KAHANAN

KAHANAN
CH 140 - SUKMO LELONO


__ADS_3

"Dimanakah aku ini?"


"Apakah ini alam kematian?"


"Tapi tunggu ... ini seperti hutan belantara, pohon-pohon tumbuh menjulang tinggi."


"Bagaimana aku bisa berada ditempat ini?"


"Bukankah diriku sebelumnya berada dirumah tua dalam sekapan wanita itu?"


"Apa gerangan yang terjadi pada diriku?" gumam Muhibbin dalam hati sambil mengingat keberadaannya terakhir kali.


Pemuda itu melangkah menyibak rimbunnya semak belukar dihadapannya, pandangannya terus mengamati sekelilingnya.


Rumput ilalang setinggi manusia dewasa menyapanya didepan langkahnya. Hamparan padang ilalang sejauh mata memandang terhampar luas. Namun pandangan Muhibbin terhalang tingginya ilalang itu.


"Dimanakah aku saat ini?"


"Mengapa aku bisa berada di tempat ini?" ucap Muhibbin sambil terus melangkahkan kakinya. Tangannya pun saat ini turut menyibak ilalang yang dilaluinya.


Cahaya langit seolah terasa berbeda dirasakan pemuda itu, pendar terik sang surya seolah tak terasa manakala menyentuh kulitnya dan nampak diujung cakrawala bergelantungan bintang gemintang yang terlihat riang saling tersenyum satu dengan lainnya.


Gumpalan awan seputih kapas pun seolah menari-nari tertiup semilirnya angin, entah suasana apa yang ada saat ini dihadapannya. Jika dikatakan siang, mengapa gugusan bintang nampak terlihat, jika dikatakan malam, pendar surya nampak terlihat terang. Setiap mahluk serasa 'hidup' dalam artian saling berinteraksi dan berkomunikasi layaknya keakraban alam bestari yang tak pernah disaksikan langsung didunia fana.


"Sungguh aneh, tempat apa ini?" kembali Muhibbin bertanya dalam hati. Matanya terus mengamati disekelilingnya seolah menampakkan sebuah cengkrama yang tak pernah disaksikannya.


Langkah Muhibbin terhenti manakala di ujung sana terlihat sebuah telaga, Pemuda itu bergegas memperlebar langkahnya. Muhibbin tercekat dengan apa yang ada di hadapannya.


Nampak terlihat seseorang tengah bermain di pinggiran telaga, di sekitarnya dikelilingi oleh binatang-binatang liar turut bercengkrama.


Anak harimau, rusa, burung, gajah, orangutan, kelinci nampak riang gembira. Sulur-sulur beringin pun serasa 'hidup' besenda ria dengan sesekali membelit anak-anak hewan hutan dan melemparnya ke air danau. Tawa riang terdengar dari mulut mereka dan seolah-olah Muhibbin mengerti dengan bahasa yang digunakan.


Yang menarik perhatian dari pengamatan Muhibbin adalah sesosok mahluk bertubuh pendek berkulit hitam legam dengan wajah menyeramkan layaknya raksasa namun berperawakan bak anak manusia.


Sosok itu terlihat riang gembira bersama para anak binatang- binatang hutan yang menemaninya. Ada sebuah mangkuk terbuat dari batok kelapa ditangan kanannya dan sebatang lidi pelepah janur ditangan kirinya.


Muhibbin terus mengamati dari balik semak-semak, kembali nampak sosok hitam itu terlihat menciduk air telaga dengan batok kelapa yang dipegangnya. Namun batok kelapa tersebut terlihat berlubang di bawahnya dan air telaga merembes keluar dari dalamnya. Namun sosok itu tak berhenti, tangannya terus menciduk air telaga seolah-olah ingin menguras isinya dan hal itu membuat kawanan anak binatang hutan tertawa.


"Siapakah orang itu?" gumam Muhibbin dalam hati.


"Wajahnya terlihat buruk rupa namun para binatang dan tumbuhan di sekitarnya terlihat sangat menyayanginya?" gumam Muhibbin.


"Dimana aku ini?"


"Alam apa ini, aku belum pernah melihat alam sedamai ini?"


Pertanyaan demi pertanyaan kembali berkelebat di pikiran Muhibbin. Pemuda itu memberanikan diri melangkah keluar dari balik semak-semak dan mendekat ke arah sekumpulan anak binatang hutan dan sosok hitam legam yang menurut perkiraannya setinggi anak kecil berusia lima tahunan.


Namun keanehan terjadi, kehadiran Muhibbin seolah-olah tak dirasakan oleh mereka, seolah-olah ada tabir menghalangi antara Muhibbin dan para anak hewan hutan dan sosok hitam legam dihadapannya.


"Kisanak, siapa andika ini?" tanya Muhibbin pada sosok hitam legam itu, namun suara dan kehadiran Muhibbin seolah tak terlihat.

__ADS_1


"Kisanak, apa kau mendengarku?" Kembali Muhibbin berteriak, namun lagi-lagi teriakan itu tak mendapat jawaban.


Muhibbin melangkah semakin dekat ke arah sosok hitam legam dan tangannya berusaha meraih pundaknya, namun Pemuda itu seolah merengkuh ruang kosong dan sosok hitam legam itu tak tersentuh olehnya.


"Dimana aku ini, siapa kalian?" kini suara Muhibbin terdengar bergetar, perasaan risau mulai menghinggapi hatinya, namun kembali tak ada jawaban dari panggilannya.


Pemuda itu terduduk lemas dipinggir telaga tak jauh dari sosok hitam legam, wajahnya terlihat murung terus menatap mahluk-mahluk didekatnya yang tak dapat melihat dan merasakan kehadirannya.


"Bajang Anom, ayo kita pulang, cukup sudah kita bermain hari ini, ibu pasti mencari kita." terdengar auman anak harimau pada sosok hitam legam itu.


"Iya ayo kita pulang, sebentar lagi Dewa Surya akan keperaduan dan Dewi Candrawati akan menggantikannya." timpal anak rusa pada sosok hitam legam yang dipanggilnya Bajang Anom.


"Baiklah kawan-kawan, tapi kita pamit dulu ke ibu beringin." jawab Bajang Anom pada gerombolan anak binatang hutan itu.


"Ibu, Anom pulang dulu, besok kita bermain lagi ya, ibu?" ujar Bajang Anom sambil memeluk batang pohon beringin didepannya.


Seolah-olah tau apa yang dikatakan Bajang Anom, sulur-sulur beringin itu membelai lembut wajah hitam legam dihadapannya.


Muhibbin yang menyaksikan pemandangan di hadapannya itu terperanjat,


"Siapa mereka, bagaimana aku bisa mengerti bahasa mereka?"


"Bagaimana mereka tak menyadari kehadiranku, alam apa ini?" pertanyaan demi pertanyaan kembali menggelayut dibenak Muhibbin. Mata pemuda itu terlihat basah dan wajahnya nampak gundah memikirkan hal yang terjadi dihadapannya.


"Anom, ayo kejar aku!" auman anak harimau membuyarkan lamunan Muhibbin.


Anak-anak binatang hutan itu berlari sambil tertawa riang diikuti Bajang Anom dibelakangnya. Perawakannya yang pendek dengan perut buncit tak kalah gesit mengimbangi lari para binatang hutan. Sesekali batang lidi di tangan kirinya berayun ke tubuh para kawanan hewan dan disambut gelak tawa dari wajah Bajang Anom, nampak gigi-giginya yang berderet bak duri-duri pandan menyembul di antara bibirnya yang tebal.


Melihat sekumpulan mahluk didepannya berlari, Muhibbin pun turut berlari mengikutinya, seolah tak ingin tertinggal dari kawanan anak-anak hewan hutan dan Bajang Anom.


"Ibu ... ibu, aku pulang." teriak anak harimau yang berada di pundak Bajang Anom dan tak berapa lama seekor harimau betina keluar dari mulut gua, melihat hal itu langkah Muhibbin surut kebelakang penuh kekhawatiran namun tak begitu dengan kumpulan anak-anak hewan hutan dan Bajang Anom didepannya.


"Ibu, hari ini aku sudah bermain dengan anakmu, kini ku kembalikan lagi padamu." ujar Bajang Anom pada induk harimau.


Seolah mengerti dengan yang dikatakan Bajang Anom, induk harimau itu mendekat dan menjilati wajah legam Bajang Anom dan disambut tawa riang sosok hitam legam itu.


Muhibbin kembali terkesima melihat pemandangan didepannya,


"Alam apa ini, apakah ini alam kematian?"


"Bagaimana ini bisa terjadi?" gumamnya kembali.


Selepas dari mulut gua, rombongan anak-anak hewan hutan yang lain kembali berlari di iringi oleh Bajang Anom di sampingnya, kelinci yang tak begitu gesit mengimbangi hewan lainnya berada di dalam pelukan Bajang Anom, tangan kirinya yang terbiasa memegang sebatang lidi janur kini mendekap sang kelinci, tawa riang kembali terdengar diantara iring-iringan anak-anak hewan hutan itu sambil terus menyusuri belantara yang dilaluinya.


Muhibbin yang berada di belakangnya terus mengamati tingkah polah mahluk-mahluk didepannya. Ada perasaan damai hinggap dirongga dadanya menyaksikan kebersamaan Bajang Anom didepannya dan kecintaan para hewan dan tumbuhan pada sang buruk rupa.


Satu persatu anak-anak hewan hutan itu di bawanya kembali ke induknya dan kini langkah Bajang Anom gontai menuju ke puncak bukit dan diantara bebatuan nampak sebuah rongga seukuran saung petani menghadap ketebing , itulah tempat peristirahatannya selama ini dan hidup sendiri.


Muhibbin berjalan perlahan mendekat ke arah Bajang Anom yang duduk termangu di pinggir tebing, nampak sosok hitam legam itu menegadahkan wajahnya memandang cakrawala yang mulai temaram.


Suara burung kedasih berkicau pilu diantara pohon-pohon bambu tak jauh dari tempat itu, suaranya sarat akan kerinduan dan kesedihan menyambut datangnya malam.

__ADS_1


Muhibbin terus menatap Bajang Anom yang masih hanyut memandang pekatnya petang, kehadirannya seolah mahluk tak berwujud yang tak bisa dirasakan oleh sekitarnya.


"Bajang Anom, kenapa kau selalu murung dikala malam?"


"Apakah kehadiranku selama ini menemanimu tak membuatmu bersuka ria?" sapa burung kedasih sediit parau pada Bajang Anom.


Mahluk hitam legam itu sekilas menatap burung kedasih yang bertengger tak jauh dari dirinya, pandangannya kembali tengadah melihat langit yang gelap gulita.


"Bagaimana aku bisa gembira, selayaknya pekatnya malam yang mencekam selalu menemaniku, begitupun dirimu yang selalu merindukan cahaya bulan?" jawab Bajang Anom pada burung kedasih.


"Aku merindukan sesuatu namun tak tau apa itu dan apa yang akan terjadi setelah tunai rinduku." ujarnya kembali.


"Ya, aku mengenal kesepianmu, seperti dirimu aku pun merindukan cahaya bulan." ucap burung kedasih pilu.


"Tapi aku iri padamu, Kedasih."


"Walaupun kau berteman dengan pekatnya malam namun ada kalanya dirimu melepas rindu bercumbu rayu dengan cahaya rembulan."


"Dan kau pun tau apa yang kau rindukan."


"Sedangkan diriku, siapa sebenarnya aku?"


"Selama ini aku hanya sendiri dan hanya kesendirian itu yang aku kenali."


"Hanya dalam kesendirian itu aku ada dan hidup."


"Tapi mengapa sekarang aku tak suka lagi sendiri dan tak dapat hidup dalam kesendirian?"


"Dan apa yang aku akan dapatkan jika tidak dalam kesendirian?" ratap Bajang Anom penuh kesedihan.


Muhibbin terhenyak mendengar percakapan antara Bajang Anom dan burung kedasih, percakapan dua mahluk didepannya seolah mewakili apa yang dirasakannya selama ini.


Hatinya tersiksa selayaknya apa yang dialami Bajang Anom yang berteman malam, tersiksa layaknya burung kedasih yang merindukan cahaya bulan.


Tersiksa dengan tak sedikitpun penghiburan, kegembiraan dan kepuasan ia punyai. Kebahagiaan dikala siang seolah remahan arang yang akan musnah ditelan gelapnya malam tatkala kembali dalam sendirian.


Jiwanya meronta ingin terbang setinggi-tingginya namun hasrat itu tak bisa dilakukan karena dengan raganya dirinya terikat dengan bumi dan ia merasa miskin dihadapan jiwanya sendiri.


"Apa semua ini?"


"Mengapa aku berada disini dan menyaksikan mahluk Bajang Anom beserta deritanya?"


"Menyasikan kasih sayang para binatang dan tumbuhan padanya."


"Alam apa ini?" kembali pengulangan pertanyaan hinggap di benak Muhibbin.


"Mengapa aku seolah kehilangan jiwaku sendiri?"


"Aku pun tak berani melangkah dalam kegelapan, aku tak berani diayun-ayunkan dan dibuai olehnya."


"Aku merasa kegelapan itu berujung namun tak berani membayangkan apa yang ada di ujung kegelapan itu sendiri."

__ADS_1


"Ternyata kegelapan itu memisahkanku dengan apa yang ada diujungnya."


***


__ADS_2