KAHANAN

KAHANAN
CH 114 - PERJALANAN MENGHAPUS LUKA


__ADS_3

Tetes-tetes silih berganti membasahi ujung kepala dalam pelarian dari nestapa, dalam sebuah perjalanan yang berkabut memandang cahaya di atas tanah memerah, langit nista cahaya bulan


kabur tak menembus, sampai ke wajah.


Tubuh lunglai di atas kaki yang hampir mati rasa mengutuk langkah yang telah terperdaya.


Di pundaknya bertengger kenangan terik mentari bersama asap dan keringat menempel, panasnya membingkai di langit dan muka bumi.


Panasnya membelah kepala, memupuskan segaris senyuman di daun pintu pengharapan.


Bulan telah kalah pada awan dan hujan yang sengaja datang tak deras bertahan sepanjang malam.


Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya bertemu dengan satu orang yang mengubah hidup untuk selamanya.


Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagian terbesar dalam sebuah agenda.


Hati takkan memberikan pilihan apa pun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata bahwa risiko dari jatuh cinta adalah terjerembap di dasar nestapa.


Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya terluka dan kehilangan pegangan.


Yang paling menggiurkan setelahnya ialah berbaring, menikmati kepedihan, dan membiarkan garis waktu menyeret yang niat-tak niat menjalani hidup.


Lantas, mau sampai kapan? Sampai segalanya terlambat untuk dibenahi? Sampai cahaya benar-benar padam? Sadarkah bahwa Tuhan menguji karena Dia percaya ciptaanNya lebih kuat dari yang di duga? Bangkit.


Hidup takkan menunggu, pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya keinginan melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu.


Namun, percayalah tiada guna, garis waktu takkan memperlambat gerakkannya barang sedetik pun. Ia hanya mampu maju, dan terus maju. Dan mau tidak mau, kita harus ikut terseret dalam alurnya.


Ikhlaskan saja. Sesungguhnya yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu ialah berpegangan pada sesuatu yang menyakiti secara perlahan.


***


"Bli jadi ke kota hari ini?"


"Nanti sampaikan salam ku untuk Disya, ya Bli."


"Sudah lama diriku tak menjumpainya, terakhir saat selamatan Lingga turun tanah." ujar seorang wanita yang tak lain adalah Sekar Jempiring pada kakak angkatnya.


Muhibbin hanya mengangguk ringan sambil menyunggingkan senyum pada kedua orang didepannya.


"Iya, nanti akan Bli sampaikan."


"Bli titip Raya dulu disini."


"Biar dia membantumu menjaga Lingga, Gek." jawab Muhibbin pada adiknya, tatapannya pun beralih dan diarahkan pada Lelaki yang ada di samping Sekar.


Dengan penuh hormat, Lelaki itu berkata,


"Iya, biarkan Raya bermain dengan Lingga disini, Bli."


"Bli Ibbin selesaikan dulu urusan, Bli."


"Toh juga Lingga terlihat senang bila di dekat Raya." ujar Lelaki di samping Sekar menimpali keduanya.


Pandangan ketiganya tertuju pada seorang gadis remaja dan anak laki-laki berusia sekitar tiga tahunan yang sedang asik bermain di balai dangin. Senyum mereka merekah memandang Lingga yang bersikap manja pada Raya Suci.

__ADS_1


"Baiklah, aku tinggalkan kalian dulu."


"Apalagi Arsana akan pergi ke peternakan juga." ujar Muhibbin memandang ke arah Sekar.


"Oh ya, bagaimana perkembangan peternakan mendiang ajik sekarang, Ar? tanya Muhibbin pada lelaki yang dipanggilnya Arsana di samping adiknya.


"Astungkara Bli, semua berjalan lancar."


"Itu semua berkat bimbingan Bli Ibbin." jawab Arsana sambil tersenyum.


"Peternakan tak akan berkembang pesat seperti saat ini tanpa campur tangan dan usaha Bli Ibbin sebelumnya." imbuh lelaki itu pada Muhibbin.


"Baguslah, semoga apa yang di tinggalkan mendiang Ajik bisa bermanfaat untuk kehidupan kalian." ujar Muhibbin kembali.


Sejak pernikahan Sekar dan Arsana empat tahun yang lalu, dirinya beserta sang keponakan Raya tak tinggal serumah lagi dengan Sekar, mereka berdua tinggal di Surau An Nur dan Muhibbin memberikan tanggung jawab pengelolaan usaha peternakan peninggalan mendiang Jero Nengah Wirata pada Arsana, suami adiknya.


Arsana tak lain adalah sahabat Muhibbin dari banjar Galuh yang merupakan salah satu cantrik Resi Giri Waja dan atas restu sang Resi keduanya dipersatukan.


Muhibbin bangkit dari tempatnya kemudian menghampiri Raya Suci yang sedang bermain dengan Lingga.


Lelaki itu terlihat menjulurkan tangannya dan mengangkat tubuh Lingga dalam gendongannya, dengan penuh senyuman Muhibbin bercengkrama sejenak dengan anak adiknya itu.


"Keponakan Pak De sudah makin pintar ya?"


"Kau makin ganteng, Nang!"


"Wajahmu sama seperti mendiang kakiang mu." ujar Muhibbin sambil melirik ke arah Sekar dan Arsana.


"Lingga mau oleh-oleh apa dari Pak De?" imbuh lelaki itu, senyumnya terkembang sambil mencium bocah tiga tahun itu.


Lingga yang belum tau apa-apa hanya berceloteh semaunya sambil menarik-narik jenggot tipis yang tumbuh di dagu Muhibbin, anak itu terlihat riang berada di gendongan sang Paman.


Sesaat kemudian, Muhibbin berkata pada Raya Suci,


"Nduk, Pak Lik ke rumah Bibi Disya dulu ya."


"Kamu disini saja menjaga Lingga dan bantu-bantu Mbak Yu mu."


"Pak Lik sebelum petang pasti sudah kembali." ujar Muhibbin pada Raya Suci keponakannya.


"Iya Pak Lik." jawab Raya singkat sambil tangannya terjulur meraih Lingga ke dalam gendongannya.


"Ya sudah, Pak Lik berangkat dulu."


"Kar, Bli berangkat dulu." ujar Lelaki itu menoleh ke arah Sekar.


"Bli juga ke peternakan dulu ya, Gek." ujar Arsana pula pada sang istri.


Sekar mengangguk ke arah sang kakak dan sang suami.


Kedua lelaki itu keluar dari dalam rumah sambil mengayuh kereta anginnya dengan tujuan masing-masing.


***


'Praanngg!'

__ADS_1


Suara benda jatuh dan pecah berserakan di lantai.


Dengan wajah cemas seorang gadis kecil duduk berjongkok membersihkan pecahan-pecahan kaca yang berserakan.


"Tiara!"


"Berapa banyak lagi piring-piring akan kau pecahkan!" suara seorang wanita melengking mengagetkan gadis kecil berusia tujuh tahunan tersebut.


"Maaf Bu De, Tiara gak sengaja." ujar gadis itu terbata-bata, wajahnya tertunduk ketakutan sambil tangannya memungut dan membersihkan pecahan kaca.


"Dasar anak blandong!"


"Selalu menyusahkan!"


"Sama seperti ibumu yang layaknya mayat hidup itu!"


"Pokoknya aku tak mau tau!"


"Sebagai hukumannya, kamu sapu dan pel semua ruangan rumah ini."


"Setelah itu bersihkan seluruh halaman!"


"Hari ini tak ada makan siang ataupun makan malam untukmu!" hardik wanita itu pada sang gadis kecil, terlihat wajah penuh kegeraman dan sorot mata menyalang penuh kebencian terhadap gadis kecil tersebut.


"Me Iluh!"


"Me Iluh, kemana kau?"


"Cepat kemari!" teriakan wanita itu memanggil pembantunya.


Dengan tergopoh-gopoh seorang wanita tua bergegas ke arah dapur menemui wanita yang berteriak memanggilnya.


"Ya, Den Ayu."


"Den Ayu memanggil saya?" ujar wanita tua itu sambil membungkukkan badannya.


Sang majikan bertolak pinggang sambil sesekali dengan tangan kirinya menunjuk ke arah anak kecil yang masih jongkok didepannya.


"Kau awasi anak blandong ini!"


"Sebelum semua beres, jangan biarkan dia beristirahat."


"Awas kamu, jika membantunya!" hardik wanita itu pada Me Iluh.


"Baik, Den Ayu." jawab Wanita tua itu masih dalam posisi membungkuk dihadapan majikannya.


Dengan perasaan iba, Wanita tua itu melirik ke arah anak kecil yang masih berjongkok membersihkan pecahan piring dilantai, tak selang berapa lama sang majikan berlalu meninggalkan Me Iluh dan gadis kecil yang dipanggil Tiara itu.


Setelah selesai membersihkan pecahan piring, dengan berderai air mata gadis kecil itu mengambil sebuah ember dan kain yang tak jauh dari dapur itu.


Tangan kecilnya mulai membersihkan satu demi satu ruangan dari bangunan megah itu di awasi oleh sang pembantu.


Sementara Me Iluh hanya bisa terdiam melihat Tiara beranjak dari hadapannya, didalam hati wanita tua itu serasa teriris menyaksikan majikan kecilnya mendapat hukuman dari sang Bibi.


"Alangkah malangnya nasibmu, Den Ayu."

__ADS_1


"Andai Kakek mu masih ada dan ibunda mu tak sakit, mungkin dirimu tak akan diperlakukan seperti ini, Den." gumam Me Iluh dalam hati sambil menyeka air matanya dengan ujung kebayanya.


*****


__ADS_2