
Seorang lelaki setengah baya terlihat melipat surat yang baru saja di bacanya, sementara didepannya seorang pemuda duduk di kursi menunggu apa yang akan dikatakan oleh sang pemilik rumah.
"Apa benar surat ini ditulis sendiri oleh Gus Aji Putra dan ditujukan padaku?" tanya sang pemilik rumah yang tak lain adalah tuan Bendowo dengan suara dingin.
"Benar, Tuan."
"Beliau juga berpesan untuk memberikan tanda pengenal ini jika bertemu dengan Tuan." jawab Arsana sambil merogoh sebuah pin tembaga berbentuk cakra sudarsana dari balik pakaiannya dan menyerahkan pada tuan Bendowo.
Pewaris dinasti Harsuto itu terlihat sedikit terkejut sambil mengamati benda yang dipegangnya. Tanda pengenal itu adalah tanda kesatuan pasukan khusus Darmayudha yang sangat dikenalnya.
"Ajik!" gumam tuan Bendowo dalam hati, wajah lelaki tua itu berubah pucat pasi setelah melihat pengenal yang diberikan Arsana padanya.
"Jadi Ajik selama ini berada di negeri ini?" gumamnya kembali. Sejenak tuan Bendowo terdiam, tatapannya menerawang ke arah luar rumahnya dan bayangan kehidupan masa mudanya dahulu kembali berkelebat dibenaknya.
Seoarang lelaki paruh baya yang sangat menyayanginya dan menganggapnya bak putranya sendiri dan melatihnya olah keprajuritan hingga menghantarkannya menjadi komandan utama pasukan Garuda Merah kebanggan kerajaan Zamrud, Bayangan Gus Aji Putra dan putri satu-satunya yang dinikahinya sebelum perjodohannya dengan nyonya Warika pun diingatnya kembali.
"Kisanak, siapa namamu dan ada hubungan apa andika dengan Gus Aji Putra dan Muhibbin?" tanya tuan Bendowo mulai melunak pada pemuda dihadapannya.
"Saya Arsana, Tuan."
"Bli Ibbin adalah ipar saya, istri saya Sekar adalah adik angkatnya sekaligus putri dari mendiang Jero Perbekel Nengah Wirata."
"Dan Gus Aji Putra adalah adik seperguruan Nabe saya, Resi Giri Waja di Griya Manuaba Banjar Galuh." jawab sang pemuda yang tak lain Arsana.
"Jadi begitu ..." nampak tuan Bendowo berfikir sejenak dan ditatapnya kembali Arsana yang duduk didepannya.
"Baiklah, sampaikan kepada Ajik Putra bahwa aku akan memenuhi perintahnya untuk datang ke Griya Manuaba bersama anakku." ujar tuan Bendowo kembali, tak berapa lama setelah menyampaikan surat untuk ayah Sariwati tersebut, Arsana berpamitan dan meninggalkan kediaman itu.
***
Sementara di dalam salah satu ruangan lain, nampak terlihat Me Iluh sedang memijit kaki Sariwati ditemani oleh nyonya Warika dan Mutiara Rahmani disampingnya. Dari pintu ruangan yang tak tertutup nampak tuan Bendowo berjalan kearah dalam dan menghampiri istri, anak dan cucunya.
"Siapa tamu tadi , Pi?" tanya nyonya Warika pada sang suami, dan tuan Bendowo tak segera menjawab pertanyaan istrinya.
Lelaki itu nampak mengangkat sebuah kursi dan dibawanya mendekat di tepian ranjang dimana Me Iluh masih memijit Putrinya. Tuan Bendowo duduk dan nampak menghela nafas sejenak.
"Bagaimana keadaan Wati saat ini, Mi?" tanya lelaki itu pada sang istri.
"Seperti yang Papi lihat, anak kita sudah mulai bisa berjalan walaupun masih tertatih-tatih dan menggunakan tongkat." jawab nyonya Warika.
"Syukurlah, Mi."
"Tak sia-sia usaha kita selama ini mencari obat penyembuh untuk Wati." ucap tuan Bendowo singkat.
Suasana kembali hening.
"Ada apa, Pi?"
"Papi terlihat sedang memikirkan sesuatu?"
"Dan pertanyaan Mami belum dijawab oleh Papi." ujar nyonya Warika pada sang suami.
Nampak tuan Bendowo terhenyak dari lamunannya saat mendengar pertanyaan istrinya,
"Oh itu ..."
"Baru saja ada seorang pemuda mengantarkan surat dari kenalan Papi, Mi." jawab tuan Bendowo singkat, namun nyonya Warika semakin penasaran dibuatnya.
"Surat?"
"Surat apa, Pi ... dari siapa?" tanya wanita itu kembali.
Tuan Bendowo tak segera menjawab, lelaki tua itu terlihat menghela nafas.
"Luh, kamu tinggalkan ruangan ini."
"Ajak Tiara bermain diluar, ada yang akan aku bicarakan dengan bendaramu." perintah tuan Bendowo pada sang pembantu yang sedang memijit kaki Sariwati.
Dengan anggukan hormat, Me Iluh membawa Tiara keluar meninggalkan ruangan itu.
"Ada apa ini, Pi?"
"Sepertinya ada hal yang sangat penting ingin Papi sampaikan?" tanya nyonya Warika kembali. Sementara Sariwati hanya terdiam menyimak percakapan kedua orangtuanya.
"Ini akibat ulah Habsari."
"Dan ini juga berhubungan dengan apa yang dilakukannya saat peristiwa penyekapan dirumah tua dan bentrokan antara pengawal-pengawalnya dengan Bhayangkara Negeri Pantai." ujar tuan Bendowo mengawali penjelasannya, nyonya Warika dan Sariwati menyimak apa yang diceritakan lelaki tua itu.
Panjang lebar tuan Bendowo menjelaskan isi surat yang di terimanya termasuk permintaan Gus Aji Putra padanya untuk segera membawa Sariwati ke Griya Manuaba.
Mendengar cerita sang ayah, sontak membuat Sariwati meradang.
"Jadi benar desas-desus yang Wati dengar selama ini bahwa korban penyekapan itu adalah Ibbin, Pi?
"Kakak sungguh keterlaluan!"
"Jika sampai terjadi hal buruk pada Ibbin, Wati tak akan memamaafkan perbuatan kak Habsari!" pekik Sariwati sambil berlinang air mata, sementara nyonya Warika berusaha menenangkan Sariwati dengan memeluk putrinya itu.
Tuan Bendowo hanya terdiam melihat reaksi putri bungsunya. Lelaki tua itu tak menyangka apa yang dilakukan oleh Habsari putri sulungnya akan berbuntut panjang. Dalam surat yang diterimanya, Gus Aji Putra akan membuat perhitungan tersendiri jika tidak datang menemuinya di Griya Manuaba, bagaimanapun Gus Aji Putra adalah mentor sekaligus gurunya yang sangat paham celah kelemahannya dan keluarga besar Harsuto.
"Besok kita semua berangkat ke Griya Manuaba."
"Bagaimanapun kita harus bertanggung jawab atas perbuatan Habsari pada pemuda itu."
"Papi tak ingin nama keluarga besar Harsuto semakin buruk dimata masyarakat Negeri Pantai maupun di kerajaan Zamrud." pungkas tuan Bendowo sambil berdiri dan meninggalkan nyonya Warika serta Sariwati diruangan itu.
***
__ADS_1
Keesokan harinya ...
Sebuah kereta kuda memasuki pelataran Griya Manuaba, dari dalamnya keluar beberapa orang yang disambut oleh beberapa cantrik asram itu.
Nampak pria tua keluar diikuti oleh dua orang wanita dan seorang anak perempuan berusia sembilan tahunan.
Para cantrik mempersilahkan tamu yang baru datang itu untuk menunggu di ruang tengah tak jauh dari sanggar pemujaan sang Resi.
Tak berapa lama pemilik asram itu keluar diikuti beberapa orang para cantrik.
"Selamat datang di gubuk saya ini, Tuan." sapa sang Resi menangkupkan tangannya di dada menyambut kedatangan sang tamu.
"Terimakasih atas sambutan Bapa Resi,"
"Saya sangat terhormat sekali mendapat undangan dari salah satu tokoh yang disegani di Negeri Pantai ini." jawab sang tamu yang tak lain adalah tuan Bendowo dan keluarganya.
Dengan senyuman teduh sang Resi mempersilahkan tamunya duduk kembali, pandangan Resi Giri Waja kini tertuju pada salah satu anggota keluarga tuan Bendowo.
"Bagaimana kabarmu Ni Mas, lama tak bertemu?" ujar sang resi kembali pada salah seorang wanita memakai tongkat anggota rombongan itu.
Dengan mata berkaca-kaca wanita yang menggunakan tongkat itu membungkuk dan memberi salam pada sang pemilik rumah.
"Kabar saya baik, Bapa Resi."
"Ini tak lepas dari doa Bapa Resi." jawab wanita itu lirih.
"Tiara, salim sama Kakiang Resi, Nak." ujar wanita itu kembali pada anak kecil disampingnya. Dengan malu-malu gadis kecil itu menjura dan mencium telapak tangan Resi Giri Waja.
Sang Resi dengan penuh kasih sayang membelai rambut Tiara yang berdiri didepannya. "Anak baik, semoga Dewata selalu melindungimu, Ning." ucap sang Resi pada Tiara.
Sesaat kemudian Resi Giri Waja kembali berkata pada tuan Bendowo.
"Bagaimana perjalanan anda kemari, Tuan? Apakah tak bingung mencari tempat ini?" tanya sang Resi.
"Tidak, Bapa Resi."
"Kebetulan kusir kereta kami sering berkunjung ke banjar Galuh saat mencarikan obat untuk anak kami Wati dan siapa yang tak tau Griya Manuaba diseantero Negeri Pantai ini." jawab tuan Bendowo pada Resi Giri Waja.
"Dan putri kami pun juga masih ingat tempat ini karena menurut penuturannya, dia pernah berkunjung ke tempat ini." ujar Bendowo kembali.
Resi Giri Waja hanya tetsenyum mendengar penjelasan pewaris dinasti Harsuto itu.
"Benar, Tuan." jawab Resi Giri Waja singkat.
Percakapan ringan pun terjadi diruangan itu, tuan Bendowo memperkenalkan sang istri pada Resi Giri Waja dan menuturkan bahwa kedatangannya ke Griya Manuaba itu atas undangan dari Gus Aji Putra.
"Benar, Tuan."
"Saya lah yang meminta adik saya menghubungi dan mengundang Tuan sekeluarga ke tempat ini." ucap Resi Giri Waja kembali.
Dari kejauhan nampak dua orang mendekat ke tempat dimana sang Resi menerima para tamunya.
Raut muka tuan Bendowo berubah, wajahnya nampak gelisah dan segan menatap wajah Gus Aji Putra di depannya. Ada perasaan bersalah dan ciut tatkala sorot mata tajam Gus Aji Putra menatapnya.
"Ajik ..." ucap tuan Bendowo dengan suara berat, di rengkuhnya tangan Gus Aji Putra dan di ciumnya.
"Rupanya kau masih mengingatku, Bendowo." ujar Gus Aji Putra dingin dengan wajah datar.
"Mana bisa saya melupakan Ajik."
"Berkat Ajik lah saya memiliki pengetahuan dan mendapat posisi terhormat di kerajaan Zamrud." jawab tuan Bendowo lirih.
"Baguslah, jika kau masih ingat. Walaupun dulu diriku sempat diburu dan dianggap sebagai pengkhianat dengan tuduhan makar pada penguasa saat itu."
"Hingga anak semata wayangku pun dicampakkan bagai barang tak berharga." jawab Gus Aji Putra tajam.
"Maafkan saya, Jik."
"Saya mengakui semua kesalahan yang saya lakukan."
"Itu semua tak seperti yang Ajik kira."
"Saat itu saya tak kuasa menentang perintah mendiang ayah Harsuto." ucap tuan Bendowo sambil memohon pada Gus Aji Putra yang tak lain adalah gurunya sendiri.
"Hem ..."
"Kekuasaan besar kadang merobah watak manusia, yang salah bisa dibuat benar dan yang benar di persalahkan." balas Gus Aji Putra kembali.
Melihat gelagat yang mulai tak enak didepannya, Resi Giri Waja berkata,
"Sudah ... sudah."
"Permasalahan kalian dimasa lalu bisa kalian selesaikan baik-baik setelah ini."
"Yang terpenting saat ini bagaimana cara kita menolong pemuda itu." sergah Resi Giri Waja menengahi Gus Aji Putra dan tuan Bendowo.
Gus Aji Putra mengehela nafas menenangkan pergolakan dalam hatinya, sementara tuan Bendowo hanya tertunduk diam seolah hilang kepercayaan dirinya sebagai orang berpengaruh di kerajaan Zamrud dihadapan sang Resi dan Gus Aji Putra gurunya.
Kembali suara Resi Giri Waja memecah keheningan,
"Tuan Bendowo ..."
"Mungkin anda sudah tau tujuan saya mengundang anda sekeluarga ke tempat ini, bukan?" tanya sang Resi pada ayah Sariwati itu.
"Benar, Bapa Resi."
"Kedatangan kami ke tempat ini juga berhubungan dengan pemuda itu."
__ADS_1
"Walaupun saya selama ini tak merestui hubungan anak saya dengannya, namun demi rasa kemanusiaan, saya dan keluarga akan membantu sebisanya."
"Apalagi semua ini disebabkan oleh anak sulung saya, Bapa Resi." jawab tuan Bendowo lirih.
"Bagus..."
"Seharusnya memang seperti itu, kita sebagai manusia memiliki jiwa saling tolong menolong dalam kebaikan terhadap kesulitan orang lain."
"Tanpa melihat dan mempermasalahkan latar belakang orang yang akan kita tolong." ujar sang Resi kembali sambil mengelus janggut putihnya.
"Dimana saat ini Muhibbin berada, Bapa Resi?" ujar Sariwati menyela pembicaraan sang Resi dan ayahnya.
"Benar, dimana dan bagaimana keadaan anak itu saat ini, Bapa Resi?" kini nyonya Warika turut angkat suara.
"Dia berada di bangsal tamu tak jauh dari tempat ini."
"Keadaannya saat ini sangat memprihatinkan dan butuh pertolongan dari semua orang, terutama orang-orang terdekatnya." jawab Resi Giri Waja lirih.
"Kalau diperkenankan, bolehkan saya menjenguknya, Bapa Resi?" ujar Sariwati dengan suara parau dan dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Boleh, Ni Mas."
"Dan memang kehadiran Ni Mas lah yang saya perlukan saat ini untuk membantu Muhubbin."
"Mari kita tengok dia di bangsal tamu." pungkas sang Resi pada semua orang yang ada ditempat itu.
***
Angin berhembus semilir menerpa dedaunan di sekitar Griya Manuaba itu. Nampak dikejauhan serombongan orang berjalan mendekat ke arah bangsal tamu.
Sementara didepan ruangan, beberapa wanita sedang bercakap-cakap.
"Sudah hampir seharian guru tak keluar dari dalam, Kak."
"Apakah keadaan Ibbin semakin parah?" ucap Disya pada Puan Rizza didepannya, sementara Sekar, Raya Suci dan Diera hanya terdiam mendengarkan perkataan sahabatnya itu.
"Kita doakan semoga Ibbin tidak apa-apa, Dis."
"Kakak sangat bersalah pada kalian berdua, andai saja waktu itu Kakak tak mengatakannya pada Ibbin, mungkin kalian saat ini sudah menjadi sepasang suami istri."
"Tolong maafkan Kakak, Dis." ucap Puan Rizza pada sahabatnya.
"Sudahlah kak, semua ini sudah menjadi suratan takdir diriku dan Ibbin."
"Jujur saat itu diriku amat kecewa pada dirinya, namun semua bukanlah kesalahan Ibbin."
"Dia hanya lelaki bodoh yang tak dapat menolak dan diperdaya oleh kelicikan wanita murahan itu."
"Mereka sekeluarga terlahir sebagai manusia-manusia tamak dan licik, terutama kakak sulungnya yang tega melakukan segala cara untuk kepentingannya." ujar Disya lirih, namun dari suaranya terdengar kegeraman yang ditahannya.
Percakapan Disya dan Puan Rizza terhenti ketika nampak rombongan Resi Giri Waja dan Gus Aji Putra diikuti oleh beberapa orang datang mendekat. Sang pemilik Griya Manuaba itu bersama sang adik langsung memasuki kamar, sementara yang lain tetap menunggu di luar.
Sorot mata Disya terus lekat memandang orang-orang yang baru datang bersama sang Resi. Alangkah terkejutnya wanita itu mendapati salah satu dari rombongan itu sangat dikenalnya.
"Sariwati ..." gumam Disya dalam hati, detak jantungnya semakin berdegup kencang melihat sosok wanita yang sangat dibencinya itu berdiri dihadapannya.
Demikian pula dengan Sariwati, wanita bertongkat itu sangat mengenal orang-orang didepannya. Selain dengan Sekar Jempiring walaupun tidak begitu dekat dan akrab, Sariwati pun mengenal Disya, Puan Rizza dan Diera saat dirinya masih berada di surau An Nur bersama Muhibbin. Dengan perasaan canggung, putri tuan Bendowo itu mendekat ke arah Sekar dan kawan-kawannya.
"Kar ... masihkah kau ingat diriku?" tanya Sariwati pada Sekar yang kini berdiri di samping Disya dan Puan Rizza.
Dengan anggukan kepala Sekar membalas,
"Bagaimana kabarmu, Wati?" ucap sekar singkat dengan wajah datar.
Sariwati tersenyum kecut mendengar pertanyaan Sekar, matanya terlihat meremang menahan tangisan.
"Ya, beginilah keadaanku saat ini, Kar."
"Berjalanpun aku masih kesulitan."
"Kau sendiri bagaimana kabarmu, apakah itu anakmu?" tanya Sariwati pada Sekar Jempiring yang sedabg menggendong Lingga putranya.
"Ya, ini anakku. Aku baik-baik saja Wati." jawab Sekar pada teman lamanya itu.
"Hem ... hem!" terdengar suara deham Disya memotong percakapan Sekar dan Sariwati. Tatapan Sariwati beralih pada Disya yang memandangnya dengan sorot penuh kebencian.
"Dis, bagaimana kabarmu?" tanya Sariwati lirih.
Disya terlihat mendengus kesal dan kemarahannya berusaha ditahannya.
"Seperti yang kau lihat sendiri, aku masih segar bugar dan belum mati." jawab Disya sinis pada Sariwati.
"Kau sendiri mengapa bisa sampai ditempat ini?"
"Rasanya kehadiranmu tak diharapkan ditempat ini, justru kedatanganmu akan membuat Ibbin semakin terluka." imbuh Disya masih dengan ketusnya.
Sariwati hanya menghela nafas berusaha bersabar dari sindiran pedas Disya didepannya. Dirinya sadar, apa yang menimpa Muhubbin dan kekacauan selama ini sedikit banyak adalah andilnya.
"Kakiang Resi yang mengundang kami sekeluarga ketempat ini, Dis."
"Mungkin dengan kehadiran kami dapat membantu penyembuhan sakit yang diderita Muhibbin." jawab Sariwati lirih.
Disya kembali mendengus kesal dan memalingkan mukanya, semenatara teman-temannya yang lain hanya diam karena paham apa yang melatar belakangi kebencian Disya pada Sariwati.
Waktu serasa lambat berlalu. Sejak kedalam ruangan, sang Resi dan Gus Aji Putra belum ada tanda-tanda keluar ruangan kembali. Semua orang ditempat itu dengan harap-harap cemas menunggu berita perkembangan akan kesehatan Muhibbin didalam.
Malampun datang membawa suasana dingin di Asram Manuaba itu. Nampak kelelahan terlihat pada orang-orang yang diluar ruangan itu.
__ADS_1
***