
Pintu ruangan terbuka, nampak tuan Bendowo melangkah di susul oleh sang istri nyonya Warika, Sariwati dan Tiara.
Nampak terlihat wajah-wajah kesedihan menggelayuti mereka tatkala keluar dari ruangan itu.
Sariwati terlihat menangis sesenggukan begitupun dengan Tiara putrinya yang terus memeluknya erat-erat.
Pemandangan itu menarik perhatian kumpulan Disya dan rekan-rekannya. Pandangan mereka tertuju pada keluarga besar dinasti Harsuto itu.
Ada rasa penasaran tampak di wajah Disya mendapati keluarga itu keluar dengan keadaan menangis dan bersedih. Tiba-tiba dadanya merasa sesak dan perasaan tak enak menggelayuti hatinya. Wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri keluarga tuan Bendowo yang tak jauh dari tempatnya berada.
Sekar dan yang lain pun turut penasaran melihat keluarga Sariwati keluar dari ruangan tanpa diikuti oleh Resi Giri Waja, Gus Aji Putra maupun Gung Niang Mirah. Tanpa aba-aba merekapun mengikuti langkah Disya dari belakang mendekat ke arah Sariwati dan keluarganya.
Dengan tatapan tajam dan masih menyiratkan rasa penasaran, Disya bertanya pada keluarga tuan Bendowo itu.
"Tuan, Nyonya ... apa yang terjadi?"
"Mengapa hanya kalian yang keluar dari ruangan?"
"Bagaimana keadaan Ibbin saat ini?" Tanya Disya sambil menatap satu persatu wajah-wajah sedih didepannya.
Namun tuan Bendowo dan yang lainnya tetap terdiam, hal itu membuat Disya semakin penasaran. Kini jantungnya terasa berdegup kencang, nampak jelas kekhawatiran di wajah ayunya.
"Wati ... tolong katakan, apa yang terjadi?"
"Bagaimana keadaan Ibbin saat ini?" Kini Disya beralih bertanya pada Sariwati.
Putri tuan Bendowo itupun tak menjawab dan hanya isakan tangisnya semakin kencang dengan wajah tertunduk dan memeluk putrinya Tiara.
"Ada apa ini!"
"Tak adakah dari kalian semua mau menjelaskan padaku?" Seru Disya dengan suara sedikit meninggi, matanya mulai berkaca-kaca menatap silih berganti orang-orang didepannya.
"Wati ... tolong katakan, apa yang terjadi pada Ibbin!"
"Wati!" Teriak Disya sambil mengguncangkan pundak Sariwati.
Tak sepatah katapun keluar dari bibir Sariwati, wanita itu tetap diam dan masih menangis sambil memeluk Tiara.
"Baiklah ... jika dari kalian tak mau menjawab apa yang terjadi didalam sana!" Ujar Disya meradang, kini air matanya mulai bercucuran, wajahnya terlihat kaku dan kakinya melangkah meninggalkan Sariwati beserta keluarganya. Dia terlihat berjalan kearah pintu kamar dan tangannya mulai mendorong pintu kayu itu.
"Dis, tunggu!"
"Apa yang akan kau lakukan?" Ujar Sekar yang sedari tadi memperhatikan percakapan antara Disya dan keluarga Sariwati. Namun Disya tak menghiraukan perkataan Sekar dan para sahabatnya, kini wanita itu terlihat mulai melangkah kedalam ruangan.
Sekar yang merasakan gelagat janggal itu pun ikut masuk kedalam di ikuti oleh Raya, Puan Rizza dan Diera.
***
Sementara didalam kamar, terlihat Resi Giri Waja bersila dibelakang Muhibbin dengan tangan menempel dipunggung lelaki itu, begitupun dengan Gus Aji Putra dengan posisi yang sama namun berada didepan Muhibbin melakukan gerakan yang sama dilakukan oleh kakaknya.
Dengan mata terpejam keduanya nampak menyalurkan tenaga murni pada Muhibbin yang saat ini kembali tak sadarkan diri, sementara Gung Niang Mirah terlihat sibuk meracik bahan-bahan obat yang ada di meja tak jauh dari kedua kakak seperguruannya.
Namun tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan beberapa orang menyeruak masuk kedalam, tatapan Gung Niang Mirah tertuju pada orang-orang yang melangkah mendekatinya.
"Apa-apaan kalian!"
"Bukannya kakang Resi sudah mengatakan jangan ada orang yang masuk kedalam."
"Apa yang kalian lakukan?"
"Ayo cepat keluar, jangan ganggu kami untuk saat ini!" Hardik Gung Niang Mirah pada orang-orang dihadapannya yang tak lain adalah Disya dan kawan-kawannya.
"Niang ... tolong katakan, apa yang terjadi pada Ibbin, Niang?" Tanya Disya pada sang guru sambil merengkuh kedua lengan wanita tua itu. Air matanya bercucuran dari wajah cantiknya.
"Dis, saat ini bukanlah waktu yang tepat kau berada disini."
"Kau dan kawan-kawanmu tunggulah diluar."
"Saat ini kami berupaya menolongnya."
"Kehadiran kalian diruangan ini justru akan mengganggu pekerjaan kami." Kata Gung Niang Mirah memberi penjelasan.
"Tidak!"
"Aku tak akan keluar, aku akan tetap disini menemani Ibbin, Niang." Ucap Disya mulai histeris sambil melihat Muhibbin yang mendapatkan perawatan dari Resi Giri Waja dan Gus Aji Putra.
"Disya!"
"Tolong dengarkan Niang!"
"Kehadiranmu saat ini jutru akan mengganggu proses pengobatannya."
__ADS_1
"Untuk kali ini tolong kendalikan dirimu." Ucap Gung Niang Mirah kembali.
"Tidak Niang!"
"Aku tak akan keluar, aku tak ingin berpisah dengan Ibbin lagi, Niang." Ucap Disya sesenggukan, tatapannya terus mengarah pada Muhibbin yang masih tak sadarkan diri.
"Disya, Niang tau apa yang kau rasakan, Ning."
"Tapi tolong untuk kali ini kau turuti perkataan Niang."
"Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk keselamatan Muhibbin."
"Tunggulah diluar, nanti saat tunanganmu siuman kau boleh masuk kembali." Ujar Gung Niang mirah memberi pengertian pada muridnya. Direngkuhnya Disya kedalam pelukannya.
Untuk beberapa saat ruangan kembali hening, hanya tangisan lirih disya dibalik pelukan Gung Niang Mirah memecah kesunyian.
"Sekar ... tolong kau bawa Disya keluar untuk sementara, biarkan Niang dan Kakiang di sini bekerja lebih tenang." Seru wanita paruh baya itu pada Sekar yang kini sudah berada disamping Disya.
"Baik, Niang." Ucap Sekar dengan mata berkaca-kaca pula.
"Ayo Dis, kita semua keluar untuk sementara, biarkan Niang dan Kakiang menangani Bli Ibbin."
"Saat ini tak ada yang bisa kita lakukan, mari doakan saja untuk keselamatan Bli Ibbin, Dis." Ucap Sekar kembali sambil memapah Disya yang terlihat terpukul mendapati keadaan Muhibbin kekasihnya. Sementara Diera dan Puan Rizza nampak memeluk Raya Suci yang telihat menangis meratapi dan menyaksikan sang paman kembali tak sadarkan diri.
***
"Le ... bangunlah, Nang." Sebuah suara tak asing terdengar berbisik lirih.
Muhibbin membuka matanya, dipandanginya satu persatu wajah-wajah didepannya.
"Emak! Abah! Mbak Yu!" Ucap Muhibbin terperanjat melihat orang-orang yang sangat dikenalnya.
"Ajik! Ujarnya kembali melihat sosok lelaki paruh baya berpakaian khas negeri Pantai yang berdiri disamping ayahnya Ahmad.
"Mengapa kalian berada disini?" "Bagaimana keadaan kalian semua?" Ucap Muhibbin kembali dengan perasaan terkejut mendapati orang-orang yang sangat disayanginya.
Lelaki itu nampak bangkit dari tempatnya berbaring dan memeluk erat satu persatu orang-orang didepannya. Tangisannya pecah menumpahkan segala kerinduan dan beban yang selama ini dipikulnya.
"Sudah cah bagus ... sekarang kau jangan bersedih lagi."
"Tak lama lagi kita akan berkumpul bersama, Nang." Ucap bu Suratmi dengan lembut sambil membelai rambut putranya. Wajah wanita tua itu terlihat bersih bercahaya.
"Ada Abah, Emak, Ajik dan Mbak Yu yang akan selalu bersamamu mulai saat ini."
"Kita tak akan berpisah lagi."
"Tak akan ada kesedihan lagi yang akan kau alami, Nang." Ucap Cahaya pada adiknya, didekapnya Muhubbin yang masih memeluk bu Suratmi.
Muhibbin mengusap air matanya, ditatapnya kembali satu persatu wajah-wajah didepannya dengan perasaan tak percaya.
Pak Ahmad terlihat tersenyum menyaksikan anak lelakinya,
"Kemarilah Nang, Abah sangat merindukanmu."
"Sudah lama abah menunggu saat-saat ini, Le." Ucap lelaki paruh baya yang memakai sorjan dan penutup kepala hitam itu pada putranya.
Muhibbin mendekat pada sang ayah yang telah lama meninggalkannya. Tatapannya sayu menyiratkan kerinduan pada laki-laki tua yang sangat menyayanginya itu.
"Abah ..." gumam Muhibbin tak kuasa melanjutkan perkataannya. Dipeluknya erat-erat lelaki tua dihadapannya.
"Sudah, sudah ... kau tak perlu menagis lagi, Nang."
"Kita sekarang sudah berkumpul kembali"
"Tak ada lagi penderitaan dan kesedihan yang selalu kau alami."
"Abah sangat bangga padamu, Nang."
"Kau tumbuh mandiri dan bertanggung jawab pada keluarga kita selama ini."
"Sudah saatnya kau berkumpul dengan kami disini."
"Lepaskan lelahmu selama ini dan sematkan kebahagiaan dihatimu, Nang."
"Lihatlah, disinipun ada ayah angkatmu, ada ibumu dan juga ada mbak yu mu."
"Lapangkanlah hatimu, lepaskan rasa kepemilikanmu."
"Tanggalkan semua beban-bebanmu."
"Hilangkanlah rasa kekhawatiranmu."
__ADS_1
"Berpasrahlah pada yang kuasa yang selalu memberikan karunianya selama ini padamu."
"Kau sekarang bebas dari ikatan duniawimu." Pungkas pak Ahmad pada Muhibbin.
Sementara Muhibbin masih tak percaya dapat berkumpul bersama orang-orang yang sangat dikasihinya, dikerjapkannya kedua matanya.
Jero Nengah Wirata pun tersenyum melihat apa yang dilakukan Muhibbin. Lelaki tua itupun mendekat dan memeluk erat anak angkatnya.
"Tenangkanlah hatimu, Nak Mas."
"Seperti yang ibu dan ayahmu katakan, bahwa sebentar lagi kita akan bersama dan tak terpisahkan."
"Buang jauh-jauh keraguan dihatimu." Ucap Jero Nengah Wirata lirih, senyum lembutnya masih tersungging dibibirnya.
***
Suara keributan terdengar diluar ruangan, Gung Niang Mirah yang tengah mempersiapkan racikan obat terlihat nengerutkan dahi, sementara Resi Giri Waja dan Gus Aji Putra masih dengan posisi semula bersila saling berhadapan dan ditengahnya terdapat Muhibbin yang masih tak sadarkan diri sedang menerima penyaluran hawa murni dari kedua lelaki tua itu.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka kembali dan Sekar jempiring terlihat panik mendekat ke arah Gung Niang Mirah.
"Niang-niang ... tolong Disya, Niang." Seru wanita muda itu kearah Gung Niang Mirah yang sedang meracik obat, nampak diwajahnya tersirat kekhawatiran.
"Ada apa, Kar."
"Apa yang terjadi dengan Disya?" Jawab tabib wanita itu penuh tanda tanya, di letakkannya beberapa tanaman obat yang sebelumnya digenggamnya.
"Disya, Niang!"
"Disya sepertinya akan melahirkan."
"Air ketubannya telah pecah." Jawab Sekar pada Gung Niang Mirah.
Nampak Gung Niang Mirah terdiam sejenak, jemarinya digerak-gerakkan seolah-olah menghitung sesuatu.
"Sembilan bulan tujuh hari ..."
"Ternyata sudah saatnya." Gumam Gung Niang Mirah setelah terlihat menghitung sesuatu.
"Ayo kita lihat keadaan Disya, Kar." Seru wanita tua itu sambil bergegas melangkah keluar diikuti sekar.
Sesampainya di luar ruangan, terlihat Disya terbaring kesakitan di lantai, nampak nyonya Warika dan Sariwati berusaha membantunya, sementara yang lain hanya terdiam dengan perasaan cemas melihat keadaan putri tuan Sirkun itu.
"Bagaimana keadaannya, Nyonya?" Tanya Gung Niang Mirah yang kini berjongkok disebelah nyonya Warika yang sedang memangku Disya.
"Sepertinya, anak ini akan segera melahirkan, Ni Sanak."
"Air ketubannya sudah mulai pecah." Jawab nyonya Warika sambil menatap Gung Niang Mirah. Sementara Disya terus merintih menahan sakit dengan wajah pucat pasi.
"Ni Mas Wati, menepilah sebentar."
"Biarkan saya memeriksa keadaan Disya." Seru tabib wanita itu pada Sariwati yang tengah memberi pertolongan pada Disya.
Dengan wajah tegang dan serius, Gung Niang Mirah nampak menyentuh nadi Disya, tak berapa lama tangan rentanya yang terlihat cekatan menyentuh bagian perut Disya yang membesar.
"Jagat Dewa Batara ..."
"Kondisi bayinya sungsang." gumam Gung Niang Mirah dalam hati.
"Ada apa Ni Sanak, bagaimana keadaannya?" Tanya nyonya Warika melihat perubahan wajah Gung Niang Mirah.
"Iya bagaimana keadaannya, Niang?" Timpal Sekar dan teman-temannya yang lain. Sementara Sariwati hanya terdiam melihat perubahan raut wajah tabib tua didekatnya, wanita muda itu yang memiliki pengetahuan pengobatan pun tahu apa yang saat ini terjadi pada kondisi kandungan Disya.
"Sebaiknya kita bawa kedalam ruangan."
"Ni Mas Wati ... kau tadi mengatakan bahwa memiliki pengetahuan tentang dunia pengobatan."
"Apakah kau bisa membantu Niang untuk menolong persalinan Disya?" Tanya Gung Niang Mirah pada Sariwati yang diam tertegun.
Dengan anggukan kepala, putri tuan Bendowo itu menjawab singkat.
"Bisa, Niang." Ujarnya.
"Baguslah, ayo kita segera kedalam."
"Dan kau sekar tolong siapkan air hangat dan kain bersih untuk Disya."
"Sementara yang lain tetap disini, sewaktu-waktu ada yang aku perlukan agar lebih mudah jika ada kalian." Pungkas tabib tua itu.
Dengan dibantu tuan Bendowo dan beberapa Cantrik pria, tubuh Disya di angkat kedalam ruangan dan dibaringkan disebuah balai bambu yang tak jauh dari tempat Muhibbin menerima pengobatan.
***
__ADS_1