KAHANAN

KAHANAN
CH 29 - KETAMAKAN KELUARGA BENDOWO


__ADS_3

Beberapa Bhayangkara mengangkat tubuh Muhibbin yang masih mengerang kesakitan, beberapa tulang iganya patah dan kedua matanya terasa perih akibat partikel pasir yang di lemparkan pada saat perkelahiannya dengan saudagar Yanto.


Sariwati dengan tertatih mengikuti para Bhayangkara yang membawa Muhibbin dari pantai Purnama menuju Banjar Manguntur.


Sesampainya di Banjar Manguntur, Muhibbin dirawat di balai pengobatan dan seorang Balian dibantu beberapa orang segera merawat Muhibbin dan demikian pula Sariwati yang seorang alkimia membantu Jero Balian.


Rusuk Muhibbin dibungkus dengan pelepah kering daun kelapa yang biasa disebut kluping dan terlihat Jero Balian menumbuk kulit ari pohon kwangi yang di baluri minyak ikan gabus dan beberapa lembar daun binahong. Tumbukan beberapa bahan obat pemulih patah tulang yang diracik Jero balian segera di balurkan pada luka memar di tubuh Muhibbin.


Semantara para cantrik Jero Balian merebus daun sirih di bagian belakang Balai Pengobatan Manguntur. Terlihat Sariwati mendekat,


"Biarkan saya yang bawa ke depan, Tuan-tuan selesaikan saja meracik beberapa bahan obat yang diminta Jero Balian,"


"Saya akan merawat Muhibbin." pungkas sariwati pada para cantrik Jero Balian.


"Baiklah Ni Sanak, tapi tolong hati-hati pada saat membersihkan bagian mata nak mas Muhibbin," jawab salah satu cantrik pada Sariwati.


Wanita itu segera bergegas membawa bokor berisi rebusan obat dan daun sirih, sesampainya di dalam Balai Pengobatan dia segera menghampiri Muhibbin yang masih tergeletak di bale bambu beralaskan tikar. Terlihat luka-luka lebam di tubuh Muhibbin telah di balut kain oleh Jero Balian.


"Tahan ya Bin, Aku akan membersihkan bagian matamu, mungkin akan terasa perih sedikit," ujar wati sambil terisak.


"Hai, Kamu kenapa menangis?"


"Aku akan baik-baik saja, Wati!" ujar Muhibbin mendengar isakan tangis sahabatnya.


"Sudahlah, Aku masih kuat dan bisa bertahan. Luka-luka ini gak seberapa dan dalam beberapa pekan ke depan, pasti aku akan sembuh." kembali laki-laki itu menguatkan wanita yang duduk disampingnya.

__ADS_1


"Ya, Aku tau Bin kamu pasti sembuh. Maafkan aku ya! telah melibatkan mu dalam masalah ini," sahut Sariwati lirih.


"Kamu gak perlu sejauh itu berfikir, Semua itu tanggung jawab ku. Kau sudah ku anggab keluarga sendiri, Kita di negeri ini tak memiliki siapa-siapa walau selama ini keluarga Sekar dan ayah angkatku sangat baik pada kita," kata Muhibbin kembali.


"Kejadian ini diluar kendali kita, Wati!"


"Ya, terimakasih atas pertolonganmu selama ini, Aku gak akan melupakan kebaikanmu Bin!" jawab Sariwati sambil menggenggam tangan sahabatnya.


***


Matahari mulai menyeruak di ufuk timur, hari terasa panjang dengan kejadian yang menimpa desa Batubulan.


Penyerangan oleh orang-orang bertudung anggota saudagar Yanto telah membuat sejarah kelam dan kesedihan mendalam pada Negeri Pantai, terlihat beberapa anggota Pecalang dan Bhayangkara yang terluka di rawat oleh para cantrik Jero Balian. Para warga Banjar Manguntur pun tak kalah sibuk dengan membersihkan puing-puing Balai Banjar yang hancur akibat ledakan bondet salah satu anggota penyerang, Sebagian warga mempersiapkan pemakaman jenazah beberapa Pecalang dan Bhayangkara serta sebagian besar mayat para penyerang bertudung.


"Kurang ajar, ini tak bisa kita biarkan. Aku tak mau hal ini menjadi preseden buruk pada Negeri Pantai dan pemerintah pusat tak segan-segan turun tangan bila kasus ini tak bisa kita selesaikan." ujar tuan Timoti yang terlihat lelah walaupun gurat-gurat kemarahan terpancar di wajahnya.


"Untuk sementara korban dari pihak kita berjumlah lima orang yang gugur, tiga dari para Pecalang dan dua dari Bhayangkara."


"Dari pihak penyerang semua meninggal kecuali dua orang yang buron melarikan diri dengan jukung termasuk saudagar Yanto didalamnya." papar Prawira Utama pada tuan Timoti.


"Dan yang lebih mengejutkan, sesuai hasil penyelidikan bawahan saya, saudagar Yanto adalah mantan taruna Darmayudha dengan pangkat Prawira Muda dan para gerombolan penyerang itu adalah anak buahnya ketika masih bertugas. Mungkin tuan masih ingat salah seorang yang melempar peledak semalam, Dia adalah Karto, salah satu pimpinan Darmayudha Negeri Pantai yang dipecat akibat kasus penganiayaan salah satu warga Desa Galuh sehingga warga itu tewas."


"Pantas saja, mereka terlihat terlatih dan aku ingat karena surat pemecatan Karto, Aku yang tandatangani," ujar tuan gubernur Timoti.


"Benar sekali tuan, dan selama ini dalang dari pengrusakan habitat ikan serta terumbu karang pantai Purnama adalah ulah komplotan mereka, hasil dari penjarahan ikan dengan bondet di tampung oleh saudara Setyanto atau di kenal dengan sebutan saudagar Yanto."

__ADS_1


"Hasil laut oleh mereka di kirim ke Negeri Banjir dan yang membuat kita harus hati-hati dalam penangan kasus ini karena Yanto sendiri adalah menantu dari tuan Bendowo dan perusahaan tuan Bendowo yang selama ini membeli hasil laut dari Yanto." pungkas kepala Bhayangkara.


"Kurang ajar, mentang-mentang mereka keluarga penguasa Negeri Zamrud dengan seenaknya menguasai dan mengeruk keuntungan sepihak tanpa memperdulikan kondisi negeri koloni kerajaan Zamrud." suara tuan Timoti bergetar menahan kegeraman.


"Sedari dulu keluarga mendiang raja Harsuto memang tamak, jangankan ke orang lain ataupun rakyat, pada saudara sendiri mereka bisa tega menghalalkan segala cara untuk kepentingannya!" lanjut tuan Tomoti.


"Tapi tunggu, seingat ku sesuai informasi dari gubernur Negeri Banjir bahwa salah seorang menantu Bendowo diusir karena melakukan kesalahan besar pada keluarga mereka?" tanya tuan Timoti pada Prawira Utama Bhayangkara.


"Benar tuan, menantu tuan besar Bendowo itu tak lain saudagar Yanto atau lebih lengkapnya Setyanto." jawab pimpinan Bhayangkara.


"BRUUAAKK"


"SETAN ALAS"


"pantas saja kelakuannya sama-sama korup seperti mertuanya," pungkas tuan Tomoti sambil menggebrak meja.


"Ternyata setelah pengusiran itu, Yanto masih mengatasnamakan nama besar tuan Bendowo untuk menjalankan bisnisnya, Tuan." imbuh pimpinan Bhayangkara.


Semua yang berada di tempat itu terhenyak dengan infestigasi Bhayangkara, tak terkecuali tuan Sirkun dan pak Nengah.


"Sekarang kita harus lebih hati-hati, Aku akan berkoordinasi dengan raja kerajaan Zamrud yang mulya Suswiro Wadigdo dan panglima Darmayudha kerajaan Zamrud untuk menyelesaikan hal ini, karena kasus ini tidak semudah yang kita bayangkan apalagi menyangkut keluarga besar Bendowo." perintah tuan Timoti.


"Dan bawa gadis berkulit ikan itu ke Balai Gubernuran, biar dia aku yang urus." pungkas nya kembali.


"Siap laksanakan, Tuan." jawab pimpinan Bhayangkara.

__ADS_1


Pertemuan di Banjar Manguntur itu telah selesai dan semua yang hadir kembali ketempat masing-masing dengan beban dan pikiran yang berkecamuk atas insiden berdarah yang terjadi.


------------------------------


__ADS_2