KAHANAN

KAHANAN
CH 95 - TERKUAKNYA DALANG KERUSUHAN


__ADS_3

Tak selang berapa lama, tuan Timoti bersama seorang Bhayangkara sampai di ruang tahanan yang berada di belakang bangunan markas para Bhayangkara tersebut, terlihat penjagaan ketat di lakukan oleh anggotanya.


Anggota Bhayangkara memberi hormat melihat kedatangan tuan Timoti, sang gubernur Negeri Pantai itupun melangkah ke menyusuri sebuah lorong menuju ke sebuah ruangan tahanan yang berada di bagian bawah bangunan itu.


Udara lembab dan temaramnya pencahayaan membuat suasana ruangan bawah tanah itu terasa pengap, bau tak sedap menyeruak di sekitar ruangan tersebut.


Tuan Timori terus melangkah hingga sampai di sebuah ruangan berjeruji, nampak sesosok pemuda dengan tangan menggelantung terikat keatas dan tak sadarkan diri berada di tengah ruangan tahanan tersebut.


Penguasa Negeri Pantai itu mendorong pintu besi yang telah dibuka oleh Bhayangkara yang mendampinginya, pria paruh baya itu melangkah mendekati pemuda yang masih pingsan itu yang tak lain adalah Muhibbin. Terlihat tangan tuan Timoti memegang sebuah ember berisi air dan di siramkan pada Muhibbin yang masih tak sadarkan diri.


Byyyyuuuurrrr!


"Bangun!"


"Ayo bangun!" seru tuan Timoti pada Muhibbib, pemimpin Negeri Pantai itu mendorong tubuh sang pemuda dengan sebuah tongkat rotan sepanjang satu meter yang di ambilnya dari sudut ruangan itu.


Guyuran air membasahi tubuh Muhibbin yang terkat di tengah ruangan dengan tangan tergantung ke atas, pemuda itu mengerjapkan matanya dan terbangun dari pingsannya.


"Bagus, kini kau sudah bangun!" ujar tuan Timoti kembali.


"Sekarang katakan, apa kau tau keberadaan Sariwati anakku?" tanya sang penguasa Negeri Pantai itu pada pemuda dihadapannya.


Dengan tangan terikat ke atas, pemuda itu mengangkat wajahnya dan memicingkan mata, pandangannya sayu menatap tuan Timoti di hadapannya, Muhibbin masih terdiam.


Melihat hal itu, gubernur Negeri Pantai itu mendekat hingga wajahnya berjarak sejengkal dengan wajah Muhibbin, tangan kiri tuan Timoti mencengkram rahang Muhibbin,


"Katakan! dimana anakku?" ujar tuan Timoti, kini wajah lelaki paruh baya itu memerah dengan pandangan tajam ke arah pemuda didepannya.


"Jika tuan ingin tau keberadaan putri tuan, lepaskan saya?"


"Apakah seperti ini perlakuan para ningrat di negeri ini pada orang kecil?"


"Saya bukan bromocorah yang harus diperlakukan tidak adil seperti ini!" gumam Muhibbin lirih, namun suaranya jelas terdengar oleh tuan Timoti.


"Kau jangan membual, anak muda!"


"Kau telah melawan aparat penegak hukum dan berbuat seenaknya hingga melukai salah satu anggota Bhayangkara."


"Hukuman seperti ini masih belum seberapa!" seru tuan Timoti dengan tatapan dingin ke arah Muhibbin. Tangannya mencengkram kuat wajah pemuda itu.


Muhibbin hanya terdiam dengan senyuman sinis di bibirnya walaupun rasa sakit akibat cengkraman tangan tuan Timoti pada rahangnya mulai terasa.


"Lepaskan saya!"


"Semua ini karena perbuatan para Bhayangkara pada seluruh keluarga saya yang membuat saya harus melawan mereka!"


"Tanyakan pada anak buah tuan, apa yang mereka lakukan pada keluarga saya atau itu atas perintah tuan?" jawab Muhibbin dingin pada ayah Sariwati dihadapannya.


"Lancang!"


"Tutup mulutmu, aku dan para Bhayangkara tak tau menahu tentang apa yang menimpa keluargamu."


"Kau jangan lewati batasan mu, anak muda!" ujar tuan Timoti geram dan menghempaskan wajah Muhibbin dari cengkramannya, pemuda itu terhuyung ke belakang namun karena tangannya terikat ke atas membuat dirinya tak terjatuh dari dorongan tuan Timoti padanya.


Muhibbin tergelak pada tuan Timoti, suaranya nyaring namun terlihat linangan air mata di pipinya,


"Hahaaahahahahaha!"


"Haahahahahahaha!"


"Puaskah sekarang anda dengan membuat kehidupan saya menderita?"


"Puaskah anda membuat seluruh keluarga saya binasa?"


"Bunuh saja sekalian saya, tuan!" teriak Muhibbin pada tuan Timoti di hadapannya.


Mendengar teriakan Muhibbin, wajah tuan Timoti semakin memerah menahan kemarahannya, namun lelaki paruh baya itu tak bergeming, dia sadar pemuda itu hanya melampiaskan kekecewaan yang telah di alaminya dan bahwa Muhibbin lah yang pernah menyelamatkan putrinya dari sekapan Setyanto saat insiden penyerangan banjar Manguntur oleh menantu Bendowo itu beberapa tahun lalu serta mengingat hubungan baiknya dengan mendiang pak Nengah Wirata perbekel desa Batubulan.

__ADS_1


"Jaga mulutmu, anak muda!"


"Kalau tak mengingat kebaikan Jero Mekel dan pertolongan mu pada anakku, sudah ku suruh anak buahku menghajar mu." ujar tuan Timoti kembali.


Pemimpin Negeri Pantai itu mendekati anggota Bhayangkara yang ikut mendampinginya, tuanTimoti terlihat berbisik pada Bhayangkara di dekatnya sebelum meninggalkan ruangan tahanan tersebut dan anggota Bhayangkara itu mengangguk mendengar perintah majikannya.


***


Dirumah kediaman tuan Timoti-


Terlihat seorang penjaga bergegas dengan langkah sedikit berlari menuju kedalam kediaman gubernur Negeri Pantai itu, sedangkan di dalam rumah besar itu seorang lelaki didampingi seorang wanita sedang duduk di ruangan tengah rumah sang gubernur, terlihat keduanya sedang melakukan percakapan serius.


"Mi, jika sampai besok Wati tak ditemukan, akan ditaruh dimana muka papi jika bertemu keluarga Harya!" kata lelaki itu pada wanita disampingnya, wajahnya terlihat kesal dengan guratan-guratan tegas dan geraham yang gemeretak.


"Iya Pi, Timoti juga sudah mengupayakan pencarian Wati, kita tunggu saja sampai sore nanti, jika Wati belum ditemukan dan kembali, kita bicarakan baik-baik dengan Haryo dan Dewi tentang rencana pernikahan anak-anak kita." jawab wanita itu yang tak lain adalah nyonya Warika pada suaminya tuan Bendowo.


"Tapi ini aib, mi!"


"Papi malu dengan Haryo, apa kata mereka nanti jika tau Wati kabur dari rumah?"


"Anak itu memang selalu membuat masalah!" dengus tuan Bendowo menahan kemarahannya.


Nyonya Warika hanya terdiam melihat kekesalan suaminya, pandangan wanita itu terlihat gelisah.


Tiba-tiba seorang penjaga menghampiri keduanya,


"Maaf tuan, nyonya! ada seseorang yang ingin bertemu tuan dan orang itu saat ini menunggu di ruangan depan bersama Ni Mas Sariwati."


Pandangan Bendowo sontak terkejut mendengar nama anaknya disebut oleh penjaga itu.


"Benar yang kamu katakan, Penjaga?"


Penjaga itu hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan penguasa Dinasti Garuda Emas tersebut.


"Mi, ayo kita segera ke depan!" ajak tuan Bendowo pada istrinya, lelaki itu bangkit setelah mendengar laporan penjaga itu, langkahnya terburu-buru diikuti oleh nyonya Warika dan penjaga itu dibelakangnya.


Lelaki tersebut membungkukkan badannya memberi hormat pada keturunan Dinasti Harsuto itu, sedangkan wanita ayu yang duduk disampingnya bangkit dan berlari memeluk nyonya Warika.


"Wati! darimana saja kau, Nak?" sambut nyonya Warika pada putrinya.


Sariwati hanya terisak di pelukan sang ibu, sementara tatapan penuh amarah tuan Bendowo lekat memandang anak gadisnya.


"Anak bengal! dari mana saja kau?"


"Semua orang kau buat pusing dengan kepergian mu!"


"Dasar anak tak tau di untung!" pekik lelaki paruh baya itu sambil mengangkat tangannya hendak menampar Sariwati, namun nyonya Warika memeluk erat-erat dan melindungi putrinya dari amarah sang suami."


"Papi, hentikan!"


"Cukup, apa tak ada cara lain selain dengan kekerasan!" pekik nyonya Warika pada sang suami.


Tuan Bendowo mendengus kesal dengan apa yang dikatakan istrinya, lelaki tua itu melampiaskan kemarahannya dengan menggebrak meja yang ada di dekatnya.


Bruuuaakkk!


"Anak ini memang susah di kasih tau!"


"Hukuman selama ini yang dia jalani ternyata belum membuatnya sadar akan kekeliruannya!" hardik tuan Bendowo dengan suara bergetar.


Lelaki tua itu mengalihkan pandanganya pada pria yang masih berdiri dengan wajah tertunduk di depannya.


"Martin!"


"Apa yang kau lakukan di Negeri ini dan bagaimana Wati bisa bersamamu?" tanya tuan Bendowo pada lelaki di depannya yang tak lain adalah Martin salah satu pengawalnya di pasukan Garuda Merah.


"Maaf, Tuan."

__ADS_1


"Keberadaan saya disini mengawal Ni Mas Habsari yang sedang berkunjung ke negeri ini."


"Dan atas perintah beliau, saya beserta anak buah saya mencari Ni Mas Sariwati yang pergi tanpa pamit dan membantu tugas para Bhayangkara yang diperintahkan oleh tuan Timoti untuk mencari keberadaan Ni Mas Wati, Tuan." jawab Martin pada majikan besarnya sebagaimana arahan Habsari sebelumnya.


Tuan Bendowo menghela nafas sebelum kembali berkata,


"Lalu dimana Habsari saat ini?"


"Beberapa hari ini aku tak pernah melihatnya?" tanya tuan Bendowo kembali.


Namun sebelum Martine menjawab pertanyaan majikannya, sebuah suara dari luar terdengar ke ruangan utama tersebut.


"Papi mencariku?"


"Apakah papi rindu dengan anak yang terbuang ini?" jawab suara itu yang tak lain Habsari, wanita ayu berpakaian kebaya itu melangkah masuk dan mendekati orang-orang yang ada diruangan utama tersebut.


"Ternyata keberadaan ku masih ada yang memperhatikan?" imbuh Habsari dengan ucapan sindirannya pada sang ayah, wajahnya dingin menatap tuan Bendowo.


"Lancang, kamu!"


"Apa tak ada sedikit sopan santun berbicara dengan orang tua mu sendiri?" seru tuan Bendowo pada putri sulungnya itu.


"Apa ini hasil hidup lama di Negeri Angin sehingga membuat unggah ungguh mu hilang pada orang tua," imbuh tuan Bendowo.


"Apa bedanya aku dengan anak sialan itu yang selalu membuat masalah pada keluarga kita?" sahut Habsari dingin, tatapannya tertuju pada Sariwati yang masih terisak di pelukan nyonya Warika.


Tuan Bendowo kembali mendengus mendengar jawaban Habsari, namun lelaki itu tak menghiraukan perkataan putri sulungnya tersebut, pandangannya beralih pada Martin yang masih berdiri di hadapannya.


"Kau sekarang boleh pergi, Martin."


"Dan terimakasih kau telah membawa Wati pulang." ujar Bendowo pada Martin.


"Ini sudah tugas saya, Tuan." jawab Martin singkat.


Lelaki berperawakan tinggi besar itu membungkukkan badannya sebelum berlalu dari ruangan utama kediaman gubernur Timoti.


Setelah kepergian salah satu anak buahnya di Garuda Merah, tuan Bendowo kembali berkata pada Habsari.


"Kau ini memang tak punya aturan."


"Sikap yang kau perlihatkan seperti tadi dihadapan anak buah mu sama saja mencoreng kewibawaan papi!" seru tuan Bendowo dengan tegas pada Habsari, wajahnya terlihat bersungut-sungut dengan kelakuan anak sulungnya itu.


"Papi yang mengajarkan aku untuk bersikap tidak hormat!"


"Papi lebih menyayangi anak sialan itu daripada anak-anak papi yang lain!" teriak Habsari, kini wanita ayu itu tak bisa menahan amarahnya di hadapan kedua orang tuanya.


"Habsari! jaga kata-katamu."


"Tak sepatutnya kamu berkata seperti itu pada Papi mu." kini nyonya Warika ikut angkat suara. Wanita tua itu terlihat tak senang dengan sikap putrinya, wajah tua yang menyisakan raut kecantikan itu berubah dingin menatap Habsari di hadapannya.


"Ini semua karena keegoisan Papi, Mi!"


"Papi lebih mementingkan kekuasaan dan kewibawaan trah Harsuto dengan membuang ku ke Negeri Angin!"


"Papi juga yang memisahkan ku dengan Angga,"


"Perlakuan papi pada diriku yang membuat rasa hormatku hilang!"


"Perlakuan pada anak pembawa masalah itu sangat beda dengan yang ku terima dari kalian!" teriak Habsari pada orang-orang di ruangan itu.


"Cukup Habsari!"


"Cukup!"


Pekik tuan Bendowo pada Habsari, tubuh lelaki tua itu bergetar menahan amarahnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2