
Tak berapa lama Muhibbin dan keluarganya sampai di sebuah bangunan terbuka bertulis 'Balai Banjar Gelumpang', Mereka pun beristirahat di dalam bangunan itu.
Terlihat Muhibbin menggelar kain surban yang selalu melilit di lehernya dan persilahkan sang ibu berbaring di atasnya,
"Mbak yu, tubuh emak panas sekali!" seru pemuda itu pada Cahaya sang kakak. Suratmi yang masih terbaring di atas ubin beralaskan surban milik Muhibbin mulai terbatuk-batuk kembali.
Cahaya mendekatkan punggung telapak tangannya di dahi Suratmi ibunya.
"Benar Bin, tubuh emak panas sekali,"
"Bagaimana ini, Le?" tanya wanita itu, terlihat kecemasan di wajah Cahaya.
"Kira-kira apa masih jauh tempatmu, Bin?" tanya wanita itu kembali.
"Lumayan jauh, Mbak yu."
"Kalau perjalanan normal, kita masih setengah hari lagi sampai di Manguntur, Mbak yu."
Wajah Cahaya semakin cemas memandang ke arah Muhibbin, sedangkan Raya Suci terlihat memijit kaki sang nenek yang terbaring berbantalkan tas bawaannya.
"Pak Lik, Mbah uti terlihat kedinginan dan badannya menggigil, Pak Lik!" seru Raya pada pamannya yang sedang berdiskusi dengan bibinya.
"Gimana ini, Bin?" ujar Cahaya kembali.
"Mbak yu dan kamu Raya, tunggu disini dulu! Aku akan cari tabib ataupun ahli Alkimia di dekat-dekat sini." ujar pemuda itu.
Cahaya dan Raya hanya menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Muhibbin sambil menyelimuti tubuh renta Suratmi dengan kain jarik yang diambilnya dari dalam tas.
"Jangan lama-lama ya, Bin! kasian emak." pungkas Cahaya.
"Iya Mbak yu, tolong juga berikan jamu-jamuan yang di buatkan mbah kyai pada emak, semoga bisa mengurangi kelelahan emak!" kata Muhibbin pada kakaknya.
Pemuda itu bergegas meninggalkan ketiganya mencari bantuan, di sepanjang jalan yang dilaluinya, Muhibbin selalu bertanya pada orang-orang yang ditemuinya.
Sementara Cahaya dan Raya masih menunggu di Balai Banjar Gelumpang, "Raya, kamu tunggu di sini sebentar ya, Nduk! Bu Lik mau ambil air untuk kompres mbah uti." seru Cahaya pada Raya Suci.
Cahaya bergegas ke samping bangunan Balai Banjar tak jauh dari tempat itu. Di ambilnya air yang berada di gentong sebelah sumur menggunakan rantang nasi yang telah di bersihkan.
Wanita itu segera kembali ketempat Suratmi dan Raya dengan air yang dibawanya.
"Gimana Nduk, Mbah uti apa masih menggigil?" tanya Cahaya pada keponakannya.
"Masih Bu Lik, cuma badannya masih panas." jawab gadis kecil itu.
"Ya sudah, kamu berbaring dulu sambil nunggu Pak Lik mu datang, biar Bu Lik kompres Mbah uti dulu." pungkas Cahaya menyuruh keponakannya berbaring di sebelah Suratmi ibunya.
Diambilnya saputangan dibalik tas dan kemudian kain itu dicelupkan ke air yang dibawanya tadi.
__ADS_1
Tak selang berapa lama, Muhibbin datang bersama seorang lelaki tua dengan membawa buntalan kain di pundaknya.
"Gimana Mbak yu, keadaan emak apa masih belum ada perubahan? tanya Muhibbin pada kakaknya.
" Sudah mulai turun panasnya, Bin." jawab Cahaya sambil mengangkat saputangan di dahi Suratmi dan membasahinya kembali dengan air.
"Tuan Balian! ini ibu, kakak dan keponakan saya." ujar Muhibbin pada lelaki tua yang datang bersamanya.
Lelaki tua itu menganggukkan kepala pada Cahaya dan dia menoleh kembali pada Muhibbin.
"Coba saya periksa dulu keadaan ibumu, Nak Bagus!" ujar lelaki tua itu.
Tak selang berapa lama lelaki tua itu mulai memeriksa keadaan Suratmi, diambilnya peralatannya di dalam buntalan kain yang dibawanya.
"Ibumu demam dan kelelahan, Nak Mas!"
"Saya rasa kalian harus tinggal beberapa saat dulu disini sampai keadaan ibumu pulih." ujar Balian tua itu pada Muhibbin dan Cahaya.
"Aku sudah gak apa-apa, Le!" tiba-tiba Suratmi membuka matanya, suaranya lirih dan sesekali terbatuk-batuk.
"Aku ingin segera bertemu calon menantuku! ujarnya kembali.
Tatapan mata wanita tua itu sayu menahan kelelahan. Muhibbin dan Cahaya hanya bisa saling pandang melihat keadaan ibunya.
"Sebaiknya kalian ikut ke rumah saya dulu, sampai keadaan ibumu membaik!" ujar Balian tua itu.
"Udara terbuka seperti disini tak baik untuk kondisi ibu mu." pungkas lelaki tua itu sambil menatap Muhibbin.
"Kau tak perlu sungkan, Nak Mas!"
"Sudah sewajarnya kita saling tolong menolong, apalagi keadaan ibumu sangat lemah dan Banjar Manguntur masih jauh sekali dari sini."
"Setelah keadaan ibumu membaik, kalian bisa melanjutkan perjalanan kembali." ujar Balian tua itu.
"Gimana, Le? tanya Cahaya meminta pendapat adiknya.
"Aku rasa kita tak ada pilihan lain dengan kondisi emak saat ini, Mbak Yu."
"Dan tak ada salahnya kita menerima tawaran tuan Balian." pungkas pemuda itu.
"Rumahku tak jauh dari sini, mari ikuti aku." ujar Balian tua itu sambil bangkit dari duduknya setelah memberikan pengobatan pada Suratmi.
"Ayo Raya, bantu Bu Lik! biar Pak Lik mu menggendong Mbah uti." seru Cahaya pada Raya yang ada disampingnya. Gadis kecil itupun merapikan alas yang dipakai neneknya berbaring.
Mereka mengikuti langkah Balian tua menyusuri jalanan Banjar Gelumpang yang terlihat mulai ramai di pagi itu.
***
__ADS_1
Sementara di Villa Sandat pagi itu,
"Huuueekk!"
"Huuueekk!"
Suara orang muntah terdengar dari dalam kamar mandi, mek Iluh yang sedang memasak di dapur yang tak jauh dari tempat itu dengan perasaan cemas menghampiri pintu kamar mandi dan mulai di ketuknya.
"Ni Mas!"
"Ni Mas, tak apa-apa?" tanya wanita paruh baya itu sambil terus mengetuk pintu kamar mandi. Sesekali terdengar gemericik air dari dalam.
"Aku tak apa, Mek!" jawab seseorang dari dalam kamar mandi. Terdengar kembali suara gemericik air beradu dengan ubin kamar mandi, tak selang berapa lama pintu itu pun terbuka dan seorang gadis keluar dari dalam.
"Apakah Ni Mas sakit?"
"Benar Ni Mas tak apa-apa?" tanya mek Iluh pada gadis itu yang tak lain Sariwati. Wajah ovalnya yang ayu terlihat pucat pasi dan tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
"Aku gak apa-apa, Mek! ujar Sariwati.
"Tolong buatkan aku teh tawar hangat dan antarkan ke kamar, Mek!" pinta Sariwati pada pelayannya. Gadis itu melangkah meninggalkan mek Iluh yang masih penuh tanda tanya.
Sariwati membaringkan badannya di atas kasur, sesekali jari jemarinya memijit pelipisnya. Matanya dipaksakan terpejam untuk mengurangi rasa pusing dan mual yang di alaminya.
Mek Iluh masuk ke kamar Sariwati dengan segelas teh tawar hangat di tangannya.
"Sebaiknya diminum dulu tehnya, Ni Mas!"
"Setelah itu, Ni Mas istirahat saja,"ujar mek Iluh pada Sariwati.
"Kalau Ni Mas perlu apa-apa, panggil saja saya!" seru mek Iluh kembali pada majikannya.
"Makasih, Mek!"
"Nanti jika aku perlu sesuatu, mek Iluh ku panggil lagi." pungkas Sariwati.
Wanita paruh baya itu mengangguk lalu pamit undur diri dan meninggalkan majikannya seorang diri dalam kamar.
Pikiran Sariwati berkecamuk dengan apa yang di alaminya saat ini. Perasaan mual dan ingin muntah kembali dialaminya, segera di seruputnya teh tawar hangat yang dibuatkan oleh pelayannya tadi.
Sebagai seorang Alkimia dia dapat menduga dan tau gejala apa yang di alaminya ini.
Sudah hampir sebulan sejak kejadian malam itu bersama Muhibbin, tamu bulanannya tak kunjung datang. Rasa was-was menggelayuti benaknya walaupun disisi lain ada perasaan bahagia yang dirasakannya.
"Apakah dugaan ku ini keliru?"
"Apakah aku hamil?"
__ADS_1
"Ibbin! kapan kau akan datang, Bin? Gumamnya dalam hati.