaja menyuruh pak Min memanggil Muhibbin kemari."
"Ada yang ingin ayah sampaikan pada kalian berdua." ujar lelaki tua itu yang tak lain adalah tuan Sirkun.
Setelah meletakkan hidangan di atas meja tamu, Disya mengambil tempat duduk di sebelah Muhibbin, pemuda itu masih terdiam dengan pandangan tertunduk menyimak penuturan tuan Sirkun.
"Saat ini keadaan ayah semakin tua."
"Usaha pengolahan kayu yang ayah rintis tujuh tahun lalu bersama mendiang tuan Timoti pun semakin berkembang."
"Ayah ingin ada yang meneruskan usaha ayah selama ini." ujar tuan Sirkun datar, lelaki paruh baya itu terlihat menghela nafas sebelum melanjutkan penuturannya.
"Ayah ingin, Ibbin meneruskan usaha ayah itu."
"Selasar Rumah Budaya pun, ayah lihat semakin maju dan kau sudah sibuk di sana." kini pandangan tuan Sirkun tertuju pada Disya putrinya.
"Tenaga ayah sudah berkurang, jadi ayah putuskan ingin pensiun dan menikmati hari tua ayah dengan tenang."
Ujar tuan Sirkun sambil menghela nafas, sementara Disya dan Muhibbin masih terdiam tanpa sepatah kata pun dan mendengarkan perkataan sang Pengusaha dermawan itu.
Sesaat kemudian terlihat lelaki tua itu berkata kembali,
"Cuma ada satu hal yang perlu kalian ketahui saat ini."
"Usaha pengolahan kayu itu, saat ini ayah kelola bersama keponakan mendiang tuan Timoti."
"Sejak mangkatnya tuan Timoti empat tahun lalu, semua usaha yang dimiliki beliau beralih tangan dan dibawah pengelolaan keluarga besar Dinasti Garuda Emas."
"Gubernur baru pengganti tuan Timoti ini pun juga masih dari keluarga mereka."
"Saat ini di pemerintah pusat Kerajaan Zamrud, posisi-posisi strategis banyak dihuni oleh keluarga besar mereka pula."
"Aku harap kalian bisa menyesuaikan diri dengan ritme dan kebijakan yang mereka buat, sehingga usaha kita tak terkendala."
"Dalam sebuah perniagaan, kompromi itu sudah biasa,"
"Selama usaha kita itu berjalan sesuai aturan yang ada dan tidak merugikan orang lain, maka kita harus tetap optimis dan menyesuaikan ritme dengan penguasa, hal itu sudah lumrah."
"Maka dari itu, kalian berdua harus tetap jeli melihat keadaan tanpa menanggalkan etika dan moral." pungkas tuan Sirkun.
Lelaki flamboyan itu mengambil cangkir teh yang di sediakan putrinya dan meminumnya.
Sejenak suasana ruangan itu hening, sesaat kemudian Disya berkata pada sang ayah.
"Apakah ayah sudah yakin ingin pensiun?"
"Apakah nantinya sepeninggal ayah, sikap keluarga Dinasti Garuda Emas itu tak akan sewenang-wenang dalam menentukan kebijakan perusahaan?"
"Kita tau, sikapnya tak pernah ramah pada Muhibbin selama ini."
"Semua keluarga Mendiang tuan Gubernur selalu memandang sebelah mata pada Ibbin, Yah."
"Apa ayah lupa peristiwa tujuh tahun lalu, saat salah seorang keluarga mereka melahirkan di Selasar Rumah Budaya, tatkala pesta panen raya Negeri Pantai?"
"Mereka dengan arogan membawa Ibbin ke markas Bhayangkara dan memenjarakannya dengan tuduhan berupaya mencelakai salah seorang kerabat mereka yang melahirkan itu."
Kini tatapan Disya mengarah pada Muhibbin disebelahnya, sorot matanya mengisyaratkan rasa cemburu, karena bagaimanapun kejadian tujuh tahun lalu itu berkaitan dengan Sariwati, yang tak lain putri sang Gubernur yang pernah memiliki hubungan spesial dengan calon suaminya tersebut.
__ADS_1
Muhibbin yang tau perubahan sikap kekasihnya menimpali memberi penjelasan pada tuan Sirkun.
"Benar yang dikatakan Disya, Yah."
"Apakah semua ini tak berpengaruh pada usaha yang ayah rintis."
"Mungkin dulu semasih ada mendiang tuan Timoti, beliau masih memegang peranan bersama ayah."
"Dan saat ini beliau sudah tiada."
"Jika saat ini ayah pun memutuskan pensiun dan pengelolaannya di percayakan kepada saya, apakah mereka juga bersedia?" ujar Muhibbin penuh hormat pada tuan Sirkun.
Tuan Sirkun hanya tersenyum, sorot matanya teduh memandang putri dan calon menantu dihadapannya, bagaimana pun Lelaki tua itu tau latar belakang hubungan Muhibbin dengan putri mendiang tuan Timoti.
"Ayah tau arah pembicaraan kalian."
"Ayah sudah mempersiapkan semuanya."
"Didalam mengelola sebuah usaha kita harus bisa bedakan kepentingan perusahaan dan kepentingan pribadi."
"Sebelum meninggalnya mendiang tuan Timoti karena serangan jantung, kami saat itu sudah menandatangani kesepakatan."
"kepemilikan usaha pengolahan kayu itu tiga perempat sudah menjadi milik ayah dan sisanya milik mendiang tuan Timoti dan keluarganya."
"Semua pengelolaan usaha itu, ayah yang memiliki wewenang."
"Apalagi kau adalah calon suami Disya, Bin."
"Jadi kalian tak perlu merisaukan semuanya,"
"Selama kita ikuti aturan yang diterapkan oleh pemerintah pusat maupun kebijakan penguasa Negeri pantai, maka semua akan berjalan lancar sebagaimana adanya."
"Kalian berdua tak perlu khawatirkan itu, lebih baik kalian fokus pada persiapan kalian."
"sebentar lagi kalian akan meresmikan pernikahan."
Sesaat tuan Sirkun menghentikan ucapannya, kembali lelaki tua itu mengambil cangkir di meja dan menyeruput teh yang dihidangkan putrinya.
"Siapa lagi yang akan meneruskan semua usaha ayah ini kalau bukan kalian?" pungkas tuan Sirkun pada anak dan calon menantunya, wajah teduh lelaki tua itu selalu memberi suasana damai pada keduanya.
Disya dan Muhibbin saling berpandangan, dengan anggukan kepala, wanita ayu itu memberikan isyarat pada lelaki disampingnya.
"Kami pun tak bosan-bosannya memohon bimbingan dari ayah." ujar Muhibbin lirih, Disya yang ada disampingnya mulai tersenyum walaupun rasa cemburu masih terpancar diwajahnya, terlihat wanita itu menggenggam jemari Muhibbin yang ada disampingnya.
"Bagus, jawaban itu yang ayah harapkan dari kalian." ujar tuan Sirkun sambil tersenyum lebar.
"Oh ya, lalu bagaimana persiapan pernikahan kalian?" tanya tuan Sirkun kembali.
Kini Muhibbin memberi isyarat pada Disya untuk menjawabnya,
"Semuanya sudah sesuai dengan yang kami persiapkan, Yah."
"Ibbin sudah berkabar ke kampungnya dan nanti yang akan menjadi penghulu pernikahan kami adalah Mbah Kyai Bashori, yang tak lain masih kerabat dekat mendiang Abah."
"Dalam bulan-bulan ini beliau akan datang dari Negeri Batu Ular bersama beberapa keluarga."
"Bapa Resi Giri Waja dan Gus Aji Putra juga akan menjadi saksi pernikahan kami." ujar Disya tersipu malu pada sang ayah.
"Sebentar lagi kami pun berencana menemui beberapa kawan untuk menjadi panitia di pernikahan kami." imbuh Disya kembali.
"Baguslah, ayah senang mendengarnya"
"Ayah sudah tak sabar ingin menimang cucu dari kalian."
"Apalagi yang akan ayah cari, semuanya sudah ada dan kalian tinggal melanjutkannya."
"Semoga pernikahan kalian nanti membawa kebaikan untuk hidup kalian."
"Di usia senja ayah hanya ingin melihat kalian berbahagia menjadi sebuah keluarga." ujar tuan Sirkun tersenyum lebar pada keduanya.
Disya dan Muhibbin hanya tersenyum malu mendengar perkataan tuan Sirkun.
"Dis, ajak Ibbin makan siang dulu,"
"Kalian tak perlu menunggu ayah."
"Ayah akan ke taman dulu, sudah lama bonsai-bonsai di sana tak ayah lihat." pungkas tuan Sirkun sambil beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Disya dan Muhibbin.
__ADS_1
Muhibbin dan Disya mengangguk dan turut bangkit meninggalkan ruangan tamu menuju ke dalam.
Keduanya pun melanjutkan bercengkrama sambil menyantap makanan di ruang tengah bangunan megah kediaman Pengusaha dermawan itu.
***
Sementara ditempat lain,
"Den Ayu, sini biar Me Iluh yang lanjutkan."
"Den Ayu Tiara istirahat saja sebentar, mumpung Bu De aden pergi." ujar wanita tua itu pada gadis kecil di dekatnya, diambilnya sapu lidi yang ada di tangan gadis kecil tersebut.
"Tak usah, Me!"
"Nanti kalau ketahuan Bu De Habsari, Me Iluh akan kena hukuman." ujar Gadis kecil itu pada Me Iluh, wajah polosnya nampak keletihan.
"Gak apa-apa, Den Ayu tenang saja."
"Den Ayu Habsari pasti lama keluar, karena tadi Me Iluh sempat dengar, beliau akan ke tempat pengolahan kayu."
"Sekarang Den Tiara istirahat saja dulu, Me Iluh sudah siapkan makanan di meja tengah."
"Sekalian tadi Me Iluh juga buatkan makanan untuk Bunda Den Ayu Tiara." ujar wanita tua itu pada Tiara.
"Den Ayu makan saja dulu, biar Me Iluh yang lanjutkan semua pekerjaan ini." imbuhnya pada gadis tujuh tahun dihadapannya, tatapan matanya penuh iba memandang bocah perempuan anak majikannya tersebut.
"Terimakasih ya, Me."
"Me Iluh selalu baik pada Tiara."
"Disini selain Bunda, hanya Me Iluh dan We Landep yang sayang dengan Tiara." ujar bocah perempuan itu polos.
"Aku ke dalam dulu ya, Me." imbuhnya sambil berlari meninggalkan wanita tua itu di halaman.
***
Nampak disebuah ruangan yang cukup besar, terbaring sesosok wanita dengan keadaan yang memprihatinkan.
Tubuhnya terlihat kurus dengan tatapan kosong menerawang kearah jendela kamar yang terbuka.
Pikirannya mengembara tak tentu arah, mengulas kenangan-kenangan masa lalu yang pernah dijalaninya.
Tak terasa buliran air mata meleleh di pipinya, sosok itu hanya bisa menggerakkan bibir dan matanya saja, sudah hampir tujuh tahun dirinya didera kelumpuhan, tubuhnya yang dulu sintal semampai, kini terlihat kurus terbalut kulit yang memucat.
Tiba-tiba, sebuah langkah membuyarkan lamunannya,
"Bunda, Tiara bawakan bubur hangat untuk Bunda."
"Tadi Me Iluh membuatkan khusus buat bundanya Tiara yang paling cantik." ujar seorang bocah wanita sambil membawa semangkuk bubur ditangannya.
Sosok yang terbaring itu hanya menyunggingkan senyum disela derai air matanya.
"Makasih ya, Nak."
"Putri Bunda baik sekali." ujar sosok itu lirih dan hanya bisa mengerjapkan matanya.
Tiara meletakkan mangkuk berisi bubur itu di meja yang ada disudut ruangan. Bocah perempuan itu melangkah ke arah dipan dan memperbaiki posisi kain yang menyelimuti tubuh ibunya.
"Bunda kenapa menangis?"
"Apa tiara ada salah dengan bunda?"
"Tiara minta maaf bunda, Tiara janji akan patuh pada Bunda." ucap gadis kecil itu sambil menggenggam jemari sang ibu, dari sorot matanya yang polos mulai terlihat embun-embun air mata.
"Tidak, Nak."
"Tiara anak yang baik."
"Tiara selalu membuat Bunda senang."
"Bunda bangga memiliki putri yang cantik seperti Tiara."
"Tak salah mendiang Eyang mu memberi nama Mutiara Rahmani."
"Yang memiliki arti putri cantik penuh kasih sayang." pungkas wanita yang terbaring di tempat tidur itu pada anaknya.
Tangan lentik Tiara menyeka air mata di pipi sang ibu, di ciumnya kening wanita yang terbaring itu, sesaat kemudian bocah perempuan tersebut mengganjal kepala sang ibu dengan beberapa bantal agar posisinya lebih tinggi, dengan penuh kasih sayang di suapinya sang ibu dengan tangannya yang ringkih.
__ADS_1
*****