
Gadis itu terlihat duduk di bebatuan karang tak jauh dari kereta anginnya yang terparkir. Wajahnya merah merona masih terlihat di paras ayunya, dia pun tak menduga kejadian itu terjadi sehingga membuat dirinya salah tingkah pula didepan Muhibbin.
Di jumputnya kerikil yang ada di dekatnya dan dilemparkannya ke arah deburan ombak pantai Purnama.
"Wati, maafkan kejadian tadi. Sungguh aku tak sengaja dan tak ada niatan aku untuk berlaku kurang ajar padamu!" tiba-tiba Muhibbin sudah berada di dekatnya.
"Ah, jangan dipikirkan lagi Bin," Sariwati tertunduk malu.
"Aku tau itu tak sengaja."
Ada jarak dan kekakuan keduanya setelah kejadian itu. Namun tiba-tiba Sariwati memecahkan keheningan.
"Bin, boleh ku tanya sesuatu padamu?" kini Sariwati menatap pemuda disampingnya, tangannya sesekali merapikan kerudungnya yang tertiup angin pantai.
"Tanya apa?" mata Muhibbin masih tertuju pada gulungan ombak yang berkejaran. Tangannya sibuk memainkan kerang yang tadi di pungutnya bersama Sariwati.
"Tapi kamu jangan tersinggung, Ya!" ujar Sariwati.
"Apa kamu sudah memiliki kekasih?" kini suara Sariwati terdengar lirih.
"Tak perlu kamu jawab, jika kamu tak berkenan!" imbuhnya. Gadis itu terlihat semakin menundukkan wajahnya penuh rasa malu.
Muhibbin terlihat menghela nafasnya. Di tatapnya dara ayu yang ada disebelahnya.
"Aku masih belum berfikir ke arah sana, Wati. Masih banyak yang harus ku selesaikan selain tentang perasaan ataupun sebuah hubungan."
"Tanggung jawabku pada keluargaku membuatku menanggalkan masalah asmaraku. Ibu, kakakku dan keponakanku masih memerlukan perhatianku." jawab Muhibbin.
"Oh, gitu ya?" ujar Sariwati.
__ADS_1
"Iya Wati, Aku ingin tuntaskan tanggung jawab ku dulu pada keluarga ku. Mungkin terdengar naif tapi aku takut bila aku menjalin hubungan asmara ataupun berkeluarga, apakah pasangan ku akan menerima keadaan dan keluarga ku? Bagaimana pun aku anak laki-laki terakhir dalam keluarga ku dan tanggung jawab sebagai tulang punggung harus aku jalani." ujar Muhibbin.
Terlihat pemuda itu bangkit dan tatapan nanar tersemat di matanya.
"Aku ini anak orang tak punya, Wati! dan diriku harapan satu-satunya keluargaku. Walaupun ku korbankan perasaan ku sementara ini, gak apa-apa. Yang ingin ku capai adalah kehidupan layak untuk mereka." pungkas Muhibbin.
Sariwati pun mulai bangkit dan mendekati lelaki di hadapannya itu. kedua tangan lentiknya merengkuh tangan Muhibbin.
"Bin, Aku janji akan selalu membantu mu dan akan selalu ada saat kau membutuhkan ku." tatapannya terarah pada wajah pemuda itu. bulir-bulir bening menetes di sudut matanya.
"Aku juga tak memiliki siapa-siapa di negeri ini, Bin. Kaulah satu-satunya orang yang tulus membantu ku selama ini. Hutang budi ku besar terhadap mu." kini Sariwati mulai terisak.
"Hai, kenapa kau jadi sedih gini." ujar muhibbin merengkuh pundak sahabatnya.
"Aku tau dan aku percaya pada mu,"
"Kita sama-sama perantau dan dirimu sudah ku anggap sebagai bagian dari keluargaku, Kita sama-sama saling menjaga satu dengan lainnya." pungkas lelaki itu pada sahabatnya, Muhibbin melepaskan rengkuhannya pada pundak Sariwati.
"Ya, Disya dan keluarganya sangat baik sejak dulu, Kami sama-sama pernah di besarkan di lereng Ijen dan takdir Ilahi mempertemukan kita kembali di negeri ini."
"Tapi jujur, memang dulu aku memiliki perasaan suka padanya namun aku tak berani. Aku masih tau batasan diriku, Wati."
"Cinta dan perasaan itu tak mengenal kasta, Bin!"
"Aku perhatikan Disya juga menyukaimu, aku lihat bagaimana khawatirnya dia saat terjadi kerusuhan tahun lalu disini dan selama dirimu dalam pengobatan akibat perkelahian itu. Apa kau tak menyadarinya?" ujar Sariwati.
"Tapi aku tak berani, Wati! Aku masih tau diri siapa dan dari strata mana keluargaku." jawab Muhibbin.
"Kamu terlalu memandang kelas sosial, Bin!"
__ADS_1
"Zaman sekarang, hal itu tak lagi menjadi patokan. Asalkan keduanya saling suka, apapun bisa kalian lakukan." pungkas gadis itu.
"Ya itu kan pandanganmu, tapi pandangan masyarakat kita masih di pengaruhi dan menilai bibit, bebet dan bobot dalam menjalin sebuah hubungan keluarga."
"Dan apa mungkin, orang seperti diriku yang hanya anak seorang janda tua, tak memiliki harta berlimpah bisa dengan mudah masuk dalam lingkungan keluarga berada?" ujar Muhibbin.
"Kamu jangan berkecil hati, Bin. Aku yakin suatu saat akan ada orang yang akan menerimamu apa adanya." gadis itu menatap Muhibbin penuh makna.
"Lalu bagai mana perasaan mu pada ku , Bin?" ujar Sariwati kembali. Kini terlihat mata dara itu lekat memandangnya.
Mendengar pertanyaan Sariwati, Muhibbin tertegun sejenak. Senyumannya pun tersungging.
"Kamu baik, Wati! walaupun aku belum tau latar belakang mu tapi aku meyakini kamu tulus pada ku."
"Hanya itu saja?" ujar Sariwati tersenyum.
"Iya gitu aja, terus mau mu seperti apa? jawab Muhibbin mulai tertawa.
" Apakah tak ada perasaan sedikitpun di hatimu padaku, Bin?" tanya Sariwati ikutan tertawa.
"Ah kamu ini, bisa saja." terlihat Muhibbin salah tingkah.
Pikirannya bergolak mengingat kejadian tadi, ada rasa aneh menjalar dalam kisi-kisi hatinya. Apalagi sekarang penampilan Sariwati jauh berbeda dari yang dikenalnya selama ini. Gadis itu terlihat ayu, kecantikannya tak kalah dengan paras Disya. Selain perubahan fisik, sikap Sariwati yang dulu tertutup dan pendiam kini lebih berani dan terbuka.
Muhibbin tak tau bahwa kebanyakan dan kebiasaan lingkungan muda-mudi kota besar seperti Negeri Banjir lebih terbuka dalam bergaul dan menyatakan perasaan ataupun keinginannya, beda dengan muda-mudi di negeri-negeri lain yang lebih pemalu dan tertutup dalam hal pergaulan apalagi perasaan.
"Aku menyukaimu, Bin!"
Muhibbin terhenyak mendengar perkataan Sariwati.
__ADS_1
---------------------------