KAHANAN

KAHANAN
CH 27 - KEGADUHAN NEGERI PANTAI PART X ( TERUNGKAP )


__ADS_3

"Mundur, atau wanita ini akan mati!" salah seorang penyerang mengancam para Bhayangkara yang mengepung ketiganya.


"Aku tak main-main," pungkas orang itu kembali melihat keadaannya semakin terdesak.


"Tuan, setelah aba-aba ku larilah sekuat tenaga, biar Seno yang akan menemani tuan," bisik lelaki itu pada Yanto.


"Tapi apa yang akan kau rencanakan?"


"Bagaimanapun kita adalah satu keluarga, kita hadapi bersama-sama," kini Yanto berbisik pada lelaki disampingnya.


Sementara Sariwati terus meronta, laki-laki yang dipanggil Seno semakin erat mendekap leher wanita itu dan mengacungkan celurit yang di pegangnya ke arah para Bhayangkara yang merangsek maju.


"Lepaskan Aku!" rintih Sariwati mulai kesulitan bernafas akibat dekapan tangan Seno pada lehernya. Gadis itu terlihat meronta berusaha melepaskan diri.


"Lepaskan gadis itu!" hardik tuan gubernur pada sisa gerombolan penyerang dan Yanto. Para Pecalang dan Bhayangkara semakin merapatkan barisan mengepung ketiganya.


Panah dan hunusan senjata tajam terarah pada para pengacau.


"Sekali lagi ku peringatkan, lepaskan gadis itu. Maka aku akan mempertimbangkan hukuman yang tepat untuk kalian bertiga!" kembali tuan gubernur angkat suara.


"Hahahaha, omong kosong. Aku hafal tabiatmu tuan gubernur," kembali lelaki penyerang itu menjawab.


"Tuan kini saatnya,"


"Seno segera bawa tuan Yanto dan wanita itu keluar dari tempat ini!" kata lelaki itu pada Yanto dan rekannya yang dipanggil Seno, terlihat tangannya merogoh sesuatu dari balik pakaiannya.


"Tapi kakang?" kini Seno berkata pada lelaki di depannya, terlihat kecemasan dimatanya melihat rekannya memegang sebuah tabung bersumbu yang mulai menyala.


"Tak ada tapi-tapian, segera buka jalan dan pergi dari tempat ini. Biar aku yang menyelesaikan sisanya!" suara lelaki itu mulai meninggi menghardik Seno.


"Lalu bagaimana dengan dirimu, Karto?" pekik Yanto pada lelaki itu yang dipanggil Karto.


"Tuan tak perlu pikirkan saya, selamatkan diri tuan dan tolong jaga Seno adik saya," ujar Karto pada Yanto sambil mendorong keduanya.


"Sekarang pergilah!" dengan segera karto menerjang kerumunan. Gerakannya membabi buta ke arah para Bhayangkara yang mengepungnya, tangannya dengan sigap mengayunkan golok pada para pengepungnya, beberapa Bhayangkara roboh mengerang akibat sabetan golok Karto.


Celah mulai terbuka, Yanto dan Seno yang masih mendekap Sariwati segera melompat berusaha melarikan diri. Hujan anak panah dari pasukan Bhayangkara melesat ke arah Karto yang masih beringas melakukan perlawanan dengan tangan kiri masih memegang tabung bersumbu yang tak lain adalah peledak yang biasa dikenal dengan nama bondet. Lelaki itu menangkis anak panah yang mengarah padanya.


Dia semakin membabi buta dan mulai mengincar tuan Timoti yang di apit oleh pak Nengah dan tuan Sirkum. Melihat hal itu tuan Timoti mundur diikuti orang-orang didekatnya, sedangkan kepala Bhayangkara berusaha melindungi pimpinannya.

__ADS_1


"Awas menjauh, lelaki itu akan meledakkan dirinya!" pekik kepala Bhayangkara memerintahkan tuan Timoti dan pasukannya menjauh.


Semua yang berada di dalam ruangan Balai Banjar Manguntur semburat menjauh dari Karto dan tiba-tiba tanpa diduga Prawira Utama melemparkan sangkur di pinggangnya ke arah Karto yang tak bisa dihindari oleh lelaki itu.


Yanto dan Seno yang telah berada diluar Balai Banjar Manguntur memberikan perlawanan pada para Pecalang dan Bhayangkara yang mengejarnya. Keduanya yang masih menawan Sariwati sebagai tameng hidup, berjibaku menghindari serangan anak panah dan sabetan golok para Pecalang. Keahlian bertarung keduanya cukup mumpuni mengatasi kepungan beberapa Pecalang dan Bhayangkara. Tiba-tiba,


"BUUUMMMMM"


Terdengar ledakan dari dalam Balai Banjar Manguntur.


"Kakang!" pekik Seno hendak berlari ke arah Balai Banjar namun tangan Yanto dengan sigap menahannya.


"Seno, jangan!"


"Pengorbanan Karto, kakakmu akan sia-sia dengan tingkah mu ini!" kata Yanto memberi pengertian pada Seno.


"Tapi tuan, Dia kakakku satu-satunya!" kini mata Seno terlihat mulai basah, rasa kegeraman dan kesedihan terpancar di wajahnya.


"Ingat dia seorang Darmayudha, Dia tau apa yang dilakukannya!" pungkas Yanto.


"Ayo kita segera pergi dari tempat ini, sebelum para Bhayangkara dapat mengejar kita.


Keduanya berlari sambil menyeret Sariwati menuju ke arah pantai Purnama.


"Prawira Utama, atasi kondisi ini dan lakukan pengejaran pada para perusuh itu, terutama saudagar Yanto. Tangkap hidup ataupun mati!"


"Dan aku ingin kau serta anak buahmu melakukan penyelamatan pada wanita yang dijadikan sandera itu," perintah tuan Timoti.


"Lakukan penyelidikan menyeluruh atas kejadian ini!" pungkasnya.


"Siap tuan!" jawab pimpinan Bhayangkara.


Dia terlihat mengumpulkan beberapa anak buahnya dan memberikan arahan untuk pengejaran, sedangkan sisanya dibantu oleh Jero Pecalang dan anggotanya mulai menyisir dan membersihkan reruntuhan. Beberapa korban luka segera di berikan pertolongan dan korban yang meninggal dikumpulkan didepan Balai Banjar termasuk jasad para penyerang.


***


Di tenpat lain, terlihat seorang pemuda duduk ditepi pantai Purnama. Laki-laki itu tak lain adalah Muhibbin.


Matanya terlihat jauh menerawang menembus pekatnya malam. Sejak kejadian di Balai Banjar Manguntur sore tadi, pikirannya berkecamuk.

__ADS_1


Setelah mengantar pulang Sekar, Muhibbin pergi menuju Surau An Nur dan di lihatnya kondisi sengker dan gerbang Surau hancur berantakan akibat amukan masa warga Manguntur yang terhasut oleh isu pengleakan yang di tujukan pada Sariwati sahabatnya.


"Hemm, Bagaimana nasib Wati sekarang?"


"Semoga tuan gubernur dan Bhayangkara dapat mengungkap semua kejadian ini, " gumam muhibbin dalam hati.


Di helanya nafas dalam-dalam, semilir angin pantai menyibak rambutnya yang sebahu.


Tiba-tiba lamat terdengar suara keributan yang semakin jelas terdengar dan suara itupun semakin mendekat kearah pantai Purnama.


Terlihat seorang wanita diseret oleh dua orang lelaki.


"Lepaskan aku, dasar bajiengan tengik kalian!"


kata wanita itu.


"Diam! karena ulahmu kakakku mati, dasar wanita siluman," salah satu lelaki itu menghardik wanita yang diseretnya dan


"PLAAKKKK"


Terlihat lelaki itu menampar sang wanita.


"Acchhh,"


"Tolong!"


"Tolong lepaskan aku!"


Teriak wanita itu sambil meronta.


"Aku tak akan melepaskan mu, akibat ulah mu semua ini terjadi!" jawab lelaki itu kembali sambil menyeret wanita yang sedari tadi dipukulinya.


"Aacckkhhh, sakit!" rintih wanita itu kembali.


"Hentikan Seno, tahan emosimu. Kita masih memerlukan wanita ini sampai benar-benar kita lolos dari negeri ini,"


"Dan kau Sundel, Diam! atau aku tak bisa jamin kawanku ini akan memperlakukanmu lebih sadis lagi!" kini pria satunya berkata dengan pandangan dingin menahan kemarahan.


"Kau bajiengan!" ujar wanita itu penuh amarah pula.

__ADS_1


"DIAM!"


" PLAAKK" Terlihat tamparan kembali mendarat di wajah wanita itu.


__ADS_2